Rabu, 08 Juni 2016

Peranan dan tantangan Agama dalam Sains dan Teknologi.

 Latar belakang.

Sebelum menguraikan tema hangat mengenai peranan dan tantangan Agama dalam Sains dan Teknologi. Perlu kiranya pemakalah memilih untuk mendekskripsikan sebuah historis singkat mengenai sebuah perang dingin antara Agama dan Sains yang telah menjadi pembentuk kebundalan Dunia sebagai latar belakang makalah ini.
Ada sebuah kurun Waktu yang panjang di mana berlangsung sebuah anggapan bahwa Newton dan Galileo memperbaharui ilmu pengatahuannya tanpa dukungan dan pengaruh dari faktor-faktor lainnya.[1]
Sehingga terbentuklah sebuah persepsi kemandirian Sains, bahwa para ilmuwan mengandalkan kemandiriannya tanpa pengaruh dari faktor-faktor dari sisi terdalam dirinya. Namun pertanyaan yang muncul kemudian adalah benarkah mereka sesempurna itu tanpa melakukan kesalahan. Sehingga setiap penemuan Sains selalu terjadi independensi kontras dengan Agama.
Dalam kisahnya Galileo yang mengemukakan teori tentang Heliosentris yang terinspirasi dari copernicus secara aktualnya benar-benar Kontras dengan teori Geosentris Ptolomeus yang di dukung oleh teks Kitab Bible. Dan faktanya ilmu pengetahuan menang, namun otoritas Geraja berusaha untuk memonopoli kebenaran itu dengan kekerasan secara Verbal maupun fisik. Sehingga independensi kontras antara Agama dan Sains menimbulkan konflik. Agama lalu kehilangan kewibawaanya lewat hasil eksperimental observatif sains.
Memang telah menjadi cerita lama jika Agama dan Sains selalu sombong dengan kubuhnya masing-masing. Pada perputaran Dunia Yunani Kuno. Agama dan Sains sudah memulai peperangannya. Dan dizaman Renaiance. Agama benar-benar teradili dengan Sekularisme “ God is dead”.
Di mulai dari Heraklitus dan Leukippus. Materialisme memenuhi dunia pada diri Aristoteles dan memuncak lewat ilmuwan-ilmuwan yang mengemukakan teorinya dengan pembuktian logis dan eksperimental sebagai sebuah Ideologi Induk. Lewat falsifikasi yang terus menerus. Sains kemudian terbukti kuat adanya. Namun jika Agama yang berusaha untuk di falsifikasi dengan pertanyaan apakah Tuhan itu Ada. lewat pembuktian negatif bahwa Tuhan itu tidak ada. namun alat bukti bahwa Tuhan itu Tidak ada juga amat sulit untuk di buktikan. Maka kesimpulannya Agama dengan teksnya tidak memiliki keabsahan, hanya sekedar spekulatif belaka.
 Iman menjadi yang tertuduh menghalang halangi perkembangan Ilmiah dan membuat orang beriman bersikap curiga terhadap sains dan penerapan-penerapan teknologi dan kadang kadang penemuan-penemuan ilmiah di pergunakan untuk membantah iman.[2]
Namun di sinilah awal kejatuhan manusia dari makhluk spritual menjadi makhluk material, lewat corong Renaisans dan “suara keras Cartesian” muncul humanisme yang mempromosikan potensi manusia melebihi batas-batas fitrahnya. Humanisme menfigurkan manusia sebagai titik sentral alam yang bergerak ke arah pengukuhan manusia sebagai superman.[3]
Lalu timbullah kemudian pertanyaan. Apakah Agama telah kehilangan kewibawaanya sebagai sandaran manusia. apakah benar jika Agama dalam dunia Modern ini menjadi tertradisionalkan dan manusia mengalami pemisahan antara manusia agama dan manusia sains. Apakah benar Agama tidak memiliki peranan dalam penemuan-penemuan Sains. Bahwa Galileo misalnya menarik kesimpulan ilmiahnya tidak berdasarkan Agama dan keimanan padahal dalam faktanya yang menarik. Galileo melakukan ekperimen-eksperimennya itu di maksudkan untuk mendukung kesimpulan yang telah di buatnya terlebih dahulu secara Apriori yang menjadi cara yang sama yang di gunakan dalam Agama.
Rumusan Masalah.
-          Bagaimankah perjumpaan Agama , Sains dan Teknologi?
-          Bagaimanakah krisis yang di timbulkan Sains dan Teknologi terhadap perkembangan dunia modern.?

 Jawaban.
Jawaban pertama .
Sains dalam kehidupan Agama.

Tidak mudah merumuskan agama di tengah-tengah kemajuan modernitas sains dan teknologi. Dan juga tidak mudah merumuskan sains di tengah-tengah kampanye nilai-nilai spritual keagamaan.
Dalam pandagan Prof. Dr Louis Leahy, Secara umum sains bisa di dekskripsikan sesuai dengan dogma rasionalis, yang memandang intelegensi manusia sebagai ukuran seluruh inteligibitas, sains membatasi rasionalisme tersebut dalam batas-batas ilmu pengetahuan saja. hanya ilmu positiflah (kimia, fisika, astronomi, dll) yang mampu memecahkan segala masalah dan memberikan jawaban yang memuaskan kepada segala  tuntutan manusia akan inteligibitas. Itulah suatu pendapat yang menyamakan seluruh realitas dengan hal yang dapat di mengerti secara ilmiah[4]. Lewat inilah kemudian segala metafisika menghadapi pengingkaran pada disiplin obyektivisme sintetis aposteriori sains.
Dinegara-negara marxis, sains rupanya secara sistematis di pergunakan untuk membuktikan kebenaran rezim dan sekaligus kehampaan iman. Sebelum Darwin menulis Origin of the Species, Francisco Redi dan Louis Pasteur telah membuktikan kemustahilan maklhluk hidup berasal dari zat mati. Prinsip ini disebut sebagai biogenesis, setiap jenis kehidupan harus dari sel yang telah ada. [5] tidak ada penyebutan Tuhan dalam penemuan asal makhluk hidup.
Misalnya Evolusi Janin dalam kandungan Ibu, yang seabad yang lalu masih menjadi sebuah misteri sekarang terkuak. Telur dan jenis hewan di olah, kromosom-kromosom yang merupakan pendukung sifat-sifat keturunan , di olah untuk mengubah spesies-spesies biologis atau menampakkan pelbagai anomali. Sarjana Italia Petruci pernah melakukan suatu percobaan yang berani. Di dalam laboratorium dia telah berhasil menyuburkan sebuah sel telur dengan dengan sebuah spermatozoid dan mempertahankan perkembangan janin manusia selama dua puluh sembilan hari. [6]
Sains maju dari penemuan ke penemuan baru. Walaupun para ilmuwan besar melihat bahwa bidang yang di kenal itu semakin bertambah besar, namun para penyusun karangan sains populer tidak serendah hati itu dan orang awam mudah sekali percaya bahwa sains terus-menerus menyingkirkan iman dengan mengungkapkan dasar manusiawi dan alami.
Ketika terlihat pemandangan pelangi di langit. Manusia awam dahulu menganggap bahwa bidadari Tuhan sedang turun mandi di sungai. Namun lewat pengetahuan ilmiah. Teori tentang pembiasan cahaya dan air hujan sehingga membentuk warna-warna pelangi lebih di terima oleh akal budi.
Dari sinilah pengaruh kemajuan sains telah mengurangi peran Tuhan dalam kehidupan aktual manusia. kita akan setuju jika bukan karena Doa lah yang berseru-seru yang akan menyelamatkan kita dari kelaparan dan penyakit melainkan alat-alat kedokteran dan teknologi panganlah yang membebaskan manusia dari masalah hidupnya. Sehingga timbullah sebuah keyakinan empiris bahwa manusia adalah penguasa bagi keselamatannya sendiri.
Para ilmuwan teknologi kini bisa menjadi penentu kehidupan. Dan pergerakan bumi. Bahkan lewat merekalah. Dunia ini bisa kiamat kapan saja tanpa membutuhkan Malaikat untuk meniupkan sangkakalanya.
Nasib pendefenisian Agama di tengah arus penguasaan manusia tekno mengalami kesialan besar. Yang paling populer adalah pembatalan teori geosentris Ptolomeus yang menjadi keabsahan pengetahuan pada Abad 16. Yang lalu kemudian dalam peneropongan yang di lakukan Galileo-Galilei menimbulkan pertentangan antara Sains dan Agama.[7] Kristus dengan menjelmakan diri pada bumi ini, dengan mati dan bangkit kembali di planet kita ini, telah menembus segenap alam semesta , sebab bumi ini di angap pusat tetap alam semsta itu. Tapi tiba-tiba saja Galileo menghapuskan “kepastian” yang begitu terang dan sempurna itu. Bisa di mengerti kegelisahan yang dialami oleh para ahli agama yang melihat suatu aspek penyelamatan telah di pertanyakan.[8]
Sekarang haruslah di akui bahwa ketika Agama menawarkan diri menghadapi sains , iman yang samar-samar bisa bersikap curiga. Seperti halnya ketika manusia agamais modern yang terlalu fundamental masih menganggap bahwa. “jika kamu mengakui teori Evolusi Darwin maka kamu adalah orang-orang yang termasuk kafir.”

Teknologi dan kehidupan Agama.

Teknologi menurut Takdir Alisjahbana adalah kecakapan manusia melipat gandakan tenaga dan kemungkinannya dengan memakai tenaga-tenaga dan kemungkinan-kemungkinan alam yang tiada berhingga besarnya. [9]
Roda adalah penemuan manusia yang pertama untuk menghentikannya menempuh perjalanan dengan kakinya. lewat kemajuan Teknologi Roda kemudian dapat di gerakkan oleh mesin uap, yang semakin mempercepat daya tempuh. Bahkan dengan pesawat, jarak yang dulunya mustahil untuk di tempuh dalam beberapa jam saja kini sudah tidak mustahil lagi.
Seiring dengan kemajuan sains dan teknologi di barat nilai-nilai agama secara berangsur-angsur juga bergeser bahkan bersebrangan dengan ilmu. Manusia modern sudah beranggapan bahwa jika ingin maju , agama tidak boleh lagi mengurusi masalah-masalah yang berkaitan dengan dunia, seperti politik dan sains. Seperti yang di kemukakan oleh Hendrik Kamer bahwa semua agama di zaman modern sedang mengalami suatu krisis yang amat mendalam. Setiap orang di zaman kita yang melihat dan mengamati kehidupan serta perkembangan agama dengan bermaca-macam alirannya, kesangsiannya dan pertentangan di antara pengikut-pengikutnya, tak dapat dengan jujur berkata lain dari pada itu.

Persoalan kedua
Bagaimanakah krisis yang di timbulkan .....
Ketika pertanyaan “Gnouti seauto” bergema di seantero atmosfir bumi yang mengakibatkan gaya gravitasi logis yang kuat dalam akal budi manusia. tercatat setelah di mualainya eksistensi manusia pertanyaan “kenalilah dirimu” menjadi pertanyaan yang mengakibatkan kemajuan dalam perkembangan zaman di dunia.
Namun dalam pengeluaran Argumentasi manusia ketika menjawab pertanyaan ini malah semakin menjauhkan manusia dari pengenalan dirinya sehingga menimbulkan krisis diri. manusia yang merasa unggul dengan penemuan sains dan teknologi lewat otaknya yang brilian. Misalnya ketika Descartes menjawab “Gnouti Seauoto” terjadi perpisahan antara tubuh dan ruh (spirit) yang kini di kenal dengan istilah Cartesian Dualism bahwa antara ruh dan dan jasad memiliki sifat-sifat yang saling bertentangan secara mendalam. Dan barat memilih jasad sebagai defenisi manusia.
Sebagai konsekuensi logis kekeliruan paradigma pemikiran barat modern diatas, berbagai permasalahan kemanusiaan universal yang muncul dewasa ini , di antaranya krisis spiritual, krisis moral dan krisis lingkungan.

a.      Krisis Spritual.

Ketika Descartes mengemukakan Dualismenya pada permukaan dunia barat yang mereduksi tubuh manusia menjadi roh ataupun roh menjadi tubuh. Namun karena peradaban barat itu lebih cenderung kepada saintisisme dan mekanisasi, maka pada akhirnya yang di singkirkan adalah roh. Hasilnya adalah makhluk manusia menjadi robot yaitu mesin yang harus terus di awasi dan di manipulasi seperti mesin lainnya dengan menggunakan kekuatan fisik kimiawi dan alat-alat teknologis. Yang menjunjung tinggi nilai-nilai material dan menyingkirkan nilai-nilai Spritual.[10]
Dalam prosesenya ketika manusia modern melihat dunia dengan kaca mata materialism maka akan terjadi keterasingan diri spirit yang kemudian menyebabkan tubuh profan mengungguli tubuh sacral. C.A. Qadir misalnya menyebutkan bahwa wawasan tentang yang kudus telah hilang dari konsep barat tentang pengetahuan, yang dulu menjadi titik sentral pengetahuan dalam Islam. Keterhilangan diri spirit ini menyebabkan manusia teralienasi yang menyebabakan kekacauan dan ketidak seimbangan pada kehidupan actual manusia. Sebagaimana Seyyed Hossein Nasr yang menyatakan bahwa realitas pengetahuan hampir seluruhnya  mengalami eksternalisasi dan desakralisasi, terutama di kalangan sebagian umat manusia yang sudah mengalami perubahan karena proses modernisasi.[11]
Maka saat diri manusia di bungkus oleh titik hitam materialism kapitalisme yang mengembangkan teknologi dengan mengedepankan penglupaan terhadap spiritual akan menggiring manusia kepada krisis yang makin dalam. Ketika manusia mengalami krisis dalam dirinya maka akan terjadi ketidak seimbangan dan penghancuran secara tidak sadar terhadap luar dirinya. Persaingan yang tidak sehat akan terjadi karena manusia telah kehilangan tujuan kebenaran yang sebenarnya. Maka berubahlah manusia menjadi Robot penghancur yang menghancurkan dirinya, orang lain, alam dan Tuhan.

Krisis Moral

Saat manusia telah mengalami krisis Spritual maka seperti wabah demam berdarah. Krisis itu kemudian menyebar keberbagai Aspek pada diri manusia. Termasuk dalam krisis Moral. Moral merupakan Identitas atau jati diri seseorang yang dapat menentukan dan menempatkan pada level mana dia berada. Tinggi rendahnya moral seseorang dapat di ukur dari bagaimana dia berbuat dan bertingkah laku di masyarakat. Zakiah Drajat mengartikan moral itu sebagai kelakuan yang sesuai dengan ukuran-ukuran (nilai-nilai) masyarakat , yang timbul dari hati dan bukan paksaan dari luar, yang di sertai pula oleh rasa tanggung jawab atas kelakuan (tindakan) tersebut. Dan dalam ajaran Agama maka moral adalah suatu hal yang penting bahkan terpenting, di dalamnya terkandung kejujuran kebenaran, keadilan dan pengabdian.
Ketika manusia menjadi manusia informasi yang oleh para ahli Futurolog sebagai Era informasi dan Globalisasi. Sehingga pada zaman ini pepatah hukum rimba berubah menjadi Hukum Informasi, bahwa bukanlagi siapa yang kuat dialah yang akan menang tetapi siapalah yang dapat menguasai informasi maka dialah yang akan menang. Kekuatan manusia pada zaman ini telah di artikan sebagai kecerdasan informasi.
Namun dari konsekuensi kekeliruan  logis  dari cara pandang ilmuwan barat di abad modern yang menganggap manusia sebagai pusat segala-galanya hingga mengabaikan nilai-nilai spritualitas yang juga berdampak pada nilai moral manusia. Penguasaan teknologi Informasi yang berpusat di Amerika dengan pola pikir sekularisme tadi berdampak negative pada pendidikan, politik, ekonomi dan sebagainya.
Dalam dunia perpolitikan Indonesia misalnya. Tempat duduk DPR sebenarnya di duduki oleh manusia –manusia yang pintar secara akademik. Namun Indonesia belum beranjak dari tingkat paling teratas terjadinya kesialan penyakit korupsi. Yang kebanyakan di lakukan oleh pejabat Negara. Ini bukan karena mereka tidak ahli dalam menjalankan tugasnya namun mereka tidak memliki nilai moral untuk menahan godaan untuk memainkan uang yang di kelola untuk kepentingan pribadi dan memisahkan uang untuk Rakyat.
Sekali lagi ini diakibatkan oleh cara pandang etika dan epistimologi yang keliru.

Krisis Lingkungan.

Menurut H Hikmat Trimendi, krisis lingkungan yang terjadi saat ini sebenarnya bersumber pada kesalahan fundamentalis filosofis dalam pemahaman atau cara pandang manusia terhadap dirinya , alam dan tempat manusia dalam keseluruhan ekosistem. Kesalahan itu menyebabkan kesalahan pola prilaku manusia, terutama dalam berhubungan dengan alam. Aktivitas produksi dan perilaku konsumtif gila-gilaan melahirkan sikap dan pola prilaku ekploitatif.[12] Sehingga dari kesalahan kekeliruan yang amat tragis itu menyebabkan kerusakan lingkungan yang parah.
Ketika manusia berpikir seperti cara berpikir Newton yang percaya setelah alam tercipta, alam semesta bergerak  seperti sebuah mesin dan di atur oleh hukum-hukum deterministic, dan Tuhan tidak diperlukan lagi kehadiranNya dalam kosmos ini. Maka akan terjadi ekploitasi alam dan hasrat manusia untuk kepentingan ekonomi menjadi tak terbatas. Pohon-pohon menjadi aspal dan bangunan permanent yang sangat membahayakan manusia itu sendiri.
Bencana Lapindo Brantas di Jawa Timur menjadi contoh terkuaknya keterhilangan manusia dari dirinya yang sebenarnya. Manusia yang serakah lewat misi materialismenya akan merugikan orang lain lalu memakan korban. Ketika manusia terus mengalami keterculikan diri maka manusia akan berubah menjadi monster pemakan jiwa. Entah melahap jiwa manusia, alam sendiri hingga jiwa dirinya sendiri.
Namun melihat lingkungan sekitar yang semakin lama semakin kehilangan  eloknya dalam artian hancur-sehancurnya. Dapat kembali membangunkan manusia dari tidur amnesia dirinya. Nasr mengatakan “bahwa dia baru menyadari krisis spiritual yang mengancam batinnya melalui krisis lingkungan alam di sekeliling dirinya”[13] lebih lanjut lagi Nasr  mengatakan bahwa upaya – upaya untuk menjaga kelestarian lingkungan alam makin sering di lakukan tiga dekade yang lalu tampaknya belum menyentuh inti persoalan. Itulah sebabnya krisis ekologis yang akut dan bahaya dapat mengancam masa depan kehidupan manusia tetap tidak teratasi. Karena usaha manusia untuk “hidup dengan roti semata-mata” atau untuk “membunuh Semua Tuhan” dan untuk menyatakan kemerdekaanya dari kekuatan Surgawi.[14]






[1] Greg Soetomo, Sains dan Problem Ketuhanan, ( Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1995), h. 19.
[2] Louis Leahy, Manusia di hadapan Allah, masalah Ketuhanan Dewasa Ini, ( Yogyakarta : Penerbit Kanisius, 1982), h. 115.
[3] Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, (Yogyakarta: Kanisius,1998) h.12.
[4] Louis Leahy, Manusia di hadapan Allah, masalah Ketuhanan Dewasa Ini, ( Yogyakarta : Penerbit Kanisius, 1982), h. 114.
[5] W Steanley Heath, Sains ,Iman dan Teknologi ,manakah yang benar Firman Allah ataukah Sains Modern, ( Yogyakarta: Yayasan Andi, 1997). h. 93.
[6] Louis Leahy, Manusia di hadapan Allah, masalah Ketuhanan Dewasa Ini, ( Yogyakarta : Penerbit Kanisius, 1982), h. 120.
[7] W Steanley Heath, Sains ,Iman dan Teknologi ,manakah yang benar Firman Allah ataukah Sains Modern, ( Yogyakarta: Yayasan Andi, 1997). h. 89.
[8] Louis Leahy, Manusia di hadapan Allah, masalah Ketuhanan Dewasa Ini, ( Yogyakarta : Penerbit Kanisius, 1982), h.
[9] Alisjahbana, pemikiran Islam dalam menghadapi Globalisasi dan Masa Depan Umat Manusia, ( Jakarta : Dian Rakyat,1992), h. 10.
[10] Muhammad Sabri, Muhammad Saleh Tadjuddin, Wahyudin Halim, Buku Daras Filsafat Ilmu,( Makassar: Alauddin pers, 2009). h.70
[11] Seyyed Hoessin Nasr, “Tentang Tradisi” dalam perennialisme: melacak jejak filsafat Abadi ( ed. Ahmad Norma Pratama), (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya,1996) h. 143.
[12] H. Hikmat Trimendi, Islam dan Penyelamatan Lingkungan,(Bandung: Q Tab,2007), h.1.
[13] Seyyed Hossein Nasr, Islam and The Flight of Modern Man (Islam dan Nestapa Manusia Modern), terj. Anas Mahyuddin (Bandung:Pustaka, 1983), h. 86.
[14] Seyyed Hossein Nasr, Man and nature the Spritual Crisis of Modern Man (London: Unwin Paperback,1976), h.8-9 dikutip dari Wahyudin Halim, Sufisme dan Krisis Spritual Manusia Modern, studi atas pemikiran metafisika sufistik Seyyed Hossein Nasr, ( Makassar: Alauddin University pers, 2011) h. 156.
Read More

Orientalisme dan pengaruhnya terhadap politik Islam

Orientalisme dan pengaruhnya terhadap politik Islam


A.    Orientalisme Mendefenisikan politik Islam sebagai “yang betina” sebuah deskripsi Umum.
Dewasa ini muncul serangan yang begitu besar dan agresif terhadap masyarakat Arab dan Muslim. Menjadi sebuah kenyataan pahit bahwa serangan itu di latar belakangi oleh anggapan buram bahwa masyarakat Arab dan Muslim adalah masyarakat yang terbelakang, yang tidak memiliki sistem Demokrasi yang kukuh dan tidak ramah-cenderung memberangus- hak-hak para perempuannya. Dua “pakar” Orientalis kenamaan seperti Bernard Lewis dan Fouad Ajami menegaskan bahwa hanya baratlah (Amerika) yang bisa memulihkan keterbelakangan itu. Layaknya hanya baratlah yang bisa menyembuhkan “gizi buruk” Timur sebagai “betina” yang seksi dan dapat dimainkan sesuka hati.
Seperti perlakuan Jendral Sharon dari Israel yang pada tahun 1982 memimpin invasi ke Libanon untuk mengubah sistem pemerintahan di sana seraya membunuh sedikitnya 17.000 penduduk sipil. Otak macam Jendral Sharon ini adalah otak penghapus papan tulis. Yang menghapus setiap coretan yang telah ada di papan. Lalu di hapus secara paksa seraya membuat coretan di atas papan tulis yang telah terluka.
Para Sarjana profesional pun di rekrut Amerika Serikat dari Indonesia, Malaysia, pasukan-pasukan Inggris dan India, Mesir, Afrika Barat, Prancis, dan Afrika Utara. Untuk melanggengkan kekuasaan kolonialis sebagai bahasa klise dan justifikasi yang sama lalu di kirim ke timur (Irak) untuk mengisi papan tulis dan mengajarkan coretan papan tulis itu kepada rakyat Irak. Mulai dari pengajaran, penulisan dan pembentukan kembali kehidupan politik Irak.
Tidak hanya di Irak, jauh kebelakang di Mesir seperti yang di tegaskan oleh Balfour dalam pidatonya.
“pertama-tama mari kita melihat fakta-fakta yang ada, bangsa-bangsa Barat-sesaat setelah mereka muncul di atas panggung sejarah- telah memperlihatkan tanda-tanda kemampuannya untuk memerintah diri sendiri karena mereka memiliki nilai-nilai positif..., tetapi cobalah (Anda telusuri bangsa-bangsa Timur, Anda tidak akan pernah menemukan jejak-jejak pemerintahan diri sendiri ( self Goverment). Abad-Abad kebesaran Timur selalu muncul di bawah pemerintahan Tiranisme, pemerintahan absolut. Begitu pula, semua kontribusi mereka yang luar biasa pada peradaban juga di ciptakan dibawah sistem pemerintahan semacam itu. Penakluk-penakluk pun datang silih berganti, dominasi tegak dan runtuh susul menyusul. Akan tetapi , dalam pasang surutnya nasib dan peruntungan mereka. Anda tidak akan pernah melihat satu pun dari bangsa-bangsa tersebut, dengan inisiatif nya sendiri, menegakkan apa yang kita sebut pemerintahan oleh diri sendiri. Ini adalah fakta. Ini bukan masalah superioritas dan inferioritas.....”[1]
Lalu Balfour menegaskan
“ Apakah bangsa-bangsa Timur yang besar ini, akan menerima jika kita yang menyelenggarakn pemerintahan yang absolut itu?.  Saya pikir mereka akan menerimanya. Saya juga berpikir bahwa bagi mereka pemerintahan kita jauh lebih baik di bandingkan dengan pemerintahan yang pernah ada sepanjang sejarah mereka sebelumnya, dan pemerintahan ini tidak hanya bermanfaat bagi mereka sendiri, melainkan juga bagi seluruh dunia barat yang beradab”.[2]
Alroy dengan lebih kasar berusaha membuktikan bahwa orang Arab tak boleh di percaya karena secara psikologis orang Arab memang tak mampu untuk bersikap damai dan tidak dapat menjalankan keadilan yang mengikatnya sehingga tak pantas untuk menjalankan sebuah politik kekuasaan. Lebih baik di perangi saja orang Arab itu seperti memerangi penyakit yang berbahaya. Alroy secara tidak langsung mengatakan bahwa orang Arab belum pantas di katakan sebagai manusia . hanya binatang liar yang lebih cocok menganut sistem hukum alam liar yang menganut asas raja Hutan.
Edwar Said dalam Orientalisme mengatakan bahwa ada tiga hal yang berperan dalam membentuk persepsi politis mengenai bangsa Arab dan Islam. Pertama, sejarah yang membentuk alergi terhadap Arab dan Islam yang menjadi penyakit populer yang langsut terjangkit ke sejarah Orientalisme. Kedua, adanya pergulatan antara orang-orang Arab dengan Zionisme Israel yang berpengaruh terhadap orang-orang Yahudi serta budaya liberal di barat. ketiga, orang Arab dan Islam nyaris tidak memiliki posisi yang strategis di dunia Barat, sehingga kedua kubuh ini selalu saling menduga jika tidak “positif” maka “negatif”.
Para orientalis memang begitu nyaman “menghapus setiap sudut-sudut papan tulis (Timur) dan memberi coretan sesuka hati seraya melakukan rangsangan sebelum melakukan relasi seksual” karena orientalisme memiliki hegemoni seperti yang di identifikasi oleh Gramsci yang memberi kekuatan, keperkasaan dan ketahanan sebagai yang “jantan” bagi Orientalisme sejauh ini. Orientalisme memiliki gagasan kolektif ( gagasan eropa istilah Denys Hay) yang perkasa yang menempatkan Timur sebagai entitas yang berbeda. Sehingga orientalisme bisa melakukan hegemoninya baik secara kultural, politis, dan tekstual terhadap yang lain dari (barat).
Pengetahuan akan selalu memberi kekuasaan. Apalagi semakin tinggi kekuasaan itu maka akan semakin banyak pengetahuan yang di butuhkan. Tujuan dari kajian- yang katanya ilmiah- dilakukan oleh Orientalisme tak lebih sebagai cukong – cukong penguasa yang hendak menguasasi –dalam hal ini Timur dan khususnya Islam.
Orientalisme memang harus di “intip” sebagai bukan semata-mata merupakan elaborasi perbedaan Geografis tetapi juga  mengikutkan sederet kepentingan yang akan mempengaruhi kebijakan politik. Orientalisme akhirnya memang merupakan suatau wacana yang dibentuk oleh politik kekuasaan sistem pemerintahan imperialis dan kolonial, juga intelektual kekuasaan dengan mengikutkan sistem sains dengan kebijakan modern, dan kultur kekuasaan seperti undang-undang ras, bahasa dan nilai-nila serta moral kekuasaan tentang apa yang “kita” lakukan dan apa yang tidak dapat “mereka” lakukan atau pahami seperti yang “kita” lakukan atau “kita” pahami. 
Dengan misi wacana kekuasaan yang di usung oleh “Barat” dengan politik kekuasaan yang berwajah modern akan begitu berpengaruh bagi politik Islam yang pada saat berjumpa dengan Barat, mereka sedang sakit parah, terperangkap dalam lubang yang di gali sendiri dan sedang tertidur pulas dengan mimpi-mimpi yang indah di masa lalu.
B.     Islam sebagai betina yang menerima rangsangan sebuah analisi kritis.
Orientalisme yang datang dengan membawa dan menciptakan sebuah pengetahuan yang berbasis kekuasaan telah merangsang orang –orang Islam yang selama ini menjadi “perawan malu-malu” yang hanya menerima begitu saja setiap fase rangsangan orang-orang Barat. Pengaruh Orientalisme terhadap Timur  memang di ibaratkan dengan skema relasi seksual. Timur yang di ibaratkan dengan perawan yang berposisi sebagai penerima rangsangan hanya menawarkan dirinya untuk di eksplorasi pada setiap titik rangsangan yang di milikinya. Sedang Barat dengan orientalismenya berposisi sebagai yang “ jantan perkasa” yang memiliki pengetahuan untuk berkuasa mengeksplor diri perawan Timur dengan begitu “aktif”. Berbuat begitu saja hingga mencapai klimaks. Sebuah kenikmatan yang di rasakannya sendiri. Dan keperawanan Timur akhirnya lenyap oleh keperkasaan Barat.
Dimulai dari Abad ke 15, ketika Vasco de Gama membuka jalur pelayaran ke India lewat tanjung Harapan. Yang mengawali pelayaran Eropa ke anak benua India bahkan hingga ke Indonesia. Namun selama beberapa Abad. Tak seorang muslim pun yang berupaya terjun ke dalam jasa angkutan niaga baru ini. Dan itu akan berakibat timbal balik karena peniagaan lah yang mengawali keterlibatan politik.
Sebelum Kerajaan Islam “Insyaf”. Perjanjian yang di lakukan orang-orang Eropa dengan penguasa lokal dengan mengirim bala tentara untuk melindungi pos-pos perniagaan. Lalu fase perangsangan mulai di lakukan. Campur tangan lebih jauh di intensifkan maka merebaklah kolonialisme di berbagai kawasan Timur. sekalipun negeri Islam pada saat itu belum merasakan akibat penting proses ini. Namun Dunia Islam telah terperangkap pada “gombalan” sistem Ekonomi Global ciptaan barat.
Kesadaran Eropa sebelumnya telah juga di rangsang oleh kasus serangan –serangan yang di lakukan oleh kesultanan Turki hingga ke Hungaria. Namun menjelang abad ke-17 tiba giliran Eropa untuk balik menyerang sebagai akibat dari keunggulan baru bidang teknologi militer. Sementara itu  hubungan diplomatik politk ekonomi antara Usmani dan orang-orang Eropa mulai berkembang.
Menjelang penghujung abad ke 18 orang-orang Usmani sepenuhnya sadar telah menginsyafi ketertinggalannya dari orang-orang Eropa dalam berbagai masalah praktis dan lingkungan lembaga yang berkuasa muncul sejumlah pribadi yang sangat berhasrat untuk melakukan pembaharuan, karena kejatuhan imperium tersebut akan menghilangkan keseimbangan di dalam suatu kawasan yang luas.
lalu menjelang penghujung abad ke 19, ketika hasil-hasil teknologi dan industri Eropa mulai mudah di peroleh. Para penguasa muslim mulai menyegarkan bala tentara dengan persenjataan modern, serta berbagai fasilitas masyarakat seperti listrik dan air ledeng, lalu mobil juga mulai berjalan di daratan berdebu serta asap pabrik juga mulai mengepul di langit Timur. pada pertengahan abad ke 20 sebagian besar masyarakat Muslim akhirnya sadar sepenuhnya bahwa mereka(barat) telah merenggut keperawanannya dan masyarakat muslim tidak dapat mencegah pembaratan atas sebagian besar aspek kehidupan keseharian mereka.
Namun sebenarnya. Meski perawan “Timur dan khususnya Islam” malu-malu untuk melakukan relasi seksual dan ingin mencegah setiap rangsangan yang di lakukan orang-orang Barat. kaum muslim sendiri juga sebenarnya menghendaki untuk “menerima rangsangan” perkembangan tersebut. orang Barat merayu dengan halus serta sedikit sekali peluang untuk terjadi “pemerkosaan” peradaban (benturan peradaban pada Istilah Samuel Huntington). Penguasa-penguasa Muslimlah yang menghendaki modernisasi negerinya, demikian pula, merupakan kehendak mereka sendiri untuk mengecap kenikmatan-kenikmatan Eropa. Para penguasa muslim bahkan tidak ragu-ragu menyerahkan dirinya dan negeri mereka terbelenggu sebagai penghutang –penghutang yang terjerat pada “rentenir laba-laba” keuangan Dunia. Tidak hanya penguasa Muslim. Masyarakat sipil pun ikut menikmati  kenikmatan-kenikmatan “rangsangan” itu  sampai ikut bernafsu mengenyam standar-standar baru kehidupan materi yang di kembangkan di barat.  maka dari itu sebagian besar ummat muslim ingin mengirim anak-anak mereka dididik dalam sistem pendidikan tipe barat.
Peralihan kebudayaan ini juga semakin memperburuk keadaan dalam negeri Muslim. Tercipta kelas menengah atas yang berpendidikan kebarat-baratan (Westenisasi) serta mengakses produk baru yang datang dari barat. sedangkan sebagaian masyarakat muslim tak ingin lagi tersentuh dengan tangan dan rayuan maut para orientalis dan penguasa Barat. peralihan kebudayaan ini akibatnya menimbulkan  pergolakan sosial yang hebat. Kecemburuan sosial telah menjadi asal mula gerakan kebangkitan Islam.
Sebagai negeri yang terjajah baik secara lahiriah dan batiniah sebagaimana kaum Hindu, budha dan lainnya. Kaum Muslimin menjawab penjajahan dengan menuntut kemerdekaan. Hingga berujung pada akhir perang dunia ke II, sebagian besar negara Islam meraih kemerdekaannya secara lahiriah, tetapi secara Batiniyah sebagian Negara Muslim tetap terperangkap dan terjajah pada sistem politik Global.
C.    Islam sebagai yang “Jantan”.
Menanggapi kebangkitan Islam sebagai lanjutan dari pergolakan sosial atas perkembangan politik, serta akibat dari terjadinya Westernisasi. Muncullah gerakan revivalis di seluruh dunia Islam. Yang paling menyita dan menyentakkan perhatian orang barat adalah berhasilnya Revolusi Iran pada tahun 1979 sebagai kejadian politik yang paling dramatik. Disini peran Agama (Islam) masih mendapat perhatian sebagai motivasi yang begitu kuat untuk menumbangkan Rezim yang telah di tidurkan oleh Barat (Amerika). Keberhasilan Revolusi ini pun juga telah memberi Spirit umat islam yang terlelap untuk bangun menentang Barat dengan seperangkat kebudayaannya yang berwajah Sekuler.
Memang benar bahwa awal kebangkitan Umat muslim di awali dengan gerakan revivalis yang menggelombang. Revolusi Islam Iran memang berhasil menunjukkan bahwa Barat bukanlah sosok monster yang tidak dapat di robohkan. Dan konsekuensi dari keberhasilan itu telah membuat khawatir negeri Barat. bahwa gelombang kebangkitan Islam di Iran itu  itu akan merebak ke negeri negeri Islam lainnya seperti di Mesir, Saudi Arabia, Aljazair, Malaysia dan Indonesia, Pakistan serta negari muslim lainnya.
Tapi apakah sebuah gerakan yang mengatas namakan “kebangkitan islam”. Dapat menjadi sandaran sebagai kebangkitan Universal dengan citra dan muatannya. Karena ketika “Islam” itu di ucapkan maka yang di maksud adalah sesuatu yang Universal yang mempengaruhi segala dimensi komunitas masyarakat Islam.
Karena sebagaian negeri Muslim yang ingin ikut meramaikan gelombang gerakan kebangkitan Islam ini malah terperangkap pada persoalan dalam negeri yang merangsang terjadinya perang dingin di dalam negeri. Sebagai mana Ahmad Syafi’i maarif dalam kata pengantar buku “Politik Kebangkitan Islam”. Bahwa pembunuhan, penindasan, pemusnahan, terhadap golongan tertentu, pemberontakan, sabotase, dan pembelotan, berjalan tanpa batas. alih-alih memimpikan kebangkitan Islam. Kehancuran yang lebih buruk malah menghantui negeri muslim yang terus melakukan kegiatan seperti itu dengan mengatasnamakan “Revolusi demi kesatuan Nasional”. Alih-alih untuk menjadi yang “jantan” negeri Muslim malah semakin membetinakan dirinya.
Sungguh Ironis jika kebangkitan islam di awali dengan gerakan revivalis yang mengarah pada diri lahiriah “Islam” dengan kekerasan,  penumbangan dan pemotongan leher yang tidak sesuai  dan menghalangi misi revolusi.  Krisis sosial, politik, dan ekonomi menjadi alasan dari gerakan ini dan menjadi jawaban bagi krisis yang di timbulkan para Orientalis dengan membawa wajah sekuler yang selama ini mendominasi  kehidupan politik dunia Islam.
Islam sendiri sebagai dirinya yang sebenarnya. Telah memberikan alternatif stuktur-stuktur politik , ideologis, dan ekonomis. Islam merupakan basis bagi norma-norma sosial dan kode-kode moral yang sesuai dengan fungsi masyarakat muslim. Bagaimanapun muslim itu berwajah Barat, terwesternisasikan serta tersekulerkan ia secara mendasar tetap sebagai Muslim.
Dalam artian yang sesungguhnya, Nabi Muhammad juga menghadapi sebuah krisis masyarakat di Makkah. Tetapi pada fase awal Nabi menghadapi krisis itu dengan berusaha memerdekakan manusia itu dari penjajahan secara mental bukan secara lahariah. Seraya perubahan mental itu juga akan mempengaruhi lahiriah bangsa Muslim. Hanya saja Bangsa Muslim telah lupa dan tidak jujur dengan dirinya dan agamanya.
Memang ini terdengar Hegelian. Namun al Qur’an secara optimis telah memberikan perangkat Etika yang begitu Indah untuk hidup damai dan berkeadilan di muka bumi. Oleh karena itu kata “Islam” pada kalimat “kebangkitan Islam” hadir sebagai gerakan pembaharuan moral universal. Yang mewujudkan kehidupan umat yang kemudian menjadi basis yang di teladani kembali oleh umat lain, bahkan menjadi tontonan yang begitu menarik. Menarik yang bukan berarti “Horor”.
Meskipun nantinya gerakan moral itu juga harus memerlukan kekuasaan politik, tetapi kekuasaan politik itu bukan berarti menjadi pengendali sepenuhnya yang mengatasnamakan untuk tujuan “moral” kita harus membersihkan lawan politik yang berbeda visi. Doktrin amar ma’ruf nahi mungkar harus menjadi asas dari bangunan politik Islam serta menjaga “Khairu Ummah” kesatuan umat Islam. Adapun sistem politik yang bergerak dengan bendera “Revolusi Islam” tetapi mempertahankan status quo, korup, membom rakyat sendiri, tidak di ragukan lagi merupakan perbuatan yang lebih jahiliyah.
D.    Kesimpulan
Ringkasnya saat ini. Islam telah terbangun dari tidurnya, negeri Islam telah menyadari bahwa keperawanannya telah di renggut oleh para orientalis sejak lama. Mekanisme seksual para Orientalis telah merangsang umat Islam untuk kembali menjadi yang “Jantan”. Di bawah bendera “kebangkitan Islam”.
Timur dan khususnya Islam harus kembali pada Al-Qur’an dan Sunnah sebagai dirinya yang sebenarnya. Dengan al- Qur’an dan Sunnah yang mutawatir itu. Islam menjadikan Barat sebagai objek untuk di teliti. Sebagai Betina yang menerima rangsangan. Karena Al-Qur’an dan As sunnah sebagai kitab yang universal memuat semua masalah keagamaan dan moral yang penting untuk seluruh umat manusia mulai sekarang hingga saat penghabisan.
Sebagaimana Balfour yang begitu pesimistik yang sejalan dengan Malik Bin Nabi bahwa manusia Islam adalah manusia yang bermental terjajah. Sejak terbakarnya Perpustakaan Terbesar di Baghdad pada abad ke 13. Serta hijrahnya manusia Islam dari yang rasional menuju yang apologis Jabariyah. Sehingga Filsafat pasca Ibnu Rusyd menuju pada alam bawah sadar manusia Islam. Menjadi yang tak terpikirkan. Hingga saat ini akhirnya Manusia Islam tetap menjadi mainan Barat.

Referensi


Hannafi, Hassan, Oksidentalisme: SIkap kita terhadap Barat.; ed, Syafiq Hassan. Jakarta: Paramadina, 1999
Hunter T, Shiren. The politics of Islamic Revivalism :Diversity and Unity, di terjemahkan oleh, Ajat Sudrajat, Politik Kebangkitan Islam:keragaman dan kesatuan. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya. 2001.
Said W,Edward.  Orientalism, di terjemahkan oleh Achmad Fawaid, Orientalisme: menggugat hegemoni Barat dan Mendudukkan Timur sebagai Subjek. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010.
WM, Watt. Fundamentalisme Islam dan Modernitas, di terjemahkan oleh Taufik Adnan Amal. Jakarta : Raja Grafindo Persada. 1997.







[1] Edward W Said, Orientalism, di terjemahkan oleh Achmad Fawaid, Orientalisme: menggugat hegemoni Barat dan Mendudukkan Timur sebagai Subjek, ( Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010) h.47
[2] Edward W Said, Orientalism, di terjemahkan oleh Achmad Fawaid, Orientalisme: menggugat hegemoni Barat dan Mendudukkan Timur sebagai Subjek, ( Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010) h.48

Read More

Minggu, 15 Mei 2016

Puisi Surga yang terbakar

Surga yang Terbakar.

Aku ingin makan nasi goreng dengan segelas Anggur.
Aku ingin berdoa sambil telanjang.
Aku ingin menuju cahaya sambil menggenggam tangan pelacur.
Aku ingin tenggelam dalam kegelapan dengan bunga lotus.
Aku ingin menari di bawah lampu disko bersamanya.
Aku berada di sudut, dan kucoba mengerti diriku.
dan ternyata aku telah kehilangan agamaku.
Syukurlah.


lalu. Ingin Kubusur malaikat bersayap.
merebut sayapnya dan aku ingin menyerahkannya ke Iblis.
biar ia menuju ke langit. Berperang sekali lagi.
sedang malaikat buntung itu.
biar kan ia mencuci piring kotor ku.
menjemur pakaian ku.
dan aku bersantai menonton pertarungan Langit.
seperti menonton petasan di malam tahun baru
aku bersuka cita di bumi.
Aku tak peduli.
karena aku telah menjadi  diriku.
dan diriku bukanlah dirimu.
Akan kurebut kunci Surga.
biar kugembok gerbang kebaikan itu.
ingin ku siram segalon Bensin ke lembah Neraka.
biarkan berkobar hingga membakar lapis-lapis surga.
lalu Surga lenyap.  Dan tersisa Neraka.
menurutmu apakah kau masih ingin memegang agamamu.?

 tapi jika kusirami Neraka dengan seisi kutub Utara.
dan Api padam di Neraka.  Kutanam pohon di Surga.
dan oh Surga tetap Indah. Sesuai mimpimu.
Menurutmu apakah kau tetap tidak ingin melepaskan agamamu.?
Oh, kumohon Neraka telah lenyap. Untuk apa kau takut berbuat jahat?

tak usah menjawabnya
Aku yakin kita telah  kehilangan Agama kita masing-masing.
menjadi pembohong berwajah bayi.
sej
auh kau mencoba untuk terbang. Kau tetap terperangkap
sebagai budak Gravitasi.
menjadi dan berubah disini.

Iman itu hanya seperti permainan Judi.
kadang aku menang, kadang aku menjadi pecundang.
tapi kau dan aku tetap menikmatinya.
mudah saja semakin besar  yang kau pertaruhkan, semakin besar pula keuntunganmu.
tetapi semakin kecil taruhanmu semakin sedikit yang kau dapatkan.


bagaimana kau ikut denganku.?
Read More

Rabu, 11 Mei 2016

Layang-layang Tappu

cerpen

LAYANG-LAYANG TAPPU’.



Siang yang begitu menyiksa baru saja terlewati. Matahari entah mungkin lagi mengalami keresahan hubungan percintaan dengan wanitanya si bulan, hingga kekesalan hatinya dilampiaskan kepada bumi. Dari jam satu hingga kepukul tiga tiada yang berani untuk keluar dari rumahnya tanpa pelindung. Apalagi nekad untuk bertelanjang dada. Pasti akan mendidih.
Setelah waktu Ashar terlewati. Emosi keresahan matahari mulai menurun, mungkin planet Mars sudah memberikannya hiburan dengan pertunjukan kolosal sirkus meteor yang saling bertabrakan menghancurkan dua hati yang sedang galau. Atau matahari mendapat teguran cinta dari black hole yang bisa saja mengisap semua kekecewaan hati.  Atau bulan meminta maaf dan kembali mengitari poros-poros  di cakrawala angkasa cinta . Atau planet lain menjadi orbit nadi –nadi perdamaian antara matahri dan bulan. Entahlah.
Sore hari yang begitu indah disebuah desa yang diberi nama Bontojai. Anak-anak yang berwajah lugu dan polos dalam artian penuh dengan lumpur bercampur dengan kotoran. Entah kotoran tai ayam atau yang lebih ekstrim adalah kotoran tai kerbau. Panas yang tadi begitu mencekam tak jadi masalah bagi mereka, sejak pagi tadi mereka sudah melanglang persawahan, berlari melompati tingkasa (pematang) sawah, berenang pula melewati kali perairan demi mengejar layang-layang tappu. Siapa yang paling banyak mendapatkan layang-layang ditambah dengan tasi gallasa (benang) yang tergulung menutupi semua tangannya. Maka dialah yang akan menjadi rajanya. Padahal harga layang-layang digadde-gadde ( warung) cuman seharga 500 rupiah maksimal 2000 dengan tasinya. Tetapi ego untuk menjadi seorang yang dipuji-puji menjadi sensasi tersendiri.
Hari ini yang menjadi calon rajanya adalah i Aco. Seorang anak yang berkulit gosong dan baunya kayak kuaci harga 500 an. Rambutnya sudah tak beraturan bagai jalanan adipura yang selalu macet. bajunya sudah dipenuhi dengan lumpur. Wajahnya begitu cu’mala dan menco. Aco bagaikan baru saja bertempur didalam hutan amazon yang lebat tiga hari tiga malam tanpa makan tanpa minum juga tanpa bernafas. Tapi senyumannya begitu mempesona dan begitu sombong, dengan bangganya dia berdiri diatas sebuah bukit sambil mempersembahkan dirinya dihadapan semua teman-temannya yang menjadi pecundang hari itu. Tiga layang-layang jumbo, dua layang layang plastik, empat layang-layang merah putih terlilit didadanya. Dan tangannya sudah dipenuhi dengan tasi gallasa kualitas silet.  Si Aco benar- benar merasa dirinya sudah menjadi maestro layang-layang tappu dan semua teman-temannya yang nasib tubuhnya tak lebih baik dari pada Aco hanya bisa menjadi pecundang yang memuji muji sang pemenang.
Tapi ada satu hal lagi yang harus dilalui Aco untuk menjadi raja yang sebenarnya. Yaitu wawancara sesama pengejar layang-layang tappu. Yang paling banyak mendapatkan layang-layang harus menjawab satu pertanyaan dari yang kalah. Jika sang pemenang bisa menjawabnya maka sahlah dia menjadi seorang raja yang berkuasa selama tiga hari.  tapi apabila sang pemenang tak bisa menjawabnya maka semua layang layangnya harus diberikan kepada sang penanya dan sang calon raja batal menjadi raja. Namun peraturannya sang pemenang berhak menunjuk sendiri penanya yang akan mengajukan pertanyaan kepadanya.
Aco sudah mempercayakan dirinya pasti bisa menjawab pertanyaan apapun dan dari siapapun. Dan pertanyaan sesusah apa yang akan muncul dari otak lugu anak-anak umuran 12 tahun kebawah. Aco sudah melirik satu persatu wajah jelek kawan-kawannya. Dan dia tertarik dengan wajah kawannya yang bernama Ambo te’ne. Dari sekawanan pengejar layang-layang Bontojai, nampaknya Ambo te’nelah yang paling payah, ia tak pernah sedikitpun pernah mendapatkan layang layang selama seabad lebih. Kecepatan larinya setara dengan siput tanpa cangkang. Aco menggambarkannya sebagi anak kecil yang memiliki kualitas IQ yang paling rendah dari semua temannya. Dan Aco percaya diri Ambo te’ne tidak akan menyusahkannya.
“ Baiklah Aku memilih Ambo te’ne” ucap Aco sambil menunjuk kerah Ambo’ te’ne yang sedang sibuk mengupil. Bagi sebuah efek domino semua mata tertuju kearah Ambo te’ne. Dan Ambo te’ne hanya tersenyum dengan senyumannya yang sangat menyebalkan memperlihatkan giginya yang begitu hancur.
“ baiklah Ambo te’ne silahkan kau ajukan pertanyaan?”
Sambil menutup mata dengan memukul bibirnya dengan jari telunjuknya bekas tambang mengupil hidung . Ambo te’ne mencari sebuah pertanyaan. Agak lama ia mencari sebuah pertanyaan. Wajah jelek disekelilingnya sudah mulai bosan. Dan Aco semakin sombongnya tersenyum. Karena ia sudah tahu Ambo te’ne yang tolol itu tidak akan mendapatkan sebuah pertanyaan apapun.
“ apa yang kita ingat didalam sholat, mengapa kita harus mengingat Allah. Dan Allah itu siapa?” Pertanyaan yang begitu mempesona dari keluguan Ambo te’ne. membuat semua temannya mengagah sambil membelalakkan matanya. Apa lagi Aco yang sangat kaget mendengarnya, hampir saja dia mendapatkan serangan jantung. Dia tak mengira akan diberikan sebuah pertanyaan yang begitu gila. Bagaimanapun kerasnya Aco berpikir dia tidak bisa mendapatkan sebuah jawaban. Namun pertanyaan sudah terlanjur terpaparkan, dan dia harus menjawab. Ambo te’ne terus saja tersenyum dengan polosnya, memandang kepolosan itu Aco semakin stress. Dan tidak ada satupun kalimat yang ia dapatkan untuk menjawab pertanyaan itu.
“bagaimana saudara Aco apakah anda bisa menjawabnya? Kami sudah lama menunggumu” ucap salah satu anak. Membuat Aco semakin tertekan. Waktu semakin berlari kencang. Dan teman-teman Aco sudah semakin ribut mendesaknya membuat Aco semakin tersudut, semakin kehilangan asah mendapatkan sebuah jawaban yang masuk akal. Tapi dia harus mencoba dari pada harus kehilangan semua layang-layang tappu’nya.
“ yang kita ingat didalam Sholat adalah Allah. Kita harus ingat dengan Allah karena dia tuhanta’. Dan Allah itu adalah tuhanta’, itumi jawabanku” Aco mengucapkannya dengan keras.
“bagaimana Ambo te’ne apakah anda puas?” ucap salah seorang yang menjadi moderator.
Dengan senyuman menakutkannya Ambo te’ne berucap “ kalau memang Allah lah yang harus di ingat dalam sholat mengapa beberapa jama’ah ada yang mengantuk saat sholat. Apakah Allah menceritakan sebuah dongeng yang sangat membosankan ketika orang sholat. Dan beberapa jamaah juga sering menggaruk pantatnya saat sholat. Apakah dia mengibaratkan tuhan adalah seekor kutu? Apakah seperti itu persepsi pemikiran umat muslim saat menggambarkan tuhan dalam ingatannya. Dan saya akan kembali kepada pertanyaan dasarnya, mengapa harus Allah yang kita ingat dalam sholat?”
Semua mulut kembali menganga. Semua mata kembali membelalak Dan Aco hanya bisa berucap.
“ ngga kuat, ngga kuat, aku menyerah, aku menyerah. Ambilmi semua layang-layangku, ambil semuami Ambo te’ne. Mengakuma, kaumo jadi rajana”.
Malampun membungkus kejadian luar biasa tadi sekaligus mengherankan. Persawahan sudah gelap gulita, Aco dan Ambo te’ne sudah lama kembali kerumahnya. Wajahnya sudah kembali seperti manusia. Dan sekarang mereka sibuk mempersiapkan segala perlengkapan untuk sekolah besok. Tapi bagi Aco kekalahan telak tadi tidak bisa dia lupakan. Pertanyaan Ambo te’ne terus terngiang dikepalanya. Dan pertanyaan itu sudah mengganggu nuraninya menimbulkan penasaran yang begitu menggelora didalam hatinya. Dia ingin tahu jawaban yang paling tepat dari pertanyaan itu.
Setelah ayahnya Aco baru pulang dari masjid. Aco memutuskan untuk menyakan pertanyaan Ambo te’ne kepada ayahnya.
“ bapak ada mau kutanyakanki” ucapnya dengan sangat sopan sambil tersenyum.
“apa nak, bertanya’ moko?”
“ Siapa sebenarnya itu Allah. Kenapa haruski diingat kalau shalatki orang bapak?”
 “ oooooh, amma’na kesurupangi anaknu, ambilkangi cepat air dingin, na kusapuangi di muka’na.” Mata ayahnya membelalak, seolah baru saja melihat sebuah penampakan yang begitu menyeramkan. Dan ibu Aco dengan paniknya berlari sambil menggenggam segelas air dingin. Dan pertanyaan itu berakhir dengan dugaan Aco baru saja terserang roh halus alias kesurupan. Dan Aco tidak ingin lagi membahas pertanyaan itu dengan ayah dan ibunya.
Tak beda jauh nasibnya di sekolah. Aco sudah dipandang sebagi anak yang aneh. Terakhir kali ia bertanya kepada seorang guru agamanya. Jawaban yang ia dapatkan adalah.
“tobatko anak, sering-seringki baca ayat kursi kalau mauki tidurnah. Jangki lagi bertanya seperti itu. Dosaki itu.” Dan itu sebuah jawaban yang jelas tidak memuaskannya.
Pencaharian akan rasa penasaran itu terus menggodanya. Hampir sebulan sudah dia memikirkannya, membuatnya harus vakum dari pengejaran layang-layang tappu’. Bagaimana mau mengejar kalau semangat sudah tidak ada lagi. Hampir sebulan sudah dia menahan untuk berbicara dengan Ambo te’ne. Egonya masih terlalu besar dari pada kemurahan hatinya. Jadilah dia tersiksa hampir sudah sebulan dia dianggap sudah menjadi anak yang autis. Dan sudah beberapa kali dia dibawah oleh orang tuanya ke para sandro (orang pintar). Karena ayah dan ibunya mengira anaknya dimasuki oleh jin yang sangat kuat.
Hingga di suatu hari yang begitu panas. Matahari kembali bertengkar dengan bulan. Aco berjalan dengan mata yang kosong menuju camp persawahan untuk ngunjung(menerbangkan) layang layang. Unjungannya sudah begitu seimbang. Dan layang layang itu dengan mudahnya terbang dibawah angin. Layang layang itu sudah menari-nari diatas awan. Semakin diolor layang layang itu semakin tinggi. Dan Aco terus mengawasi layang layang itu dengan tajam dan begitu dalam, sangking dalamya muncullah bayang wajah menyebalkan Ambo’te’ne dihadapannya. Namun ia segera menyadarkan dirinya. Kemudian muncullah lagi pertanyaan Ambo te’ne dikepalanya. Namun kembali ia menyadarkan drinya.  Setelah lama tersiksa Aco seolah mendapatkan sesuatu yang membuatnya sangat senang. Dia dengan tiba-tiba berdiri dan berlari meninggalkan layang-layangnya yang terbang liar.
Ternyata Aco berlari kerah rumah Ambo te’ne. Setelah sampai dipintu rumah kawannya itu. Aco berteriak.
“ Amboooo, oooooo, ambooo” sambil mengetuk pintunya.
Dengan senyuman yang selalu menyebalkan dan selalu mengupil dengan jari telunjuk kanannya. Ambo te’ne membuka pintunya. Dan dengan polosnya ia berkata “ ada apa kau kemari Aco” dan kembali tertawa kecil lagi.
“ aku kemari ingin mengambil kembali layang-layang yang telah kau rebut dariku?” ucap Aco dengan semangat kemerdekaan.
“ hehehehe. Kalau kau menginginkan layang-layangmu kembali, maka jawablah pertanyaanku dulu. Mengapa Allah harus diingat ketika kita sholat.” Lalu Ambo te’ne tertawa kecil lagi.
“ setelah kupikirkan begitu lama tertanyata pertanyaanmu begitu mudah. Jawabannya adalah super subyektif.” Aco dengan percaya dirinya menyusun kalimat-kalimatnya.
“ hehehe mengapa bisa super subyektif”
“masing masing orang memiliki jawaban tersendiri ketika diberikan pertanyaan seperti itu. Dan semua jawaban pasti akan benar. Karena ini adalah masalah persepsi pribadi individu.”
“hehehehe lalu bagaimana persepsimu saudara Aco”
“tiada lain yang harus diingat ketika sholat selain Allah. Begitu juga ketika kita bermain layang-layang tiada yang harus diingat keculai fokus menaikkan layang- layang. Karena ketika kita tidak fokus saat menaikkan layang-layang. Maka layang-layang itu tidak akan pernah terbang. Begtu pula dengan sholat ketika kita tidak fokus  mengingat Allah maka secara hakikatnya  kita tidak sholat.”
“hehehehe lalu mengapa harus Allah yang diingat?”
“karena Sholat adalah pemberian Allah makanya hanya dia yang harus diingat ketika sholat. analoginya seperti ini. Ketika aku memberikanmu sebuah layang-layang Jumbo berwarna emas pasti kau akan senang. Maka ketika aku sudah tiada tetapi layang layang pemberianku masih kau miliki maka ketika kau melihat layang layang itu yang akan kau ingat adalah diriku. Seperti itu.”
“hehehe hehehe hehehe “ sungguh tawa ini sangat menyebalkan. Lalu Ambo te’ne berlari masuk kedalam rumahnya dan kembali membawa semua layang-layang yang sudah diambilnya dari Aco. Termasuk tasi gallsa’nya. Dengan tersenyum mereka berdua , berpelukan. Seperti teletubies.

Kemudian cerita selanjutnya Aco dan Ambo te’ne menikah. Dan hidup sakinah mawaddah warahmah. Luarbiasa kan endingnya, hancur. Tapi  ngga usah ambil ceritanya tapi sama-sama kita ambil hikmahnya. Dan hikmahnya adalah Ambo te’ne adalah seorang perempuan ternyata. Hikmah sesungguhnya lebih baik tidak usah dipaparkan. Seorang filosof selalu tau makna yang tersirat. Asyik.
Read More