Tampilkan postingan dengan label Sejarah Filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Filsafat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Desember 2016

Pertarungan Jiwa dan Tubuh : Filsafat Rene Descartes




Riwayat hidup Rene Descartes. ( Seorang Petualang Malam)

sumber : Biography.com


“ pikiran-pikiran Agung mampu melakukan baik kesesatan-kesesatan agung maupun kebajikan-kebajikan agung.”(Descartes).

Rene Descartes adalah seorang filsuf dari France(Perancis) yang lahir pada tanggal 31 Maret 1596 di La Haye Tourine. Sejak kecil ia diasuh lewat ilmu pengetahuan yang membuatnya memiliki otak yang encer. Di usia 8 tahun, Rene Descartes sudah menjadi bintang kelas di sekolahnya di La Fleche. Para Yesuit di Asramanya sangat mengagumi kecerdasan Descartes sampai ia mendapat hak istemewa untuk bangun terlambat, kelonggaran yang di berikan gurunya Karena mereka maklum bahwa Descartes sering menemukan gagasan-gagasan briliantnya selagi begadang atau sedang bermimpi. Kebiasaan terlambat bangun pagi berlangsung hingga usianya tua.

Selesai di La Fleche Descartes ke Paris. Ia menikmati masa mudanya sebagai pemuda yang moderat, ia senang melancong ke luar negeri sampai ke Belanda, Jerman, Hungaria, Swiss, Italia, dan Swedia. Ia biasa mengisi waktu luang dengan berjudi dan itupun selalu beruntung.[1]

Sementara melancong , ia tidak meninggalkan kebiasaanya sebagai seorang pembaca yang setia dan penulis yang setia dan Ia banyak menulis pikiran dan hasil refleksinya saat keluar rumah. Itupun di dapatkannya ketika malam tiba dan saat ia sedang bermimpi.

Descartes adalah seorang yang berwatak tenang dan suka menyendiri, namun pikirannya penuh semangat pemberontakan. Hidupnya penuh ketegangan antara tampil kemuka dan surut kebelakang. Dia suka Paris yang ramai, tetapi tiba-tiba dia menyendiri jauh dari keluarganya antara lain ke Jerman. Di Dalam barak militer di Neuburg dekat kota Ulm, Jerman, di malam tanggal 11 November 1619 Descartes menemukan ide sentral Filsafatnya saat ia sedang bermimpi di dalam tidurnya. Dia bermimpi tentang sebuah kamus yang masih harus di lengkapi. Dalam mimpinya itu dia mendengar kata-kata “ Quod vitae sectabor iter?”( Jalan hidup manakah yang seharusnya kutempuh).[2] Dia sendiri menafsirkan impiannya itu sebagai tugas untuk melengkapi seluruh ilmu pengetahuan. Buku Discours di tulis dalam suasana sendiri dalam kesepian di Belanda. Ia menulis “ Aku disini bisa melewatkan seluruh hidupku tanpa di ketahui seorang pun”. “Disini aku tidur malam sepuluh jam tanpa kekhawatiran apa pun yang membuatku terjaga”[3]. Dalam suasana yang sepi itulah ia berkontemplasi untuk menemukan kebenaran yang selama ini di carinya dan ia merasa telah menemukan kebenaran itu.

Masyarakat tempat Descartes hidup berciri Aristokrat yang memberi tempat utama kepada elit bangsawan. Minat elit ini adalah pada masalah metafisika Skolastik. Sementara itu dari kalangan yang sama memiliki minat baru terhadap matematika, geometri, dan fisika yang mulai giat di pelajari di zaman itu.

Sedang Rene Descartes minat kepada keduanya. Dalam situasi yang hampir sama dengan pemikir-pemikir seperti Bacon, Bruno dan Machiavelli. Filsuf ini menghasilkan refleksinya. Dan apa yang di hadapainya juga sama dengan filsuf lainnya, ia mendapat protes serta kecaman yang keras dari kelompok masyrakat yang tidak menyukai filsafatnya. Permusuhan yang paling gencar di arahkan kepadanya adalah dari para Yesuit yang menjadi pengasuh di masa mudanya. Ajarannya di anggap menyimpang dari teologi Katolik, maka Filsafatnya di masukkan dalam daftar ajaran sesat, buku-bukunya yang termasyur dan mempengaruhi gerak zaman modern adalah Discours de la Methode (1673) dan Meditationes de Prima Philosophia (1641).

Seumur Hidupnya, dia kerap di ganggu sakit batuk yang tak kunjung sembuh, sementara dia sendiri engga berurusan dengan dokter. Dan pada tahun 1650 setelah melewati kehidupan yang berarti, Rene Descartes wafat dengan damai di kota Stockholm.

Filsafat Rene Descartes. Pemikirannya tentang Manusia sebagai Pertarungan Jiwa dan Tubuh.
Ada dua Faktor yang penting untuk di ketahui sebelum membaca Pemikiran Rene Descartes. Pertama, perlulah mengetahu sosio historis yang mempengaruhi psikologi Rene Descartes dalam menghasilkan refleksinya,. Kedua, penting pula mengetahui pengalaman-pengalaman yang telah di lewati Rene Descartes terutama petualangan melancongnya ke berbagai tempat.

Mengenai factor yang pertama. Telah sedikit di singgung pada halaman sebelumnya. Bahwa Rene Descartes hidup di tengah-tengah masyarakat yang berciri Aristokrat yakni memberi tempat utama kepada elite bangsawan dan minat elit ini adalah pada masalah metafisika Skolastik.[4] Metafisi skolastik adalah metafisika hasil dari system Plato dan Aristoteles yang mendominasi semua pemikiran filosofis di Barat selama dua ribu tahun. Tatkala agama Nasrani muncul di kancah filsafat untuk pertama kalinya , sebagaian besar pater gereja mengambil beberapa versi idealism Platonik sebagai basis bagi teologi mereka. Kecenderungan itu memuncak pada diri St. Agustinus yang sangat berpengaruh pada masa kegelapan sehingga Aristoteles terlupakan di Eropa. Namun cendikiawan-cendikiawan Muslim melestarikan tulisan-tulisan Aristoteles selama periode itu, terutama dengan bahasa Arab yang di gunakan sebagai landasan untuk penyusunan berbagai bentuk filsafat dan teologi Islam. Lewat St Thomas Aquinas . Aristoteles kembali ke Barat. [5]

Pemikiran realisme Aristotelian mengenai konsep tentang jiwa yang di yakini sebagai prinsip yang memberi kehidupan kepada makhluk hidup. Ada tiga jenis jiwa menurut Aristoteles. pertama, Jiwa vegetatif yang memberi kemampuan untuk menyerap makanan dan bereproduksi.  kedua, Jiwa Hewani/Sensitif yang memberi kemampuan untuk daya penggerak, sensasi, ingatan, dan imajinasi. Ketiga, Jiwa Rasional yang hanya di miliki oleh manusia yang memberinya kemampuan berpikir secara sadar, membuat norma social, serta menyusun kebajikan-kebajikan moral.[6]
Selain Konsep jiwa yang di tawarkan oleh Aristoteles, Rene Descartes juga sedikit terpengaruh oleh konsep Idealis Platonik.  Namun bagi Descartes kedua Tradisi Aristotelian dan Platonian memiliki cacat yang sama bahwa keduanya tidak dapat menciptakan kebenaran mutlak total yang bisa menjadi dasar yang tak terbantahkan untuk menyusun pengetahuan yang ketat. Maka dari itu ia merasa harus menemukan pendasaran metodis yang baru dalam Filsafat.

Metode Kesangsian dan “Cogito Ergo Sum”.

Dengan meragukan konsep Aristotelian- Thomis dan Platonik-Agustinian muncul sebuah pertanyaan bagaimana kepastian mutlak itu dapat di buktikan? Bagaimana pondasi yang kokoh bagi pengetahuan itu dapat ditemukan.?

Dalam kesendiriannya di barak Militer di Jerman. Descartes mendapatkan sebuah kebenaran Mutlak yang dapat kita yakini sekali dan untuk selamanya. Kebenaran Mutlak itu di dapatkan lewat metode Kesangsian “ le doute methodeque” yang sangat membutuhkan kesendirian.[7]

Bagi Descartes untuk menemukan kebenaran Mutlak itu pertama-tama, dia mulai menyangsikan segala bentuk sifat-sifat dasar sederhana pada sebuah objek yang bisa di tangkap oleh Indra kita, dia menyangsikan ide yang bagi Descartes ide bisa tipuan belaka dari semacam Iblis yang sangat cerdik.  dia juga menyangsikan asas- asas matematika dan pandangan metafisis yang berlaku tentang dunia material dan dunia Rohani. [8]

Lalu apakah yang dapat di jadikan pegangan setelah semuanya di sangsikan ? menurut Descartes, sekurang-kurangnya “ aku yang menyangsikan” bukanlah hasil tipuan. Semakin segala sesuatunya di sangsikan  semakin di sadari bahwa kita sedang sangsi. Kesangsian terhadap sangsi itu membuktikan bahwa kita sedang mengada dalam kegiatan berpikir. Karena menyangsikan adalah berpikir. Maka Descartes menyebut “ Cogito Ergo Sum, aku berpikir maka aku ada “.

Dengan metode Kesangsian inilah di temukan sebuah kebenaran Mutlak yaitu “cogito”. Cogito  ini tidak ditemukan dengan deduksi dari prinsip-prinsip umum ala Aristotelian atau lewat intuisi. Cogito di temukan lewat pikiran kita sendiri, sesuatu yang di kenali melalui dirinya sendiri, bukan melalui kitab suci, dongeng, pendapat orang, prasangka, dan seterusnya.[9]

Dalam menyangsikan segala sesuatunya Rene Descartes telah mendapatkan sebuah kebenaran mutlak akan dirinya yang sedang berpikir. Namun saat ia menjelaskan tema-tema seperti  Jiwa dan tubuh yang memang sudah lama dibahas oleh filsuf-filsuf yang di dahuluinya. Filsafat Rene Descartes tetap menyisakan minat akan metafisika. Dia tidak dalam keadaan kosong saat menjelaskan tubuh dan Jiwa.

Rene Descartes mengenai Tubuh.
Setelah meragukan secara sistematis segala bentuk gejala alam fisis, ia lalu menarik kesimpulan, bahwa hanya terdapat dua sifat dasar yang jelas dan terpilah-pilah, atau yang tidak bisa di ragukan dan di analisis lagi yakni keluasan dan gerak. Seluruh badan yang hidup harus di jelaskan berdasarkan pada prinsip-prinsip yang sama seperti gejala alam fisis lainnya.

Descartes percaya bahwa ada tiga jenis partikel dasar di alam semesta, yakni api, udara dan tanah yang membentuk objek yang berukuran besar.

Partikel Api.

Descartes memahami Api atau partikel-partikel panas, sebagai unsur yang paling kecil, sedemikian kecilnya ketika berkumpul partikel ini membentuk zat cair dan gas yang sangat sempurna. Yang mampu mengisi ruang bentuk atau ukuran. Partikel-partikel tersebut secara alamiah menembus kepartikel-partikel lain yang lebih besar di dalam alam, di samping juga berpadu dengan sangat intens di pusat alam itu, dan membentuk matahari.

Partikel Udara

Menurut Rene Descartes, partikel udara memiliki ukuran yang lebih besar dari pada partikel api. Meskipun tetap tidak dapat di amati secara langsung. Partikel-Partikel yang jumlahnya sangat luar biasa ini mengisi segenap ruang di antara objek-objek dan secara serentak bergerak keruang begitu objek bergerak. Partkel udara secara alamiah memformulasikan dirinya sendiri kedalam kolom-kolom diantara objek-objek yang kemudian membentuk dasar material bagi sinar cahaya. Jadi jika manusia melihat objek sebenarnya ia sedang melihat cahaya yang tersusun dari partikel udara yang sangat halus yang menyebar kemata manusia.

Partikel Tanah.

Semua Objek yang dapat di lihat dengan kasat mata seperti pohon, rumput, sebatang kayu dan Manusia di duga tersusun dari pertembuhan partikel-partikel “tanah”, yakni unsur partikel yang lebih besar dan memiliki massa yang lebih berat. Partikel tanah yang membentuk objek itu secara terus menerus bergerak atau bergetar, gerakan dan geetaran tersebut di salurkan kepada kolom-kolom sinar cahaya menuju mata. Getaran itu lalu merangsang partikel material dari mata dalam gerakan simpatetik.

Lewat tiga unsur partikel ini. Descartes telah menjelaskan bagaimana manusia mempersepsikan Objek. Ia mendapati sebuah landasan yang di jelaskan secara empiris. Tubuh terdiri dari partikel-partikel yang bergerak dan memiliki keluasan seperti benda-benda fisik lainnya.

Rene Descartes Mengenai Jiwa.
Jiwa Hewani dan vegetative yang menjadi kadaluarsa.

Descartes hendak menggurkan konsep-konsep tradisional mengenai jiwa hewani dan vegetative yang memiliki fungus bagi tubuh seperti : mencerna makanan, sirkuluasidarah, daya tahan dan pertumbuhan tubuh , respirasi, tidur dan terjaga, sensasi pada dunia luar, imajinasi, memori, nafsu dan gairah dan pergerakan tubuh. Semua fungsi tersebut ternyata dapat di jelaskan secara empiris. Dan Rene Descartes lebih senang menyebutnya sebagai gerakan mekanis yang bergerak secara otomatis. Itulah mengapa kita tidak perlu menyebut jatuh cinta seorang pemuda pemudi sebagai sebagai sebuah gerakan dari jiwa di dalam hati kecuali sebuah gerakan darah yang di gerakkan oleh panasnya api yang menyala tanpa henti di dalam jantung. Sebagaiman Wiiliam Harvey(1578-1657) juga menjelaskan jantung sebagai pusat peredaran darah.

Rene Descartes juga tertarik pada rongga-rongga di dalam otak yang berisi cairan jernih berwarna kuning, yang disebut sebagai jiwa hewani ( yang berfungsi sebagai sensasi ke dunia luar, nafsu dan gairah serta memori dan imajinasi). Ia berspekulasi bahwa jiwa Hewani adalah partikel yang kecil dan halus yang berkumpul membetuk partikel yang lebih kasar sebagai darah yang menuju otak. Otak ini yang kemudian mengalirkan darah melewati jaringan-jaringan tubuh dan mengaktifkan otot-otot. Otak dan darah inilah yang menjadi biang dari segala kegiatan yang di sebabkan oleh jiwa Hewani.

Descartes percaya bahwa analisisnya berhasil menunjukkan seluruh fungsi-fungsi jiwa vegetative dan hewani dapat di jelaskan secara mekanistik. Maka dari itu Hewan yang ia perhatikan hanyalah sebuah mesin otomatis yang di kendalikan oleh darahnya sendiri. Maka Hewan yang buas di pengaruhi oleh darahnya. Namun bagaimana dengan manusia. Manusia juga memiliki jiwa vegetative dan hewani tubuh manusia adalah mesin otomatis juga yang memiliki darah tetapi Rene Descartes belum menyinggung jiwa Rasional yang tidak di miliki selain manusia.

Jiwa Rasional yang Imaterial.

Descartes merasa ada segi subyektif dari pengalaman manusia yang teramat luhur yang tidak mengzinkan Descartes untuk memesinkan manusia secara keseluruhan.

Jiwa Rasional itu ada bagi Descartes namun jiwa tidak tampak secara langsung dalam kesadaran kita, seperti halnya ketika mata mempersepsikan partikel Cahaya. Namun ia meyakini bahwa jiwa itu benar-benar ada. Yang hanya di peroleh lewat “cogito” aku berpikir. Maka ia menamakan jiwa sebagai ide bawaan. Yaitu sebuah ide yang tidak bergantung dari pengalaman indrawi terhadap yang materi.

Ide bawaan ini membawanya pada ide kesempurnaan dan ide kesempurnaan ini lalu membawa Descartes pada sebuah pemikiran tentang adanya “sesuatu” yang telah menciptakan segala aspek kesempurnaan. Descartes menyebut “sesuatu” itu sebagai Tuhan. Tuhan inilah yang menjadi dalang dalam memperoleh pengetahuan perpaduan partikel dari persepsi Indrawi dan pengetahuan imateri yang di dapati dari integritas jiwa yang mempersepsinya.

Jiwa yakni jiwa Rasional menjadi sesuatu yang lebih dasariah atau Fundamental yang berinteraksi dengan tubuh manusia. Namun bagaimanakan jiwa Rasiona yang Imaterial ini dapat berinteraksi dengan tubuh yang material.

Hubungan Jiwa dan Badan dalam Filsafat Descartes.

Jadi filsafat Descartes menempatkan rasio dan fungsi-fungsi intelektual jiwa sebagai sesuatu yang lebih fundamental dari pada pengalaman Indra, Karena alasan ini Descartes melahirkan mazhab pemikiran Rasionalis dan nativis.  Karena Jiwa rasionallah yang mendahului  pengalaman konkret yang membawanya juga menjadi anti tesa dari empirisme realisme yang percaya bahwa pengalaman Konkretlah yang mempengaruhi jiwa.

Descartes di sebut sebagai seorang dualis Karena pembedaanya  yang tajam antara dua substansi tubuh dan jiwa. Menurut Descartes, Tubuh tanpa Jiwa akan menjadi otomat belaka, yang di gerakkan secara mekanis oleh stimulus eksternal dan kondisi-kondisi hidrolik internal atau “emosional”. Jiwa tanpa Tubuh pun hanya akan menghasilkan ide-ide bawaan saja tanpa di perkaya oleh persepsi-persepsi kompleks Indrawi. Jadi tubuh dan Jiwa adalah hubungan timbal balik. Tubuh memperkaya Jiwa dan jiwa menambah rasionalitas terhadap perilaku manusia.

Untuk menjawab bagaimanakah jiwa yang immaterial dapat mempengaruhi tubuh yang material. Untuk menjawab pertanyaan itu bagi Descartes tempat yang paling logis untuk jiwa adalah di suatu tempat di dalam otak yang menjadi pusat control bagi sensasi-sensasi dan gerakan-gerakan tubuh. Namun otak ternyata merupakan organ fisik yang memiliki dua bidang simetris yang terpisah. Sedang jiwa merupakan entitas yang terpadu.

Tubuh ketika menerima kehadiran ganda dari suatu objek dalam dunia . jiwa hanya mempersepsi satu kehadiran saja . Selanjutnya Descartes percaya bahwa persepsi yang sadar haruslah secara akurat merepleksikan dunia nyata. Ketika aku melihat sebatang pohon dari balik jendela. Phon tersebut secara akurat haruslah mempersatukan semua pohon yang sama di sudut dunia di mana saja. Dengan demikian kesan ganda tersebut dapat di satukan dalam keterpaduan jiwa.

Descartes beranggapan bahwa keterpaduan itu hanya bisa terjadi di dalam stuktur yang tidak terbagi. Di dalam otak Descartes mendapati sebuah kelenjar pinealis yang sebesar biji kacang yang berada dekat dengan pusat otak. Kelenjar Pinealis inilah yang menjadi jembatan antara jiwa dan tubuh manusia.

Analisis Kritis terhadap Filsafat Manusia Rene Descartes.

Mari kita sekarang menyebut filsafat manusia Rene Descartes sebagai dualism Cartesian. Ada bebrapa Konsekuensi penting yang perlu di kritisi. Pertama Rene Descartes telah mengambil langkah berani dan menyiksa ketika mulai mempertanyakan kebenaran mutlak yang berujung pada sebuah kesangsian yang radiks terhadap pikiran Filsafat dari dua filsuf besar yang telah mempengaruhi Barat selama dua ribu tahun lamanya yakni pemikiran filsafat Platonia dan Aristotelian.

Kedua, Rene Descartes telah menggugurkan defenisi manusia sebagai “hewan rasional” dari Aristoteles  dengan hubungan Jiwa-Tubuh dari Descartes meskipun teorinya juga akan di gugurkan oleh pengetahuan yang lebih banyak menggunakan alat.

Ketiga, Dalam bidang ilmu pengetahuan alam Rene Descartes memberikan ke optimisan bagi para Ilmuwan yang dapat meneliti objek secara obyektif dimana ide Platonian tidak lagi menganggu para ilmuwan dalam menemukan bebas nilai meskipun pemikir -pemikir dari Empirisme lah yang berperan paling banyak mempengaruhi penelitian para ilmuwa. Namun tidak dapat di pungkiri dualism Cartesian telah menjadi jalan munculnya anti tesa atau dukungan yang memungkinkan teknologi terapan berkembang dengan sangat pesat di Eropa pada tiga abad ini.

Keempat, Pandangannya mengenai manusia sangatlah mekanistik dan dapat di cerna ketika Rene Descartes membahas Jiwa-Badan secara terpisah. Namun ketika menjelaskan hubungan Jiwa – Badan lewat Kelenjar Pinealis inilah Rene Descartes memunculkan Kontroversi akan penjelasan yang sangat membingungkan. Kontroversi ini lalu memicu sebuah perdebatan panjang bahkan banyak melahirkan filsuf -filsuf yang mndukungnya dan menjadi penentangnya.

Adapun lima aliran yang menanggapi Dualisme Cartesian. Materialisme Thomas Hobbes, Immaterialisme George barkeley, paralelisme, Nicholas Malebrance, Teori Aspek Ganda Spinoza dan Epifenomenalisme David hume.

Namun terlepas dari segala bentuk kritik terhadap Rene Descartes. Rene Descartes sebenarnya tetap mempertahankan kesatuan manusia itu dalam ide kesempurnaan Tuhan, seperti teori dari Spinoza seorang filsuf Rasionalis yang menjelaskan tentang Panteisme.

Kelima, Rene Descates bersama kontroveri Jiwa-tubuhnya telah menimbulkan ragam aliran dalam filsafat. Ia pun memang layak di sebut sebagai Bapak filsafat Modern. Karena dialah yang telah mencoba untuk menemukan Kebenaran Mutlak yang di dapatkannya lewat metode kesangsian yang sangat mengandalkan “Cogito”nya sebagai jiwa ayang berpikir. Sejak saat itu orang Eropa ramai mengedepankan akal yang menjadi ciri khas dari zaman modern.

Demikianlah penjelasan Manusia dari Filsafat Rene Descartes.


Daftar Pustaka.
Hardiman F, Budi, Pemikiran-Pemikiran yang Membentuk Dunia Modern.Jakarta : Penerbit Erlangga, 2011.
Abidin, Zainal .Filsafat Manusia Memahami Manusia Melalui Filsafat, VII .Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2014.
palmquist, Stephen . The Tree of Philosophy a Course of Intruductory Lectures for Beginning Student of Philosophy, ( Hongkong, Philopsychy Press, 2000) di terjemahkan dari Muhammad Shodiq, Pohon Filsafat Teks Kuliah pengantar Filsafat, II  Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2007.



[1] F Budi Hardiman, Pemikiran-Pemikiran yang Membentuk Dunia Modern,( Jakarta : Penerbit Erlangga, 2011) h.31.
[2] JB Metzler, Metzeler Philoshopen Lexikon, Stutgart,1989. h. 180. Di kutip dari F Budi Hardiman, Pemikiran-Pemikiran yang Membentuk Dunia Modern,( Jakarta : Penerbit Erlangga, 2011) h.32.
[3] Wilhelm Weischedel, Die philosophiche Hintertreppe, Munchen, 1973. h. 117. Di kutip dari F Budi Hardiman, Pemikiran-Pemikiran yang Membentuk Dunia Modern,( Jakarta : Penerbit Erlangga, 2011) h.32.
[4] F Budi Hardiman, Pemikiran-Pemikiran yang Membentuk Dunia Modern,( Jakarta : Penerbit Erlangga, 2011) h.30
[5] Stephen palmquist, The Tree of Philosophy a Course of Intruductory Lectures for Beginning Student of Philosophy, ( Hongkong, Philopsychy Press, 2000) di terjemahkan dari Muhammad Shodiq, Pohon Filsafat Teks Kuliah pengantar Filsafat, II ( Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2007). h. 74.
[6] Zainal Abidin, Filsafat Manusia Memahami Manusia Melalui Filsafat, VII ( Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2014) h.51.
[7] Stephen palmquist, The Tree of Philosophy a Course of Intruductory Lectures for Beginning Student of Philosophy, ( Hongkong, Philopsychy Press, 2000) di terjemahkan dari Muhammad Shodiq, Pohon Filsafat Teks Kuliah pengantar Filsafat, II ( Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2007). h. 75.
[8] Stephen palmquist, The Tree of Philosophy a Course of Intruductory Lectures for Beginning Student of Philosophy, ( Hongkong, Philopsychy Press, 2000) di terjemahkan dari Muhammad Shodiq, Pohon Filsafat Teks Kuliah pengantar Filsafat, II ( Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2007). h. 76-77
[9] F Budi Hardiman, Pemikiran-Pemikiran yang Membentuk Dunia Modern,( Jakarta : Penerbit Erlangga, 2011) h.34
Read More

Kamis, 24 Desember 2015

menelanjangi Immanuel Kant, membuktikan dan membahasakan Tuhan.



Membuka Kant

Filsafat abad ke 18 di dominasi oleh kaum empiris Inggris. Yang di punggawai oleh Locke,Berkeley dan Hume yang berjiwa Subyektivisme. Pada diri Locke lewat teorinya di beranggapan jika pengetahuan yang didapatkannya adalah  merupakan persepsi kesetujuan dan ketidak setujuan dari dua gagasan. Dia berkeyakinana bahwa ada tiga macam pengetahuan tentang eksistensi riil, yakni intuitif dari diri kita, Demostratif dari Tuhan, dan Sensitif tentang hal-hal yang mengemuka dalam pikiran.
Sedang pada diri Berkeley sebagai upaya mengomentari koleganya. Dia berkeyakinan jika pengetahuan itu tak lebih terperoleh dari pikirannya sendiri tanpa ada peranan Demonstratif dari Tuhan. Namun ia tidak berani melangkkah sejauh itu dengan jubah Pastor dan makhluk yang berjiwa sosial.
Hume sebagai titik tertinggi setiga Empirisme. Lebih banyak mendukung Locke dalam memperoleh pengetahuan. Dia tidak mengakui gagasan sederhana tanpa adanya kesan yang mendahuluinya, dan tidak diragukan lagi, dia membayangkan sebuah “kesan” sebagai kondisi pikiran yangs ecara langsung di sebabkan oleh sesuatu di luar pikiran, namun ia tidak mengakui ini sebagai defenisi “Kesan”, karena dia sendir mempertanyakan apa yang di maksud dengan “Sebab”.
Kritik terhadap pengetahuan yang di lakukan oleh segiitiga Empirisme ini berlanjut kesegitiga Jerman yang lebih canggih. Muncul Kant,Fichte dan Hegel untuk membangun filsafat jenis baru yang di tujukan untuk mengamankan pengetahuan dan kebaikan dari doktrin-doktrin Subversif akhir abad ke-18. Terlebih pada diri Kant sebagai panglima bagi kawannya yang lain dengan bendera sintesis yang berusaha mengawinkan segitiga Rasionalisme dan segitiga empirisme menjadi sebuah bangun Kritisisme yang bergaris sintesis dan apriori.
Dengan ulasan singkat di atas sebagai beranda Kant, kini saatnya kita memulai untuk “Menelanjangi” Kant.
Menelanjangi Epistimologi Kant, sebelum menuju Moralitas Kant dn membahasakan Tuhan

Sebagai manusia yang di komentari sebagai filsuf terbesar abad modern memang tidak terlalu berlebihan, meski ada juga yang tidak sependapat. Namun sangatlah berdosa jika kita berani mengingkari peran pentingnya dalam membangun Filsafat.
Dari lahir(1724) hingga wafat(1804), ia hanya menetap di Konisberg, Prusia timur. Sebagai seorang pecinta Buku ia mendapat didikan Filsafat dari Leibniz dan jatuh cinta dengan filsafat Leibniz versi Wolfian, namun begitu mengenal Roessau dan Hume dengan kritiknya terhadap konsep Kausalitas mendorong hasratnya untuk menyelingkuhi Leibniz. Atau dalam istilahnya sendiri, ia telah terbangun dari tidur Dogmatiknya.
Kant memiliki ciri Filsafat yang kelihatannya lebih mementingkan hati nurani dari pada nalar teoritik yang kaku. Prinsispnya bahwa setiap orang di anggap sebagai tujuan dalam dirinya sendiri merupakan bentuk doktrin tentang Hak Asasi Manusia, dan kecintaannya akan kebebasan di tunjukkan dalam ucapannya bahwa” Tidak ada yang lebih mengerikan di banding jika tindakan seseorang harus tunduk kepada kehendak orang lain”.[1] Inti Filsafat Kant ada pada perkataannya ini, dan perlahan kita akn menuju kesana.
Buku terpenting kant adalah The critique of pure reason. Tujuan dari karya ini adalah untuk membuktikan bahwa pengetahuan yang kita peroleh bukan hanya berdasar pengalaman tetapi mesti ada juga sebagian a priori yang tidak di simpulkan seca induktif dari pengalaman. Dia memsihkan dua pembedaan yang dalam karya Leibniz, bercampur aduk. Di satu sisi, ada pembedaan antara proposisi “analitik” dan “sintetik”, di sisi lain ada pembedaan antara proposisi “a priori” dan “ Empirik”.
Proposisi analitik adalah proposisi yang predikatnya adalah bagian dari subyek. Misalnya “ Pria yang tinggi itu adalah seorang pria, atau “segitiga sama sisi adalah segitiga”. Proposisi semacam itu akan mengikuti hukum kotradiksi. Sedangkan Proposisi “Sintetik” adalah proposisi yang tidak analitik atau semu proposisi yang di dapati dari pengalaman adalah proposisi “Sintetik”, misalnya “hari Desember adalah permulaan musim huja” kita tak dapa menyimpulkan kebenaran semacam ini jika hanya menganalis konsep, di butuhkan pengalam untuk menunjang kesimpulan, itulah proposisi “Sintetik”. Namun Kant berpendaat jika Proposisi “Sintetik” seutuhnya di peroleh lewat pengalaman tetapi menyisakan sebagian apriori murni.
Proposisi Empirik adalah yang tidak dapat kita ketahui kecuali dengan bantuan Indera persepsi, baik milik kita sendiri maupun milik orang lain yang di pat di yakini kesaksiannya, dalam hal ini fakta-fakta sejarah dan geografi termasuk dalam jenis ini, demikian pula dengan hukum ilmu pengetahuan yang di ambil dari data Observasi.
Disisi lain proposisi Apriori adalah yang di pandang manakala kita mengetahuinya, memiliki basis selain dari pengalaman. Seorang anak yang mempelajari Aritmetika mungkin dapat di bantu dengan mengalami atau merasakan  dua butir kelereng dan dua butir kelerang yang lainnya, dan mengamati bahwa kesemuanya dia alami sebagai empat buah kelereng. Namun ketika dia memahami proposisi umum “ Dua dan dua sama dengan empat” dia tidak lagi meminta konfirmasi dengan menggunakan contoh; proposisi ini memiliki kepastian yang tidak dapat di berikan oleh induksi hukum umum. Dalam hal ini, semua proposisi yang murni matematis bersifat a priori.
Inti permasalahan dari the Critique of Pure Reason merupakan jawaban atas pertanyaan Bagaimana penelitian sintesis yang a priori dapat di mungkinkan?
Untuk menjawab pertanyaan ini, Kant sebagai seorang yang filsuf yang tegar mesti mempelajari pertanyaan yang di ajukannya sendiri dalam dua belas tahun umurnya demi mendapatkan solusi dari pertanyaannya. Namun dengan kejeniusannya hanya butuh beberapa bulan saja untuk menuliskan teorinya .
Menurut Kant, dunia luar hanya memunculkan materi sensasi, namun perangkat mental kita membentuk konsep-konsep untuk memahami pengalaman.  Sensasi yang di Intuisikan mesti harus berada pada Ruang dan Waktu serta tersaring oleh “Kategori yang kesemuanya adalah perangkat mental yang niscaya tertanam pada diri dan menjadi perangkat mental.
Ruang dan Waktu mesti niscaya di yakini ada pada diri sebagai intuisi yang sifatnya subyektif. Seperti analogi sebuah kaca mata biru yang kita kenakan. Di manapun kita memandang semuanya akan menjadi warna biru. Dalam ruang dan Waktu bila di jadikan sebagai sebuah kaca mata. Maka segala yang kita pandang akan memiliki ruang dan waktu. Yang kita pandang mesti memiliki geometri dan Waktu. Dengan demikian Ilmu Geometri dapat juga di katakan sebagai ilmu pengetahuan yang sifatnya a priori.
Ruang dan Waktu adalah bukan konsep. Keduanya merupakan bentuk Intuisi yang berarti “Anschauung, Memandang”. Yang memiliki konsep-konsep apriori adalah dua belas Kategori yang di peroleh Kant dari bentuk-bentuk Silogisme. Kedua belas kategori itu di bagi menjadi empat bagian yang masing-masing terdiri dari tiga kategori:
1.       Kuantitas
a.       Kesatuan (unity)
b.      Kemajemukan (Plurality)
c.       Keseluruhan (Totality)
2.       Kualitas
a.       Realitas
b.      Negasi
c.       Limitasi
3.       Relasi
a.       Substansi dan aksidensi
b.      Sebab-akibat
c.       Timbale balik
4.       Modalitas
a.       Kemungkinan(Possiblity)
b.      Keberadaan(eksistence)
c.       Kepastian(Necessity)
Ke dua belas Kategori ini bersifat Subyektif yang berarti sama dengan Ruang dan Waktu. Dengan kata lain Imanuel Kant mendesain perangkat mental kita untuk selalu sesuai dengan apapun yang kita alami. Namun ada Inkosistensi mengenai penyebab sensasi, dan kemauan bebas olehnya dapat di anggap sebagai penyebab kejadian alam ruang dan waktu. Inkonsistensi ini bukan tampak sebagai kejadian sekilas, ia justru merupakan bagian penting dalam sistemnya Kant.

Membuktikan Tuhan, Metafisika Kant

Dalam bagian the critique of practical Reason. Setelah membaca the Critique of Pure Reason Tuhan tentu saja tak tak dapat tersaring lewat intuisi yang murni Intelektual yang berusaha merasakan eksistensi (keberadaan ) Tuhan. Kant berupaya menghancurkan semua bukti yang sifatnya intelektual. Dan berupaya untuk menyia-nyiakan usaha untuk melihat eksistensi Tuhan lewat Intelektual.
Menurutnya dengan berbekal Rasio Murni kita hanya dapat mengetahui tiga bukti tentang keberadaan Tuhan, yakni bukti Ontologis, bukti Kosmologis, dan bukti fisiko-teologis.
Pada Bukti Ontologis. Kant mendefenisikan Tuhan sebagai Ens Realissimum, dzat yang paling nyata atau Dzat yang paling mutlak[2]. Atau ens Realissimum itu adalah subyek dari semua predikat yang bersifat mutlak. Ketika Tuhan di akui sebagai sesuatu yang bereksistensi dalam arti predikat maka tuhan itu berposisi sebagai eins realissimum sebagai Subyek yang juga bereksistensi, yakni harus eksis. Kant menegaskan bahwa eksistensi itu bukan  sebuah predikat.
Pada bukti Kosmologis. Dia mengatakan, jika segala sesuatu itu ada, maka realitas yang mutlak ada juga harus ada. Sekarang kita mengira bahwa kita ada, maka realitas mutlak harus di niscayai juga ada. Dan inilah yang di sebut sebagai ens Realissimum.
Pada bukti fisiko-teologis menyatakan bahwa jagat raya memperlihatkan keteraturan yang membuktikan adanya sesuatu tujuan atau adanya pengatur di balik keteraturan itu. Argument ini sangat di sukai dan di perlakukan dengan hormat oleh Kant. Tetapi menurutnya bukti hanya dapat membuktikan Tuhan sebagai Arsitek tetapi bukan pencipta, dank arena itu argument ini tidak mampu memberikan konsepsi yang memadai tentang Tuhan. Lalu jika ketiga bukti ini masih lemah maka ia menyimpulkan bahwa satu-satunya alasan teologis yang memungkinkan ialah yang di dasarkan pada, atau di pandu oleh ketentuan moral.

Selangkah menuju Moral Kant.

Dalam pembahasan the critique of practical reason. Ada “tiga postulat” atau juga di artikan sebagai tiga “gagasan tentang rasio” yang berisi Tuhan, kebebasan (free will) dan keabadiaan (Immortal). Rasio murni memang mendorong kita untuk membentuk gagasan-gagasan ini, namun ia tidak juga mampu dengan sendirinya membuktiakn realitas gagasan-gagasan tersebut. Gagasan –gagasan ini memiliki signifikansi praktis, yakni berkaitan dengan moral. Penggunan Rasio yang murni Intelektual mengarah pada kekeliruan[3], penggunaan yang benar adalah yang di arahkan ke tujuan moral.
Argumentnya ialah bahwa ketentuan moral memerlukan keadilan, yakni kebahagiaan yang selaras dengan kebajikan. Hanya tuhan yang bisa menjamin hal ini, dan tebukti Dia tidak menjamin hal ini dalam kehidupan sekarang. Karena itulah ada Tuhan dan kehidupan mendatang, dan ada pula kebebasan, karena kalau tidak ada tentu apa yang di sebut kebajikan juga tidak akan ada.

Memasuki Moral Kant, Menghadirkan Tuhan.

System Etika Kant dalam karyanya Metaphysic of Morals mengatakan “Metafisika , moral yang sepenuhnya mandiri, yang tidak bercampur aduk dengan fisik atau hiperfisik teologi manapun, semua moral memiliki konsep yang memiliki tempat dan berasal-muasal secara a priori di dalam rasio. Nilai moral hanya ada selama manusia bertindak  dengan berlandaskan rasa kewajiban. Namun kewajiban itu tidak di artikan sebagai tindakan yang di lakukan sebagai mana wajib dalam arti yang biasanya. Misalnya seseorang yang berprilaku baik karena dorongan kebaikan, tidak bisa serta merta di katakan berbudi. Esensi Moralitas itu sendiri berasal dari konsep hukum. Dan yang mengerti mengenai hukum hanyalah makhluk yang bernalar. Atau makhluk yang memiliki kemampuan untuk bertindak sesuai dengan gagasan tentang hukum. Rumusan tentang hukum ini di sebut sebagai Imperatif.
Ada dua macam Imperatif : Imperatif hipotesis yang mengarah kepada hipotesis subyektif, yang jika ingin menjadi itu maka harus melakukan ini. Dan imperative Kategoris yang mengarangah kepada obyektif yang apapun tujuaannya tindakan harus bersifat obyketif. Imperative Kategoris bersifat Sintesis dan a priori. Karakternya di tarik, oleh Kant dari konsep Hukum.
Kant mengilustrasikan tentang cara kerja imperative kategoris bahwa meminjam uang adalah salah, karena jika ketika semua berusaha melakukan hal itu maka tidak ada lagi uang yang tersisa untuk di pinjam. Kita dengan cara yang sama, dapat menunjukkan bahwa pencurian dan pembunuhan di kecam oleh Imperatif Kategoris. Namun ada sejumlah tindakan yang oleh Kant di anggap salah, meski tidak bisa di buktikan kesalahannya dengan menggunakan prinsipnya, misalnya dengan bunuh diri, kaidahnya sepertinya member kepastian, namun tanpa criteria yang memadai tentang kebajikan. Dalam hal ini kita harus melihat dampak dari tindakan untuk keluar dari imperative kategoris. Namun Kant mengatakan dengan tegas bahwa kebajikan tidak tergantung pada hasil tindakan yang di kehendaki, namun hanya pada prinsipp di mana ia merupakan hasilnya, dan jika ini di akui, tidak ada yang lebih konkret di banding kaidahnya.
Dengan paham moral Immanuel Kant, otoritas manusia sungguh sangat di hargai dalam menentukan kualitas dirinya. Seseorang yang mampu menjalankan moral adalah orang yang otonom, yang bertindak atas pertanggungjawaban dirinya sendiri. Ia tidak mlemparkan tanggung jawabnya pada oknum lain yang memri perintah dari luar dirinya. Orang semacam itu adalah seorang heteronom, yang tidak dewasa moral. Akan tetapi, otonomi moral tidak boleh juga di artikan sebagai penggunaan kebebasan secara semena-mena, sebab kebebasan moral justru tidak semena-mena, sebab kebebsan moral justru tidak semena-mena. Tindakan manusia, yang pantas di sebut sebagaitindakan moral, menurut Kant justru selalu mengikuti “HUkum Moral,IMperatif Kategoris” yang sudah tertulis di dalam hatinya, sementara ia sadar akan kebebasannya.”Dua hal yang senantiasa menjadi kekaguman tidk habis-habisnya,,, bintang dilangit dan hukum moral di dalam hati.”
Seorang manusia harus bertindak sesuai dengan suara hatinya, bukan dengan suara yang berasal dari luar hatinya. Tetapi suara yang telah memiliki hukum mral di dalam hati nuraninya. Dengan cahya Rasio Praktis. Dia tidak lagi harus mengkhawatirkan apakah kewajiban moralnya bersifat subyektif. Tetapi lewat Rasio praktis Universal, kewajiban moralnya akan di akui oleh yang lain. Karena rasio yang bersifat Universal, maka apa yang mnajdi keputusannya dalam bertindak atas dasar pertimbangan rasio akan sesuai dengan keputusan semua orang lain yang dalam kasus yang sama juga bertindak atas dasar rasio.
Pengaruh ajaran Kant amatlah luas, di satu pihak, mengkritik moral agama yang tradisonal dan kaku, dipihak lain, kant seoalh memnagunkan agama untuk memperbarui ajaran moral mereka atas dasar rasionalitas. Pemikiran Kant ini menyumbangkan pembaharuan terhadap agama yang bertindak sewenang-wenang lewat “Perintah Allah”.
Di sinilah pembahasan kant secara ringkas bersambung, bahwa lewat pembuktian Moral itu. Manusia lewat Imperative Kategoris, bahwa telah ada hukum yang sifatnya Universal yang mengikat diri lewat suara hati, untuk selalu mutlak memilih yang benar apapun tujuannya. Meskipun tidak juga boleh di babi –butakan bahwa suara hati itu adalah suara tuhan, tetapi ke einsrealissimum tuhan, ke realitasan mutlak Tuhan harus ada. Jika tidak suara Hati beserta Tiga postulat itu akan Absurd dan menjadi pembahasan omong kosong.





[1] Bertrand Russel, History of Western Philosophy and its Connection with Political and social Circumtenses from the earlis Times to Present Day, terjemahan oleh Sigit Jatmiko dkk, Sejarah Filsafat Barat dan Kaitannya dengan Kondisi Sosio-Politik dari Zaman Kuno hingga Sekarang (III, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007) h. 921.
[2] Eins Realissimum juga di sebut sebagai realitas mutlak personal yang menjadi dasar segala yang ada di dunia, maka tidak mungkin ada kemampuan maupun kepositifan apa pun di dunia yang tidak dimiliki oleh Tuhan. Lihat ,Frans Magnis Suseno, Menalar Tuhan( Yogyakarta: Kanisius, 2006 ) h. 187.
[3] Rasio yang mengarah pada kekeliruan bukan berarti akan keliru juga pada pengintuisian, kekeliruan itu terjadi jika Tiga Potulat ini berusah untuk di Indrai, sedangkan nalar Rasio hanya mampu mengeluarkan Argument atau mencoba membahasakan sesuatu berdasar dengan apa yang di Indrai atau berdasar pada ruang dan Waktu.
Read More

Sabtu, 19 Desember 2015

Suhrawardi Dan Iluminasi, Kembali Ke Orient.


SUHRAWARDI DAN ILUMINASI
Kembali Ke Orient.
oleh Ma'ruf Nurhalis pada Tugas Filsafat Mistik 
Dosen : Prof Qasim Mathar. MA


Sebelum Iluminasi.
Berawal dari terbukanya pintu gerbang emas peradaban islam dan menyambut tamu terhormat dari luar. Kemajuan lalu menyentuh setiap nadi kegiatan intelektualitas. Al Kindi  dengan slogan kebijaksanaannya yang tidak ingin malu mengakui kebenaran dan bersumber dari mana dan siapapun sekalipun ia di bawa generasi baru dan orang asing.[1] Dari semangat itulah al- Kindi amat berjasa dalam membuka pintu gerbang emas itu dengan banyak menerjemahkan buku-buku dari luar menjadi berbahasa Arab, menjadi awal dari mega proyek filsafat yang bercorak islam dan lebih elaborate bercorak peripatetic.
Amat panjang sejarah filsafat islam yang telah di mulai dari penerjemahan bijak itu. Filsafat peripatetic sendiri akhirnya berpuncak pada diri Ibnu Sina. Lalu setelah itu Filsafat Islam seolah kehilangan hasrat dan martabat setelah serangan yang bertubi-tubi datang menerpanya. Sempat matahari kembali timbul dari diri Ibnu Rusyd. Tapi setelah kematian Ibnu Rusyd. Filsafat Islam juga ikut terancam untuk di kuburkan. Tetapi matahari yang lebih terang kembali terbit. Iluminasi atau Isyraqi dari ajaran Suhrawardi membuka kembali keagungan puncak Filsafat Islam. Maka dari itu amat perlu di ketahui seperti apakah keindahan filsafat Iluminasi Suhrawardi. Seterang apakah Israqi pada filsafat Suhrawardi.


Sekilas mengenai Suhrawardi.
Nama lengkap Suhrawardi adalah abu al futuh Yahya bin Habasy bin Amirak as Suhrawardi al-Kurdi, lahir pada tahun 549 H./1153 M. di Iran pada sebuah kampung bernama Suhraward.[2] Ia menerima pendidikan awalnya dari Majd al-Din al Jili di Maragha. Dan melanjutkannya di Isfahan. Kehidupan kesufiannya di mulai sejak ia merampungkan pendidikan formalnya dan melancong ke Persia. Di sana ia banyak menemui guru-guru Sufi, dan membuatnya tertarik. Kenyataanya sejak fase kehidupannya inilah ia memasuki jalan sufi dan menghabiskan periode lama dalam pengasingan Spritual (khalwat) dan menenggelamkan diri dalam dzikir dan meditasi.[3]
Akar pemikiran Suhrawardi sangat unik dan mendasar. Dia berusaha mencari pengetahuan hingga mencapai dasarnya. Dia adalah manusia yang berpikir secara radikal hingga melacak sumber kebenaran yang ada pada beragam kepercayaan. Menurutnya hikmah kebenaran itu satu, abadi dan tidak terbagi-bagi. Maka ia pun menyebut dirinya sebagai pengumpul kebijaksanaan, al hikmah al laduniyyah.[4]
Ada banyak sumber pemikiran Suhrawardi, diantara yang paling awal adalah Hermetisme yang mengacu pada sosok Hermes. Hermes mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap pemikiran Suhrawardi. Kekaguman Suhrawardi terhadap Hermes barangkali terkait dengan tugas yang di embannya sebagai penyampai pesan ketuhanan kepada umat manusia. Dalam menyampaikan pesan sang dewa Hermes memiliki bahasa yang mudah di terima oleh manusia sebagai pesan langit[5]. Pengaruh selanjutnya datang dari ajaran Persia kuno, dari seorang Nabi Zoroaster yang mengajarkan Zoroastereanisme dengan dua doktrin dasar. Pertama, ada hukum di dalam alam, kedua ada konflik di dalam hukum alam. Sehingga memunculkan persoalan bagaimana mempersatukan kejahatan dan kebaikan abadi Tuhan. Dalam menjelaskannya Zoroaster menyatakan bahwa hanya ada satu Tuhan sejati yakni Ahuramazda. Tuhan yang terang meski pun pula roh Ahriman tetap ada.  Hubungan Zoroater dengan suhrawardi ada pada ajaran Zoroaster untuk melawan roh Ahriman untuk menyucikan diri agar bisa merasakan Cahaya Ahuramazda.
Sedangkan pengaruh falsafah Yunani terhadap pemikiran Suhrawardi berasal dari filsafat Platon, Aristoteles, dan Plotinus yang disebutnya sebagai Filsafat peripatetic. Sedangkan dari filosof Islam , Alfarabi dan Ibnu Sina adalah dua tokoh filsuf yang ide-idenya sangat mewarnai pemikiran Suhrawardi, sekalipun nantinya, Suhrawardi mengkritik kedua filosof Islam ini.
Bagi Suhrawardi, Filsafat tidak bermula dari Plato dan Aristoteles, namun justru berakhir pada mereka, Aristotels yang meletakkan kearifan dalam baju rasionalis telah mnyempitkan cakrawala dan telah memisahkan dari kearifan tentang keperpaduan yang di miliki oleh para empu kebijakan di zaman purbakala..[6]
Isi  Iluminasi.
Iluminasi dalam bahasa Arab itu sendiri di sebut Isyraq. Isyraq berarti cahaya (Light) pertama pada saat pagi hari, seperti cahaya Matahari yang terbit dari timur (Syarq). Timur dalam pandangan Suhrawardi bukanlah Timur secara letak geografis. Tapi Timur adalah bahasa Simbol dari keter awal an cahaya. Seperti matahari yang terbit dari timur. Filsafat israqiyah berarti “ketimuran” dan “iluminatif”. Ia memancar karena ia adalah timur dan ia timur karena ia memancar ia adalah pengetahuan dengan pertolongan, yang manusia dapat menyesuaikan dirinya sendiri dalam alam semesta dan akhirnya menjangkau bahwa timur adalah tempat kediaman yang azali, sementara bayangan kegelapan diri manusia berada di bumi bagian “barat”.[7]
 Sedangkan Menurut Al Jurjani, Timur dalam bahasa isyraqiyah juga di artikan sebagai kutub bagi para Filosof di mana Plato yang menjadi rajanya. Sementara Abd Razaq al-Kasyani menyebut timur sebagai kumpulan pengikut Orang suci (Seth) yang menurut sumber-sumber muslim adalah pendiri sekelompok ahli dan dari mereka keahlian itu berasal, yang terkait erat dengan Hermetisme. Sedangkan pendapat lain yang menyebut Isyraqi seperti Ibnu Wahsyiah. Mengatakan bahwa Isyraqi adalah kelompok orang-orang suci Mesir yang merupakan anak-anak Saudarai Hermes.[8]
Iluminasi, menurut Suhrawardi merupakan suatu fase yang menentukan perkembangan pemikiran yang seolah-olah tersembunyi di lautan pemikiran Islam sebagai produk logika yang di kembangkan oleh madzhab Ibnu Sina. Filsafat iluminasi ini dapat di rasakan sebagai hasil dari perkawinan antara latihan intelektual teoritik melalui filsafat dan pemurnian hati melalui sufisme. Dari perkawinan ini pengetahuan tertinggi yang ia anggap iluminasi, sekaligus mentransformasikan keberadaan dan melimpahnya pengetahuan seseorang.[9]
Sang Guru iluminasi ini menegaskan bahwa sejak semula telah ada suatu “ Olahan Abadi” yang tidak ada sesuatu pun melainkan adalah kebijaksanaan abadi. Olahan abadi itu di samarkan dalam diri Substansial manusia yang siap “di olah” dan di aktualisasikan melalui latihan intelektual dan penyucian hati.[10] Untuk hal tersebut filsafat iluminasi tidak bisa di ajarkan oleh dan kepada setiap orang.[11]
Teori Emanasi yang di perkenalkan oleh Alfarabi dan Ibnu Sina di jadikan sebagai dasar epistimologi Suhrawardi,.[12] Namun Suhrawardi mememiliki pendapat mandiri mengenai akal actual yang menurutnya tidak terbatas pada akal Sepuluh, tetapi terus beremanasi pada akal yang lebih banyak dan tidak bisa terhitung, selama Cahaya dari cahaya-cahaya terus menerus memancarkan cahaya murni kepada segala sesuatu yang ada di bawahnya.[13]
Cahaya di atas cahaya yang merupakan cahaya Absolut dan tidak terbatas diatas dan di belakang semua sianar yang memancar. Semua tingkat realitas, bagaimana pun, juga adalah derajat dan tingkat intensitas dan kelemahannya dengan tak sesuatupun melainkan cahaya. Karena, kenyataannya, tak ada sesuatupun dalam alam semesta yang luas ini melainkan cahaya. Dari Cahaya di atas segala cahaya ada suatu hierarki cahaya, vertical maupun longitudinal, cahaya-cahaya yang terdiri dari tingkat-tingkat eksistensi universal dan suatu tatanan horizontal atau latitudinal yang berisi pola dasar atau idea-idea platonic tentang segala sesuatu yang kelihatan di bawah sebagai objek atau barang, cahaya-cahaya ini tidak lain dari pada apa yang dalam bahasa agama sebagai malaikat-malaikat.[14]
Dengan teori Iluminasi Suhrawardi yakin bahwa tidak tepat baginya mengarungi dunia indrawi dan materi bersama orang-orang yang terjebak di dunia materi. Yang lebih tepat baginya adalah meninggalkan dunia materi menuju dunia penanggalan keinginan duniawi dan penyaksian langsung, kemudian naik ke maqam orang-orang yang bercahaya, bergaul bersama mereka, dan menyaksikan mereka dari dekat. Ia berkata, “ Bicaralah kepada dirimu sendiri bila engkau orang yang punya harkat. Sandarkan dirimu pada rahasia batinmu. Terimalah kenikmatan hidup dalam ketiadaan. Langkahkan kedua kakimu seraya berkata, ‘Sudahkah aku mengarungi ilmu-ilmu yang di serukan oleh penyeru dari keterlenaan orang-orang yang lalai.
Secara lebih sederhana, konsep Istisyraq di jelaskan Suhrawardi kepada kita bahwa jiwa berasal dari yang maha Pencipta dan dari berbagai Substansi yang terpisah-pisah. Maka  sampai kepadaNya atau sampai pada diri Substansi amatlah sulit jika manusia tidak mampu melepasakan diri ragawi menundukkan ular naga bathin yang berupa nafsu nurani. Dan tidak melakukan latihan Spritual yang tepat.
Kemudian Suhrawardi menjadikan ungkapan Plato yang sangat indah untuk menjadi argumentasinya. Ia mengatakan “ Seorang Teolog ulung, Plato, mengisahkan pengalaman dirinya. Ia menyatakan sebuah ungkapan yang artinya : Aku seringkali melakukan khalwat dan kontemplasi diri. Kutanggalkan tubuh jasmaniku di sampingku. Aku menjadi seolah-olah tanpa badan dan telanjang dari baju tabiat kemanusiaan dan lepas dari badan ragawi. Aku masuk kedalam jiwaku dan kutinggalkan segala sesuatu. Kulihat kedalam diriku suatu yang sangat indah, berkilau, bersinar, bercahaya terang benderang, dan mengagetkan, sampai aku terkagum-kagum. Aku pun mengetahui bahwa diriku adalah bagian dari alam yang luhur dan mulia.
Filsafat Isyraqiyah melukiskan, dalam sebuah bahasa simbolik secara imanen, suatu dunia yang sangat luas berdasarkan pada simbolisme cahaya dan “ Timur”, yang memutuskan batas-batas kosmologi Aristotelian dan juga batas-batas rasio yang di definisikan oleh Aristotelian. Suhrawardi mampu menciptakan suatu metafisika Cahaya secara esensialistik dengan kosmologi, yang jarang tertandingi kemuliaan dan keindahannya, yang menghadapkan pencari yang benar melalui ruangan kosmik dan membimbingnya kepada kenyataan cahaya sejati, yang tidak lain adalah kebenaran Timur. Dalam perjalanan ini, sekaligus bersifat filsafat dan spiritual, manusia di pimpin oleh suatu pengetahuan yang merupakan cahayanya sendiri, menurut sabda Nabi saw., yang menyatakan; al-ilm nur ( Knowledge is light ). Itulah mengapa filsafat ini, menurut wasiat dan keinginan Suhrawardi yang terakhir pada karyanya, Hikmat al-Isyraq, tidak bisa diajarkan kepada setiap orang, untuk hal tersebut jiwa manusia harus di latih dengan latihan-latihan yang bersifat filosofis secara tepat dan jiwanya harus di sucikan melalui usaha batin, untuk menundukkan ular naga batin yang berupa nafsu ruhani. Bagi orang-orang tertentu.
Ajaran Isyraqiyah adalah ajaran bathin yang mengantarkan manusia untuk kembali kepada kediaman cahayanya, kediamana azalinya. Dimana di sanalah ia memulai kemusafiran kosmiknya. Atau dalam bahasa Plato kembali kedunia Idea.
Sebuah puisi dari pribadi untuk gambaran Filsafat Isyraqiyah kiranya dapat memperindah cahaya ketimuran Suhrawardi.
Puisi : Kembali ke Orient
Aku terhempas secara Vertikal
dan aku terasing pada kosmik Horisontal.
Terperangkap pada kegelapan gua barat.
Membelakangi matahari di Orient.
Aku Musafir yang melupakan kediaman azali.
Yang di hancurkan ular naga dalam diri.
Dan olahan Absolut membeku pada titik diri Substansial.
Puzzle-puzle platonic menjadi enigma kosmik mirokosmos.
Agaknya aku butuh ekstase, maqam yang menuju teosofi Timur.
Mengawinkan intelektual dan bathin.
Bermandikan pancaran cahaya, cahaya di atas cahaya.
Berhubungan di taman-taman malaikat. Bernostalia pada rumah Cahaya.
Tapi siapkah aku terasing?
Siapkah aku menjadi manusia teka teki?
Lalu di kejami dan di hancurkan?
Tapi semakin terasing, semakin sulit, di kejami dan di hancurkan.
Di sanalah aku dapat kembali ke Orient.

Daftar pustaka

Drajat ,Amroeni, Suhrawardi kritik Falsafah Peripatetik. I, Yogyakarta: Lkis, 2005.
Hilal , Ibrahim, At-Tashawwuf al-Islami bain ad-Din wa al-Falsafah, terjemahan oleh Ija Suntana dan E Kusdian, Tasawuf antara Agama dan FIlsafat sebuah kritik metodologis.  I, Bandung:  Pustaka Hidayah, 2002.
Hossein Nasr , Seyyed, Three Muslim Sages, Terjemahan oleh Ach.Maimun Syamsuddin, Tiga Madzhab Utama Filsafat Islam. Jogjakarta, Ircisod, 2006.
Hossein Nasr,  Seyyed, Theologi, Philospohy and Sprituality, terjemahan oleh Suharsono dan Djamaluddin MZ, Intelektual Islam Teologi, Filsafat dan Gnosis. III, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009.
Masataka Tekeshita, Ibn Araby’s Theory of Perfect Man and Its Place in Islamic History, terejemahan oleh Moh. Hefni Mr, Manusia Sempurna menurut konsepsi Ibnu Arabi . Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005.
Sabri, Muhammad Mistisisme dan Hal-Hal Tak Tercakapkan Perspekstif Filsafat Analitik . I, Makassar: Alauddin Universty Press, 2011.
Suseno, Frans Magnis Menalar Tuhan . Yogyakarta: Kanisius, 2006.





[1] Seyyed Hossein Nasr, Theologi, Philospohy and Sprituality, terjemahan oleh Suharsono dan Djamaluddin MZ, Intelektual Islam Teologi, Filsafat dan Gnosis, (III, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), h. 33.
[2] Amroeni Drajat, Suhrawardi kritik Falsafah Peripatetik, (I, Yogyakarta: Lkis, 2005), h. 29
[3] Seyyed Hossein Nasr, Three Muslim Sages, Terjemahan oleh Ach.Maimun Syamsuddin, Tiga Madzhab Utama Filsafat Islam, ( Jogjakarta, Ircisod, 2006), h. 104.
[4] Amroeni Drajat, Suhrawardi kritik Falsafah Peripatetik, (I, Yogyakarta: Lkis, 2005), h. 40.
[5] Amroeni Drajat, Suhrawardi kritik Falsafah Peripatetik, (I, Yogyakarta: Lkis, 2005), h. 42.
[6] Muhammad Sabri, Mistisisme dan Hal-Hal Tak Tercakapkan Perspekstif Filsafat Analitik ( I, Makassar: Alauddin Universty Press, 2011), h. 72.
[7] Seyyed Hossein Nasr, Theologi, Philospohy and Sprituality, terjemahan oleh Suharsono dan Djamaluddin MZ, Intelektual Islam Teologi, Filsafat dan Gnosis, (III, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), h. 73.
[8] Seyyed Hossein Nasr, Three Muslim Sages, Terjemahan oleh Ach.Maimun Syamsuddin, Tiga Madzhab Utama Filsafat Islam, ( Jogjakarta, Ircisod, 2006), h.114.  sedangkan Dalam pandangan Suhrawardi, Hermes tak lain adalah Nabi Idris yang menjai cikal bakal filsafat setelah menerima wahyu dari Allah swt. Menurutnya, ia di ilhami dari serangkaian ahli bijak dari Yunani, persia kuno, dan akhirnya pada Islam yang menyatukan kearifan peradaban sebelumnya kedalam rahim peradabannya. Lihat Muhammad Sabri, Mistisisme dan Hal-Hal Tak Tercakapkan Perspekstif Filsafat Analitik ( I, Makassar: Alauddin Universty Press, 2011), h. 72
[9] Ajaran ini juga di sebut sebagai Teosofi dalam bahasa Jakob Boehme. Lihat Seyyed Hossein Nasr, Theologi, Philospohy and Sprituality, terjemahan oleh Suharsono dan Djamaluddin MZ, Intelektual Islam Teologi, Filsafat dan Gnosis, (III, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), h. 69.
[10] Seyyed Hossein Nasr, Theologi, Philospohy and Sprituality, terjemahan oleh Suharsono dan Djamaluddin MZ, Intelektual Islam Teologi, Filsafat dan Gnosis, (III, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), h.71.
[11] Agaknya yang di maksud” Olahan Abadi” adalah bahwa dalam diri subtansial manusia ada imanensi yang meresapkan Tuhan, dan lewat “Olahan Abadi” itu. Tuhan yang Transendensi dapat terasakan cahayanya. Yang sangat dekat dengan diri. sebagaimana Agustinus pernah merumuskan ini juga dengan sangat indah, Allah adalah “intimior intimo meo, superior summo meo” (Allah lebih dekat dengan diriku dari pada aku sendiri, Allah lebih agung dari pada segala keagunganku. Makin besar persatuan, maki besar perbedaan, maka makin imanen yang Ilahi dalam dunia, makin Transenden juga yang Ilahi terhadap Dunia. Lihat Frans Magnis Suseno, Menalar Tuhan ( Yogyakarta: Kanisius, 2006), h. 201 dan 202. Atau dalam bahasa Plato” Olahan Abadi itu adalah suatu Materi pertama tak berbentuk yang sudah di beri bentuk oleh idea-idea, menjadi realitas yang kita kenal. Lihat Frans Magnis Suseno, Menalar Tuhan ( Yogyakarta: Kanisius, 2006), h. 204.
[12] Ibnu Arabi Sendiri mendefenisikan Epistimologinya sebagai berikut: Sekarang kami terlebih dahulu mengatakan bahwa ilmu pengetahuan berarti sebuah relaitas dalam jiwa ( nafs), yaitu sebuah realitas yang menghubungkan dirnya, baik pada sebuah non eksisten mapun pada sebuah eksisten. Berkenaan dengan realitasnya di atas, di mana ia ada( dalam hal sebuah non eksisten), ia masuk kedalam eksisten. Maka realitas ini adalah ilmu pengetahuan. Lihat Masataka Tekeshita, Ibn Araby’s Theory of Perfect Man and Its Place in Islamic History, terejemahan oleh Moh. Hefni Mr, Manusia Sempurna menurut konsepsi Ibnu Arabi ( Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), h. 76.
[13] Ibrahim Hilal, At-Tashawwuf al-Islami bain ad-Din wa al-Falsafah, terjemahan oleh Ija Suntana dan E Kusdian, Tasawuf antara Agama dan FIlsafat sebuah kritik metodologis, ( I, Bandung: Pustaka Hidayah, 2002), h. 115.
[14] Seyyed Hossein Nasr, Theologi, Philospohy and Sprituality, terjemahan oleh Suharsono dan Djamaluddin MZ, Intelektual Islam Teologi, Filsafat dan Gnosis, (III, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), h.73.
Read More