Tampilkan postingan dengan label Filsafat Ilmu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filsafat Ilmu. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Mei 2017

Filsafat Nilai : Bertrand Russell dan Aksi 1000 Lilin untuk Ahok

Sebelum membaca tulisan ini saya sarankan anda sedikit relax. dan siapkan kopi dan snack terbaik yang anda miliki. Tulisan ini akan sedikit membosankan kalau tidak sambil bersantai. Yah, seperti yang akan anda temukan, tulisan ini terlalu panjang sebagai artikel. Tapi cobalah..

Selamat menikmati
aksi seribu lilin
Sumber:borneonews.co.id

Filsafat
Nilai
Bertrand Russell dan aksi 1000 lilin untuk Ahok

Dalam tulisan singkat ini penulis akan mencoba menggunakan pandangan russel dalam filsafat nilai untuk mengulas fenomena aksi 1000 lilin untuk Ahok. Aksi yang berlangsung di Indonesia pasca vonis Ahok selama 2 tahun penjara menuai pro-kontra dibeberapa daerah. Olehnya kiranya tepat menggunakan pandangan russel ini untuk menentukan nilai-terutama etik- dan cara pandang para actor yang terlibat dalam pro-kontra aksi tersebut.
Perlu kiranya penulis menjabarkan maksud tulisan ini adalah semata mata mencoba memberi sudut pandang baru, yang mungkin saja sangat lemah dari segi analisa dan kekayaan pengetahuan serta kelengkapan pemaparan. Namun, setidaknya yang ingin penulis capai dalam tulisan ini adalah, memantik argument dan komentar lebih banyak terhadap tulisan ini terlebih terhadap polemic ini. Serta kritik, dapat memotivasi penulis untuk lebih jeli dalam menganalisa.

Bertrand Russel dan Nilai
Bertrand Russell
sumber:cdn.psychologytoday.com
Bertrand Russell (1872-1970) adalah filsuf kelahiran inggris. Berasal dari keluarga liberal dan aristokratik keturunan Perdana Mentri John Russell. Russell menjalani pendidikan awal di rumah (home schooling, lalu sejak 1890 di Trinity College, Cambridge, ia memfokuskan diri pada bidang studi ilmu matematika.[1]
Bertrand Russell adalah salah seorang pribadi yang cemerlang di dunia filsafat modern. Sumbanganya yang terpenting  telah diberikan dalam disiplin yang teknis terutama dalam logika matematika. Dia senantiasa bersikap ilmiah terhadap filsafat dan sikap ini menggambarkan dia lebih dekat dengan empirisme logis. Dia telah menerbitkan lebih dari 40 buku dan ratusan artikel. Tidak satupun dari bahasa beradab yang tidak mengetahui paling tidak salah satu ari buku Russell, bahkan di usianya yang ke-90 produktivitasnya tidak menurun.
Teorinya tentang nilai dikemukakan terutama dalam bukunya religion and science (agama dan ilmu), yang juga terangkum di dalamnya pemikiran pemikirannya yang anti-agama dan anti-metafisika. Dalam hal lain salah satu karakteristik Russell, yakni kajian ilmiah yang tenang dan objektif serta argumentative.
Russell berpendapat bahwa persoalan yang mengacu pada nilai berada di luar bidang ilmu pengetahuan. Ketika kita mengatakan bahwa sesuatu memiliki nilai, kita tidak mengatakan sesuatu yang bebas dari perasaan kita. Malahan kita memberikan ungkapan atas emosi kita sendiri. Ini selanjutnya mengadaikan bahwa apa yang kita sebut sebagai nilai etik atau moral tidak terlepas dari pengaruh individual yang berusaha meminta pengakuan universal.
Russell, memulai dengan analisis terhadap ide tentang kebaikan. Ide ini secara umum dapat dikatakan apa yang mengacu pada nilai baik ini akan dapat juga diterapkan dalam nilai yang lain. dia menyatakan bahwa, “adalah jelas bahwa seluruh ide tentang yang baik dan jahat memiliki hubungan dengan keinginan”. Russel melihat pada diri subjek yang memberikan nilai, berupaya menguniversalkan apa yang disebut baik oleh dirinya sendiri. Dalam hal etika misalnya, menurutnya adalah keinginan untuk memberikan makna universal diatas keinginan pribadi tertentu.[2]
Mengapa? Russel mengatakan bahwa ini terjadi karena manusia tidak mengkonsepsikan antara yang baik dan yang diinginkan[3]. Karena dia tidak menangkap makna kata yang berbeli belit. Jadi ketika seseorang mengatakan, “ini adalah baik dalam dirinya sendiri”, dia berfikir sedang membuat pernyataan yang sama dengan “ini adalah segi tiga”.  Dalam kalimat pertama sangat jelas bahwa yang dimaksudkan adalah saat kita memberikan nilai kepada benda, maka di sana kita sedang mengutarakan penilaian yang agar dapat diterima secara universal.
Kalimat “ini adalah baik dalam dirinya sendiri”, sejatinya kita sedang memberikan penilaian kepada yang sebelumnya belum memiliki nilai. Tampak ada semacam pemaksaan penilaian disana. Dalam kalimat tersebut secara pemaknaan, akan sama dengan kalimat, saya menghendaki setiap orang menginginkan ini. jika seorang ingin menghubungkan isi dengan apa yang dinyatakan dia harus menafsirkannya sebagai satu penegasan atas satu keinginan pribadi.
Lantas bagaimana kekacauan ini dapat terjadi? Russell menjawab penyebabnya adalah keinginan, sejauh itu berlangsung, yang bersifat pribadi, namun sesuatu yang diinginkan itu bersifat universal. Misalnya ketika saya mengatakan, “keindahan itu baik” seolah saya juga mengatakan bahwa,”semua orang harus mencintai keindahan”. Pada kalimat pertama tidak menegaskan sesautu. Sedangkan pada kalimat kedua mengacu pada suasana kejiwaan si penutur. Kalimat pertama masuk kedalam wilayah etik, tanpa kognisi, yang ada hanyalah pengungkapan keinginan tanpa ada unsur benar atau salah.
Proposisi tanpa kognisi seperti itu berada diluar ilmu pengetahuan ilmiah. Russell menulis teorinya yang disebut subjektivisme nilai. Jika dua orang berbeda pendapat mengenai nilai, kata Russell yang terjadi bukanlah ketidakepakatan diantara mereka dalam hal kebenaran, yang terjadi hanyalah perbedaan selera. Russell dalam hal ini dikarenakan menurutnya, dasar utama untuk menerima pandangan ini karena merupakan kemustahilan untuk menemukan argumen guna membuktikan bahwa nilai ini atau itu memiliki nilai intrinsik.
Namun perbedaan selera ini tidak lantas menimbulkan konsekuesnsi immoral. Semisal runtuhnya nilai yang mengikat dan meyakinkan orang akan nilai etis dan moral. Kewajiban moral secara lebih luas dapat diartikan sebagai keinginan, keinginan impersonal yang memandu kita hidup, oleh karena kekaguman. Keinginan impersonal musti melebihi keinginan persolan atau egoisme pribadi, keinginan impersonal ini merupakan keinginan yang memiliki jenjang yang sama. “keinginan menjadi baik pada umunya mengubah dirinya menjadi keinginan yang disetujui, atau kalau tidak, dengan berbuat sedemikian rupa, sehingga menghasilkan konsekuensi umum yang kita inginkan.
Lantas mengapa kita lebih menyenangi keinginan impersonal dibandingkan egoisme pribadi? Adakah kriteria aksiologis yang memberikan hierarki etis bagi keinginan? Jawabanya terletak pada kenikmatan dan ketidaknikmatan. Kenikmatan tergantung pada kebiasaan dan faktor konvensional. Kebaikan tergantung pada keadaan, unsur sejarah maupun budaya. Tertib moral adalah berbeda: jika orang menyamakan antara apa yang ada dan apa yang seharusnya, yang baik dan yang diinginkan, maka setiap kriteria moral ditinggalkan. Konsekuensi immoral dari ajaran tersebut jelas ada.

aksi 1000 lilin untuk ahok
Sumber : harianindo.com

Ahok dan aksi 1000 lilin
Sekedar untuk menggambarkan kembali kasus ahok yang berlangsung alot beberapa bulan terakhir ini. Penulis mencoba menjabarkan secara-sangat-ringkas perjalanan sekaligus kemelut ahok yang harus dipusingkan dengan banyak hal. Pertama, beliau harus merespon reaksi atas ucapanya yang menyinggung sebagian ummat islam. Kedua, beliau harus mengurus pencalonanya kembali sebagai gubernur DKI Jakarta selanjutnya. Dan yang terpenting, saat itu beliau masih harus melayani Jakarta oleh karena masa jabatanya belum berakhir.
Beberapa bulan ini atmosfer sosio-politik Indonesia dihebohkan oleh isu penistaan agama. Isu ini melibatkan Gubernur DKI Jakarta periode 2014/2017, Basuki Thahaja Purnama alias Ahok. Diujung jabatan inilah pernyataan Ahok yang sangat-dianggap-kontroversial dan merusak nilai etis keagamaan terlontar. Pernyataan yang merupakan beberapa detik penggalan pidatonya di kepulauan seribu pada Selasa, 27 September 2016, itu menuai respon yang reaksioner dari beberapa kalangan di negeri ini.
Dalam pidatonya tersebut, bagian yang paling dipermasalahkan adalah ketika ahok menyatakan”…di bohongi oleh surat al-Maidah ayat 51..bla bla bla”(selengkapnya liat di youtube). Pernyataan ini kemudian menuai respon keras dari beberapa kalangan yang menganggap ahok telah mencederai agama islam. Kemudian pidato ahok tersebut di publikasikan oleh DISKOMINFOMAS Provinsi DKI Jakarta 28 september 2016, di akun Youtube Pemprov DKI Jakarta.
Setelah itu melejitlah kasus penistaan agama yang melibatkan hampir seluruh ummat islam yang ada di Indonesia. Ahok kemudian lambat laun di naikkan ratingnya menjadi calon terdakwa, kemudian terdakwa. Sidang berlangsung berbulan-bulan, dengan menghadirkan berbagai aksi ahli dari pihak penuntut umum dan pembela, bla bla bla dan singkatnya,  setelah melalui peradilan yang alot nan panjang akhirnya putusan sidang menyatakan ahok di vonis 2 tahun penjara.
Putusan vonis ahok selama 2 tahun penjara menjadi jawaban juga atas aksi yang menuntut ahok atas- tajuk besar-Penistaan agama yang berlansung berjilid-jilid. Aksi yang menuntut permintaan maaf, penuntutan dan penolakan terhadap ahok ini berakhir pula, saya kira. Karena tidak ada lagi yang bisa di tuntut dari ahok setelah berada dibalik jeruji. Kepuasan pihak publik mungkin tidak bisa dikatakan memuncak, tapi minimal dengan hasil putusan ini ahok dapat menenangkan diri meskipun didalam jeruji besi.
“Saya berdo’a untuk anda pak ahok. Semoga niat tulus bapak membenahi Jakarta dimiliki oleh pemimpin jakarta hari ini. Dan semoga program mereka tidak hanya menjadi utopis belaka dan melayang layang diawan. Kami juga mengharapkan yang terbaik dari mereka yang baru belajar memimpin sebidang tanah jakarta itu. pak, mereka tidak akan lupa dengan perubahan yang bapak berikan untuk jakarta.
Penjara hanya memasung gerak bapak secara fisik. Tapi tidak dengan fikiran. Bapak dapat lebih banyak waktu untuk memikirkan nasib negeri ini disana. Lebih banyak waktu untuk berkontemplasi dan merefleksi ketidakadilan yang menimpa bapak. Gagasan dan wacana bapak akan tetap hidup di luar sana. Bahkan spirit bapak akan tetap kami jaga sebagai bagian reflektif dari fenomena selama ini.”
Usai vonis, aksi penuntutan terhadap ahok berbalik menjadi aksi solidaritas dan dukungan secara moril. Banyak kalangan melayangkan simpatik. Salah satu bentuk aksi ini adalah aksi 1000 lilin untuk ahok yang berlansung dibeberapa daerah di Indonesia. Menyalakan lilin yang secara simbolik , menurut penulis, mencoba menuangkan harapan dan bela sungkawa atas kejadian yang menimpa ahok.
Salah satu aksi serupa berlangsung juga dimakassar, sabtu 13 mei 2017. Malam itu masyarakat yang merasa simpatik berkumpul di anjungan pantai losari. Mereka secara serempak akan mengadakan aksi solidaritas untuk ahok yang telah dijatuhi vonis 2 tahun penjara. Tapi yang sangat di sayangkan, lagi-lagi ada sebagian orang yang merasa bahwa aksi ini tidak pantas dilakukan dimakassar. Bahkan aksi ini di bubarkan oleh kelompok FPI sebelum aksi di mulai.
HMI Cabang Makassar juga turut serta meramaikan penolakan terhadap aksi ini. Ketua Umum Badko HMI Sulselbar, Taufiq Husaini, menanggapi aksi serupa yang terjadi di beberapa daerah tidak seharusya terjadi. Ia juga menilai bahwa aksi 1000 lilin untuk ahok ini merupakan aksi yang sangat intoleran. Dan dapat memancing keretakan antar kerukunan umat beragama. Mereka juga menganggap aparat kepolisian seolah menutup mata melihat hal ini terjadi. (sumber:kabar.news)
Dibeberapa negara, aksi serupa berlangsung sebagai bentuk solidaritas kepada ahok. Pesan yang disampaikan dalam aksi tersebut cukup beragam. Aksi yang didominasi WNI yang berada dibeberapa negara tersebut mewajibkan mengenakan busana hitam atau merah putih. Salah satunya berlangsung di kota Philadelphia, Negara bagian Pennsylvania, Amerika Serikat. Mengusung tema “Tjahaja Kasih Light Of Love”. (sumber: indonesianlantern.com).
Bentuk lain dari dari aksi solidaritas ini banyak di jumpai puluhan artikel simpatik yang tersebar diberbagai media, baik secara langsung untuk ahok maupun untuk keluarga Ahok. Banyak di antara tulisan simpatik tersebut memuji integritas ahok selama memimpin jakarta. Ada juga yang menyayangkan putusan hakim, serta dukungan dukungan moril lainya.
Aksi 1000 lilin ini, menurut penulis, merupakan tindakan yang wajar-wajar saja dilakukan. Terlebih bagi mereka yang pernah merasakan kebijakan Ahok secara langsung. Aksi ini sebagai bentuk simpati ataupun empati atas vonis yang menimpanya dan sebagai bentuk dukungan moril yang diharapkan mampu menguatkan selama berada dibalik jeruji. Aksi ini juga, kurang lebih, dapat dipandang sebagai bentuk kerinduan akan pemimpin seperti ahok.
 
 Sumber: Google
Evaluasi
Dari pemaparan diatas, maka sisi yang akan kita fokuskan pada sub evaluasi ini adalah aksi 1000 lilin untuk Ahok. Kita akan membedah bagaimana aksi untuk ahok ini terjadi dan bagaimana ia tertolak dalam khalayak. Ini penting untuk mengetahui, kira-kira, motif yang melatarbelakangi pro-kontra aksi ini.
Menelaah kembali fenomena ini maka kita akan melihat dua kutub yang secara diametral berlawanan. Satu sisi  mereka yang pro terhadap Ahok, disisi lain adalah yang kontra. Masing-masing kubu tentunya memiliki alasan tersendiri mengapa aksi ini perlu diadakan. Dan mengapa aksi ini sia sia belaka. Dalam tulisan ini, akan kita lihat bagaimana keinginan mempengaruhi penilaian-penilaian yang beragam terhadap aksi 1000 lilin untuk Ahok? Dan dimana posisi keinginan impersonal dalam hal ini?
Keinginan mempengaruhi penilaian
Aksi 1000 lilin untuk ahok merupakan aksi solidaritas yang dilakukan oleh pendukung ahok. Para pendukung ahok menyayangkan putusan hakim yang menjatuhi vonis selama 2 tahun penjara. Putusan ini dianggap tidak adil dan memihak. Bahkan, beberapa Negara mengaggap undang undang yang berkaitan dengan penistaan agama perlu peninjauan ulang. Bahkan ada yang mengaggap, keputusan hakum tersebut mencederai toleransi beragama yang ada diindonesia (ini fakta, bersadarkan yang diingat penulis setalah membaca beberapa berita terkait. Silahkan Googling).
Keputusan untuk membela ahok dapat ditinjau dari beberapa pendorong tindakan ini. Pertama, karena panggilan hati, baik karena simpati atau empati. Tindakan ini hanya dapat terjadi kalau para pelaku aksi memiliki tendensi untuk melakukan tindakan tersebut. alasan terkait dapat berupa karena ahok orangnya baik, berintegritas dan memang layak untuk diperlalkukan demikian. Perasaan-sebut saja-empati yang mendalam tersebut mendorong keinginan untuk melakukan sesuatu agar cita cita atas empati tersebut mengejewantah dan memuaskan. Minimal untuk dirinya sendiri.
Kedua, tindakan ini dorong oleh kepentingan. Kepentingan disini dapat kita arikan secara negative ataupun positif, tapi kita tidak akan meilhat dari konteks tersebut. Habermas mengatakan bahwa, tidak ada tindakan tanpa kepentingan. Ini sejalan dengan Russell bahwa soal penilaian selalu melibatkan keinginan atau selera-individual[4].
Tindakan diatas selain karena factor kepentingan, minimal untuk memuaskan diri sebagai pendukung ahok, juga diorong oleh keinginan mendalam untuk melakukan aksi tersebut. keinginan ini disebabkan oleh factor diatas. Mengapa? Karena kita harus memahami bahwa tidak ada tindakan tanpa tujuan. Dan secara fundamental, tindakan didorong oleh keinginan untuk melakukan(ego).
Ketiga, tindakan tersebut dapat juga berarti pembelaan sebagai balas budi, terutama bagi yang pernah merasakan kebijakan Ahok yang baik. Tindakan ini didasarkan pada perasaan balas budi dan rasa bersalah kalau saja tidak terlibat dalam aksi tersebut. semacam perasaan berhutang dan berdosa kalau tidak ikut melakukan aksi solidaritas. Sisi sensitive manusia ini kemudian menimbulkan keinginan untu melakukan tindakan tersebut.
Semua alasan tersebut juga dikarenakan membangun ego, yang memustikan tindakan dibenarkan. Sehingga secara umum keinginan ini mempengaruhi seseorang akan apa yang musti lakukan. Ini dikarenakan juga selera[5] akan sesuatu tersebut ikut berperan aktif terhadap penilain yang nantinya akan membentuk tindakan. Demikian dapat katakan, bahwa tendesi orang-orang yang terlibat dalam aksi 1000 lilin untuk ahok dipengaruhi oleh selera orang tersebut.
Posisi keinginan impersonal
Bagaiamana sebagian individu dapat terdorong untuk melakukan aksi 1000 lilin untuk Ahok? Mereka terikat oleh keinginan impersolan, yaitu keingan yang secara kolektif mengatur sekelompok orang. Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, keinginan individual dapat menyebabkan immoral selama mereka mementingkan ego individual diatas ego impersonal. Ego impersonal adalah yang menyatukan tindakan secara kolektiv.
Kenikmatan dan ketidaknikmatan yang terjadi karena kebiasaan secara inheren melekat dalam diri setiap individu. Kenikmatan dan ketidaknikmatan secara kolektiv berlangsung disebabkan karena kebiasaan aturan konvensional masyrarakat. Olehnya dalam satu kelompok manyarakat dapat terjadi kesepahaman dengan kesamaan kebiasaan. Misalnya satu kelompok masyarakat rajin ke masjid untuk shalat berjamaah dan memiliki kenikmatan tersendiri. Lantas kapan salah satu di antara kelompok tersebut tidak pergi shalat berjamaah dimasjid akan merasa tidak enak.
Ini berlaku juga untuk mereka yang melakukan aksi 1000 lilin untuk Ahok. Mereka yang sepaham, sejalan dangan yang diinginkan ahok, atau pernah merasakan kebaikan Ahok dan seterusnya, maka mereka secara bersamaan akan sependeritaan ketika melihat yang terjadi pada Ahok, dalam hal ini Ahok di vonis 2 tahun penjara. Kesadaran kolektiv ini membangun paradigma bahwa kita harus memberikan dukungan secara materi atau moril.
Perasaan kolektif yang dipengaruhi kebiasaan dan penyebab konvensional inilah yang disebut keinginan impersonal. Keinginan yang terbentuk oleh karena sama rasa dan kesepemahaman akan situasi. Terlepas dari segala tendensi yang membangunya.
Di akhir tulisan ini, secara keseluruhan, yang menyatukan masyrakat untuk melakukan aksi 1000 lilin untuk Ahok tersebut adalah keinginan, selera atau ego, yang kemudian terangkum dalam ego impersonal yang membangun kesadaran koletiv masyarakat. Apapun tendensi dalam tindakan tersebut, Ahok telah berhasil menarik simpati yang mendalam oleh karena jejak yang ditinggalkan.

Semoga bermanfaat.




[1] Simon Blackburn, The Oxford Dictionary of Philosophy, Terj. Yudi Santoso: Kamus Filsafat (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013) h. 770
[2] Risieri Frondizi, What is Value?, Terj. Cuk ananta Wijaya: Pengatar Filsafat Nilai (cet. III, Yogyakarata: Pustaka Pelajar, 2011) h. 86
[3] Jika memang demikian, maka sebenarnya konsep ini perlu penelaahan kembali. Kerancuan seperti yang dimaksudkan oleh Russell ini, menurut penulis, belum dapat dibenarkan. Mengingat bahwa tidak semua orang dapat disejajarkan dengan pemahaman yang sama akan nilai baik dan keinginan.
[4] Bukan bermaksud menyamakan dengan apa yang disebut Russell selera, tapi kata selera menurut saya sejalan dengan keinginan(ego).
[5] Oleh karena selera dapat diartikan sangat egoism, maka selera disini saya artika sebagai selera yang memiliki alasan yang rasional.
Read More

Jumat, 30 Desember 2016

Pertarungan Jiwa dan Tubuh : Filsafat Rene Descartes




Riwayat hidup Rene Descartes. ( Seorang Petualang Malam)

sumber : Biography.com


“ pikiran-pikiran Agung mampu melakukan baik kesesatan-kesesatan agung maupun kebajikan-kebajikan agung.”(Descartes).

Rene Descartes adalah seorang filsuf dari France(Perancis) yang lahir pada tanggal 31 Maret 1596 di La Haye Tourine. Sejak kecil ia diasuh lewat ilmu pengetahuan yang membuatnya memiliki otak yang encer. Di usia 8 tahun, Rene Descartes sudah menjadi bintang kelas di sekolahnya di La Fleche. Para Yesuit di Asramanya sangat mengagumi kecerdasan Descartes sampai ia mendapat hak istemewa untuk bangun terlambat, kelonggaran yang di berikan gurunya Karena mereka maklum bahwa Descartes sering menemukan gagasan-gagasan briliantnya selagi begadang atau sedang bermimpi. Kebiasaan terlambat bangun pagi berlangsung hingga usianya tua.

Selesai di La Fleche Descartes ke Paris. Ia menikmati masa mudanya sebagai pemuda yang moderat, ia senang melancong ke luar negeri sampai ke Belanda, Jerman, Hungaria, Swiss, Italia, dan Swedia. Ia biasa mengisi waktu luang dengan berjudi dan itupun selalu beruntung.[1]

Sementara melancong , ia tidak meninggalkan kebiasaanya sebagai seorang pembaca yang setia dan penulis yang setia dan Ia banyak menulis pikiran dan hasil refleksinya saat keluar rumah. Itupun di dapatkannya ketika malam tiba dan saat ia sedang bermimpi.

Descartes adalah seorang yang berwatak tenang dan suka menyendiri, namun pikirannya penuh semangat pemberontakan. Hidupnya penuh ketegangan antara tampil kemuka dan surut kebelakang. Dia suka Paris yang ramai, tetapi tiba-tiba dia menyendiri jauh dari keluarganya antara lain ke Jerman. Di Dalam barak militer di Neuburg dekat kota Ulm, Jerman, di malam tanggal 11 November 1619 Descartes menemukan ide sentral Filsafatnya saat ia sedang bermimpi di dalam tidurnya. Dia bermimpi tentang sebuah kamus yang masih harus di lengkapi. Dalam mimpinya itu dia mendengar kata-kata “ Quod vitae sectabor iter?”( Jalan hidup manakah yang seharusnya kutempuh).[2] Dia sendiri menafsirkan impiannya itu sebagai tugas untuk melengkapi seluruh ilmu pengetahuan. Buku Discours di tulis dalam suasana sendiri dalam kesepian di Belanda. Ia menulis “ Aku disini bisa melewatkan seluruh hidupku tanpa di ketahui seorang pun”. “Disini aku tidur malam sepuluh jam tanpa kekhawatiran apa pun yang membuatku terjaga”[3]. Dalam suasana yang sepi itulah ia berkontemplasi untuk menemukan kebenaran yang selama ini di carinya dan ia merasa telah menemukan kebenaran itu.

Masyarakat tempat Descartes hidup berciri Aristokrat yang memberi tempat utama kepada elit bangsawan. Minat elit ini adalah pada masalah metafisika Skolastik. Sementara itu dari kalangan yang sama memiliki minat baru terhadap matematika, geometri, dan fisika yang mulai giat di pelajari di zaman itu.

Sedang Rene Descartes minat kepada keduanya. Dalam situasi yang hampir sama dengan pemikir-pemikir seperti Bacon, Bruno dan Machiavelli. Filsuf ini menghasilkan refleksinya. Dan apa yang di hadapainya juga sama dengan filsuf lainnya, ia mendapat protes serta kecaman yang keras dari kelompok masyrakat yang tidak menyukai filsafatnya. Permusuhan yang paling gencar di arahkan kepadanya adalah dari para Yesuit yang menjadi pengasuh di masa mudanya. Ajarannya di anggap menyimpang dari teologi Katolik, maka Filsafatnya di masukkan dalam daftar ajaran sesat, buku-bukunya yang termasyur dan mempengaruhi gerak zaman modern adalah Discours de la Methode (1673) dan Meditationes de Prima Philosophia (1641).

Seumur Hidupnya, dia kerap di ganggu sakit batuk yang tak kunjung sembuh, sementara dia sendiri engga berurusan dengan dokter. Dan pada tahun 1650 setelah melewati kehidupan yang berarti, Rene Descartes wafat dengan damai di kota Stockholm.

Filsafat Rene Descartes. Pemikirannya tentang Manusia sebagai Pertarungan Jiwa dan Tubuh.
Ada dua Faktor yang penting untuk di ketahui sebelum membaca Pemikiran Rene Descartes. Pertama, perlulah mengetahu sosio historis yang mempengaruhi psikologi Rene Descartes dalam menghasilkan refleksinya,. Kedua, penting pula mengetahui pengalaman-pengalaman yang telah di lewati Rene Descartes terutama petualangan melancongnya ke berbagai tempat.

Mengenai factor yang pertama. Telah sedikit di singgung pada halaman sebelumnya. Bahwa Rene Descartes hidup di tengah-tengah masyarakat yang berciri Aristokrat yakni memberi tempat utama kepada elite bangsawan dan minat elit ini adalah pada masalah metafisika Skolastik.[4] Metafisi skolastik adalah metafisika hasil dari system Plato dan Aristoteles yang mendominasi semua pemikiran filosofis di Barat selama dua ribu tahun. Tatkala agama Nasrani muncul di kancah filsafat untuk pertama kalinya , sebagaian besar pater gereja mengambil beberapa versi idealism Platonik sebagai basis bagi teologi mereka. Kecenderungan itu memuncak pada diri St. Agustinus yang sangat berpengaruh pada masa kegelapan sehingga Aristoteles terlupakan di Eropa. Namun cendikiawan-cendikiawan Muslim melestarikan tulisan-tulisan Aristoteles selama periode itu, terutama dengan bahasa Arab yang di gunakan sebagai landasan untuk penyusunan berbagai bentuk filsafat dan teologi Islam. Lewat St Thomas Aquinas . Aristoteles kembali ke Barat. [5]

Pemikiran realisme Aristotelian mengenai konsep tentang jiwa yang di yakini sebagai prinsip yang memberi kehidupan kepada makhluk hidup. Ada tiga jenis jiwa menurut Aristoteles. pertama, Jiwa vegetatif yang memberi kemampuan untuk menyerap makanan dan bereproduksi.  kedua, Jiwa Hewani/Sensitif yang memberi kemampuan untuk daya penggerak, sensasi, ingatan, dan imajinasi. Ketiga, Jiwa Rasional yang hanya di miliki oleh manusia yang memberinya kemampuan berpikir secara sadar, membuat norma social, serta menyusun kebajikan-kebajikan moral.[6]
Selain Konsep jiwa yang di tawarkan oleh Aristoteles, Rene Descartes juga sedikit terpengaruh oleh konsep Idealis Platonik.  Namun bagi Descartes kedua Tradisi Aristotelian dan Platonian memiliki cacat yang sama bahwa keduanya tidak dapat menciptakan kebenaran mutlak total yang bisa menjadi dasar yang tak terbantahkan untuk menyusun pengetahuan yang ketat. Maka dari itu ia merasa harus menemukan pendasaran metodis yang baru dalam Filsafat.

Metode Kesangsian dan “Cogito Ergo Sum”.

Dengan meragukan konsep Aristotelian- Thomis dan Platonik-Agustinian muncul sebuah pertanyaan bagaimana kepastian mutlak itu dapat di buktikan? Bagaimana pondasi yang kokoh bagi pengetahuan itu dapat ditemukan.?

Dalam kesendiriannya di barak Militer di Jerman. Descartes mendapatkan sebuah kebenaran Mutlak yang dapat kita yakini sekali dan untuk selamanya. Kebenaran Mutlak itu di dapatkan lewat metode Kesangsian “ le doute methodeque” yang sangat membutuhkan kesendirian.[7]

Bagi Descartes untuk menemukan kebenaran Mutlak itu pertama-tama, dia mulai menyangsikan segala bentuk sifat-sifat dasar sederhana pada sebuah objek yang bisa di tangkap oleh Indra kita, dia menyangsikan ide yang bagi Descartes ide bisa tipuan belaka dari semacam Iblis yang sangat cerdik.  dia juga menyangsikan asas- asas matematika dan pandangan metafisis yang berlaku tentang dunia material dan dunia Rohani. [8]

Lalu apakah yang dapat di jadikan pegangan setelah semuanya di sangsikan ? menurut Descartes, sekurang-kurangnya “ aku yang menyangsikan” bukanlah hasil tipuan. Semakin segala sesuatunya di sangsikan  semakin di sadari bahwa kita sedang sangsi. Kesangsian terhadap sangsi itu membuktikan bahwa kita sedang mengada dalam kegiatan berpikir. Karena menyangsikan adalah berpikir. Maka Descartes menyebut “ Cogito Ergo Sum, aku berpikir maka aku ada “.

Dengan metode Kesangsian inilah di temukan sebuah kebenaran Mutlak yaitu “cogito”. Cogito  ini tidak ditemukan dengan deduksi dari prinsip-prinsip umum ala Aristotelian atau lewat intuisi. Cogito di temukan lewat pikiran kita sendiri, sesuatu yang di kenali melalui dirinya sendiri, bukan melalui kitab suci, dongeng, pendapat orang, prasangka, dan seterusnya.[9]

Dalam menyangsikan segala sesuatunya Rene Descartes telah mendapatkan sebuah kebenaran mutlak akan dirinya yang sedang berpikir. Namun saat ia menjelaskan tema-tema seperti  Jiwa dan tubuh yang memang sudah lama dibahas oleh filsuf-filsuf yang di dahuluinya. Filsafat Rene Descartes tetap menyisakan minat akan metafisika. Dia tidak dalam keadaan kosong saat menjelaskan tubuh dan Jiwa.

Rene Descartes mengenai Tubuh.
Setelah meragukan secara sistematis segala bentuk gejala alam fisis, ia lalu menarik kesimpulan, bahwa hanya terdapat dua sifat dasar yang jelas dan terpilah-pilah, atau yang tidak bisa di ragukan dan di analisis lagi yakni keluasan dan gerak. Seluruh badan yang hidup harus di jelaskan berdasarkan pada prinsip-prinsip yang sama seperti gejala alam fisis lainnya.

Descartes percaya bahwa ada tiga jenis partikel dasar di alam semesta, yakni api, udara dan tanah yang membentuk objek yang berukuran besar.

Partikel Api.

Descartes memahami Api atau partikel-partikel panas, sebagai unsur yang paling kecil, sedemikian kecilnya ketika berkumpul partikel ini membentuk zat cair dan gas yang sangat sempurna. Yang mampu mengisi ruang bentuk atau ukuran. Partikel-partikel tersebut secara alamiah menembus kepartikel-partikel lain yang lebih besar di dalam alam, di samping juga berpadu dengan sangat intens di pusat alam itu, dan membentuk matahari.

Partikel Udara

Menurut Rene Descartes, partikel udara memiliki ukuran yang lebih besar dari pada partikel api. Meskipun tetap tidak dapat di amati secara langsung. Partikel-Partikel yang jumlahnya sangat luar biasa ini mengisi segenap ruang di antara objek-objek dan secara serentak bergerak keruang begitu objek bergerak. Partkel udara secara alamiah memformulasikan dirinya sendiri kedalam kolom-kolom diantara objek-objek yang kemudian membentuk dasar material bagi sinar cahaya. Jadi jika manusia melihat objek sebenarnya ia sedang melihat cahaya yang tersusun dari partikel udara yang sangat halus yang menyebar kemata manusia.

Partikel Tanah.

Semua Objek yang dapat di lihat dengan kasat mata seperti pohon, rumput, sebatang kayu dan Manusia di duga tersusun dari pertembuhan partikel-partikel “tanah”, yakni unsur partikel yang lebih besar dan memiliki massa yang lebih berat. Partikel tanah yang membentuk objek itu secara terus menerus bergerak atau bergetar, gerakan dan geetaran tersebut di salurkan kepada kolom-kolom sinar cahaya menuju mata. Getaran itu lalu merangsang partikel material dari mata dalam gerakan simpatetik.

Lewat tiga unsur partikel ini. Descartes telah menjelaskan bagaimana manusia mempersepsikan Objek. Ia mendapati sebuah landasan yang di jelaskan secara empiris. Tubuh terdiri dari partikel-partikel yang bergerak dan memiliki keluasan seperti benda-benda fisik lainnya.

Rene Descartes Mengenai Jiwa.
Jiwa Hewani dan vegetative yang menjadi kadaluarsa.

Descartes hendak menggurkan konsep-konsep tradisional mengenai jiwa hewani dan vegetative yang memiliki fungus bagi tubuh seperti : mencerna makanan, sirkuluasidarah, daya tahan dan pertumbuhan tubuh , respirasi, tidur dan terjaga, sensasi pada dunia luar, imajinasi, memori, nafsu dan gairah dan pergerakan tubuh. Semua fungsi tersebut ternyata dapat di jelaskan secara empiris. Dan Rene Descartes lebih senang menyebutnya sebagai gerakan mekanis yang bergerak secara otomatis. Itulah mengapa kita tidak perlu menyebut jatuh cinta seorang pemuda pemudi sebagai sebagai sebuah gerakan dari jiwa di dalam hati kecuali sebuah gerakan darah yang di gerakkan oleh panasnya api yang menyala tanpa henti di dalam jantung. Sebagaiman Wiiliam Harvey(1578-1657) juga menjelaskan jantung sebagai pusat peredaran darah.

Rene Descartes juga tertarik pada rongga-rongga di dalam otak yang berisi cairan jernih berwarna kuning, yang disebut sebagai jiwa hewani ( yang berfungsi sebagai sensasi ke dunia luar, nafsu dan gairah serta memori dan imajinasi). Ia berspekulasi bahwa jiwa Hewani adalah partikel yang kecil dan halus yang berkumpul membetuk partikel yang lebih kasar sebagai darah yang menuju otak. Otak ini yang kemudian mengalirkan darah melewati jaringan-jaringan tubuh dan mengaktifkan otot-otot. Otak dan darah inilah yang menjadi biang dari segala kegiatan yang di sebabkan oleh jiwa Hewani.

Descartes percaya bahwa analisisnya berhasil menunjukkan seluruh fungsi-fungsi jiwa vegetative dan hewani dapat di jelaskan secara mekanistik. Maka dari itu Hewan yang ia perhatikan hanyalah sebuah mesin otomatis yang di kendalikan oleh darahnya sendiri. Maka Hewan yang buas di pengaruhi oleh darahnya. Namun bagaimana dengan manusia. Manusia juga memiliki jiwa vegetative dan hewani tubuh manusia adalah mesin otomatis juga yang memiliki darah tetapi Rene Descartes belum menyinggung jiwa Rasional yang tidak di miliki selain manusia.

Jiwa Rasional yang Imaterial.

Descartes merasa ada segi subyektif dari pengalaman manusia yang teramat luhur yang tidak mengzinkan Descartes untuk memesinkan manusia secara keseluruhan.

Jiwa Rasional itu ada bagi Descartes namun jiwa tidak tampak secara langsung dalam kesadaran kita, seperti halnya ketika mata mempersepsikan partikel Cahaya. Namun ia meyakini bahwa jiwa itu benar-benar ada. Yang hanya di peroleh lewat “cogito” aku berpikir. Maka ia menamakan jiwa sebagai ide bawaan. Yaitu sebuah ide yang tidak bergantung dari pengalaman indrawi terhadap yang materi.

Ide bawaan ini membawanya pada ide kesempurnaan dan ide kesempurnaan ini lalu membawa Descartes pada sebuah pemikiran tentang adanya “sesuatu” yang telah menciptakan segala aspek kesempurnaan. Descartes menyebut “sesuatu” itu sebagai Tuhan. Tuhan inilah yang menjadi dalang dalam memperoleh pengetahuan perpaduan partikel dari persepsi Indrawi dan pengetahuan imateri yang di dapati dari integritas jiwa yang mempersepsinya.

Jiwa yakni jiwa Rasional menjadi sesuatu yang lebih dasariah atau Fundamental yang berinteraksi dengan tubuh manusia. Namun bagaimanakan jiwa Rasiona yang Imaterial ini dapat berinteraksi dengan tubuh yang material.

Hubungan Jiwa dan Badan dalam Filsafat Descartes.

Jadi filsafat Descartes menempatkan rasio dan fungsi-fungsi intelektual jiwa sebagai sesuatu yang lebih fundamental dari pada pengalaman Indra, Karena alasan ini Descartes melahirkan mazhab pemikiran Rasionalis dan nativis.  Karena Jiwa rasionallah yang mendahului  pengalaman konkret yang membawanya juga menjadi anti tesa dari empirisme realisme yang percaya bahwa pengalaman Konkretlah yang mempengaruhi jiwa.

Descartes di sebut sebagai seorang dualis Karena pembedaanya  yang tajam antara dua substansi tubuh dan jiwa. Menurut Descartes, Tubuh tanpa Jiwa akan menjadi otomat belaka, yang di gerakkan secara mekanis oleh stimulus eksternal dan kondisi-kondisi hidrolik internal atau “emosional”. Jiwa tanpa Tubuh pun hanya akan menghasilkan ide-ide bawaan saja tanpa di perkaya oleh persepsi-persepsi kompleks Indrawi. Jadi tubuh dan Jiwa adalah hubungan timbal balik. Tubuh memperkaya Jiwa dan jiwa menambah rasionalitas terhadap perilaku manusia.

Untuk menjawab bagaimanakah jiwa yang immaterial dapat mempengaruhi tubuh yang material. Untuk menjawab pertanyaan itu bagi Descartes tempat yang paling logis untuk jiwa adalah di suatu tempat di dalam otak yang menjadi pusat control bagi sensasi-sensasi dan gerakan-gerakan tubuh. Namun otak ternyata merupakan organ fisik yang memiliki dua bidang simetris yang terpisah. Sedang jiwa merupakan entitas yang terpadu.

Tubuh ketika menerima kehadiran ganda dari suatu objek dalam dunia . jiwa hanya mempersepsi satu kehadiran saja . Selanjutnya Descartes percaya bahwa persepsi yang sadar haruslah secara akurat merepleksikan dunia nyata. Ketika aku melihat sebatang pohon dari balik jendela. Phon tersebut secara akurat haruslah mempersatukan semua pohon yang sama di sudut dunia di mana saja. Dengan demikian kesan ganda tersebut dapat di satukan dalam keterpaduan jiwa.

Descartes beranggapan bahwa keterpaduan itu hanya bisa terjadi di dalam stuktur yang tidak terbagi. Di dalam otak Descartes mendapati sebuah kelenjar pinealis yang sebesar biji kacang yang berada dekat dengan pusat otak. Kelenjar Pinealis inilah yang menjadi jembatan antara jiwa dan tubuh manusia.

Analisis Kritis terhadap Filsafat Manusia Rene Descartes.

Mari kita sekarang menyebut filsafat manusia Rene Descartes sebagai dualism Cartesian. Ada bebrapa Konsekuensi penting yang perlu di kritisi. Pertama Rene Descartes telah mengambil langkah berani dan menyiksa ketika mulai mempertanyakan kebenaran mutlak yang berujung pada sebuah kesangsian yang radiks terhadap pikiran Filsafat dari dua filsuf besar yang telah mempengaruhi Barat selama dua ribu tahun lamanya yakni pemikiran filsafat Platonia dan Aristotelian.

Kedua, Rene Descartes telah menggugurkan defenisi manusia sebagai “hewan rasional” dari Aristoteles  dengan hubungan Jiwa-Tubuh dari Descartes meskipun teorinya juga akan di gugurkan oleh pengetahuan yang lebih banyak menggunakan alat.

Ketiga, Dalam bidang ilmu pengetahuan alam Rene Descartes memberikan ke optimisan bagi para Ilmuwan yang dapat meneliti objek secara obyektif dimana ide Platonian tidak lagi menganggu para ilmuwan dalam menemukan bebas nilai meskipun pemikir -pemikir dari Empirisme lah yang berperan paling banyak mempengaruhi penelitian para ilmuwa. Namun tidak dapat di pungkiri dualism Cartesian telah menjadi jalan munculnya anti tesa atau dukungan yang memungkinkan teknologi terapan berkembang dengan sangat pesat di Eropa pada tiga abad ini.

Keempat, Pandangannya mengenai manusia sangatlah mekanistik dan dapat di cerna ketika Rene Descartes membahas Jiwa-Badan secara terpisah. Namun ketika menjelaskan hubungan Jiwa – Badan lewat Kelenjar Pinealis inilah Rene Descartes memunculkan Kontroversi akan penjelasan yang sangat membingungkan. Kontroversi ini lalu memicu sebuah perdebatan panjang bahkan banyak melahirkan filsuf -filsuf yang mndukungnya dan menjadi penentangnya.

Adapun lima aliran yang menanggapi Dualisme Cartesian. Materialisme Thomas Hobbes, Immaterialisme George barkeley, paralelisme, Nicholas Malebrance, Teori Aspek Ganda Spinoza dan Epifenomenalisme David hume.

Namun terlepas dari segala bentuk kritik terhadap Rene Descartes. Rene Descartes sebenarnya tetap mempertahankan kesatuan manusia itu dalam ide kesempurnaan Tuhan, seperti teori dari Spinoza seorang filsuf Rasionalis yang menjelaskan tentang Panteisme.

Kelima, Rene Descates bersama kontroveri Jiwa-tubuhnya telah menimbulkan ragam aliran dalam filsafat. Ia pun memang layak di sebut sebagai Bapak filsafat Modern. Karena dialah yang telah mencoba untuk menemukan Kebenaran Mutlak yang di dapatkannya lewat metode kesangsian yang sangat mengandalkan “Cogito”nya sebagai jiwa ayang berpikir. Sejak saat itu orang Eropa ramai mengedepankan akal yang menjadi ciri khas dari zaman modern.

Demikianlah penjelasan Manusia dari Filsafat Rene Descartes.


Daftar Pustaka.
Hardiman F, Budi, Pemikiran-Pemikiran yang Membentuk Dunia Modern.Jakarta : Penerbit Erlangga, 2011.
Abidin, Zainal .Filsafat Manusia Memahami Manusia Melalui Filsafat, VII .Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2014.
palmquist, Stephen . The Tree of Philosophy a Course of Intruductory Lectures for Beginning Student of Philosophy, ( Hongkong, Philopsychy Press, 2000) di terjemahkan dari Muhammad Shodiq, Pohon Filsafat Teks Kuliah pengantar Filsafat, II  Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2007.



[1] F Budi Hardiman, Pemikiran-Pemikiran yang Membentuk Dunia Modern,( Jakarta : Penerbit Erlangga, 2011) h.31.
[2] JB Metzler, Metzeler Philoshopen Lexikon, Stutgart,1989. h. 180. Di kutip dari F Budi Hardiman, Pemikiran-Pemikiran yang Membentuk Dunia Modern,( Jakarta : Penerbit Erlangga, 2011) h.32.
[3] Wilhelm Weischedel, Die philosophiche Hintertreppe, Munchen, 1973. h. 117. Di kutip dari F Budi Hardiman, Pemikiran-Pemikiran yang Membentuk Dunia Modern,( Jakarta : Penerbit Erlangga, 2011) h.32.
[4] F Budi Hardiman, Pemikiran-Pemikiran yang Membentuk Dunia Modern,( Jakarta : Penerbit Erlangga, 2011) h.30
[5] Stephen palmquist, The Tree of Philosophy a Course of Intruductory Lectures for Beginning Student of Philosophy, ( Hongkong, Philopsychy Press, 2000) di terjemahkan dari Muhammad Shodiq, Pohon Filsafat Teks Kuliah pengantar Filsafat, II ( Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2007). h. 74.
[6] Zainal Abidin, Filsafat Manusia Memahami Manusia Melalui Filsafat, VII ( Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2014) h.51.
[7] Stephen palmquist, The Tree of Philosophy a Course of Intruductory Lectures for Beginning Student of Philosophy, ( Hongkong, Philopsychy Press, 2000) di terjemahkan dari Muhammad Shodiq, Pohon Filsafat Teks Kuliah pengantar Filsafat, II ( Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2007). h. 75.
[8] Stephen palmquist, The Tree of Philosophy a Course of Intruductory Lectures for Beginning Student of Philosophy, ( Hongkong, Philopsychy Press, 2000) di terjemahkan dari Muhammad Shodiq, Pohon Filsafat Teks Kuliah pengantar Filsafat, II ( Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2007). h. 76-77
[9] F Budi Hardiman, Pemikiran-Pemikiran yang Membentuk Dunia Modern,( Jakarta : Penerbit Erlangga, 2011) h.34
Read More

Sabtu, 26 Desember 2015

Sistem Moralitas Kant

Sistem Moralitas Kant


BAB I
Pendahuluan
A.      Latar Belakang.
 Sistem Moralitas Kant di jelaskan secara gamblang pada buku populernya The Crtique of Practical Reason yang melanjuti buku pertamanya The Crtique of  Pure Reason. Pada bagian besar buku ini Kant berusaha untuk menjawab pertanyaan, Bagaimanakah saya dapat bertindak, dan bagaimanakah saya dapat memilih berbuat baik atau buruk.
Immanuel Kant yang lahir di Konisberg 1724, telah dapat diketahui ke profesionalitasannya dalam dunia kefilsafatan. Dia seorang Profesor Filsafat yang merumuskan tiga cabang filsafat, Epistimologi, Metafisika dan Moralitas dalam bentuk yang di yakininya Kritisisme. Sebuah bentuk pemikran yang mutakhir.
Dilihat dari garis panjang perjalanan Filsafat. Kant berdiri di tengah pertarungan yang sengit dan rumit antara Rasionalisme dan Empirisme. Dalam hal persoalan Moral. Sebelum Kant. Telah menjadi perdebatan hangat di antara para Filosof dari berbagai zaman. Di sebut saja Etika hedonisme,Epikureanisme, Teleologis, Aristotelian, lalu Deontologis Kant dan Utilitarianisme. Jadi jika membahasa Moralitas Kant. Kita juga akan mengkritik sistem Moralitas yang mendahului dan melampauinya.
Persoalan Moral dalam telaah Filsafat pada umumnya bisa di bagi dalam tiga wilayah. Pertama, Filsafat yang mempersoalkan moral sebagai gejala atau fenomena yang muncul dalam kesadaran diri manusia; dalam bahasa Indonesia sering di sebut hati nurani atau suara hati. Gejala ini berkaitan dengan kewajiban bertindak moral karena kewajiban itu sendiri. Kedua, Filsafat yang mempersoalkan moral dalam kerangka nilai-nilai baku, yang di acu sebagai pedoman perilaku dan tindakan manusia , yang menjadi ukuran penilaian baik dan buruk seseorang sebagai manusia. dalam wilayah ini dapat di bicarakan konsep-konsep norma, nilai, dan aliran-aliran atau mazhab-mazhab etika, Dan ketiga , filsafat yang mengupas makna peristilahan-peristiliahan yang di pakai dalam pembicaraan tentang moral : apakah yang di maksud dengan kata-kata baik, wajib, utama, dan sebagainya. Meskipun wilayah ini berbeda satu dari yang lain namun ketiganya saling bertautan.
Pada wilayah yang pertamalah yang di sebut juga sebagai wialyah fenomenologis moral yang mempertanyakan apakah moral itu mempunyai Implikasi dalam wialyah etika normatif. Di sinilah kita akan bergelut dengan moralitas Kant.
B.      Rumusan Masalah
1.       Bagaimanakah sistem Moralitas Kant.?
2.       Bagaimanakah Moralitas Kant membuktikan Tuhan?

BABII
Pembahasan
A.      Sistem Moralitas kant

Sebelum masuk kedalam isi pada Moralitas Kant. Perlulah kita berangkat dari titik terawal dalam membahas mengenai Moral. Moral dapat di artikan sebagai ajaran-ajaran, wejangan-wejangan, Khutbah-khutbah, patokan-patokan, kumpulan peraturan dan ketetapan , entah lisan atau tertulis, tentang bagaimana manusia harus hidup dan bertindak agar ia menjadi manusia yang baik. Sumber langsung ajaran moral dalam versi defenisi ini adalah pelbagai orang dalam kedudukan yang berwenang, seperti orang tua dan guru, para pemuka masyarakat dan agama, dan tulisan-tulisan para bijak. Sumber dasar ajaran-ajaran itu adalah tradisi dan adat istiadat, ajaran agama-agama atau ideologi-ideologi tertentu.[1]
Dalam bentuk Aplikatif. Ajaran Moral berusaha menjawab pertanyaan “ Bagaimana saya harus hidup”, atau “apa yang boleh, apa yang tidak boleh, dan apa yang wajib saya perbuat?”.pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang mendasari penulisan buku The Crituque of Practical Reason, untuk menjelaskan bagaimana kita dengan rasio praktis dapat berbuat.?
Moralitas meruapakan kekhususan dari makhluk rasional. Berkat rasionya, manusia dapat menjadi makhluk yang bermartabat, artinya ia menjadi tujuan pada dirinya sendiri dan tidak pernah boleh di jadikan sarana untuk tujuan yang lain.
Sistem Moralitas Kant sering pula di istilahkan sebagai sistem etika Deontologis yang menyangkut hal baik dan buruk, tetapi kebaikan dan keburukan itu bukanlah apa yang kita maksud baik dan buruk, tetapi kebaikan dan keburukan itu berdasar pada bahasa Kant, apa yang baik pada dirinya sendiri, yang baik tanpa pembatasan sama sekali.[2]
Syarat kebaikan pelbagai sifat manusia adalah kehendak baiknya. Karena itu, tidak ada yang baik pada dirinya sendiri selain kehendak baik. Itulah titik tolak pemikiran Kant tentang Moralitas. Dalam paradigma kant, ada tiga kemungkinan alternatif seseorang dalam mengimplementasikan kewajibannya.
Pertama ia dapat melaksanakan kewajibannya karena hal itu menguntungkan, kedua ia menunaikannya karena merasa langsung terdorong dalam hatinya, ketiga ia memenuhi kewajibannya demi kewajibannya itu. Jadi karena ia mau memenuhi apa yang menjadi kewajibannya. Menurut Kant, hanya kehendak terakhir inilah yang betul-betul  bersifat moral. Melakukan kewajiban karena mau memenuhi kewajiban itulah kehendak baik tanpa pembatasan dan yang oleh Kant di sebut moralitas, dengan alasan ini etika Kant disebut etika kewajiban.[3]
Apabila kewajiban kita di dasarkan pada persepsi a priori akal budi praktis murni, artinya sebuah kewajiban itutidak dapat di tentukan bagi segala hal yang empiris, lalu jika hal itu adalah murni lalu bagaimanakah kita mengetahui kewajiban itu? Atau bagaimanakah kita dapat mengetahui kriteria kewajiban moral itu. Kant menjawab bahwa kriteria itu adalah imperatif kategoris. Sebagai perintah , imperatif Kategoris bukan sembarang perintah. Kanta memakai kata imperatif atau perintah bukan bagi segala macam permintaan, melainkan untuk mengungkapkan suatu keharusan.[4]
Kant membagi dua macam Imperatif, imperatif hipotesis yang mengatakan jika anda ingin mencapai tujuan ini dan itu maka anda harus melakukan ini dan itu. Misalnya jika anda ingin menjadi mahasiswa yang memiliki nilai IPK 4.00 maka anda harus menajdi mahasiswa yang taat aturan, rajin, serta cerdas dalam mengikuti perkuliahan. Imperatif hipotesis(kalau maka...) menyertakan syarat, artinya kewajibannya hanya hipotesis. [5]
Kedua, Imperatif Kategoris yang mengikat seseorang tanpa syarat apapun. Bentuk Imperatif yang terakhir ini adalah “ Engkau harus begitu saja “ Imperatif kategoris ini menjiwai semua peraturan etis. Misalnya janji haru di tepati ( senang atau tidak senang), barang yang di pinjam harus di kembalikan (kendati pemiliknya sudah lupa). Imperatif kategoris ini tidak menyuruh kita untuk menghindari berbohong karena kita tidak akan mencapai reputasi yang baik ,ia semata-mata menyuruh kita untuk tidak berbohong, titik.[6]
Cara kerja Imperatif Kategoris tersebut bersifat apriori dan Kant merumuskannya dnegan sebuah prinsip ( Maksim, aturan pokok) yang berbunyi: “bertindaklah menurut prinsip itu dan prinsip itu saja, yakni prinsip yang engkau dapat menginginkannya menjadi hukum Universal”. Jadi kalau seseorang tidak ingin di bohongi , maka ia akan membayangkan kaidah yang berlaku secara umum, termasuk diirnya untuk tidak berbohong. Demikian pula apabila ia ingin di perlakukan dengan cara yang terhormat, ia akan membuat kaidah umum utnuk menghormati setiap orang, termasuk dirinya. Hanya dengan cara inilah moral bisa di jalankan.
B.      Moralitas Kant membuktikan Tuhan
Tuhan bisa di buktikan lewat berbagai Argumentasi, salah satu argumentasi yang di yakini Kant yang paling kuat adalh argumentasi moral. Pertanyaan pokoknya adalah apakah hubungan moral dengan adanya Allah? Kant mempunyai variasi atas satu jawaban atas pertanyaan ini. Disini akan di sampaikan dua ajaran Kant yang terkenal tentang hal itu.
Pertama Allah dan suara hati. Kesadaran moral mulai dengan kewajiban yang mutlak sifatnya. Kewajiban yang mengikat seperti ini hanya mungkin di bebankan kepada manusia oleh seseorang pribadi lain yang juga bersifat mutlak. Pribadi ini tentunya bukan manusia biasa seperti kita, sebab kita adalah mahkluk terbatas. Maka, kesadaran moral dalam suara hati mengandaikan adanya seorang pribadi yang perintahnya wajib kita taati. Nah, pribadi itu adalah Allah. Dengan bertindak moral dengan mengikuti suara hati (Praktische Vernunft), manusia mengakui kehadiran Allah. Kesadaran akan kehadiran Allah ada di luar jangkauan pemikiran murni yang bersifat teoritis. Dalam suara hati,manusia sadar akan tuntunan dari Allah yang memberi dan menjamin hukum abadi. Bagi Kant, suara hati adalah kesadaran akan suatu otoritas yangs ecara mutlak mengikat manusia akan kewajibanya,sedangkan Allah adalah instansi moral yang memberi kepada manusia kemutlakan perintah kewajiban suara hatinya.[7]
Kedua, allah dan tujuan moralitas. Bagi Kant kesadaran moral mewajibkan kita untuk mengupayakan “ kebaikan tertingg (Summum Bonum) atau kebahagiaan sempurna. Namun, kebaikan tertinggi atau kebahagiaan akhir itu, menurut Kant tidak pernah terealisasi sepenuhnya di dunia ini sebab adanya kejahatan. Kalau memang demikian, timbul masalah baru, apakah perbuatan moral manusia  di dunia ini akan sia-sia saja?.
Untuk menjawab pertanyaan ini maka di hadirkanlah tiga Postulat, kehendak bebas, Tuhan dan keabadiaan. agar kebaikan moral dan kebahagiaan sempurna itu berhubungan. Mustahillah kewajiban moral itu terlakukan jika tidak ada kehendak bebas, hukum moral adalah hukum di dalamnya kita bertindak berdasarkan prinsip yang kita yakini sendiri (Otonomi). Justru berkat kebebasan kehendaklah kita bisa berbuat demikian. Dan untuk mencapai kebahagiaan sempurna yang ada pada keiudpan yang akan datang, tentu saja kehadiran Immortalitas atau keabadiaan jiwa mutlak adanya karena kebahagiaan sejati terjamin bukan pada kehidupan kini di dunia. Agar kedua potulat ini bisa masuk akal maka kehadiran Tuhan sebagai realitas mutlak eins realissimum  adalah penjamin ketidak absurdnya moralitas, dan sebagai itu ia merupakan pemberi makna terakhir bagi hidup moral.  Ketiga postulat ini sebagai hasil dari “Fakta akal Budi” mesti niscaya di terima tanpa ragu.[8]
Dengan nilai-nilai kebajikan tertinggi ini, yakni kebenaran, kebahagiaan, dan keadilan, maka tiga postulat ini terutama Tuhan sang pemilik mahkamah keadilan hakiki, harus eksis agar keadilan dan kebahagiaan dapat terunaikan secara konkret sesuai dengan haknya masing-masing. Pada titik inilah, bagi Kant, eksistensi Tuhan mutlak harus eksis sebagai penjamin final bagi terlaksananya kebajikan puncak, keadialn absolut dan kebahagiaan sejati yang menunggu di seberang jurang kematian.


BAB III
Penutup


Kesimpulan.
Pembahasan mengenai Kant tentu saja tidak berakhir pada kesimpulan ini. Namun pemakahalh dapat mengsumsikan bahawa talah dapat di baca dan kita telah mendapatkan jalan untuk melampaui Kant. Dalam arti dapat mengkritik ajaran Kant. Lewat Moralitas inilah. Kita dapat pula  mengrti apa tujuan dari Kritisisme yang sebenarnya. Yakni memurnikan Tuhan dari sebgala spekulasi yang membabi buta. Melindungi tuhan dari segala bahasa yang sama sekali negatif untuk Tuhan.
Daftar Pustaka

Abdullah, Amin ,Antara AlGazali dan Kant, terj. Hamzah, .Bandung: Mizan 2002.
Gaarder, Jostein ,Dunia Sophie, terjemahan oleh Rahmani Astuti, ( Bandung : Mizan,1997),h.365
Russel, Bertrand ,Sejarah Filsafat Barat dan Kaitannya dnegan Kondisi sosio politik dari Zaman Kuno hingga Sekarang, Terj oleh Sigit Jatmiko dkk, .III, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007.
Suseno, Frans Magnis ,Etika Dasar, .Yogyakarta: Kanisius, 1987.
Zaprulkhan, Filsafat Umum Sebuah Pendekatan Tematik, .II, Jakarta: Rajawali Pers,2013.



[1] Frans Magnis Suseno, Etika Dasar, (Yogyakarta: Kanisius, 1987),h.14.
[2] Zaprulkhan, Filsafat Umum Sebuah Pendekatan Tematik, (II, Jakarta: Rajawali Pers,2013), h. 200
[3] Jostein Gaarder, Dunia Sophie, terjemahan oleh Rahmani Astuti, ( Bandung : Mizan,1997),h.365
[4] Zaprulkhan, Filsafat Umum Sebuah Pendekatan Tematik, (II, Jakarta: Rajawali Pers,2013), h.201
[5] Bertrand Russel, Sejarah Filsafat Barat dan Kaitannya dnegan Kondisi sosio politik dari Zaman Kuno hingga Sekarang, Terj oleh Sigit Jatmiko dkk, (III, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007)h.927.
[6] Amin Abdullah, Antara AlGazali dan Kant, terj. Hamzah, (Bandung: Mizan 2002). h. 91
[7] Zaprulkhan, Filsafat Umum Sebuah Pendekatan Tematik, (II, Jakarta: Rajawali Pers,2013), h.115.
[8] Zaprulkhan, Filsafat Umum Sebuah Pendekatan Tematik, (II, Jakarta: Rajawali Pers,2013), h 116.
Read More