Tampilkan postingan dengan label Cerpen Filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Filsafat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Mei 2016

Layang-layang Tappu

cerpen

LAYANG-LAYANG TAPPU’.



Siang yang begitu menyiksa baru saja terlewati. Matahari entah mungkin lagi mengalami keresahan hubungan percintaan dengan wanitanya si bulan, hingga kekesalan hatinya dilampiaskan kepada bumi. Dari jam satu hingga kepukul tiga tiada yang berani untuk keluar dari rumahnya tanpa pelindung. Apalagi nekad untuk bertelanjang dada. Pasti akan mendidih.
Setelah waktu Ashar terlewati. Emosi keresahan matahari mulai menurun, mungkin planet Mars sudah memberikannya hiburan dengan pertunjukan kolosal sirkus meteor yang saling bertabrakan menghancurkan dua hati yang sedang galau. Atau matahari mendapat teguran cinta dari black hole yang bisa saja mengisap semua kekecewaan hati.  Atau bulan meminta maaf dan kembali mengitari poros-poros  di cakrawala angkasa cinta . Atau planet lain menjadi orbit nadi –nadi perdamaian antara matahri dan bulan. Entahlah.
Sore hari yang begitu indah disebuah desa yang diberi nama Bontojai. Anak-anak yang berwajah lugu dan polos dalam artian penuh dengan lumpur bercampur dengan kotoran. Entah kotoran tai ayam atau yang lebih ekstrim adalah kotoran tai kerbau. Panas yang tadi begitu mencekam tak jadi masalah bagi mereka, sejak pagi tadi mereka sudah melanglang persawahan, berlari melompati tingkasa (pematang) sawah, berenang pula melewati kali perairan demi mengejar layang-layang tappu. Siapa yang paling banyak mendapatkan layang-layang ditambah dengan tasi gallasa (benang) yang tergulung menutupi semua tangannya. Maka dialah yang akan menjadi rajanya. Padahal harga layang-layang digadde-gadde ( warung) cuman seharga 500 rupiah maksimal 2000 dengan tasinya. Tetapi ego untuk menjadi seorang yang dipuji-puji menjadi sensasi tersendiri.
Hari ini yang menjadi calon rajanya adalah i Aco. Seorang anak yang berkulit gosong dan baunya kayak kuaci harga 500 an. Rambutnya sudah tak beraturan bagai jalanan adipura yang selalu macet. bajunya sudah dipenuhi dengan lumpur. Wajahnya begitu cu’mala dan menco. Aco bagaikan baru saja bertempur didalam hutan amazon yang lebat tiga hari tiga malam tanpa makan tanpa minum juga tanpa bernafas. Tapi senyumannya begitu mempesona dan begitu sombong, dengan bangganya dia berdiri diatas sebuah bukit sambil mempersembahkan dirinya dihadapan semua teman-temannya yang menjadi pecundang hari itu. Tiga layang-layang jumbo, dua layang layang plastik, empat layang-layang merah putih terlilit didadanya. Dan tangannya sudah dipenuhi dengan tasi gallasa kualitas silet.  Si Aco benar- benar merasa dirinya sudah menjadi maestro layang-layang tappu dan semua teman-temannya yang nasib tubuhnya tak lebih baik dari pada Aco hanya bisa menjadi pecundang yang memuji muji sang pemenang.
Tapi ada satu hal lagi yang harus dilalui Aco untuk menjadi raja yang sebenarnya. Yaitu wawancara sesama pengejar layang-layang tappu. Yang paling banyak mendapatkan layang-layang harus menjawab satu pertanyaan dari yang kalah. Jika sang pemenang bisa menjawabnya maka sahlah dia menjadi seorang raja yang berkuasa selama tiga hari.  tapi apabila sang pemenang tak bisa menjawabnya maka semua layang layangnya harus diberikan kepada sang penanya dan sang calon raja batal menjadi raja. Namun peraturannya sang pemenang berhak menunjuk sendiri penanya yang akan mengajukan pertanyaan kepadanya.
Aco sudah mempercayakan dirinya pasti bisa menjawab pertanyaan apapun dan dari siapapun. Dan pertanyaan sesusah apa yang akan muncul dari otak lugu anak-anak umuran 12 tahun kebawah. Aco sudah melirik satu persatu wajah jelek kawan-kawannya. Dan dia tertarik dengan wajah kawannya yang bernama Ambo te’ne. Dari sekawanan pengejar layang-layang Bontojai, nampaknya Ambo te’nelah yang paling payah, ia tak pernah sedikitpun pernah mendapatkan layang layang selama seabad lebih. Kecepatan larinya setara dengan siput tanpa cangkang. Aco menggambarkannya sebagi anak kecil yang memiliki kualitas IQ yang paling rendah dari semua temannya. Dan Aco percaya diri Ambo te’ne tidak akan menyusahkannya.
“ Baiklah Aku memilih Ambo te’ne” ucap Aco sambil menunjuk kerah Ambo’ te’ne yang sedang sibuk mengupil. Bagi sebuah efek domino semua mata tertuju kearah Ambo te’ne. Dan Ambo te’ne hanya tersenyum dengan senyumannya yang sangat menyebalkan memperlihatkan giginya yang begitu hancur.
“ baiklah Ambo te’ne silahkan kau ajukan pertanyaan?”
Sambil menutup mata dengan memukul bibirnya dengan jari telunjuknya bekas tambang mengupil hidung . Ambo te’ne mencari sebuah pertanyaan. Agak lama ia mencari sebuah pertanyaan. Wajah jelek disekelilingnya sudah mulai bosan. Dan Aco semakin sombongnya tersenyum. Karena ia sudah tahu Ambo te’ne yang tolol itu tidak akan mendapatkan sebuah pertanyaan apapun.
“ apa yang kita ingat didalam sholat, mengapa kita harus mengingat Allah. Dan Allah itu siapa?” Pertanyaan yang begitu mempesona dari keluguan Ambo te’ne. membuat semua temannya mengagah sambil membelalakkan matanya. Apa lagi Aco yang sangat kaget mendengarnya, hampir saja dia mendapatkan serangan jantung. Dia tak mengira akan diberikan sebuah pertanyaan yang begitu gila. Bagaimanapun kerasnya Aco berpikir dia tidak bisa mendapatkan sebuah jawaban. Namun pertanyaan sudah terlanjur terpaparkan, dan dia harus menjawab. Ambo te’ne terus saja tersenyum dengan polosnya, memandang kepolosan itu Aco semakin stress. Dan tidak ada satupun kalimat yang ia dapatkan untuk menjawab pertanyaan itu.
“bagaimana saudara Aco apakah anda bisa menjawabnya? Kami sudah lama menunggumu” ucap salah satu anak. Membuat Aco semakin tertekan. Waktu semakin berlari kencang. Dan teman-teman Aco sudah semakin ribut mendesaknya membuat Aco semakin tersudut, semakin kehilangan asah mendapatkan sebuah jawaban yang masuk akal. Tapi dia harus mencoba dari pada harus kehilangan semua layang-layang tappu’nya.
“ yang kita ingat didalam Sholat adalah Allah. Kita harus ingat dengan Allah karena dia tuhanta’. Dan Allah itu adalah tuhanta’, itumi jawabanku” Aco mengucapkannya dengan keras.
“bagaimana Ambo te’ne apakah anda puas?” ucap salah seorang yang menjadi moderator.
Dengan senyuman menakutkannya Ambo te’ne berucap “ kalau memang Allah lah yang harus di ingat dalam sholat mengapa beberapa jama’ah ada yang mengantuk saat sholat. Apakah Allah menceritakan sebuah dongeng yang sangat membosankan ketika orang sholat. Dan beberapa jamaah juga sering menggaruk pantatnya saat sholat. Apakah dia mengibaratkan tuhan adalah seekor kutu? Apakah seperti itu persepsi pemikiran umat muslim saat menggambarkan tuhan dalam ingatannya. Dan saya akan kembali kepada pertanyaan dasarnya, mengapa harus Allah yang kita ingat dalam sholat?”
Semua mulut kembali menganga. Semua mata kembali membelalak Dan Aco hanya bisa berucap.
“ ngga kuat, ngga kuat, aku menyerah, aku menyerah. Ambilmi semua layang-layangku, ambil semuami Ambo te’ne. Mengakuma, kaumo jadi rajana”.
Malampun membungkus kejadian luar biasa tadi sekaligus mengherankan. Persawahan sudah gelap gulita, Aco dan Ambo te’ne sudah lama kembali kerumahnya. Wajahnya sudah kembali seperti manusia. Dan sekarang mereka sibuk mempersiapkan segala perlengkapan untuk sekolah besok. Tapi bagi Aco kekalahan telak tadi tidak bisa dia lupakan. Pertanyaan Ambo te’ne terus terngiang dikepalanya. Dan pertanyaan itu sudah mengganggu nuraninya menimbulkan penasaran yang begitu menggelora didalam hatinya. Dia ingin tahu jawaban yang paling tepat dari pertanyaan itu.
Setelah ayahnya Aco baru pulang dari masjid. Aco memutuskan untuk menyakan pertanyaan Ambo te’ne kepada ayahnya.
“ bapak ada mau kutanyakanki” ucapnya dengan sangat sopan sambil tersenyum.
“apa nak, bertanya’ moko?”
“ Siapa sebenarnya itu Allah. Kenapa haruski diingat kalau shalatki orang bapak?”
 “ oooooh, amma’na kesurupangi anaknu, ambilkangi cepat air dingin, na kusapuangi di muka’na.” Mata ayahnya membelalak, seolah baru saja melihat sebuah penampakan yang begitu menyeramkan. Dan ibu Aco dengan paniknya berlari sambil menggenggam segelas air dingin. Dan pertanyaan itu berakhir dengan dugaan Aco baru saja terserang roh halus alias kesurupan. Dan Aco tidak ingin lagi membahas pertanyaan itu dengan ayah dan ibunya.
Tak beda jauh nasibnya di sekolah. Aco sudah dipandang sebagi anak yang aneh. Terakhir kali ia bertanya kepada seorang guru agamanya. Jawaban yang ia dapatkan adalah.
“tobatko anak, sering-seringki baca ayat kursi kalau mauki tidurnah. Jangki lagi bertanya seperti itu. Dosaki itu.” Dan itu sebuah jawaban yang jelas tidak memuaskannya.
Pencaharian akan rasa penasaran itu terus menggodanya. Hampir sebulan sudah dia memikirkannya, membuatnya harus vakum dari pengejaran layang-layang tappu’. Bagaimana mau mengejar kalau semangat sudah tidak ada lagi. Hampir sebulan sudah dia menahan untuk berbicara dengan Ambo te’ne. Egonya masih terlalu besar dari pada kemurahan hatinya. Jadilah dia tersiksa hampir sudah sebulan dia dianggap sudah menjadi anak yang autis. Dan sudah beberapa kali dia dibawah oleh orang tuanya ke para sandro (orang pintar). Karena ayah dan ibunya mengira anaknya dimasuki oleh jin yang sangat kuat.
Hingga di suatu hari yang begitu panas. Matahari kembali bertengkar dengan bulan. Aco berjalan dengan mata yang kosong menuju camp persawahan untuk ngunjung(menerbangkan) layang layang. Unjungannya sudah begitu seimbang. Dan layang layang itu dengan mudahnya terbang dibawah angin. Layang layang itu sudah menari-nari diatas awan. Semakin diolor layang layang itu semakin tinggi. Dan Aco terus mengawasi layang layang itu dengan tajam dan begitu dalam, sangking dalamya muncullah bayang wajah menyebalkan Ambo’te’ne dihadapannya. Namun ia segera menyadarkan dirinya. Kemudian muncullah lagi pertanyaan Ambo te’ne dikepalanya. Namun kembali ia menyadarkan drinya.  Setelah lama tersiksa Aco seolah mendapatkan sesuatu yang membuatnya sangat senang. Dia dengan tiba-tiba berdiri dan berlari meninggalkan layang-layangnya yang terbang liar.
Ternyata Aco berlari kerah rumah Ambo te’ne. Setelah sampai dipintu rumah kawannya itu. Aco berteriak.
“ Amboooo, oooooo, ambooo” sambil mengetuk pintunya.
Dengan senyuman yang selalu menyebalkan dan selalu mengupil dengan jari telunjuk kanannya. Ambo te’ne membuka pintunya. Dan dengan polosnya ia berkata “ ada apa kau kemari Aco” dan kembali tertawa kecil lagi.
“ aku kemari ingin mengambil kembali layang-layang yang telah kau rebut dariku?” ucap Aco dengan semangat kemerdekaan.
“ hehehehe. Kalau kau menginginkan layang-layangmu kembali, maka jawablah pertanyaanku dulu. Mengapa Allah harus diingat ketika kita sholat.” Lalu Ambo te’ne tertawa kecil lagi.
“ setelah kupikirkan begitu lama tertanyata pertanyaanmu begitu mudah. Jawabannya adalah super subyektif.” Aco dengan percaya dirinya menyusun kalimat-kalimatnya.
“ hehehe mengapa bisa super subyektif”
“masing masing orang memiliki jawaban tersendiri ketika diberikan pertanyaan seperti itu. Dan semua jawaban pasti akan benar. Karena ini adalah masalah persepsi pribadi individu.”
“hehehehe lalu bagaimana persepsimu saudara Aco”
“tiada lain yang harus diingat ketika sholat selain Allah. Begitu juga ketika kita bermain layang-layang tiada yang harus diingat keculai fokus menaikkan layang- layang. Karena ketika kita tidak fokus saat menaikkan layang-layang. Maka layang-layang itu tidak akan pernah terbang. Begtu pula dengan sholat ketika kita tidak fokus  mengingat Allah maka secara hakikatnya  kita tidak sholat.”
“hehehehe lalu mengapa harus Allah yang diingat?”
“karena Sholat adalah pemberian Allah makanya hanya dia yang harus diingat ketika sholat. analoginya seperti ini. Ketika aku memberikanmu sebuah layang-layang Jumbo berwarna emas pasti kau akan senang. Maka ketika aku sudah tiada tetapi layang layang pemberianku masih kau miliki maka ketika kau melihat layang layang itu yang akan kau ingat adalah diriku. Seperti itu.”
“hehehe hehehe hehehe “ sungguh tawa ini sangat menyebalkan. Lalu Ambo te’ne berlari masuk kedalam rumahnya dan kembali membawa semua layang-layang yang sudah diambilnya dari Aco. Termasuk tasi gallsa’nya. Dengan tersenyum mereka berdua , berpelukan. Seperti teletubies.

Kemudian cerita selanjutnya Aco dan Ambo te’ne menikah. Dan hidup sakinah mawaddah warahmah. Luarbiasa kan endingnya, hancur. Tapi  ngga usah ambil ceritanya tapi sama-sama kita ambil hikmahnya. Dan hikmahnya adalah Ambo te’ne adalah seorang perempuan ternyata. Hikmah sesungguhnya lebih baik tidak usah dipaparkan. Seorang filosof selalu tau makna yang tersirat. Asyik.
Read More

Senin, 18 April 2016

cerpen Tragedi jalan beraspal "se ekor kucing yang berfilsafat"




Pada pagi yang cerah. Josi masih saja bersandar di ujung tembok. Di bawah bercak warna cat tembok yang terkelupas. Sedang ayam bangkok tetangga sudah bermain dengan nada yang naik turun mencoba menghibur betina-betinanya. Di sebalah kanan pekarangan. Bacca dengan dada telanjangnya yang di ciumi oleh matahari pagi sudah siap lagi menggiring sapi yang kulitnya sama sama kecoklatan. Sapi berwarna seperti itu karena memang bawaan alamnya. Tetapi Bacca berwarna kulit seperti itu karena terlalu ramah menjamu sinar matahari sepanjang bertahta di atas langit. Ia tak ingin bersekolah baginya alamlah pahlawan tanpa tanda jasa yang sesungguhnya.



“hey Josi bangunlah!” Nisa sang gadis kecil menyeru dengan suara keras agar Josi bangun dan berhenti bermalas-malasan.

“Dia kelelahan nak, biarkan saja dia begitu, jangan diganggu”. Seru Ibu Nisa yang mengerti kalau Josi sejak tadi malam memutar otaknya karena berkonflik dengan tikus cerdas yang selalu saja tahu sudut mati yang menjadi kelemahan Josi, si kucing rumahan yang krisis identitas.

Lain lagi dengan Daeng Said, yang berpakaian dinas coklat. Seperti warna alam sapi –sapi Bacca yang sudah sejak tadi berangkat untuk bekerja menghidupi ulat-ulat di perutnya. Sapi-sapi itu juga punya pekerjaan. Sebuah pekerjaan yang menuntut disiplin kerja yang tinggi. Menjadi seekor sapi bukanlah hal gampang. Anda harus tahu menggunakan bahasa cambuk atau Bunyi “huh” dari pengembala. Jika salah saja sedikit dan anda menjadi sapi yang bandel. Kalau tidak dicambuk mati-matian mungkin akan berakhir di atas mangkuk Coto Makassar.

Tidak ada bedanya dengan tuntutan kerja bapak Said sebagai PNS, bapak Said harus tahu bahasa etik dan peraturan pegawai. Dan harus tahu bahasa komando saat upacara. Kalau salah sedikit saja menerjemahkan bahasa itu. Tingkatan level akan semakin susah untuk menaik. Menjadi pegawai rendahan sudah syukur-syukur dapat pensiunan hari menua. Bisa di pecat dan jadi mantan pegawai di negeri para pegawai. Jadi hal yang paling memalukan. Jadi malu karena kalah di siplin dari rombongan Sapi atau Bacca si pengembala.

Dan Josi juga menjadi binatang yang paling disiplin dalam bermalas-malasan. Barulah ia meregangkan tubuhnya saat seekor kucing betina putih meraung kecil di sampingnya yang menatap dengan tatapan tajam khas kucing yang lagi kesal. Josi mengerti dengan tatapan itu. Tapi apalah arti membagi perhatian di dunia perkucingan. Individualisme adalah ideologi yang di pakai dalam dunia perkucingan. Siapa duluan dan jeli dialah yang dapat. Maka tatapan kucing betina cantik itu tak ada artinya. Josi bangun dan meregangkan tubuhnya untuk bersiap mencari makan untuk dirinya sendiri. Sedang kucing betina itu mencari makan untuk dirinya sendiri. Seperti individualisme sederhana diantara interaksisosiologi para kucing. Tapi bagi Josi sikucing Rumahan, Jika tak dapat makan dari pemilik rumah atau pemilik rumah lupa untuk memberi makan maka insting kucing untuk mencari makan akan datang juga. Seperti hari ini, Ibu Nisa lupa mengisi mangkuk Josi karena Nisa si gadis kecil akan mengikuti lomba cerdas cermat di masjid kompleks.

Josi terbangun juga, ia menggetarkan suaranya kearah kucing betina. Dan kucing betina itu lari dengan perasaan bingung tak tahu apa-apa. Ia hanya menuntut pertanggung jawaban Josi yang sudah menghamilinya dengan dua ekor anak kucing yang kini terlantar. Tapi sudahlah, dunia kucing mana tahu dengan hukum moral. Biarlah alam yang bertanggung jawab. Mungkin seperti itulah logika di kepala Josi. tapi apakah Kucing juga berlogika?.

Josi lalu berjalan mendekati dapur dan mengendus bau makanan, tidak ada bau yang menyengat, ada sih, tetapi bau itu berasal dari lantai WC yang baru saja di sikat. Tetapi itu bukan bau yang mengeyangkan. Kucing itu lalu berlari ke belakang rumah nama lain dari meja makan Josi. tapi mangkuk pribadinya juga kosong, tak ada makanan kucing kemasan halal di mangkuk itu.

“ waktu aku masih kanak-kanak, aku masih ingat bagaimana mangkuk ini tak pernah kosong dengan makanan, mulai dari kemasan yang tergambar model kucing yang cantik, sampai susu yang baik untuk tulang tulangku, dan makanan dari hasil masakan pemilik rumah yang spesial penuh cinta dan kasih sayang. Tapi waktu selalu saja pintar membuat lupa dan malas. Sejarah dan masa kini seringkali berparadoks”. Mungkin seperti itulah yang di pikirkan Josi ketika memainkan mangkuk kosong berwarna kuning cerah itu. Secerah sinar mentari yang menyorot jalan raya yang sudah penuh dengan manusia dan suara bising kendaraan.

Di luar rumah mungkin ada sisa makanan. Josi mengarah kesana, tetapi pekarangan rumah bersih dan rapi. Di tempat sampah mungkin?, tetapi pengangkut sampah sudah mengambil isi tong sampah. Josi kalah cepat. Kucing betina memeong dengan nada seperti menertawai Josi. Kucing betina itu memamerkan tulang ikan dari tempat sampah restoran yang masih penuh tadi saat Josi memainkan mangkuk kosongnya sambil mengingat sejarah masa jayanya.

Ia berjalan dari tempat sampah satu ketempat sampah lainnya. Insting perut laparnya memerintahkan ia berpetualang di sekitar tempat sampah. Dan ia tidak sadar sampai ketempat sampah di pinggir jalan raya poros besar. di tempat sampah rumah berwarna coklat itu juga kosong. Dan Josi si kucing gemuk dengan bulu kuning itu keluar dari tempat sampah. Dan alat komunikasi kucingnya tiba-tiba menerjemahkan radar bahaya. Dan ia sadar kalau selangkah lagi ia memasuki daerah rawan dan terlarang. Yakni daerah yang penuh dengan ban karet pencabut nyawa. Mulai dari ukuran paling kecil hingga yang terbesar menjadi alat pembasmi kucing lapar yang tak tahu apa-apa mengakhiri hidupnya di tengah jalan. Padahal seorang bijak yang mungkin pecinta kucing sudah mewanti-wanti “ menabrak kucing akan membawa petaka “ tetapi bagi si pengendara ban karet itu juga punya kata-kata bijak “ kehilangan duit itulah baru di bilang membawa petaka”.

Dari jarak 10 meter dengan jarak pandang terbatas seekor kucing di siang bolong. Josi melihat seekor tikus yang tadi malam selalu memantatinya. Dan ia melihat pantat itu kini tidak lagi bersama badannya. Tikus cerdas itu ternyata terlindas dan mengakhiri hidupnya. Dari bentuk jasad tikus itu. Kelihatannya. Ban karet jenis motor bebek iritlah yang bertanggung jawab. Tapi siapa yang mau meminta pertanggung jawaban. Adakah Sarjana hukum dari bangsa tikus yang mau menuntut. Padahal kasus tikus dan ban karet sudah seharusnya menjadi perkara di persidangan. Tapi adakah pula Hakim yang mau menyelesaikan perkara ini. Padahal hakim itu sendiri juga lagi perang kimia dengan tikus-tikus yang sering memakan kabel-kabel listrik, gabah, dan membuat lubang di sudut-sudut rumah.

Dan lihat ban mobil yang lagi parkir di depan supermarket itu. Ada kepala ayam yang tersenyum  menempel di peleknya, kelihatannya ayam itu sadar sedetik ketika ia akan terlindas, waktu sedetik yang di manfaatkannya untuk tersenyum biar kelihatan keren diakhir hayatnya. Lalu lihat banyak bulu putih di body mobilnya.dan kepala ayam yang lebih banyak lagi. Kelihatannya mobil ini memang mobil malaikat pencabut nyawa di jurusan nyawa bangsa ayam. Mobil yang bertuliskan “Ayam potong” itu menegaskan identitasnya.

“Dan lihat hei, itu Boy si anjing pergudangan memandang kearahmu Josi” aku bermaksud memperingati Josi. tetapi Josi apalah tahu dengan isi cerita ini. Anjing jenis penjaga pergudangan. Adalah anjing yang galak. Josi dan anjing pergudangan yang bernama Boy itu sudah lama melakukan perang dingin. Pemilik rumah Josi bekerja di gudang itu. Dan Josi di pelukan pemiliknya selalu aman untuk menertawakan nasib Boy yang selalu terikat dengan rantainya. Tetapi kali ini tak ada rantai di lehernya. Boy bebas untuk membalaskan dendamnya. Dan Josi tidak menyadarinya.

“Piiiiiiiippppppp” dan suara decitan dan bau karet menyengat menjadi situasi setelah deskripsi menganai Boy dan Josi yang singkat barusan. Apa yang terjadi?. Lagi-lagi Ban karet pencabut nyawa itu kembali mewarnai jalan beraspal dengan warna merah dari darah Boy yang begitu singkat ceritanya di dalam cerita ini. Josi ikut menoleh. Dan ia mendapati mayat Boy yang tidak lagi beraturan. Josi menatap dengan tatapan kucing yang bersedih yang bercampur aduk dengan perut lapar dan sebuah di lema kenyataan nasib para binatang yang dekat kehidupannya dengan eksistensi manusia yang semakin menggila. Josi bersedih mendapati dua musuh bebuyutannya mengakhiri hidup di jalan beraspal yang begitu kejam dengan warna hitam dan kelam itu.

Josi lalu berfilsafat. Bahwa puncak pemangsa atau raja hutan kini beralih kepada raja Jalanan. Raja abal –abalan yang menaiki takhtanya tanpa melewati perjuangan alam dan konflik suku yang berdarah-darah. Siapa saja yang punya kendaraan bermesin maka itulah raja jalanan. Raja hutan di sini tak berlaku wibawanya. Sekali tabrak dengan kecepatan 80 km/jam maka habislah masa jabatannya. Ban karet dan manusia pemburu duit raja jalanan abal-abalan itulah pemangsa yang paling di takuti. Karena di negeri yang berkembang ini. Apalah artinya nyawa binatang macam bangsa anjing, kucing ,apalagi tikus apalagi bangsa serangga macam kecoa yang nasibnya terstigma sebagai bangsa rendahan menjijikkan di kepala manusia kebanyakan.

Apalah arti nyawa kucing dan Boy si anjing gudang itu di kepala manusia yang fokus dengan warna hijau. Yang artinya jalan terus sehingga tatapannya hanya di penuhi dengan warna hijau (Dollar) kami yang selain warna hijau tidak lagi di lirik. Mati atau hidup kami bukan jadi persoalan mereka, yang jadi persoalan makan atau tidak makan itulah yang ada di kepala mereka. Para manusia lapar mana mungkin memperhatikan banga di luar spesiesnya. spesies sendiri saja ikut di makannya. Manusia lapar di tambah Kanibal mana bisa menjadi raja pelindung kami.

Dan aku pernah mendengar. Pertengkaran manusia karena kasus kecelakaan yang menewaskan anak kambing. Pertengkaran antara pemilik kambing dan pengendara mobil pribadi. Kasus itu runyam. Karena pemilik kambing menuntut ganti rugi dengan logika yang ketat yang sampai menuntut ganti rugi akibat masa depan anak kambingnya yang ikut tercabut. Anak kambing yang berjenis kelamin betina itu bisa saja menjadi betina yang subur. Begitulah logikanya. Karena tidak mau saling berkeadilan maka kasus itu menjadi perkara di pengadilan.

Tapi apakah itu bentuk perhatian mereka untuk bangsa kambing. Tidak saudaraku semakhluk seciptaan Tuhan. Kambing itu mendapat perhatian. Karena pemilik kambing melihatnya sebagai pundi-pundi emas. Kalau itu menghasilkan uang barulah di bela habis-habisan. Sampai di bawa kepengadilan saudara. Lihatlah bagaimana norma dan moral manusia itu kini bukan lagi di bentuk oleh suara Tuhan tapi di bentuk oleh kepentingan Ego manusia itu sendiri. Benar-benar tak bermoral.

Padahal kami selalu berada di sekitaran mereka. Ada sih hukum moral di dalam rumah orang kaya dan pecinta binatang. Itupun hanya sebatas bagi binatang yang di anggap bersahabat dan berwajah lucu dan imut yang bisa di pakaikan baju –baju aneh yang merendahkan martabat hewan yang tidak mau disamakan dengan manusia lapar tadi. Bulu dan kulit kami adalah hasil alam yang paling berestetika, dan kami puas dengan alam. Sangat sedikit manusia yang mencintai binatang bukan karena dirinya dan common sense (apa yang di katakan masyarakat umum). Hanya ada secuil manusia yang berkepribadian Tarzan di muka bumi ini. Dan itulah raja kami yang sebenarnya. Lupakan Sulaiman. Yang seringkali kalian ceritakan sebagai raja kami. Beliau hanya tahu bahasa kami dan itu keuntungannya. Seandainya ia tidak di karuniai otak yang bisa menerjemahkan bahasa binatang. Mungkin saja kerajaan semut itu akan hancur lebur. Tapi Tarzan sebelum masuk kota mengerti kami lewat insting kehewaniannya. Serasa dan sehati. Meski tanpa harus mengertii bahasa kami. Kami merindukan Tarzan-Tarzan dari kota yang menyelematkan kami dari manusia-manusia lapar dan tak berperikemanusiawian.

Tapi hey. Josi si kucing rumahan yang lagi lapar ini tak mungkin berfilsafat. Manusia yang punya sel otak kritis itulah yang mampu berfilsafat. Kebijaksanaan adalah universal yang melewati ruang spesies dan genus. Josi adalah salah satu binatang yang mewakili binatang-binatang yang selama ini jarang hadir di kepala manusia yang katanya berakal dan beriman. Mereka telah menjadi pendamping hidup dan mereka sedang mengalami krisis identitas dan sedang berproses menyesuaikan diri.


Lalu kemanakah Josi kini mencari makan. Ternyata pemandangan jalan tragis itu membuatnya kehilandagan nafsu makan kekucingannya. Kehilangan sahabat-sahabatnya membuat kenyang dengan perasaan sedih. Ia lalu pulang kerumah dan kembali tidur di susudt rumah di bawah cat yang terkelupas.
Read More

Selasa, 05 April 2016

Menenonton Drama Paradoks Nabi Ayyub dan Count Dracula.


Saat Ayyub secara tragis mengikuti permainan Tuhan. Atau itu adalah pertaruhan Tuhan dan lawan politiknya. Sebuah judi spritual bahwa Ayyub adalah manusia yang substansial. Permainan itu mencabut seribu domba di pekarangan rumput hijau yang luas.  Ayyub menyaksikannya dan ia bersabar. Lalu Rumah yang megah menjadi gubuk yang lalu tertiup angin dan akhirnya mereka beratapkan langit dan kesengsaraan. Ayyub tetap Sabar. Lalu anak-anak yang muda kembali kerumahnya tapi rumah itu telah tiada maka anak-anaknya itu juga tiada. Ayyub tetap bersyukur.  Lalu kulitnya yang bersih dan tampan itu menjadi rumah ulat yang ramah bertamu dengan rakus. Dan Ayyub sebagai penjamu ketika melihat ulat terjatuh dari kulitnya. Dengan mulia mengembalikan ulat itu ke tempatnya dan ulat itu berpesta di kulitanya yang sudah borok memperlihatkan tulangnya. Sampai kemudian ia di tinggalkan oleh permaisurinya kecuali satu yang hampir putus asa. Ayyub lewat kesengsaraan dari permainan Tuhan itu menjalani Hidup seraya membayangkan Nirwana dan taman bunga yang membahagiakannya berharap dari kesabaran itu ia berkata Cinta kepada Tuhanku adalah segalanya. Dan rasa sakit ini tak sebanding dengannya. sampai di sini ia menjadi Nabi. Manusia yang paripurna dari kesengsaraan dari sebuah ketragisan dan sebab yang sepele yaitu “menguji”.


Dan di sana di Transelvenia, ada manusia yang kalah dari permainan yang berjudul “menguji” itu. Tak seperti Ayyub yang di desain sebagai manusia yang berhati baja. Pangeran Dracula menyaksikan kesengsaraan dirinya dengan teriakan proklamasi memberontak terhadap permainan Tuhan. Ia sampai kepada keputusan itu setelah di pertontonkan sebuah tragedi dari sandiwara para penghuni langit. Di saat ia ingin melindungi anaknya dengan kebijaksanaannya. Musuh membunuh anak yang lain. Dan ia peka. Saat ia ingin melindungi warganya yang tersisa dengan segenap daya kekuatannya istri tercinta malah meninggalkannya. Padahal ia sedang dalam posisi membela kemanusiaan. Lalu proklamator itu membahana dan mendidihkan darahnya. Menjadi naga yang menantang langit seraya menjadi penghisap darah yang terus kehausan. Dialah Dracula sang naga yang ingin menggoyahkan langit.

Sampai disini paradoks itu muncul. Dan Tuhan terserang pertanyaan radikal. Adakah Dia pernah memahami sang Dracula seperti ia memahami Ayyub?. Dracula hanya korban dari ke utopisannya terhadap manusia yang lemah. Ia memilih kemerdekaan sebagai manusia yang kuat. Manusia yang menantang Tuhan. Sedang Ayyub hanya manusia yang menunggu kebebasan dari jeruji tutup botol seraya Tuhan datang membuka tutup botol itu. Tetapi Dracula meledakkan botol dan ia menumpahkan air dari botolnya.

Dracula menghisap darah korbannya dengan perlahan seraya ia ingin mengerti bagimana Tuhan itu mematikan istrinya. Dan ia tahu kematian itu sangatlah menyakitkan. Ia menjadi Dracula karena manantang kematian dan ingin menjadi manusia yang abadi.

Ayyub dan Dracula adalah manusia pengingat paradoks antara manusia yang menekan akal dan manusia yang membebaskan akal.  Tetapi apakah ini benar? Ayyub selalu berusaha untuk selalu mengedepankan iman. Dan Tuhan yang ia imani menempatkan dirinya sebagai aktor protagonis yang menjadi manusia yang merasakan happy ending dari sandiwara yang pilu itu. Dan Dracula yang selalu merasionalkan ketragisan yang di hadapinya lalu memlih untuk menjadi idealis antagonis dan seorang utopian tingkat tinggi yang memiliki keimanan yang melewati iman. Sebuah keimanan terhadap ketidak gunaan “Iman, Agama, Cinta dan Tuhan”. Seraya ia menyerahkan dirinya dalam kesabaran. Yakni kesabaran untuk menjadi manusia yang jahat, yang di benci, yang siap untuk di bunuh oleh manusai pendendam dan punggawa Tuhan yang menegakkan kebenaran dari Sandiwara Tuhan yang statis. Dracula ikhlas menjadi model Dewa yang sewenang wenang itu.

Apakah kita harus menyalahkan sang Dracula?. Dan kita setuju bahwa kesabaran di sayang Tuhan?. Ayyub telah menjadi nabi.  Dan Sang Dracula telah menjadi pemberontak Tuhan yang rela menjadi karikatur dari pembunuhan diri. keduanya hanya menjadi korban dari Tuhan yang memiliki otoritas sebagai Sutradara dari sandiwara Tragedi.

Ayyub adalah model bunga dengan warna yang cerah. Yang menggoda perempuan untuk menghirup bau harumnya. Sebuah bunga yang memanjakan mata dan perempuan menikmati bunga itu dengan senyuman mereka yang begitu menggoda. Sedang Dracula tahu menjadi Bunga yang bermekaran dalam kegelapan. Tak ada perempuan yang melihat mekarnya. Tapi perempuan itu mencium bau busuk. Dan ia memilih menghindar dengan wajah jijik yang tak menyenangkan. Padahal Ayyub dan Dracula adalah dua bunga yang sama bermekaran. Tetapi perempuan itu terlena dengan apa yang hanya di atas bayang.

Ayyub menjadi  manusia yang katanya menang karena telah ingat mengikuti hukum alam. Ia ingat bahwa Hukum alam tak berperikemanusiaan karena ia adalah alam dan manusia tunduk kepadanya. Dracula sudah lupa dengan aturan alam itu. Bahwa manusia memang pasti akan mati. manusia dalam bentuk apapun itu akan terpisahkan dari alamnya. Sang Dracula juga lupa bahwa Istri yang di sayanginya masih dapat ia peluk dan warganya masih dapat ia cintai.

Tetapi sang Dracula telah menunjukkan kemirisan dari sandiwara hidup ini. Ketika apa yang kita anggap adalah musik yang merdu malah menjadi musik horor yang menakutkan. Tetapi pertunjukan itu terus berjalan dan muncullah Ayyub yang terus menjadi dan sang Dracula yang terus menjadi. Dan paradoks dari dua manusia ini serta segala bentuknya mengalami kesenjangan yang dalam. Dan apakah kita patut mengadili mereka. Sedang kita pun tak tahu di posisi manakah kita berperan di dalam drama tragedi ini.

Ayyub adalah manusia yang mulia yang melihat kesengsaraan dengan kaca mata transendental dan imanen. Sedang Dracula adalah manusia utopis yang berusaha menghilangka segala kesengsaraan hidup ini. Tetapi ia tak sadar bahwa ia telah keluar dari dunia itu dan berdiri pongah di luarnya seraya membacakan sebuah revolusi dan tekadnya untuk menjadi Sutradara yang mandiri.

Dracula hanya lupa bahwa Agama memang tak selamanya memuaskan. Tuhan memang seringkali mempermainkan, dan Cinta seringkali membingungkan. Tetapi selalu ada tempat untuk bersyukur. Kesyukuran memang kadang menjadi ilusi. Ilusi yang begitu menghadirkan keindahan dramatis. Bagi manusia yang sinis dan skeptis pemberani. Bagi suatu logika yang pedih dan getir. Dan bagi manusia yang telah bercerai dengan keyakinan dan harapan. Syukur memang hanyalah sebuah ilusi yang tidak akan bisa mengatasi kematian.

Tapi lihatlah dan luaskan lah matamu Dracula. Bahwa tak selamanya jika A itu adalah kesengsaraan maka tidak selamanya B,C,D menjadi kesengsaraan pula. Lihatlah angin yang menyeka segala getir pohon yang tabah menghadapi matahari. Lihatlah pantai yang sabar mengahadapi ombak laut yang ribut. Dan lihatlah air terjun itu memilih kebawah. Tapi bagi sang proklamator yang penuh dengan hasrat antagonis itu. Isyarat alam tak lebih dari sebuah ilusi. Dan di sanalah paradoks yang tragis dan menyedihkan ini begitu kentara. Dan kita tetap tak dapat menjadi manusia yang mengadili. Dracula dan Ayyub adalah manusia yang beriman dengan imannya. Mereka adalah manusia yang penuh dengan kejujuran.

 Drama paradoks ini telah menampar topeng yang menghalangi wajah kita. Yang terus berpura pura menjadi remaja yang pubertas. Belum juga ingin beranjak dari kelabilan peran. Untuk menjadi manusi Dewasa dan menjadi penghadap kejujuran. Apakah ingin jujur dan berperan di bawah cahaya seraya telanjang di depannya. atau menjadi manusia jujur yang berperan di belakang bayang kegelapan. Berteriak dengan jujur menjadi pemberontak kemanusiaan yang menghamba.


Demikianlah. Titik terakhir dari sebuah mistar yang selalu di abaikan sebagai bagian yang terlupakan dari mistar. Mata hanya tertuju pada titik tengah. Dan yang pinggir menjadi terpinggirkan. Padahal dari pinggirlah kita menuju ke tengah. Titik pinggir sebuah mistar adalah bagian dari mistar. Dan marilah kita mengukur kehidupan.
Read More

Kamis, 24 Maret 2016

Mata Pekat Ibuku ketika bersandiwara


Pada garis horizon di ufuk timur. selambat mungkin matahari melukis cahaya di permukaan bumi yang berputar mengelilinginya. Ketika ayam berkokok dan seekor jangkrik terakhir kehabisan bunyinya. Manusia-Manusia KIMA terbangun dari mimpi panjang dan lelahnya.


Di dalam otak kecil mereka, adalah bersiap untuk tepat waktu dan menanti akhir pekan kapan datangnya?. Ibuku adalah salah satu budak waktu. Aku liat wajah cantik rupawannya  pekat setelah tidur panjangnya. Pagi ini setelah sholat subuh di ujung malam, dapat kutebak ibuku akan bergelut kembali dengan pekerjaan di dapur demi mengisi perut dua lelaki yang ia sayangi. Aku dan ayahku. Jika ibuku tidak di cundangi oleh waktu ia sempatkan diri untuk memoles lantai dengan terburu-buru. Segala pekerjaan yang ia sempat kerjakan pagi ini tidak boleh di ambil alih dengan tersirat. Tapi kadang aku memaksa melihat matanya yang sayu. Sebelum melewati batas dayanya. Aku mengambil alih kesibukannya. Sedangkan sang kepala rumah tangga menyibuki diri dengan segala objek yang menganggu di luar rumah.

Wajah matahari yang sudah tampak dengan jelas. Mengisyaratkan tidak ada waktu lagi bagi siswa SD-SMA untuk berada diluar gerbang sekolah. Mereka sudah harus duduk di dalam kelas dan tertunduk oleh kurikulum yang tidak masuk di akal para siswa yang sering memanjat pagar.

Pada waktu yang bertepatan, ibuku sudah cantik dengan bedak tipisnya dan gincu merah yang berusaha memudakan umurnya di luar sana, di pinggir jalan raya Segala jenis kendaraan telah membawa manusia kepada tujuannya. Ada yang terburu-buru karena gerbang perusahaan hampir tertutup. Ada yang sedang mengejar sayur dan ikan yang masih segar di pasar Daya. Ada yang sangat santai karena tak punya pekerjaan atau menjadi manusia yang bebas atau mereka adalah PNS yang nakal.

Jalan kapasa raya, adalah jalan pertunjukan drama manusia-manusia yang bersandiwara. Jika anda sempat memperhatikannya, semua manusia telah memiliki peranan yang harus mereka mainkan. Jika tidak di mainkan maka ia harus hancur secara sosiologis ekonomis. KIMAsisasi adalah panggung sandiwara mereka yang resmi di mulai dari suara sirine panjang di pagi hari dan berakhir pada suara sirine kedua di sore hari. Jika Sandiwara itu memiliki banyak aktor yang tak kenal lelah maka akan terus berlangsung tanpa ada hentinya. Panggung Sandiwara yang terus berputar mengikuti putaran Bumi yang Heliosentris. Bumi yang juga kalah oleh putaran panggung kecil ini. Bumi yang berlubang oleh perang manusia berlubang.

Dengan baju kerja yang cantik dan rapi yang berasal dari tiga bulan bekerja, dan hasil keberuntungan kocokan arisan. Ibuku berjalan ke tempat kerjanya. Kata terlambat dan kata lima menit lagi adalah kata-kata yang begitu sakral untuk di langgar. Kedisiplinan sebagai manusia yang di pekerjakan oleh orang Indonesia KW itu juga akhirnya menjadi kurikulum pendidikan kanak-kanak dari orang tuaku. Jam dinding yang terletak di tiang pusat rumah. Adalah pusat eksistensi keluarga ini.  Telah kami tetapkan kapan harus berangkat dan kapan harus makan dan kapan sinetron kesukaan kami di tayangkan. Putaran pada jam itu, putaran pada panggung KIMA dan putaran pada Bumi adalah putaran yang paling bertanggung jawab pada urat nadi eksistensi keluarga ini.

Sebelum suara sirine setiap perusahaan berbunyi. Ibuku sudah Cheklog di pos Security. Biasanya lima belas menit sebelum ibuku menjadi robot. Ada moment di mana para tukang ojek sibuk berlalu lalang. Ada di mana pula wanita paruh bayah dengan baju sederhananya berkumpul dan berjalan bersama menuju tempat kerjanya. Dan ada banyak wajah yang dengan tatapan kosong menunjukkan sebuah kelelahan fisik dan batin. Seolah wajah itu berkata “adakah sehari sebelum kiamat aku bisa menjadi orang kaya”. Kehidupan ini sungguh miris.

Apabila anda pula menyempatkan diri untuk melebarkan iris mata, melihat kesibukan peranan di panggung KIMA dan sekitarnya. Anda akan menyadari bagaimana pergerakan kita di atur begitu rapi oleh Dollar. Mereka sibuk dan menghabiskan waktu produktifnya untuk memperolah tanda yang jelas, tetapi di sana pada cita-cita itu. Kemiskinan diri juga menjadi cita- cita di bawah bayang otak. Hingga tak terpikirkan. Hingga terjadilah kesenjangan diri dan di lema amnesia yang tidak di sengaja.

Apakah ibuku juga korbannya? Setelah suara sirine berbunyi ibuku kembali duduk di kursi pesakitannya, di dalam ruang penjara yang berjeruji dan memikirkan nasib pekerja lainnya. Harus kujawab bahwa ibuku juga adalah korbannya. Dan nasib buruk itu berdampak kepadaku. Aku lah tokoh kausalitas utama pada tragedi eksistensi ibuku. Setelah di lahirkan ke bumi. Ibuku  sebab ingin menghidupi, merawat, dan melihat anaknya berpenghasilan tinggi. Akibatnya bekerja di perusahaan kayu adalah pilihan yang paling kejam untuk di pilih. Tak ada selain itu saat ini. Seraya berdoa kesialan tidak menghampirinya.

Di manakah sang Suami? Ayahku tercinta. Beliau adalah manusia yang kalah dari perputaran setan mata uang Dollar. Belasan Tahun yang lalu kebebasan yang tragis di perolehnya. Namun beliau tahu bahwa kebebasan itu adalah isyarat dari sebuah pertanggung jawaban untuk menjalani peranan yang lebih berat dan menyakitkan. Seingatku. Selama aku tumbuh sebagai manusia. aku menyadari Ayahku sering berganti peranan yag menuntutnya untuk selalu tepat waktu. Aku tumbuh lewat ajaran dan perjuangannya yang tak kenal lelah itu. Ketakutan yang artinya lebih dekat kepada rasa Hormat telah tertanam dan terbentuk sebagai suara hati. Aku lebih takut kepada Ayahku dari pada setan yang bergentayangan di akal manusia yang penakut. Sebuah kekecewaan dan wajah yang sedih adalah kiamat dan pencabutan nyawa untukku. Dengan kerja serabutan dan waktu yang sudah mulai di tebak-tebaknya kapan habis. Ayahku menjadi kini bekerja sebagai konsultan keluarga kami.  Sebetuan Konsultan itu adalah sebutan yang paling bijak.


Dengan kenyataan itu, peranan yang kumainkan akan penuh dengan resiko yang memang telah muncul di setiap tulang yang berkembang di dalam tubuhku. Tulang tanggung jawab pada keluarga bisa patah kapan saja. tetapi kisah ini akan terus berlanjut. Perputaran setan ini akan terus di mainkan. Dan panggung Sandiwara terus menghegemonikan kehidupan di bawah langit KIMA yang berlubang. 
Read More

Rabu, 24 Februari 2016

Psikologi sepakbola Sawah "menebak kehidupan percintaan seseorang lewat sepakbola Sawah" (Cerpen Filsafat : Kisah Aco part 6 ).




sepakbola sawah
www.kaskus.com

Sore ini adalah sore yang bersahabat. Matahari yang mengantuk akan segera terlelap di ujung horizon, dan sebelum sore ini berakhir akibat kedatangan ibu Bulan yang cantik. Aku dan Bolong datang ke sawah Daeng Bundu yang sebulan lalu baru saja di panen. Hingga biasanya tanah yang lagi nganggur ini menjadi tempat untuk bermain sepakbola. Mendirikan gawang dadakan yang terbuat dari bambu tua liar atau bambu bekas “Baraccung”. Hanya bermodalkan sawah dan gawang, maka bagi kami itu sudah sah di sebut sebagai lapangan sepakbola. Dan kami bermain di atasnya setiap sore hingga musim barat datang lagi.

Dikala gagal cinta, permainan sepakbola bisa menjadi pelarian sementara untuk melupakan segala renungan –renungan malam yang menyiksa. Aku harap seperti itu. Sepakbola bisa membuatku kembali bersemangat. Sepakbola bisa mengajarkanku ketabahan dan kesabarn untuk meng-gool-kan cintaku kedalam gawang hati Aurorah. Dengan skill samba yang berliku-liku.

Aku hampir hafal mati tentang tetek bengek permainan sepakbola. Tentang formasi 4-3-3 model menyerang dan permainan taktis. Atau 4-4-2 ala Alex ferguson. 5-3-2 seperti benteng kuat Italia. Atau permainan menyerang tiki-taka ala Barcelona. Namun di lapangan sawah seperti ini formasi yang paling cocok adalah formasi power rangers yang bisa berubah-ubah atau formasi Sparta Pasukan perang Yunani di mana anda harus melindungi semua bagian tubuh anda, karena kalau tidak, anda bisa pulang dengan luka lebam yang cukup banyak dengan bentuk yang imut. atau terakhir adalah formasi kaki ayam. Formasi yang lebih terfokus untuk melindungi tulang kering kaki, karena formasi ini banyak di pakai oleh tim yang memiliki “bangkeng Tongolo( kaki yang tuli)”. Dan ketika kaki anda terluka, maka pemain lain akan mengatakan “banyakji kaki ayam”.

Mungkin anda berpikir bahwa sepakbola sawah tidak memiliki aturan. Namun tunggu dulu, anda jangan terburu-buru untuk menyimpulkan. Dalam sepakbola sawah. Wasit hanya muncul pada pertandingan tujuh belasan atau pertandingan antar RW dengan hadiah satu dos Mie Instan dan denda kartu kuning yang selalu gratis dan kadang amat jarang di keluarkan. Karena sekali pelanggaran hanya kartu merah yang keluar. Tetapi sekeras apapun permainan sepakbola sawah. Kami di ajarkan sebuah filsafat analisis diri dan hasrat kuasa. Dimana sebuah kekalahan adalah hal yang paling terharamkan dalam Fiqih sepakbola. Karena super Ego semacam itu, hingga berbagai carapun di tempuh agar tidak kebobolan. Dan lewat permainan sepakbola sawah ini, kita pula di ajarkan teori Demokrasi Abraham Lincoln yang mengatakan bahwa “ pemerintahan berasal dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat” dalam permaian sepakbola Sawah demokrasi itu berbunyi “ keputusan pelanggaran, berasal dari keputusan pemain mayoritas, oleh keputusan pemain mayoritas dan untuk keputusan pemain mayoritas.” Jadi jika anda handball (bola menyentuh tangan anda ) dan suara pemain seimbang untuk memutuskan apakah itu pelanggaran?, di tambah pemain yang terduga Handball selalu punya Alibi dengan menghapus bukti bekas bola di tangannya, maka tak jarang permainan sepakbola sawah berubah menjadi ring Smack Down. Inilah yang kusebut sebagai formasi Power Rangers. Permainan yang damai bisa berubah seketika menjadi kacau balau.




Sekarang saatnya untuk masuk kedalam lapangan. Tidak ada pemanasan atau lari-lari kecil. Kami akan panas dengan sendirinya kalau sudah bermain. Namun izinkan aku menjelaskan secara lanjut filosofi sepakbola yang mungkin bisa menjadi semacam ukuran psikologi manusia. ini disebut psikologianalisa sepakbola babi buta. Silahkan menyaksikan.



“ Pasui, kamu yang jadi kipernah” Gondrong yang selalu ingin menjadi diktator menunjuk Pasui untuk menjadi kiper.

“ ah, nda mauja saya deh,” Pasui menolak dengan wajah yang jijik seolah alergi dengan posisi itu.

“ Kau mi saja Pudding” lalu melimpahkan perintah itu ketangan Pudding yang seolah tak mendengarnya.

“kaumo Pasui ?” Gondrong kembali menggodanya.

“nda mauja saya deh, atau kaumo Aco, pintarjoko tangkap bola,” kini aku yang menjadi pelariannya. Tapi aku ikut memakai cara Pudding, seolah tak ada suara yang menyebut namaku.

Penentuan untuk siapa yang menduduki posisi kiper akan selalu berlangsung lama. Jika ini di lanjutkan hampir semua pemain akan menjadi pelarian Pasui. Lalu pertanyaannya mengapa posisi Kiper itu amat menakutkan.?



Jika di analisa lewat pembagian kelas. posisi Kiper menjadi posisi yang paling terbawah. Ia ibarat masyarakat menengah kebawah yang selalu tertindas. Karena dalam permainan sepakbola. Khususnya permainan sepakbola sawah, Kiper menjadi semacam “parappung bola ( anak gawang )” yang melelahkan. Selalu terjatuh dan banting tulang menghalau agar gawang tidak kebobolan tetapi jika bola sekali lolos saja. selalu kiper yang menjadi kambing hitam. Atau semacam anak tiri yang selalu tersiksa. Tetapi jika ia menunjukkan permainan yang gemilang yakni permainan menangkap bola dengan jungkir balik. Melipat badan untuk terbang keangkasa. Maka kiper akan mendapat sorakan dan tepuk tangan yang membahagiakan. Tapi setelah itu dia kembali di telan bumi. maka sekali lagi, kiper adalah posisi yang sangat membosankan. Karena ketika tim menang,  usaha kiper jarang di sebutkan.

“saya pa pale yang jadi kiper tapi ganti-gantian ki nah “ namun Pasui tahu bahwa kata ganti-gantian itu akan berubah menjadi permanent dan abadi. Dia tahu akan berposisi kiper untuk sepanjang masa.

Maka mudah di tebak. Seorang manusia yang berposisi kiper adalah manusia yang penuh dengan kesabaran, tawakkal, pekerja keras. Sedang dalam kehidupan percintaan. Seorang lelaki yang berjiwa kiper adalah laki-laki yang akan melindungi kekasihnya dengan sepenuh kekuatan dan daya yang di milikinaya. Seperti Pasui yang berusaha sekeras untuk menghalau bola yang akan membobol gawang kekasihnya. Pada setiap masalah dalam hubungannya. Laki-laki yang berjiwa kiper adalah laki-laki yang sabar dan menerima apa adanya. Pasui yang terus berdiri di bidang garis gawang. Itu membuktikan bahwa ia adalah laki-laki yang paling setia. Atau manusia Kiper adalah laki-laki yang cocok untuk melanggengkan hubungan percintaan.

“Tepoki Bolong, patahkan kakinya.” jika kami berteriak seperti ini, itu karena bolong sedang berposisi sebagai Beck atau Stopper. Secara etimologi Stopper berasal dari bahasa Inggris “stop” yang berarti berhenti lalu disebut stopper yakni pemberhenti. Maka seseorang berposisi sebagai stopper adalah manusia yang menyerahkan segala tubuh, jiwa dan hidupnya sekalian untuk menjadi lampu merah. Haram hukumnya dia di lewati. Karena itu Stopper selalu menjadi momok menakutkan karena anda bisa saja mendapat bengkak di tulang kering. Ketika stopper itu adalah “bangkeng tongolo” maka anda harus siap-siap di langgar dengan tindak kriminal yang berat. Permainan tanpa wasit, Sebuah sleding yang menakutkan akan di legalkan.

Maka bisa di gambarkan secara singkat bahwa seorang stopper adalah manusia keras kepala, tegas dan disiplin. Ia dalam otoritas bisa menjadi seorang pemimpin yang tangkas. Seringkali dalam permainan sepakbola internasional. Seorang stopper sering di labeli Capten. Tetapi di satu sisi . Stopper bisa menjadi manusia badut yang menjadi titik objek tertindas dan malah lebih tertindas di banding seorang manusia kiper. Itu bisa terjadi ketika ia bertemu dengan seorang Striker yang lincah dan lebih cepat darinya. Maka ia akan kelihatan mengejar pantat lawan saja. dalam kehidupan percintaan. Seorang Stopper harus menghindari perempuan yang berjiwa Striker. Apapun dan bagaimanapun keadaannya. Karena anda bisa menjadi keledai cinta. Sebuah ketidak hormatan diri, di mana anda akan selalu di selingkuhi tanpa anda sadari.

“Umpan ketengah, kuasai permainan”

Umpan ketengah, itu berarti bola akan di oper ke pemain tengah, biasa di sebut gelandangan atau nama internasionalnya di sebut sebagai playmaker. Pemain yang berposisi sebagai gelandang haruslah memiliki kemampuan multiskill. Selain dapat menguasai bola dengan baik, ia sekalikus harus mengumpan, menyerang dan bertahan sama baiknya. Hingga playmaker sering di sebut sebagai jantung permainan. Namun salah sedikit saja, atau gelandang tidak bisa menguasai lapangan. Maka posisinya bisa berubah menjadi gelandangan, pemain pemburu pantat lawan yang selalu kehilangan bola.
Kalau dalam kehidupan percintaan, lewat gerakan gelandang yang harus selalu lincah. Maka hati-hatilah dengan manusia yang berjiwa gelandang. Asal kata playmaker amat mirip maknanya dengan playboy. Play maker yang bisa berubah posisi kapan saja. Menyimpulkan argument bahwa manusia tipe playmaker agak susah untuk setia. Ketika ia ingin mengumpan kedepan, padahal ia sebenarnya ingin mengumpan kesamping. Itu sama saja maknanya ketika ia mengatakan cinta kepadamu ia sebenarnya juga mengatakan cinta kepada perempuan lain. Tetapi kepribadian positif dari play maker. Adalah kreativitas yang tinggi yang bisa menimbukan sebuah keromantisan mesra yang akan membuat anda berteriak “ huuu so sweeeet.” Tapi sekali lagi hati-hatilah dengan tipe manusia playmaker ini.

“ ayo lariko Gondrong.”

Untuk seorang yang memiliki kecepatan lari. Ia amat cocok untuk berposisi sebagai sayap, sayap kiri atau sayap kanan. Kata sayap sendiri untuk seekor burung amatlah penting untuk menjelajahi horizon dan membelah awan. Sedang dalam permainan sepakbola. Sayap adalah posisi untuk menjelajahi bidang lapangan lawan dan menghancurkan dengan belahan sayap yang tajam.
Sedang dalam kehidupan percintaan, seorang yang berposisi sayap adalah seorang yang ngotot dan terburu-buru. Tetapi sekali memilih putusan maka dia akan setia dengan keputusan itu. Seperti kala ia memlih untuk ke kiri, maka ia akan kekiri dengan variasi gerakan yang biasanya indah dan menjadikan stopper bermuka badut. Pada formasi 4-3-3. Sayap amat sangat di butuhkan. Dalam kehidupan percintaan yang membutuhkan ketaktisan. Manusia bersayap bisa membawa anda terbang kemana-mana. Ia biasanya setia, tetapi grafik kehidupannya seringkali naik turun. Macam gerakannya yang selalu naik untuk menyerang. Dan turun ketika di serang.

“ ya tembakmi. Kasi’ golmi”.

Otoritas menggolkan adalah milik Striker. Ujung serangan yang paling dekat dengan bidang gawang lawan. Dengan semua bagian tubuh, kecuali yang ilegal (tangan sekaligus lengan ) selalu di gunakan untuk menggolkan.

Dalam hubungan percintaan, atau seseorang yang baru dalam proses ingin menjalin hubungan seperti aku. Maka posisi Striker bisa menjadi motivasi. Dengan segala cara, Striker akan berusaha keras untuk memasukkan bola ke gawang lawan untuk memberikan kemenangan kepada timnya. Manusia striker adalah manusia penyerang yang ngotot, cerdas, creative dan tahu menempatkan diri. Dalam percintaan atau sedang dalam masa menjalin hubungan. Manusia striker adalah pasangan yang selalu berusah membuat anda senang. Dia punya tujuan dan akan setia dengan tujuan itu.


“Goooooolllllllll” lalu kami berteriak ketika Pudding berhasil membobol gawang lawan.


Sekarang pertanyaannya. Dimanakah posisiku. Dengan pengetahuan sepakbola yang menurut saya bisa di nilai A dan cerewet lalu sempat menolak untuk jadi kipper?.

Jawabannya adalah cadangan mati. Seperti dalam kehidupan percintaanku, selalu gagal memposisikan diri, bukan striker,playmaker,sayap, stopper, malah kipper juga tidak. Cadangan mati dengan tertolak secara kuadrat. Memang cocok untuk menyebut posisiku saat ini. Sungguh ironis. Galau berkali-kali lipat.



Read More

Rabu, 10 Februari 2016

Epistimologi Cinta. (cerpen Filsafat : Kisah Aco part 5 )



Setelah ditolak secara kuadrat. Dan di serang oleh setiap kata yang tertembus langsung kedalam jiwa. Mengeraskan setiap denyutan nadi, hingga darahpun mengalir begitu malas, seperti Kuda tanpa kusir. Atau seperti “Ben” tanpa “tor”. (becak tanpa motor tidak bisa menjadi bentor ). Aku memlih untuk berlindung dari setiap binatang yang berpikir. Kembali menyendiri dan memutar kembali setiap adegan pilu masa lalu tepatnya masa SD bersama Aurora yang saat itu masih ber suhu polos-polos saja.

Nabi Yesus bercerita dalam Mark. Entah engkau percaya kata-kataku tetapi salah satu efek gagal cinta adalah mempersahabati setiap hal yang berhubungan dengan cinta. Seperti sabda sang Nabi Yesus “ bahwa cinta sebelum zaman sebelum masehi, adalah lingkaran cinta yang masih bergulir di sekitar suku dan kekeluargaan. Namun setelah masehi cinta sejati adalah cinta yang memberi kebebasan untuk mencintai siapapun.” Aku setuju dengan sabda mulia ini. Dalam kasus gagal cintaku, dan aku tentu saja keturunan manusia setelah Masehi, apalah daya, “kata-kata tidak selamanya semanis madu”. Memang setiap manusia bebas untuk mencintai, dan itu adalah suata anugerah, tetapi untuk di cintai dan mendapatkan penerimaan harus melewati setiap syarat yang begitu panjang. Apakah syarat itu adalah rintangan untuk sang pecinta agar di ketahui seberapa besar cintanya. Atau sang pecinta memang di permainkan lewat syarat-syarat yang melunturkan cintanya hingga tersusun sebuah tragedi, dalam dunia Sandiwara. Akulah tokoh itu saat ini. Tokoh yang terus di intimidasi oleh penolakan tokoh utama. Aurorah dan Wahyu ( laki-laki yang katanya dekat dengan Aurorah ).

Ada sebuah dongeng Esoteris yang menceritakan bahwa malaikat yang membisikkan kebaikan di dalam diri seseorang itu mendapatkan asupan gizi dari cinta manusia. apabila cinta itu berkurang maka malaikat akan menjadi lemah dan kesempatan Iblis untuk membisikkan sesuatu yang jahat akan semakin besar untuk menjerumuskan sang pecinta yang mencintai akan berubah menjadi benci, atau istilahnya “ Cinta di tolak dukun bertindak”. Ini menandakan bahwa cinta dan benci ibarat telapak tangan yang begitu mudah di putar balikkan. Sungguh sangat berbahaya.

Sadar dengan dongeng itu, aku beranjak dari segala prasangka Lucifer yang berusaha menjaring setiap intelek di dalam perangkat mentalku untuk mengotomatiskan pembentukan konsepku menjadi “benci” lalu segala Argument yang keluar dari idealisme ku hanya akan menegatifkan setiap kejujuran cintaku kepada Aurorah.



Jika cintaku berusaha aku epistimologikan secara positif. Aku mesti harus menyingkirkan setiap objek negatif yang mengelilingi subjek diriku. Lewat Teori revolusi Copernican ala Immanuel Kant. Bahwa Objek seperti bumi yang mengelilingi matahari subjek. Subjek mempengaruhi objek yang di intuisikan/di indra/ di lihat. Maka untuk mengembalikan semangat cintaku kepada Aurorah. Aku harus membangun dan membiasakan intuisi diri dengan objek yang dapat membuatku dekat dengan Aurorah. Agar perangkat mentalku seperti indra ,rasio,intelek 12 kategori, dan ide-ide transendental dapat di penuhi dengan sebutan cinta. Hingga subjek diriku dapat menyuarakan Argument yang manis, merdu, dan indah untuk di sebut sebagai suara cinta.


Berangkat dari sinilah, aku akan berusaha lagi, sebelum janur kuning melengkung tak ada kata untuk menyerah. Sebelum bom nuklir membakar bumi, tak ada kata untuk tidak berdamai. Atau Sebelum mantan pacar Ayam bassank bertelur cicak tak ada kata yang mustahil. Kali ini rencana C menyatakan cinta akan ku susun dengan cerdik dan anti tolak. Nantikanlah.
Read More

Minggu, 07 Februari 2016

Rasa Kegalauan tingkat Dewa ( cerpen Filsafat : Kisah Aco part 4 ).

 Aku kembali mencoba untuk kembali menemui Aurorah, setelah perhitungan secara sistematis lewat teori-teori biologi yang begitu vulgar menelanjangi setiap kegagalanku untuk memetik hati seorang perempuan yang kuinginkan.

           Bila aku mendengar cerita para nabi yang di sampaikan oleh Uak-ku, yang sesekali memainkan petikan kecapi. Cerita mengenai nabi Adam dan Hawa, ketika mereka melanggar aturan surga untuk tidak memetik buah apel dari pohon Khuldi. Lalu mereka harus keluar dari surga dan di pisahkan sangat jauh akibat pelanggaran yang mereka perbuat. Namun kisah yang sangat tua ini berakhir Happy Ending untuk versi cerita tentang Jabal Rahmah. Dan aku merenungi nasibku, apakah memang Tuhan masih sengaja untuk tidak menyatukan aku dengan Aurorah. Masalahnya apakah memang Aurorah tidak menyukaiku, atau sedang menunda nunda, seperti pepatah mengatakan, “Segala sesuatu indah pada waktunya”. Tapi aku seorang yang terburu-buru. Dan ingin mengindahkan dengan cepat. Maka sore nanti aku akan bertemu Aurorah di bawah pohon mangga di pinggir sungai Tallo.

Berdasar surat yang sudah ia balas. Ia setuju untuk bertemu di sana.

Maka aku menyiapkan setiap kata-kata indah yang akan membuat hatinya terbuka walaupun hanya sedikit. Tapi aku pun mulai menduga-duga, bahwa ia menyetujui permintaanku, agar ia dapat menyampaikan kata perpisahan untuk selamanya. Dan aku pun mulai berpikir dua kali 10 sama dengan dua puluh. Dua puluh menit aku harus memutuskan, datang menepati janji, atau berpura-pura sakit perut. Dan menunda pertemuan. Tapi ego menjadi laki-laki sejati harus aku tinggikan. Di tolak kembali akan kuhadapi dengan tabah.

Begitu mencekam peristiwa tadi padahal suasana menjelang siang di bawah rindang pohon mangga yang mendatangkan kesejukan, tapi aku semacam melewati setiap detik pada jam penderitaan, dan hasilnya gagal lagi.

Apa yang kau rasakan Aco?

Jika anda juga bertanya seperti itu maka aku menjawabnya. Seperti makan durian dengan kulit-kulitnya, nekad cinta ini bisa membuat nekad, setelah di tolak secara pangkat kuadrat. atau seperti minum kopi di campur dengan sayur pare’, pahit kerena memang kisah percintaanku ini memang pahit. Rasanya hatiku termutilasi oleh setiap kata yang keluar dari mulut Aurorah.

Apakah kata-katanya kasar Aco ?.

Jawab : Tidak, kata-katanya begitu halus, merdu, tapi setiap kata yang di pilihnya adalah setiap kata yang tersaring pada korteks audio otakku yang bebunyi di larang untuk di dengar. Setiap kata itu adalah kata yang tak ingin kudengar dari mulutnya. Tapi setiap kata itu memaksa untuk masuk, akhirnya otakku menjadi putus, dan yang terjadi adalah kegalauan tingkat dewa.

Jadi apami sekarang mu bikin Aco ?.


Jawab : terduduk di suatu waktu, dan aku duduk sendiri, di samping pohon jati, aku merenung dan aku menjilat angkasa, menciumi matahari yang akan tenggelam di ujung horizon sana. Aku bertanya mengapa. Aku ingin memahami hal menyakitkan yang sedang terjadi di pusat atom hatiku. Dan aku menuju pada logika deduktif, dari alasan umum ke khusus, tipe pertanyaan yang terulang-ulang adalah pertanyaan mengapa.?

....... Karena aku pendek, ini persoalan mutlak, yang tak bisa di selesaikan,

......karena aku kurang perhatian, dan tidak termasuk dalam tipenya... tapi aku bisa menyesuaikan diri kok.

.......karena aku suka ngupil sembarang tempat... rasanya aku tidak pernah kedapatan, dan aku selalu berhati-hati kok..
.
...... karena aku bau badan.... ini bisa dibawah ke pengadilan dan menjadi tuntutan pencemaran nama baik, meski jarang mandi, badan tetap bau tanah.

Ketika pertanyaan mengapa itu semakin mendesak pada pengadilan ide. Seperti seberkas cahaya, yang lalu datang setelah menembus ke abu-abuan kebenaran. Seberkas cahaya itu berbentuk seperti ini...

....karena aku sudah menjadi milik orang lain, maaf kan aku Aco...

Nah setiap kata itulah yang membuatku kedatangan dewa kegalauan dari mitologi tragedi Yunani yang memborbardir setiap rindu yang teredam. Rasa galau tingkat Dewa.

Lalu ?.....

Jawab : ketika kita bertanya Mengapa, model pertanyaan ini bisa ditanggapi dalam dua cara , apakah jawaban Aurorah terkesan mengelak, yang artinya sama dengan Bagaimana, yang mengatakan jawaban-jawaban menuntut tentang sebuah rangkaian kausalitas ( Sebab-Akibat ), dari atom yang berbenturan dengan atom yang lain.

Setiap pertanyaan mengapa akan menuntut pertanyaan BAGAIMANA, setiap pertanyaan berada pada poros sebab-akibat tadi, sebab aku ditolak membuat akibat yang membirukan hati. Dan kini, di bawah pohon jati ini, sambil memperhatikan ayam yang sedang bercinta, aku pun ikut bercinta pada setiap molekul cahaya matahari senja pada kesepian... sendirian disini.

“Apa sendirian, Oi, adaka di sampingmu ini Aco?” Ucap Bolong menepukku dengan ganas, sehingga aku terdorong kesamping.

“ ouh, adako pale di sampingku Bolong, jadi kau tadi yang  wawancaraika?” aku mengira, bahwa setiap pertanyaan tadi adalah pertanyaan dari suara hati. Ternyata itu suara Bolong, yang datang menghampiriku.

Rumus Perhitungan matematika kisah cintaku macam, tolak di kali tolak = penolakan  kuadrat atau = kegalauan tingkat Dewa.



Read More