Tampilkan postingan dengan label Makalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makalah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Desember 2016

Pertarungan Jiwa dan Tubuh : Filsafat Rene Descartes




Riwayat hidup Rene Descartes. ( Seorang Petualang Malam)

sumber : Biography.com


“ pikiran-pikiran Agung mampu melakukan baik kesesatan-kesesatan agung maupun kebajikan-kebajikan agung.”(Descartes).

Rene Descartes adalah seorang filsuf dari France(Perancis) yang lahir pada tanggal 31 Maret 1596 di La Haye Tourine. Sejak kecil ia diasuh lewat ilmu pengetahuan yang membuatnya memiliki otak yang encer. Di usia 8 tahun, Rene Descartes sudah menjadi bintang kelas di sekolahnya di La Fleche. Para Yesuit di Asramanya sangat mengagumi kecerdasan Descartes sampai ia mendapat hak istemewa untuk bangun terlambat, kelonggaran yang di berikan gurunya Karena mereka maklum bahwa Descartes sering menemukan gagasan-gagasan briliantnya selagi begadang atau sedang bermimpi. Kebiasaan terlambat bangun pagi berlangsung hingga usianya tua.

Selesai di La Fleche Descartes ke Paris. Ia menikmati masa mudanya sebagai pemuda yang moderat, ia senang melancong ke luar negeri sampai ke Belanda, Jerman, Hungaria, Swiss, Italia, dan Swedia. Ia biasa mengisi waktu luang dengan berjudi dan itupun selalu beruntung.[1]

Sementara melancong , ia tidak meninggalkan kebiasaanya sebagai seorang pembaca yang setia dan penulis yang setia dan Ia banyak menulis pikiran dan hasil refleksinya saat keluar rumah. Itupun di dapatkannya ketika malam tiba dan saat ia sedang bermimpi.

Descartes adalah seorang yang berwatak tenang dan suka menyendiri, namun pikirannya penuh semangat pemberontakan. Hidupnya penuh ketegangan antara tampil kemuka dan surut kebelakang. Dia suka Paris yang ramai, tetapi tiba-tiba dia menyendiri jauh dari keluarganya antara lain ke Jerman. Di Dalam barak militer di Neuburg dekat kota Ulm, Jerman, di malam tanggal 11 November 1619 Descartes menemukan ide sentral Filsafatnya saat ia sedang bermimpi di dalam tidurnya. Dia bermimpi tentang sebuah kamus yang masih harus di lengkapi. Dalam mimpinya itu dia mendengar kata-kata “ Quod vitae sectabor iter?”( Jalan hidup manakah yang seharusnya kutempuh).[2] Dia sendiri menafsirkan impiannya itu sebagai tugas untuk melengkapi seluruh ilmu pengetahuan. Buku Discours di tulis dalam suasana sendiri dalam kesepian di Belanda. Ia menulis “ Aku disini bisa melewatkan seluruh hidupku tanpa di ketahui seorang pun”. “Disini aku tidur malam sepuluh jam tanpa kekhawatiran apa pun yang membuatku terjaga”[3]. Dalam suasana yang sepi itulah ia berkontemplasi untuk menemukan kebenaran yang selama ini di carinya dan ia merasa telah menemukan kebenaran itu.

Masyarakat tempat Descartes hidup berciri Aristokrat yang memberi tempat utama kepada elit bangsawan. Minat elit ini adalah pada masalah metafisika Skolastik. Sementara itu dari kalangan yang sama memiliki minat baru terhadap matematika, geometri, dan fisika yang mulai giat di pelajari di zaman itu.

Sedang Rene Descartes minat kepada keduanya. Dalam situasi yang hampir sama dengan pemikir-pemikir seperti Bacon, Bruno dan Machiavelli. Filsuf ini menghasilkan refleksinya. Dan apa yang di hadapainya juga sama dengan filsuf lainnya, ia mendapat protes serta kecaman yang keras dari kelompok masyrakat yang tidak menyukai filsafatnya. Permusuhan yang paling gencar di arahkan kepadanya adalah dari para Yesuit yang menjadi pengasuh di masa mudanya. Ajarannya di anggap menyimpang dari teologi Katolik, maka Filsafatnya di masukkan dalam daftar ajaran sesat, buku-bukunya yang termasyur dan mempengaruhi gerak zaman modern adalah Discours de la Methode (1673) dan Meditationes de Prima Philosophia (1641).

Seumur Hidupnya, dia kerap di ganggu sakit batuk yang tak kunjung sembuh, sementara dia sendiri engga berurusan dengan dokter. Dan pada tahun 1650 setelah melewati kehidupan yang berarti, Rene Descartes wafat dengan damai di kota Stockholm.

Filsafat Rene Descartes. Pemikirannya tentang Manusia sebagai Pertarungan Jiwa dan Tubuh.
Ada dua Faktor yang penting untuk di ketahui sebelum membaca Pemikiran Rene Descartes. Pertama, perlulah mengetahu sosio historis yang mempengaruhi psikologi Rene Descartes dalam menghasilkan refleksinya,. Kedua, penting pula mengetahui pengalaman-pengalaman yang telah di lewati Rene Descartes terutama petualangan melancongnya ke berbagai tempat.

Mengenai factor yang pertama. Telah sedikit di singgung pada halaman sebelumnya. Bahwa Rene Descartes hidup di tengah-tengah masyarakat yang berciri Aristokrat yakni memberi tempat utama kepada elite bangsawan dan minat elit ini adalah pada masalah metafisika Skolastik.[4] Metafisi skolastik adalah metafisika hasil dari system Plato dan Aristoteles yang mendominasi semua pemikiran filosofis di Barat selama dua ribu tahun. Tatkala agama Nasrani muncul di kancah filsafat untuk pertama kalinya , sebagaian besar pater gereja mengambil beberapa versi idealism Platonik sebagai basis bagi teologi mereka. Kecenderungan itu memuncak pada diri St. Agustinus yang sangat berpengaruh pada masa kegelapan sehingga Aristoteles terlupakan di Eropa. Namun cendikiawan-cendikiawan Muslim melestarikan tulisan-tulisan Aristoteles selama periode itu, terutama dengan bahasa Arab yang di gunakan sebagai landasan untuk penyusunan berbagai bentuk filsafat dan teologi Islam. Lewat St Thomas Aquinas . Aristoteles kembali ke Barat. [5]

Pemikiran realisme Aristotelian mengenai konsep tentang jiwa yang di yakini sebagai prinsip yang memberi kehidupan kepada makhluk hidup. Ada tiga jenis jiwa menurut Aristoteles. pertama, Jiwa vegetatif yang memberi kemampuan untuk menyerap makanan dan bereproduksi.  kedua, Jiwa Hewani/Sensitif yang memberi kemampuan untuk daya penggerak, sensasi, ingatan, dan imajinasi. Ketiga, Jiwa Rasional yang hanya di miliki oleh manusia yang memberinya kemampuan berpikir secara sadar, membuat norma social, serta menyusun kebajikan-kebajikan moral.[6]
Selain Konsep jiwa yang di tawarkan oleh Aristoteles, Rene Descartes juga sedikit terpengaruh oleh konsep Idealis Platonik.  Namun bagi Descartes kedua Tradisi Aristotelian dan Platonian memiliki cacat yang sama bahwa keduanya tidak dapat menciptakan kebenaran mutlak total yang bisa menjadi dasar yang tak terbantahkan untuk menyusun pengetahuan yang ketat. Maka dari itu ia merasa harus menemukan pendasaran metodis yang baru dalam Filsafat.

Metode Kesangsian dan “Cogito Ergo Sum”.

Dengan meragukan konsep Aristotelian- Thomis dan Platonik-Agustinian muncul sebuah pertanyaan bagaimana kepastian mutlak itu dapat di buktikan? Bagaimana pondasi yang kokoh bagi pengetahuan itu dapat ditemukan.?

Dalam kesendiriannya di barak Militer di Jerman. Descartes mendapatkan sebuah kebenaran Mutlak yang dapat kita yakini sekali dan untuk selamanya. Kebenaran Mutlak itu di dapatkan lewat metode Kesangsian “ le doute methodeque” yang sangat membutuhkan kesendirian.[7]

Bagi Descartes untuk menemukan kebenaran Mutlak itu pertama-tama, dia mulai menyangsikan segala bentuk sifat-sifat dasar sederhana pada sebuah objek yang bisa di tangkap oleh Indra kita, dia menyangsikan ide yang bagi Descartes ide bisa tipuan belaka dari semacam Iblis yang sangat cerdik.  dia juga menyangsikan asas- asas matematika dan pandangan metafisis yang berlaku tentang dunia material dan dunia Rohani. [8]

Lalu apakah yang dapat di jadikan pegangan setelah semuanya di sangsikan ? menurut Descartes, sekurang-kurangnya “ aku yang menyangsikan” bukanlah hasil tipuan. Semakin segala sesuatunya di sangsikan  semakin di sadari bahwa kita sedang sangsi. Kesangsian terhadap sangsi itu membuktikan bahwa kita sedang mengada dalam kegiatan berpikir. Karena menyangsikan adalah berpikir. Maka Descartes menyebut “ Cogito Ergo Sum, aku berpikir maka aku ada “.

Dengan metode Kesangsian inilah di temukan sebuah kebenaran Mutlak yaitu “cogito”. Cogito  ini tidak ditemukan dengan deduksi dari prinsip-prinsip umum ala Aristotelian atau lewat intuisi. Cogito di temukan lewat pikiran kita sendiri, sesuatu yang di kenali melalui dirinya sendiri, bukan melalui kitab suci, dongeng, pendapat orang, prasangka, dan seterusnya.[9]

Dalam menyangsikan segala sesuatunya Rene Descartes telah mendapatkan sebuah kebenaran mutlak akan dirinya yang sedang berpikir. Namun saat ia menjelaskan tema-tema seperti  Jiwa dan tubuh yang memang sudah lama dibahas oleh filsuf-filsuf yang di dahuluinya. Filsafat Rene Descartes tetap menyisakan minat akan metafisika. Dia tidak dalam keadaan kosong saat menjelaskan tubuh dan Jiwa.

Rene Descartes mengenai Tubuh.
Setelah meragukan secara sistematis segala bentuk gejala alam fisis, ia lalu menarik kesimpulan, bahwa hanya terdapat dua sifat dasar yang jelas dan terpilah-pilah, atau yang tidak bisa di ragukan dan di analisis lagi yakni keluasan dan gerak. Seluruh badan yang hidup harus di jelaskan berdasarkan pada prinsip-prinsip yang sama seperti gejala alam fisis lainnya.

Descartes percaya bahwa ada tiga jenis partikel dasar di alam semesta, yakni api, udara dan tanah yang membentuk objek yang berukuran besar.

Partikel Api.

Descartes memahami Api atau partikel-partikel panas, sebagai unsur yang paling kecil, sedemikian kecilnya ketika berkumpul partikel ini membentuk zat cair dan gas yang sangat sempurna. Yang mampu mengisi ruang bentuk atau ukuran. Partikel-partikel tersebut secara alamiah menembus kepartikel-partikel lain yang lebih besar di dalam alam, di samping juga berpadu dengan sangat intens di pusat alam itu, dan membentuk matahari.

Partikel Udara

Menurut Rene Descartes, partikel udara memiliki ukuran yang lebih besar dari pada partikel api. Meskipun tetap tidak dapat di amati secara langsung. Partikel-Partikel yang jumlahnya sangat luar biasa ini mengisi segenap ruang di antara objek-objek dan secara serentak bergerak keruang begitu objek bergerak. Partkel udara secara alamiah memformulasikan dirinya sendiri kedalam kolom-kolom diantara objek-objek yang kemudian membentuk dasar material bagi sinar cahaya. Jadi jika manusia melihat objek sebenarnya ia sedang melihat cahaya yang tersusun dari partikel udara yang sangat halus yang menyebar kemata manusia.

Partikel Tanah.

Semua Objek yang dapat di lihat dengan kasat mata seperti pohon, rumput, sebatang kayu dan Manusia di duga tersusun dari pertembuhan partikel-partikel “tanah”, yakni unsur partikel yang lebih besar dan memiliki massa yang lebih berat. Partikel tanah yang membentuk objek itu secara terus menerus bergerak atau bergetar, gerakan dan geetaran tersebut di salurkan kepada kolom-kolom sinar cahaya menuju mata. Getaran itu lalu merangsang partikel material dari mata dalam gerakan simpatetik.

Lewat tiga unsur partikel ini. Descartes telah menjelaskan bagaimana manusia mempersepsikan Objek. Ia mendapati sebuah landasan yang di jelaskan secara empiris. Tubuh terdiri dari partikel-partikel yang bergerak dan memiliki keluasan seperti benda-benda fisik lainnya.

Rene Descartes Mengenai Jiwa.
Jiwa Hewani dan vegetative yang menjadi kadaluarsa.

Descartes hendak menggurkan konsep-konsep tradisional mengenai jiwa hewani dan vegetative yang memiliki fungus bagi tubuh seperti : mencerna makanan, sirkuluasidarah, daya tahan dan pertumbuhan tubuh , respirasi, tidur dan terjaga, sensasi pada dunia luar, imajinasi, memori, nafsu dan gairah dan pergerakan tubuh. Semua fungsi tersebut ternyata dapat di jelaskan secara empiris. Dan Rene Descartes lebih senang menyebutnya sebagai gerakan mekanis yang bergerak secara otomatis. Itulah mengapa kita tidak perlu menyebut jatuh cinta seorang pemuda pemudi sebagai sebagai sebuah gerakan dari jiwa di dalam hati kecuali sebuah gerakan darah yang di gerakkan oleh panasnya api yang menyala tanpa henti di dalam jantung. Sebagaiman Wiiliam Harvey(1578-1657) juga menjelaskan jantung sebagai pusat peredaran darah.

Rene Descartes juga tertarik pada rongga-rongga di dalam otak yang berisi cairan jernih berwarna kuning, yang disebut sebagai jiwa hewani ( yang berfungsi sebagai sensasi ke dunia luar, nafsu dan gairah serta memori dan imajinasi). Ia berspekulasi bahwa jiwa Hewani adalah partikel yang kecil dan halus yang berkumpul membetuk partikel yang lebih kasar sebagai darah yang menuju otak. Otak ini yang kemudian mengalirkan darah melewati jaringan-jaringan tubuh dan mengaktifkan otot-otot. Otak dan darah inilah yang menjadi biang dari segala kegiatan yang di sebabkan oleh jiwa Hewani.

Descartes percaya bahwa analisisnya berhasil menunjukkan seluruh fungsi-fungsi jiwa vegetative dan hewani dapat di jelaskan secara mekanistik. Maka dari itu Hewan yang ia perhatikan hanyalah sebuah mesin otomatis yang di kendalikan oleh darahnya sendiri. Maka Hewan yang buas di pengaruhi oleh darahnya. Namun bagaimana dengan manusia. Manusia juga memiliki jiwa vegetative dan hewani tubuh manusia adalah mesin otomatis juga yang memiliki darah tetapi Rene Descartes belum menyinggung jiwa Rasional yang tidak di miliki selain manusia.

Jiwa Rasional yang Imaterial.

Descartes merasa ada segi subyektif dari pengalaman manusia yang teramat luhur yang tidak mengzinkan Descartes untuk memesinkan manusia secara keseluruhan.

Jiwa Rasional itu ada bagi Descartes namun jiwa tidak tampak secara langsung dalam kesadaran kita, seperti halnya ketika mata mempersepsikan partikel Cahaya. Namun ia meyakini bahwa jiwa itu benar-benar ada. Yang hanya di peroleh lewat “cogito” aku berpikir. Maka ia menamakan jiwa sebagai ide bawaan. Yaitu sebuah ide yang tidak bergantung dari pengalaman indrawi terhadap yang materi.

Ide bawaan ini membawanya pada ide kesempurnaan dan ide kesempurnaan ini lalu membawa Descartes pada sebuah pemikiran tentang adanya “sesuatu” yang telah menciptakan segala aspek kesempurnaan. Descartes menyebut “sesuatu” itu sebagai Tuhan. Tuhan inilah yang menjadi dalang dalam memperoleh pengetahuan perpaduan partikel dari persepsi Indrawi dan pengetahuan imateri yang di dapati dari integritas jiwa yang mempersepsinya.

Jiwa yakni jiwa Rasional menjadi sesuatu yang lebih dasariah atau Fundamental yang berinteraksi dengan tubuh manusia. Namun bagaimanakan jiwa Rasiona yang Imaterial ini dapat berinteraksi dengan tubuh yang material.

Hubungan Jiwa dan Badan dalam Filsafat Descartes.

Jadi filsafat Descartes menempatkan rasio dan fungsi-fungsi intelektual jiwa sebagai sesuatu yang lebih fundamental dari pada pengalaman Indra, Karena alasan ini Descartes melahirkan mazhab pemikiran Rasionalis dan nativis.  Karena Jiwa rasionallah yang mendahului  pengalaman konkret yang membawanya juga menjadi anti tesa dari empirisme realisme yang percaya bahwa pengalaman Konkretlah yang mempengaruhi jiwa.

Descartes di sebut sebagai seorang dualis Karena pembedaanya  yang tajam antara dua substansi tubuh dan jiwa. Menurut Descartes, Tubuh tanpa Jiwa akan menjadi otomat belaka, yang di gerakkan secara mekanis oleh stimulus eksternal dan kondisi-kondisi hidrolik internal atau “emosional”. Jiwa tanpa Tubuh pun hanya akan menghasilkan ide-ide bawaan saja tanpa di perkaya oleh persepsi-persepsi kompleks Indrawi. Jadi tubuh dan Jiwa adalah hubungan timbal balik. Tubuh memperkaya Jiwa dan jiwa menambah rasionalitas terhadap perilaku manusia.

Untuk menjawab bagaimanakah jiwa yang immaterial dapat mempengaruhi tubuh yang material. Untuk menjawab pertanyaan itu bagi Descartes tempat yang paling logis untuk jiwa adalah di suatu tempat di dalam otak yang menjadi pusat control bagi sensasi-sensasi dan gerakan-gerakan tubuh. Namun otak ternyata merupakan organ fisik yang memiliki dua bidang simetris yang terpisah. Sedang jiwa merupakan entitas yang terpadu.

Tubuh ketika menerima kehadiran ganda dari suatu objek dalam dunia . jiwa hanya mempersepsi satu kehadiran saja . Selanjutnya Descartes percaya bahwa persepsi yang sadar haruslah secara akurat merepleksikan dunia nyata. Ketika aku melihat sebatang pohon dari balik jendela. Phon tersebut secara akurat haruslah mempersatukan semua pohon yang sama di sudut dunia di mana saja. Dengan demikian kesan ganda tersebut dapat di satukan dalam keterpaduan jiwa.

Descartes beranggapan bahwa keterpaduan itu hanya bisa terjadi di dalam stuktur yang tidak terbagi. Di dalam otak Descartes mendapati sebuah kelenjar pinealis yang sebesar biji kacang yang berada dekat dengan pusat otak. Kelenjar Pinealis inilah yang menjadi jembatan antara jiwa dan tubuh manusia.

Analisis Kritis terhadap Filsafat Manusia Rene Descartes.

Mari kita sekarang menyebut filsafat manusia Rene Descartes sebagai dualism Cartesian. Ada bebrapa Konsekuensi penting yang perlu di kritisi. Pertama Rene Descartes telah mengambil langkah berani dan menyiksa ketika mulai mempertanyakan kebenaran mutlak yang berujung pada sebuah kesangsian yang radiks terhadap pikiran Filsafat dari dua filsuf besar yang telah mempengaruhi Barat selama dua ribu tahun lamanya yakni pemikiran filsafat Platonia dan Aristotelian.

Kedua, Rene Descartes telah menggugurkan defenisi manusia sebagai “hewan rasional” dari Aristoteles  dengan hubungan Jiwa-Tubuh dari Descartes meskipun teorinya juga akan di gugurkan oleh pengetahuan yang lebih banyak menggunakan alat.

Ketiga, Dalam bidang ilmu pengetahuan alam Rene Descartes memberikan ke optimisan bagi para Ilmuwan yang dapat meneliti objek secara obyektif dimana ide Platonian tidak lagi menganggu para ilmuwan dalam menemukan bebas nilai meskipun pemikir -pemikir dari Empirisme lah yang berperan paling banyak mempengaruhi penelitian para ilmuwa. Namun tidak dapat di pungkiri dualism Cartesian telah menjadi jalan munculnya anti tesa atau dukungan yang memungkinkan teknologi terapan berkembang dengan sangat pesat di Eropa pada tiga abad ini.

Keempat, Pandangannya mengenai manusia sangatlah mekanistik dan dapat di cerna ketika Rene Descartes membahas Jiwa-Badan secara terpisah. Namun ketika menjelaskan hubungan Jiwa – Badan lewat Kelenjar Pinealis inilah Rene Descartes memunculkan Kontroversi akan penjelasan yang sangat membingungkan. Kontroversi ini lalu memicu sebuah perdebatan panjang bahkan banyak melahirkan filsuf -filsuf yang mndukungnya dan menjadi penentangnya.

Adapun lima aliran yang menanggapi Dualisme Cartesian. Materialisme Thomas Hobbes, Immaterialisme George barkeley, paralelisme, Nicholas Malebrance, Teori Aspek Ganda Spinoza dan Epifenomenalisme David hume.

Namun terlepas dari segala bentuk kritik terhadap Rene Descartes. Rene Descartes sebenarnya tetap mempertahankan kesatuan manusia itu dalam ide kesempurnaan Tuhan, seperti teori dari Spinoza seorang filsuf Rasionalis yang menjelaskan tentang Panteisme.

Kelima, Rene Descates bersama kontroveri Jiwa-tubuhnya telah menimbulkan ragam aliran dalam filsafat. Ia pun memang layak di sebut sebagai Bapak filsafat Modern. Karena dialah yang telah mencoba untuk menemukan Kebenaran Mutlak yang di dapatkannya lewat metode kesangsian yang sangat mengandalkan “Cogito”nya sebagai jiwa ayang berpikir. Sejak saat itu orang Eropa ramai mengedepankan akal yang menjadi ciri khas dari zaman modern.

Demikianlah penjelasan Manusia dari Filsafat Rene Descartes.


Daftar Pustaka.
Hardiman F, Budi, Pemikiran-Pemikiran yang Membentuk Dunia Modern.Jakarta : Penerbit Erlangga, 2011.
Abidin, Zainal .Filsafat Manusia Memahami Manusia Melalui Filsafat, VII .Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2014.
palmquist, Stephen . The Tree of Philosophy a Course of Intruductory Lectures for Beginning Student of Philosophy, ( Hongkong, Philopsychy Press, 2000) di terjemahkan dari Muhammad Shodiq, Pohon Filsafat Teks Kuliah pengantar Filsafat, II  Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2007.



[1] F Budi Hardiman, Pemikiran-Pemikiran yang Membentuk Dunia Modern,( Jakarta : Penerbit Erlangga, 2011) h.31.
[2] JB Metzler, Metzeler Philoshopen Lexikon, Stutgart,1989. h. 180. Di kutip dari F Budi Hardiman, Pemikiran-Pemikiran yang Membentuk Dunia Modern,( Jakarta : Penerbit Erlangga, 2011) h.32.
[3] Wilhelm Weischedel, Die philosophiche Hintertreppe, Munchen, 1973. h. 117. Di kutip dari F Budi Hardiman, Pemikiran-Pemikiran yang Membentuk Dunia Modern,( Jakarta : Penerbit Erlangga, 2011) h.32.
[4] F Budi Hardiman, Pemikiran-Pemikiran yang Membentuk Dunia Modern,( Jakarta : Penerbit Erlangga, 2011) h.30
[5] Stephen palmquist, The Tree of Philosophy a Course of Intruductory Lectures for Beginning Student of Philosophy, ( Hongkong, Philopsychy Press, 2000) di terjemahkan dari Muhammad Shodiq, Pohon Filsafat Teks Kuliah pengantar Filsafat, II ( Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2007). h. 74.
[6] Zainal Abidin, Filsafat Manusia Memahami Manusia Melalui Filsafat, VII ( Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2014) h.51.
[7] Stephen palmquist, The Tree of Philosophy a Course of Intruductory Lectures for Beginning Student of Philosophy, ( Hongkong, Philopsychy Press, 2000) di terjemahkan dari Muhammad Shodiq, Pohon Filsafat Teks Kuliah pengantar Filsafat, II ( Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2007). h. 75.
[8] Stephen palmquist, The Tree of Philosophy a Course of Intruductory Lectures for Beginning Student of Philosophy, ( Hongkong, Philopsychy Press, 2000) di terjemahkan dari Muhammad Shodiq, Pohon Filsafat Teks Kuliah pengantar Filsafat, II ( Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2007). h. 76-77
[9] F Budi Hardiman, Pemikiran-Pemikiran yang Membentuk Dunia Modern,( Jakarta : Penerbit Erlangga, 2011) h.34
Read More

Minggu, 19 Juni 2016

Tafsiran Surah Al Fatihah





Tafsiran surah al Fatihah

Ada sekian banyak nama yang di sandang oleh surah ini. tidak kurang dari dua puuh sekian nama. Ada tiga atau empat nama yang di perkenalkan oleh Rasulullah saw. Yaitu Al Fatihah, Ummul Kitab atau ummul Qur’an dan as- Sab’ al-Matsani.

v Nama Al Fatihah

Rasulullah saw bersabda dalam salah satu hadist dan menyebut nama Al Fatihah. Antara lain : “tidak ada (tidak sah) shalat bagi yang tidak membaca Fatihah al-Kitab” (HR, Bukhari, Muslim dan perawi lainnya)
Kata “Fath” yang menjadi akar kata al Fatihah memiliki arti secara harfiah menyingkirkan sesuatu yang terdapat pada satu tempat yang akan di masuki. Arti harfiah ini bisa di artikan bahwa Al-Fatihah terletak pada Awal Al-Qur’an, dan kerena biasanya yang pertama memasuki sesuatu adalah yang membukanya. Maka kata Fatihah disini berarti awal al-Qur’an atau bisa juga di sebut pembuka yang sangat agung bagi segala macam kebaikan.

v Nama as – Sab al Matsani

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh at Tirmidzi bahwa Rasulullah saw bersabda. “Demi Tuhan Yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya. Allah tidak menurunkan di dalam Taurat, Injil maupun Zabur dan Al-Qur’an suatu surah seperti as-Sab al Matsani”.
Secara etimologi kata “as-Sab” berarti tujuh, karena surah ini berjumlah tujuh ayat, sedang kata Matsani adalah bentuk jamak dari Mutsanna atau matsna yang secara harfiah berarti dua-dua yang bisa di pahami berulang-ulang. Surah ini di namakan demikian karena ia di baca berulang-ulang dalam shalat atau di luar sholat. Atau karena kandungan pesan setiap ayatnya terulang-ulang dalam ayat al-Qur’an yang lain. Maka as-Sab al Matsani bisa disebut sebagai tujuh ayat yang di baca berulang-ulang.

v Nama Ummul Kitab atau Ummul Qur’an.

Penamaanya sebagai ummul Kitab juga bersumber dari hadits bahwa Rasulullah saw bersabda : “Siapa yang sholat tanpa membaca Ummu al-Qur’an maka sholatnya Khidaj (kurang atau tidak sah).
Secara etimologi kata Umm berarti Induk. Penamaan surah ini dengan induk al-Qur’an karena ia berada di awal al-Qur’an  sehingga ia bagaikan asal dan sumber, serupa dengan ibu yang disamakan dengan induk yang datang mendahului anak serta merupakan sumber kelahirannya.
Ia pula di namakan sebagai Umm, bisa jadi karena ayat-ayat al Fatihah mencakup kandungan tema-tema pokok semua ayat al-Qur’an. Muhammad Abduh beranggapan bahwa Al-Fatihah sebenarnya adalah Wahyu yang pertama kali di turunkan bukan al-Alaq. Melihat kandungan surah al Fatihah yang mencakup tema-tema pokok al-Qur’an seperti
1.      Tauhid pada ayat kedua dan kelima.
2.      Janji dan ancaman pada ayat pertama, ketiga dan ketujuh
3.      Ibadah yang menghidupkan Tauhid pada ayat ke lima dan ketujuh
4.      Penjelasan tentang jalan kebahagiaan di dunia dan di akhirat dan cara mencapainya. Terdapat pada setiap ayat.
5.      Sejarah masa lampau pada ayat terakhir.
Pendapat Abduh mengenai surah Alfatihah sebagai wahyu yang pertama dengan penjelasan logika tidak di terima oleh mayoritas ulama. Tetapi kita dapat menerima pendapat Muhammad Abduh dalam konteks membuktikan kedudukan al-Fatihah sebagai ummul Qur’an atau untuk menjelaskan mengapa surah al Fatihah di letakkan pada awal al-Qur’an.

v  Asbabun Nuzulnya ?

Ada riwayat yang menyatakan bahwa ia turun sesudah surah al Muddatsir, ada lagi yang berpendapat bahkan sesudahnya dan sesudah al Muzammil dan al kalam turun. Ada lagi yang berkata bahwa ia turun di Madinah. Dan ada pula yang beranggapan bahwa ia turun dua kali, satu kali di Makkah dan satu kali lagi di Madinah untuk menggambarkan keagungan surah ini.
Namun pendapat yang kuat bahwa surah ini tergolong Makkiyah, melihat as-Sab al Matsani telah di singgung oleh al-Qur’an melalui firman-Nya dalam QS. Al-Hijr 15:87: “Sesungguhnya Kami telah menganugrahkan kepadamu as Sab al-Matsani dan AlQur’an al-Karim”. Dan di sepakati oleh para ulama bahwa surah al-Hijr turn ketika Nabi Saw, masih bermukim di Mekkah. Di tambah lagi bahwa sholat sudah di wajibkan sejak saat nabi masih bermukim di Makkah, dan nabi pernah bersabda bahwasanya sholat tidak sah jika tidak membaca al-Fatihah.

v  Tema Pokok dan Tujuan nya ?
                  
Menurut Ibrahim ibn Umar al Biqa’i “nama setiap surah menjelaskan tujuan serta tema umum surah itu.” Al-Fatihah nama-namanya antara lain adalah
1.      Ummul Kitab (induk al-Qur’an)
2.      Al-Asas (asas segala sesuatu)
3.      Al Matsani ( yang di ulang-ulang)
4.      Al-Kanz ( pembendaharaan)
5.      Asy-syafiah (penyembuh)
6.      Al-Kafiyah ( yang mencukupi)
7.      Al-Waqiyah ( yang melindungi)
8.      Ar-Ruqyah (mantra).
9.      Al-Hamd ( pujian)
10.  Asy-Syukr ( syukur )
11.  Ad-du’a dan as-shalat ( doa ).

Kesemua nama ini mengandung serta berkisar atas segala sesuatu yang tersembunyi yang dapat mencukupi segala kebutuhan, yaitu pengawasan yang melekat. Segala sesuatu yang tidak di buka dengannya tidak akan memiliki nilai. Dia adalah pembuka segala kebaikan, asas segala makruf, tidak dinilai salah, kecuali bila di ulang-ulang. Dia adalah pembendaharaan menyangkut segala sesuatu. Dia menyembuhkan segala macam penyakit, serta mencukupi manusia dalam mengatasi segala keresahan , serta melindunginya dari segala keburukan dan menjadi mantera untuk menghadapi kesulitan. Surah inilah yang merupakan ketetapan bagi pujian yang mencakup segaa sifat kesempurnaan, serta kesyukuran yang mengandung pengagungan terhadap Allah, pemberi nikmat, dan dia pula yang merupakan inti doa karena doa adalah menghadapkan diri kepada-Nya sedang doa yang teragung tersimpul di dalam hakikat sholat. Jika demikian,  tujuan utama dari surah al-Fatihah adalah mentapkan kewajaran Allah swt. Untuk di hadapkan kepada-Nya segala puian dan sifat-sifat kesempurnaan, dan meyakini kepemilikan-Nya atas dunia dan akhirat serta kewajaran-Nya untuk di sembah dan di mohonkan dari Nya pertolongan, dan nikmat menempuh jalan lurus sambil memohon keterhindaran dari jalan orang yang binasa.
Itulah tujuan dan tema pokok surah al Fatihah, demikian al-Biqa’i.

TAFSIRAN PER AYAT

v Ayat 1 Bismillahir rahmani arrahim (dengan nama Allah yang Rahman lagi Rahim)

Ayat ini di mulai dengan huruf “Ba” yang berarti dengan. Yang mengandung satu kata atau kalimat yang tidak terucapkan tetapi harus terlintas di dalam benak ketika mengucapkan Basmalah, yaitu kata “memulai”, sehingga Bismillah berarti “ Saya atau Kami memulai apa yang kami kerjakan ini dengan nama Allah”. Ini menjadi tanda bagi pengucap bahwa apa yang di kerjakannya selalu di iringi dengan doa atas nama Allah.
Apabila seseorang memulai sebuah pekerjaan atas nama Allah maka pekerjaan tersebut akan menjadi baik atau paling tidak, pengucapnya akan terhindar dari godaan nafsu, dorongan ambisi atau kepentingan pribadi, sehinggga setiap perbuatannya membawa manfaat bagi dirinya, orang lain dan lingkungannya serta kemanusiaan secara keseluruhan.
Rasulullah saw bersabda “ Setiap perbuatan yang penting yang tidak di mulai dengan ‘Bismillahirrahmanirrahim’ maka perbuatan tersebut cacat” (HR As-Suyuthi).
Pengucap basmalah ketika mengaitkan ucapannya dengan kekuasaan dan pertolongan Allah maka seakan akan ia berkata “ Dengan kekuasaan Allah dan pertolongan-Nya pekerjaan yang saya lakukan dapat terlaksana”.
Apapun aktivitas yang anda lakukan, termasuk menarik dan menghembuskan nafas, makan atau minum, gerak reflex atau sadar, diam atau bergerak, semuanya tidak dapat terlaksana tanpa kekuasaan dan pertolongan Allah.
Di sini pengucap yang menghayati ucapannya akan menyadari kelemahannya di hadap Allah swt., tetapi dalam saat yg sama ia memperoleh kekuatan dan rasa percaya diri , karena ketika itu ia telah menyadarkan diri kepada Allah swt. Sambil memohon bantuannya.

v Ayat 2  Alhamdulillahi rabbil alamin ( segala puji bagi Allah pemelihara seluruh alam).

Ayat ini memiliki dua sisi makna. Pertama berupa pujian kepada Allah dalam bentuk ucapan, dan kedua berupa bentuk perbuatan syukur kepada-Nya . Syukur adalah mengakui dengan tulus dan penuh hormat, nikmat yang di anugrahkan oleh yang di sykuri itu, dengan kata-kata maupun dengan perbuatan.
Pujian kepada-Nya dalam bentuk ucapan merupakan anjuran, apalagi saat mendapatkan anugrah Ilahi. Itu sebabnya Rasulullah saw. Selalu mengucapkan al-hamdu lillah dalam kondisi dan situasi apapun. baik bangun tidur dan sebelum tidur Rasulullah saw sering mengucapkan  al-hamdu lillah.
Apabila seseorang sering mengucapkan al-hamdu lillah, maka seterusnya ia akan merasa berada dalam curahan rahmat dan kasih sayang Tuhan. Dia akan merasa bahwa Tuhan tidak membiarkannya sendiri. Jika kesadaran ini telah berbekas dalam jiwanya, maka seandainya sesekali ia mendapatkan cobaan atau merasakan kepahitan, dia pun akan tetap mengucapkan al-hamdu lillah. Karena si pengucap sadar bahwa limpahan karunia-Nya sudah demikian banyak, sehingga cobaan dan malapetaka itu tidak lagi berarti di bandingkan dengan besar dan banyaknya karunia selama ini. di samping itu akan terlintas pula dalam pikirannya bahwa pasti ada hikmah di balik cobaan itu, karena semua perbuatan Tuhan pasti terpuji.

v Ayat 3 : Ar-Rahman ar- Rahim

Ketika seseorang membaca ar Rahman atau ar-Rahim maka di harapkan jiwanya akan di penuhi oleh rahmat dan kasih saying, dan saat itu rahmat dan kasih saying akan memancar keluar dalam bentuk perbuatan-perbuatan. Bukankah perbuatan merupakan cerminan dari gejolak jiwa? Bukankah seseorang yang dirundung kesedihan atau kesakitan, keindhaan dapat di anggapnya keburukan? Tidakkah kalu ia sedang mabuk asmara, segalanya akan terlihat indah? Bukankah setiap wadah menumpahkan isinya? Sebuah gelas yang berisi sirup pasti akan menumpahkan sirup, jangan berharap selain sirup.
Menurut Al Gazali buah yang dihasilkan oleh Rahman pada aktivitas seseorang adalah bahwa, “ ia akan mencurahkan rahmat dan kasih sayang kepada hamba-hamba Allah yang lengah, dan ini mengantar yang bersangkutan untuk mengalihkan mereka dari jalan kelengahan menuju Allah dengan memberinya nasihat secara lemah lembut- tidak dengan kekerasan- memandang orang-orang berdosa dengan pandangan kasih sayang – bukan dengan gangguan- serta setiap kedurhakaan yang terjadi di alam raya, bagai kedurhakaan terhadap dirinya, sehingga ia tidak menyisihkan sedikit upaya pun untuk menghilangkannya sesuai kemampuannya, sebagai pengejewantahan dari rahmatnya terhadap si pendurhaka jangan sampai ia mendapatkan murka-Nya dan kejauhan dari sisi-Nya.
Sedang buah ar-Rahim menurut al-Ghazali adalah, tidak membiarkan seorang yang butuh kecuali memenuhi kebutuhannya, tidak juga membiarkan seorang fakir di sekelilingnya atau di negerinya kecuali dia berusaha untuk membantu dan menampik kefakirannya, dengan harta, kedudukan, atau berusaha melalui orang ketiga sehingga terpenuhi kebutuhannya. Kalau semua itu tidak berhasil ia lakukan, maka hendaklah ia membantunya dengan doa serta menampakkan rasa kesedihan dan kepedihan atas penderitannya. Itu semua sebagai tanda kasih dan sayang dan dengan demikian ia bagaikan serupa dengannya dalam kesulitan dan kebutuhan.
Itulah buah yang di harapkan dari bacaan ar-Rahman dan ar-Rahim, demikian al-Ghazali.

v Ayat 4 : Malikiyaumiddin (pemilik hari pembalasan)

Ayat ke empat diatas menyatakan bahwa Allah adalah pemilik atau raja hari Kemudian. Paling tidak ada dua makna yang di kandung oleh penegasan ini yaitu:
Pertama, Allah menentukan dan Dia pula satu-satunya yang mengetahui kapan tibanya hari tersebut, sebagai mana firman-Nya “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu ada pada sisi Tuhanku, tidak satu (makhluk) pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya kecuali Dia semata”. (QS.al-A’raf 7: 187).
Kedua, Allah menguasai segala sesuatu yang terjadi dan apapun yang terdapat ketika itu. Kekuasaan-Nya sedemikian besar sampai-sampai jangankan bertindak atau bersikap menentang-Nya, berbicara pun harus dengan seizin-Nya.
Pada hari itu, Ruh (malaikat Jibril) dan para malaikat (yang lain) berdiri bershaf-shaf. Tidak ada yang berbicara kecuali yang di izinkan oleh ar-Rahman dan dia mengucapkan kata-kata yang benar”(QS. An-Naba’ 76:38).

*    Ayat 5 : iyyakana’budu wa iyyakanastain ( Hanya kepada-Mu Kami mengabdi dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan ).

Banyak sekali pesan yang di kandung oleh kedua kata terangkai “iyyaka” dan “na’budu”.
Secara tidak langsung penggalan ayat ini mengecam mereka yang mempertaruhkan atau menyembah selain Allah, baik masyarakat Arab ketika itu maupun selainnya. Memang banyak sekali di antara masyarakat Jahiliah yang menyembah berhala, benda-benda langit atau bahkan binatang-binatang. Dari kalangan masyarakat Arab, kaum Saba’ di Yaman, demikian juga suku Taim, Ukal dan Dhabbat di Jazirah Arabia menyembah matahari.
Penggalan ayat diatas mengecam mereka semua dan mengumandangkan bahwa yang di sembah hanya Dia Rabb al-alamin, Tuhan sesembahan-sesembahan itu, bahkan Tuhan seru sekalian alam.
Ketika seorang menyatakan iyyaka na’budu maka ketika itu tidak sesuatu apapun, baik dalam diri seseorang maupun yang berkaitan dengannya, kecuali telah dijadikan milik Allah. Memang, segala aktivitas manusia harus berakhir menjadi ibadah kepada-Nya sedang puncak ibadah adalah ihsan.
Ibadah merupakan upaya mendekatkan diri kepada Allah, karena itu ia lebih wajar untuk didahulukan dari pada memintapertolongan-Nya. Bukankah sebaiknya Anda mendekat sebelum meminta?. Disisi lain ibadah dilakukan oleh yang bermohon sedang meminta bantuan adalah mengajak pihak lain untuk ikut serta. Memulai dengan upaya yang di lakukan sendiri, lebih wajar di dahulukan daripada upaya dengan meminta bantuan pihak lain. Selanjutnya salah satu hal yang di harapkan bantuan-Nya adalah menyangkut ibadah itu sendiri, sehingga sangat wajar menyebut ibadah terlebih dahulu yang merupakan azam dan kebulatan tekad si pemohon baru kemudian memohon agar di bantu antara lain dalam meraih kesempurnaan ibadah di maksud. Ini dari segi makna, sedang dari segi redaksi adalah lebih tepat menyebut nasta’in sebagai akhir ayat agar iramanya sama atau mirip dengan ayat sebelum dan sesudahnya.
Penggalan kata iyyaka yang berkaitan dengan ibadah mengandung arti pengkhususan mutlak. Tidak di perkenankan memadukan motivasi ibadah dengan apapun selain Allah, karena kalau demikian, keikhlasan akan terganti menjadi riya.

v Ayat 6 : ihdinissaratalmustaqim ( Bimbinglah (antar) lah kami (memasuki) jalan lebar dan luas.)

Ayat keenam ini dapat di pahami dalam arti sebagai permohonan agar kiranya Allah swt. Menganugrahkan kepada si pemohon – melalui naluri, panca indra, akal dan agama kemampuan untuk menggapai jalan lurus lagi luas itu sehingga ash-shirath al-mustaqim tidak saja di rasakan di dalam naluri atau dilihat, di cium, di dengar dan di raba oleh panca indra, tetapi juga di benarkan oleh akal, serta dari saat kesaat memperoleh bimbingan dan pengetahuan yang bersumber dari Allah swt., kemudian di beri pula kemampuan untuk melaksanakannya.

v Ayat 7 : ( yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahi nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang di murkai dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat.)

Ada empat kelompok manusia yang telah mendapat nikmat khusus dari Allah swt. Yaitu “nikmat keagamaan”, dan jalan kelompok-kelompok itulah yang di mohonkan agar di telusuri pula oleh pembaca ayat ketujuh surah al-Fatihah ini.
Kelompok pertama, disebut sebagai kelompok nabi dan rasul yakni kelompok yang mendapatkan petunjuk langsung dari Allah swt yang di tugasi untuk menuntun manusa kepada kebenaran ilahi. Mereka adalah klompok yang terpelihara dari dosa atau pelanggaran apapun.
Kelompok kedua disebut sebagai para shiddiqin yaitu orang-orang dengan pengertian apapun selalu benar dan jujur. Mereka juga selalu mendapatkan bimbingan ilahi, sehingga terpelihara dari sikap yang bertentangan dengan kebenaran ilahi. Tetapi tingakatannya berada di bawah tingakatan nabi dan rasul.
Kelompok ketigaa adalah para syuhada yang bersaksi atas kebenaran dan kebajikan melalui ucapan dan tindakan mereka, walau harus mengorbankan nyawa sekalipun, dan atau ereka disaksikan kebenaran dan kebajikan oleh Allah swt, para malaikat dan lingkungan mereka.
Kelompok keempat adalah orang-orang saleh yakni yang tangguh dalam kebajikan, dan selalu berusaha mewujudkannya, kalaupun sesekali ia melakukan pelanggaran kecil tidak berarti dengan kebajikan-kebajikan mereka.
Melalui ayat ketujuh ini kiranya mereka , siapa, kapan dan dimanapun, menjadi panutan kita dalam kehidupan ini.

Sedangkan tipe ad dhallin  ialah sebagai berikut.

Pertama, orang-orang yang memang sama tidak mengenal atau menemukan petunjuk Allah swt dan agama yang benar. Sehingga terhalang dari mereka berpikir jauh kedepan tentang kebenaran yang sebenarnya.
Kedua, orang-orang yang pernah memiliki sedikit pengetahuan agama, sedikit memiliki keimanan dalam hatinya tetapi pengetahuan itu tidak dikembangkannya, di asah, sehingga pudar keimanannya. Termausk dalam tipe ini orang-orang yang hanya mengandalkan akalnya semata-mata dan menjadikannya satu-satunya tolak ukur, walaupun dalam wilayah yang tidak dapat di pahami oleh akal.
Ketiga, yang digambarkan oleh QS. Al-Hijr (15) adalah mereka yang berputus asa dari rahmat Allah swt. Putus asa akan kesembuhan, pencapaian sukses, pengampunan dosa dan lain-lain yang kesemuanya berakhir pada tidak bersangka baik kepada Allah swt.
Demikian ayat terakhir surah al-Fatihah ini mengajarkan manusia agar bermohon kepada Allah, kiranya ia di beri petunjuk oleh-Nya sehingga mampu menelusuri jalan luas lagi lurus, jalan yang pernah di tempuh oleh orang yang telah memperoleh sukses dalam kehidupan ini, bukan jalan orang-orang yang gagal dalam kehidupan ini, karena tidak mengetahui yang benar, atau mengetahui tetapi enggan untuk menelusurinya.

v Amin
Di anjurkan mengakhiri bacaan surah ini dengan ucapan “Aamiin”walaupun kata ini bukan bagian dari surah ini.
Terdapat beberapa makna mengenai kata ini
1.      Ya Allah perkenankanlah! Ini pendapat mayoritas ulama
2.      Ya Allah ! lakukanlah!
3.      Demikian itu Ya Allah. Maka semoga engkau mengabulkannya.
4.      Jangan kecewakan kami ya Allah!
5.      Amin adalah salah satu nama Alah swt.
Jika pengertian Amin di kaitkan dengan surah ini kiranya allah memperkenankan dan tidak mengecewakan pemohon. Jika kita membacanya maka kita bermaksud “perkenankanlah semua itu ya Allah, jangan kecewakan kami.”

Demikianlah tafsiran ringkas surah Alfatihah ini, itulah agama yang benar dan itu pulalah seharusnya kenyataan hidup kita, jalan yang di harapkan itu telah mengantar puluhan ribu manusia, para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang yang saleh ketujuan yang mereka harapkan. Dan semoga kita tergolong salah satu yang berhasil.


Sumber : Shihab, M. Quraish, Tafsir Al Mishbah, I . I, Jakarta: Lentera hati, 2006.
Read More

Rabu, 08 Juni 2016

Peranan dan tantangan Agama dalam Sains dan Teknologi.

 Latar belakang.

Sebelum menguraikan tema hangat mengenai peranan dan tantangan Agama dalam Sains dan Teknologi. Perlu kiranya pemakalah memilih untuk mendekskripsikan sebuah historis singkat mengenai sebuah perang dingin antara Agama dan Sains yang telah menjadi pembentuk kebundalan Dunia sebagai latar belakang makalah ini.
Ada sebuah kurun Waktu yang panjang di mana berlangsung sebuah anggapan bahwa Newton dan Galileo memperbaharui ilmu pengatahuannya tanpa dukungan dan pengaruh dari faktor-faktor lainnya.[1]
Sehingga terbentuklah sebuah persepsi kemandirian Sains, bahwa para ilmuwan mengandalkan kemandiriannya tanpa pengaruh dari faktor-faktor dari sisi terdalam dirinya. Namun pertanyaan yang muncul kemudian adalah benarkah mereka sesempurna itu tanpa melakukan kesalahan. Sehingga setiap penemuan Sains selalu terjadi independensi kontras dengan Agama.
Dalam kisahnya Galileo yang mengemukakan teori tentang Heliosentris yang terinspirasi dari copernicus secara aktualnya benar-benar Kontras dengan teori Geosentris Ptolomeus yang di dukung oleh teks Kitab Bible. Dan faktanya ilmu pengetahuan menang, namun otoritas Geraja berusaha untuk memonopoli kebenaran itu dengan kekerasan secara Verbal maupun fisik. Sehingga independensi kontras antara Agama dan Sains menimbulkan konflik. Agama lalu kehilangan kewibawaanya lewat hasil eksperimental observatif sains.
Memang telah menjadi cerita lama jika Agama dan Sains selalu sombong dengan kubuhnya masing-masing. Pada perputaran Dunia Yunani Kuno. Agama dan Sains sudah memulai peperangannya. Dan dizaman Renaiance. Agama benar-benar teradili dengan Sekularisme “ God is dead”.
Di mulai dari Heraklitus dan Leukippus. Materialisme memenuhi dunia pada diri Aristoteles dan memuncak lewat ilmuwan-ilmuwan yang mengemukakan teorinya dengan pembuktian logis dan eksperimental sebagai sebuah Ideologi Induk. Lewat falsifikasi yang terus menerus. Sains kemudian terbukti kuat adanya. Namun jika Agama yang berusaha untuk di falsifikasi dengan pertanyaan apakah Tuhan itu Ada. lewat pembuktian negatif bahwa Tuhan itu tidak ada. namun alat bukti bahwa Tuhan itu Tidak ada juga amat sulit untuk di buktikan. Maka kesimpulannya Agama dengan teksnya tidak memiliki keabsahan, hanya sekedar spekulatif belaka.
 Iman menjadi yang tertuduh menghalang halangi perkembangan Ilmiah dan membuat orang beriman bersikap curiga terhadap sains dan penerapan-penerapan teknologi dan kadang kadang penemuan-penemuan ilmiah di pergunakan untuk membantah iman.[2]
Namun di sinilah awal kejatuhan manusia dari makhluk spritual menjadi makhluk material, lewat corong Renaisans dan “suara keras Cartesian” muncul humanisme yang mempromosikan potensi manusia melebihi batas-batas fitrahnya. Humanisme menfigurkan manusia sebagai titik sentral alam yang bergerak ke arah pengukuhan manusia sebagai superman.[3]
Lalu timbullah kemudian pertanyaan. Apakah Agama telah kehilangan kewibawaanya sebagai sandaran manusia. apakah benar jika Agama dalam dunia Modern ini menjadi tertradisionalkan dan manusia mengalami pemisahan antara manusia agama dan manusia sains. Apakah benar Agama tidak memiliki peranan dalam penemuan-penemuan Sains. Bahwa Galileo misalnya menarik kesimpulan ilmiahnya tidak berdasarkan Agama dan keimanan padahal dalam faktanya yang menarik. Galileo melakukan ekperimen-eksperimennya itu di maksudkan untuk mendukung kesimpulan yang telah di buatnya terlebih dahulu secara Apriori yang menjadi cara yang sama yang di gunakan dalam Agama.
Rumusan Masalah.
-          Bagaimankah perjumpaan Agama , Sains dan Teknologi?
-          Bagaimanakah krisis yang di timbulkan Sains dan Teknologi terhadap perkembangan dunia modern.?

 Jawaban.
Jawaban pertama .
Sains dalam kehidupan Agama.

Tidak mudah merumuskan agama di tengah-tengah kemajuan modernitas sains dan teknologi. Dan juga tidak mudah merumuskan sains di tengah-tengah kampanye nilai-nilai spritual keagamaan.
Dalam pandagan Prof. Dr Louis Leahy, Secara umum sains bisa di dekskripsikan sesuai dengan dogma rasionalis, yang memandang intelegensi manusia sebagai ukuran seluruh inteligibitas, sains membatasi rasionalisme tersebut dalam batas-batas ilmu pengetahuan saja. hanya ilmu positiflah (kimia, fisika, astronomi, dll) yang mampu memecahkan segala masalah dan memberikan jawaban yang memuaskan kepada segala  tuntutan manusia akan inteligibitas. Itulah suatu pendapat yang menyamakan seluruh realitas dengan hal yang dapat di mengerti secara ilmiah[4]. Lewat inilah kemudian segala metafisika menghadapi pengingkaran pada disiplin obyektivisme sintetis aposteriori sains.
Dinegara-negara marxis, sains rupanya secara sistematis di pergunakan untuk membuktikan kebenaran rezim dan sekaligus kehampaan iman. Sebelum Darwin menulis Origin of the Species, Francisco Redi dan Louis Pasteur telah membuktikan kemustahilan maklhluk hidup berasal dari zat mati. Prinsip ini disebut sebagai biogenesis, setiap jenis kehidupan harus dari sel yang telah ada. [5] tidak ada penyebutan Tuhan dalam penemuan asal makhluk hidup.
Misalnya Evolusi Janin dalam kandungan Ibu, yang seabad yang lalu masih menjadi sebuah misteri sekarang terkuak. Telur dan jenis hewan di olah, kromosom-kromosom yang merupakan pendukung sifat-sifat keturunan , di olah untuk mengubah spesies-spesies biologis atau menampakkan pelbagai anomali. Sarjana Italia Petruci pernah melakukan suatu percobaan yang berani. Di dalam laboratorium dia telah berhasil menyuburkan sebuah sel telur dengan dengan sebuah spermatozoid dan mempertahankan perkembangan janin manusia selama dua puluh sembilan hari. [6]
Sains maju dari penemuan ke penemuan baru. Walaupun para ilmuwan besar melihat bahwa bidang yang di kenal itu semakin bertambah besar, namun para penyusun karangan sains populer tidak serendah hati itu dan orang awam mudah sekali percaya bahwa sains terus-menerus menyingkirkan iman dengan mengungkapkan dasar manusiawi dan alami.
Ketika terlihat pemandangan pelangi di langit. Manusia awam dahulu menganggap bahwa bidadari Tuhan sedang turun mandi di sungai. Namun lewat pengetahuan ilmiah. Teori tentang pembiasan cahaya dan air hujan sehingga membentuk warna-warna pelangi lebih di terima oleh akal budi.
Dari sinilah pengaruh kemajuan sains telah mengurangi peran Tuhan dalam kehidupan aktual manusia. kita akan setuju jika bukan karena Doa lah yang berseru-seru yang akan menyelamatkan kita dari kelaparan dan penyakit melainkan alat-alat kedokteran dan teknologi panganlah yang membebaskan manusia dari masalah hidupnya. Sehingga timbullah sebuah keyakinan empiris bahwa manusia adalah penguasa bagi keselamatannya sendiri.
Para ilmuwan teknologi kini bisa menjadi penentu kehidupan. Dan pergerakan bumi. Bahkan lewat merekalah. Dunia ini bisa kiamat kapan saja tanpa membutuhkan Malaikat untuk meniupkan sangkakalanya.
Nasib pendefenisian Agama di tengah arus penguasaan manusia tekno mengalami kesialan besar. Yang paling populer adalah pembatalan teori geosentris Ptolomeus yang menjadi keabsahan pengetahuan pada Abad 16. Yang lalu kemudian dalam peneropongan yang di lakukan Galileo-Galilei menimbulkan pertentangan antara Sains dan Agama.[7] Kristus dengan menjelmakan diri pada bumi ini, dengan mati dan bangkit kembali di planet kita ini, telah menembus segenap alam semesta , sebab bumi ini di angap pusat tetap alam semsta itu. Tapi tiba-tiba saja Galileo menghapuskan “kepastian” yang begitu terang dan sempurna itu. Bisa di mengerti kegelisahan yang dialami oleh para ahli agama yang melihat suatu aspek penyelamatan telah di pertanyakan.[8]
Sekarang haruslah di akui bahwa ketika Agama menawarkan diri menghadapi sains , iman yang samar-samar bisa bersikap curiga. Seperti halnya ketika manusia agamais modern yang terlalu fundamental masih menganggap bahwa. “jika kamu mengakui teori Evolusi Darwin maka kamu adalah orang-orang yang termasuk kafir.”

Teknologi dan kehidupan Agama.

Teknologi menurut Takdir Alisjahbana adalah kecakapan manusia melipat gandakan tenaga dan kemungkinannya dengan memakai tenaga-tenaga dan kemungkinan-kemungkinan alam yang tiada berhingga besarnya. [9]
Roda adalah penemuan manusia yang pertama untuk menghentikannya menempuh perjalanan dengan kakinya. lewat kemajuan Teknologi Roda kemudian dapat di gerakkan oleh mesin uap, yang semakin mempercepat daya tempuh. Bahkan dengan pesawat, jarak yang dulunya mustahil untuk di tempuh dalam beberapa jam saja kini sudah tidak mustahil lagi.
Seiring dengan kemajuan sains dan teknologi di barat nilai-nilai agama secara berangsur-angsur juga bergeser bahkan bersebrangan dengan ilmu. Manusia modern sudah beranggapan bahwa jika ingin maju , agama tidak boleh lagi mengurusi masalah-masalah yang berkaitan dengan dunia, seperti politik dan sains. Seperti yang di kemukakan oleh Hendrik Kamer bahwa semua agama di zaman modern sedang mengalami suatu krisis yang amat mendalam. Setiap orang di zaman kita yang melihat dan mengamati kehidupan serta perkembangan agama dengan bermaca-macam alirannya, kesangsiannya dan pertentangan di antara pengikut-pengikutnya, tak dapat dengan jujur berkata lain dari pada itu.

Persoalan kedua
Bagaimanakah krisis yang di timbulkan .....
Ketika pertanyaan “Gnouti seauto” bergema di seantero atmosfir bumi yang mengakibatkan gaya gravitasi logis yang kuat dalam akal budi manusia. tercatat setelah di mualainya eksistensi manusia pertanyaan “kenalilah dirimu” menjadi pertanyaan yang mengakibatkan kemajuan dalam perkembangan zaman di dunia.
Namun dalam pengeluaran Argumentasi manusia ketika menjawab pertanyaan ini malah semakin menjauhkan manusia dari pengenalan dirinya sehingga menimbulkan krisis diri. manusia yang merasa unggul dengan penemuan sains dan teknologi lewat otaknya yang brilian. Misalnya ketika Descartes menjawab “Gnouti Seauoto” terjadi perpisahan antara tubuh dan ruh (spirit) yang kini di kenal dengan istilah Cartesian Dualism bahwa antara ruh dan dan jasad memiliki sifat-sifat yang saling bertentangan secara mendalam. Dan barat memilih jasad sebagai defenisi manusia.
Sebagai konsekuensi logis kekeliruan paradigma pemikiran barat modern diatas, berbagai permasalahan kemanusiaan universal yang muncul dewasa ini , di antaranya krisis spiritual, krisis moral dan krisis lingkungan.

a.      Krisis Spritual.

Ketika Descartes mengemukakan Dualismenya pada permukaan dunia barat yang mereduksi tubuh manusia menjadi roh ataupun roh menjadi tubuh. Namun karena peradaban barat itu lebih cenderung kepada saintisisme dan mekanisasi, maka pada akhirnya yang di singkirkan adalah roh. Hasilnya adalah makhluk manusia menjadi robot yaitu mesin yang harus terus di awasi dan di manipulasi seperti mesin lainnya dengan menggunakan kekuatan fisik kimiawi dan alat-alat teknologis. Yang menjunjung tinggi nilai-nilai material dan menyingkirkan nilai-nilai Spritual.[10]
Dalam prosesenya ketika manusia modern melihat dunia dengan kaca mata materialism maka akan terjadi keterasingan diri spirit yang kemudian menyebabkan tubuh profan mengungguli tubuh sacral. C.A. Qadir misalnya menyebutkan bahwa wawasan tentang yang kudus telah hilang dari konsep barat tentang pengetahuan, yang dulu menjadi titik sentral pengetahuan dalam Islam. Keterhilangan diri spirit ini menyebabkan manusia teralienasi yang menyebabakan kekacauan dan ketidak seimbangan pada kehidupan actual manusia. Sebagaimana Seyyed Hossein Nasr yang menyatakan bahwa realitas pengetahuan hampir seluruhnya  mengalami eksternalisasi dan desakralisasi, terutama di kalangan sebagian umat manusia yang sudah mengalami perubahan karena proses modernisasi.[11]
Maka saat diri manusia di bungkus oleh titik hitam materialism kapitalisme yang mengembangkan teknologi dengan mengedepankan penglupaan terhadap spiritual akan menggiring manusia kepada krisis yang makin dalam. Ketika manusia mengalami krisis dalam dirinya maka akan terjadi ketidak seimbangan dan penghancuran secara tidak sadar terhadap luar dirinya. Persaingan yang tidak sehat akan terjadi karena manusia telah kehilangan tujuan kebenaran yang sebenarnya. Maka berubahlah manusia menjadi Robot penghancur yang menghancurkan dirinya, orang lain, alam dan Tuhan.

Krisis Moral

Saat manusia telah mengalami krisis Spritual maka seperti wabah demam berdarah. Krisis itu kemudian menyebar keberbagai Aspek pada diri manusia. Termasuk dalam krisis Moral. Moral merupakan Identitas atau jati diri seseorang yang dapat menentukan dan menempatkan pada level mana dia berada. Tinggi rendahnya moral seseorang dapat di ukur dari bagaimana dia berbuat dan bertingkah laku di masyarakat. Zakiah Drajat mengartikan moral itu sebagai kelakuan yang sesuai dengan ukuran-ukuran (nilai-nilai) masyarakat , yang timbul dari hati dan bukan paksaan dari luar, yang di sertai pula oleh rasa tanggung jawab atas kelakuan (tindakan) tersebut. Dan dalam ajaran Agama maka moral adalah suatu hal yang penting bahkan terpenting, di dalamnya terkandung kejujuran kebenaran, keadilan dan pengabdian.
Ketika manusia menjadi manusia informasi yang oleh para ahli Futurolog sebagai Era informasi dan Globalisasi. Sehingga pada zaman ini pepatah hukum rimba berubah menjadi Hukum Informasi, bahwa bukanlagi siapa yang kuat dialah yang akan menang tetapi siapalah yang dapat menguasai informasi maka dialah yang akan menang. Kekuatan manusia pada zaman ini telah di artikan sebagai kecerdasan informasi.
Namun dari konsekuensi kekeliruan  logis  dari cara pandang ilmuwan barat di abad modern yang menganggap manusia sebagai pusat segala-galanya hingga mengabaikan nilai-nilai spritualitas yang juga berdampak pada nilai moral manusia. Penguasaan teknologi Informasi yang berpusat di Amerika dengan pola pikir sekularisme tadi berdampak negative pada pendidikan, politik, ekonomi dan sebagainya.
Dalam dunia perpolitikan Indonesia misalnya. Tempat duduk DPR sebenarnya di duduki oleh manusia –manusia yang pintar secara akademik. Namun Indonesia belum beranjak dari tingkat paling teratas terjadinya kesialan penyakit korupsi. Yang kebanyakan di lakukan oleh pejabat Negara. Ini bukan karena mereka tidak ahli dalam menjalankan tugasnya namun mereka tidak memliki nilai moral untuk menahan godaan untuk memainkan uang yang di kelola untuk kepentingan pribadi dan memisahkan uang untuk Rakyat.
Sekali lagi ini diakibatkan oleh cara pandang etika dan epistimologi yang keliru.

Krisis Lingkungan.

Menurut H Hikmat Trimendi, krisis lingkungan yang terjadi saat ini sebenarnya bersumber pada kesalahan fundamentalis filosofis dalam pemahaman atau cara pandang manusia terhadap dirinya , alam dan tempat manusia dalam keseluruhan ekosistem. Kesalahan itu menyebabkan kesalahan pola prilaku manusia, terutama dalam berhubungan dengan alam. Aktivitas produksi dan perilaku konsumtif gila-gilaan melahirkan sikap dan pola prilaku ekploitatif.[12] Sehingga dari kesalahan kekeliruan yang amat tragis itu menyebabkan kerusakan lingkungan yang parah.
Ketika manusia berpikir seperti cara berpikir Newton yang percaya setelah alam tercipta, alam semesta bergerak  seperti sebuah mesin dan di atur oleh hukum-hukum deterministic, dan Tuhan tidak diperlukan lagi kehadiranNya dalam kosmos ini. Maka akan terjadi ekploitasi alam dan hasrat manusia untuk kepentingan ekonomi menjadi tak terbatas. Pohon-pohon menjadi aspal dan bangunan permanent yang sangat membahayakan manusia itu sendiri.
Bencana Lapindo Brantas di Jawa Timur menjadi contoh terkuaknya keterhilangan manusia dari dirinya yang sebenarnya. Manusia yang serakah lewat misi materialismenya akan merugikan orang lain lalu memakan korban. Ketika manusia terus mengalami keterculikan diri maka manusia akan berubah menjadi monster pemakan jiwa. Entah melahap jiwa manusia, alam sendiri hingga jiwa dirinya sendiri.
Namun melihat lingkungan sekitar yang semakin lama semakin kehilangan  eloknya dalam artian hancur-sehancurnya. Dapat kembali membangunkan manusia dari tidur amnesia dirinya. Nasr mengatakan “bahwa dia baru menyadari krisis spiritual yang mengancam batinnya melalui krisis lingkungan alam di sekeliling dirinya”[13] lebih lanjut lagi Nasr  mengatakan bahwa upaya – upaya untuk menjaga kelestarian lingkungan alam makin sering di lakukan tiga dekade yang lalu tampaknya belum menyentuh inti persoalan. Itulah sebabnya krisis ekologis yang akut dan bahaya dapat mengancam masa depan kehidupan manusia tetap tidak teratasi. Karena usaha manusia untuk “hidup dengan roti semata-mata” atau untuk “membunuh Semua Tuhan” dan untuk menyatakan kemerdekaanya dari kekuatan Surgawi.[14]






[1] Greg Soetomo, Sains dan Problem Ketuhanan, ( Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1995), h. 19.
[2] Louis Leahy, Manusia di hadapan Allah, masalah Ketuhanan Dewasa Ini, ( Yogyakarta : Penerbit Kanisius, 1982), h. 115.
[3] Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, (Yogyakarta: Kanisius,1998) h.12.
[4] Louis Leahy, Manusia di hadapan Allah, masalah Ketuhanan Dewasa Ini, ( Yogyakarta : Penerbit Kanisius, 1982), h. 114.
[5] W Steanley Heath, Sains ,Iman dan Teknologi ,manakah yang benar Firman Allah ataukah Sains Modern, ( Yogyakarta: Yayasan Andi, 1997). h. 93.
[6] Louis Leahy, Manusia di hadapan Allah, masalah Ketuhanan Dewasa Ini, ( Yogyakarta : Penerbit Kanisius, 1982), h. 120.
[7] W Steanley Heath, Sains ,Iman dan Teknologi ,manakah yang benar Firman Allah ataukah Sains Modern, ( Yogyakarta: Yayasan Andi, 1997). h. 89.
[8] Louis Leahy, Manusia di hadapan Allah, masalah Ketuhanan Dewasa Ini, ( Yogyakarta : Penerbit Kanisius, 1982), h.
[9] Alisjahbana, pemikiran Islam dalam menghadapi Globalisasi dan Masa Depan Umat Manusia, ( Jakarta : Dian Rakyat,1992), h. 10.
[10] Muhammad Sabri, Muhammad Saleh Tadjuddin, Wahyudin Halim, Buku Daras Filsafat Ilmu,( Makassar: Alauddin pers, 2009). h.70
[11] Seyyed Hoessin Nasr, “Tentang Tradisi” dalam perennialisme: melacak jejak filsafat Abadi ( ed. Ahmad Norma Pratama), (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya,1996) h. 143.
[12] H. Hikmat Trimendi, Islam dan Penyelamatan Lingkungan,(Bandung: Q Tab,2007), h.1.
[13] Seyyed Hossein Nasr, Islam and The Flight of Modern Man (Islam dan Nestapa Manusia Modern), terj. Anas Mahyuddin (Bandung:Pustaka, 1983), h. 86.
[14] Seyyed Hossein Nasr, Man and nature the Spritual Crisis of Modern Man (London: Unwin Paperback,1976), h.8-9 dikutip dari Wahyudin Halim, Sufisme dan Krisis Spritual Manusia Modern, studi atas pemikiran metafisika sufistik Seyyed Hossein Nasr, ( Makassar: Alauddin University pers, 2011) h. 156.
Read More