Tampilkan postingan dengan label Pengantar Filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengantar Filsafat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Desember 2016

Pertarungan Jiwa dan Tubuh : Filsafat Rene Descartes




Riwayat hidup Rene Descartes. ( Seorang Petualang Malam)

sumber : Biography.com


“ pikiran-pikiran Agung mampu melakukan baik kesesatan-kesesatan agung maupun kebajikan-kebajikan agung.”(Descartes).

Rene Descartes adalah seorang filsuf dari France(Perancis) yang lahir pada tanggal 31 Maret 1596 di La Haye Tourine. Sejak kecil ia diasuh lewat ilmu pengetahuan yang membuatnya memiliki otak yang encer. Di usia 8 tahun, Rene Descartes sudah menjadi bintang kelas di sekolahnya di La Fleche. Para Yesuit di Asramanya sangat mengagumi kecerdasan Descartes sampai ia mendapat hak istemewa untuk bangun terlambat, kelonggaran yang di berikan gurunya Karena mereka maklum bahwa Descartes sering menemukan gagasan-gagasan briliantnya selagi begadang atau sedang bermimpi. Kebiasaan terlambat bangun pagi berlangsung hingga usianya tua.

Selesai di La Fleche Descartes ke Paris. Ia menikmati masa mudanya sebagai pemuda yang moderat, ia senang melancong ke luar negeri sampai ke Belanda, Jerman, Hungaria, Swiss, Italia, dan Swedia. Ia biasa mengisi waktu luang dengan berjudi dan itupun selalu beruntung.[1]

Sementara melancong , ia tidak meninggalkan kebiasaanya sebagai seorang pembaca yang setia dan penulis yang setia dan Ia banyak menulis pikiran dan hasil refleksinya saat keluar rumah. Itupun di dapatkannya ketika malam tiba dan saat ia sedang bermimpi.

Descartes adalah seorang yang berwatak tenang dan suka menyendiri, namun pikirannya penuh semangat pemberontakan. Hidupnya penuh ketegangan antara tampil kemuka dan surut kebelakang. Dia suka Paris yang ramai, tetapi tiba-tiba dia menyendiri jauh dari keluarganya antara lain ke Jerman. Di Dalam barak militer di Neuburg dekat kota Ulm, Jerman, di malam tanggal 11 November 1619 Descartes menemukan ide sentral Filsafatnya saat ia sedang bermimpi di dalam tidurnya. Dia bermimpi tentang sebuah kamus yang masih harus di lengkapi. Dalam mimpinya itu dia mendengar kata-kata “ Quod vitae sectabor iter?”( Jalan hidup manakah yang seharusnya kutempuh).[2] Dia sendiri menafsirkan impiannya itu sebagai tugas untuk melengkapi seluruh ilmu pengetahuan. Buku Discours di tulis dalam suasana sendiri dalam kesepian di Belanda. Ia menulis “ Aku disini bisa melewatkan seluruh hidupku tanpa di ketahui seorang pun”. “Disini aku tidur malam sepuluh jam tanpa kekhawatiran apa pun yang membuatku terjaga”[3]. Dalam suasana yang sepi itulah ia berkontemplasi untuk menemukan kebenaran yang selama ini di carinya dan ia merasa telah menemukan kebenaran itu.

Masyarakat tempat Descartes hidup berciri Aristokrat yang memberi tempat utama kepada elit bangsawan. Minat elit ini adalah pada masalah metafisika Skolastik. Sementara itu dari kalangan yang sama memiliki minat baru terhadap matematika, geometri, dan fisika yang mulai giat di pelajari di zaman itu.

Sedang Rene Descartes minat kepada keduanya. Dalam situasi yang hampir sama dengan pemikir-pemikir seperti Bacon, Bruno dan Machiavelli. Filsuf ini menghasilkan refleksinya. Dan apa yang di hadapainya juga sama dengan filsuf lainnya, ia mendapat protes serta kecaman yang keras dari kelompok masyrakat yang tidak menyukai filsafatnya. Permusuhan yang paling gencar di arahkan kepadanya adalah dari para Yesuit yang menjadi pengasuh di masa mudanya. Ajarannya di anggap menyimpang dari teologi Katolik, maka Filsafatnya di masukkan dalam daftar ajaran sesat, buku-bukunya yang termasyur dan mempengaruhi gerak zaman modern adalah Discours de la Methode (1673) dan Meditationes de Prima Philosophia (1641).

Seumur Hidupnya, dia kerap di ganggu sakit batuk yang tak kunjung sembuh, sementara dia sendiri engga berurusan dengan dokter. Dan pada tahun 1650 setelah melewati kehidupan yang berarti, Rene Descartes wafat dengan damai di kota Stockholm.

Filsafat Rene Descartes. Pemikirannya tentang Manusia sebagai Pertarungan Jiwa dan Tubuh.
Ada dua Faktor yang penting untuk di ketahui sebelum membaca Pemikiran Rene Descartes. Pertama, perlulah mengetahu sosio historis yang mempengaruhi psikologi Rene Descartes dalam menghasilkan refleksinya,. Kedua, penting pula mengetahui pengalaman-pengalaman yang telah di lewati Rene Descartes terutama petualangan melancongnya ke berbagai tempat.

Mengenai factor yang pertama. Telah sedikit di singgung pada halaman sebelumnya. Bahwa Rene Descartes hidup di tengah-tengah masyarakat yang berciri Aristokrat yakni memberi tempat utama kepada elite bangsawan dan minat elit ini adalah pada masalah metafisika Skolastik.[4] Metafisi skolastik adalah metafisika hasil dari system Plato dan Aristoteles yang mendominasi semua pemikiran filosofis di Barat selama dua ribu tahun. Tatkala agama Nasrani muncul di kancah filsafat untuk pertama kalinya , sebagaian besar pater gereja mengambil beberapa versi idealism Platonik sebagai basis bagi teologi mereka. Kecenderungan itu memuncak pada diri St. Agustinus yang sangat berpengaruh pada masa kegelapan sehingga Aristoteles terlupakan di Eropa. Namun cendikiawan-cendikiawan Muslim melestarikan tulisan-tulisan Aristoteles selama periode itu, terutama dengan bahasa Arab yang di gunakan sebagai landasan untuk penyusunan berbagai bentuk filsafat dan teologi Islam. Lewat St Thomas Aquinas . Aristoteles kembali ke Barat. [5]

Pemikiran realisme Aristotelian mengenai konsep tentang jiwa yang di yakini sebagai prinsip yang memberi kehidupan kepada makhluk hidup. Ada tiga jenis jiwa menurut Aristoteles. pertama, Jiwa vegetatif yang memberi kemampuan untuk menyerap makanan dan bereproduksi.  kedua, Jiwa Hewani/Sensitif yang memberi kemampuan untuk daya penggerak, sensasi, ingatan, dan imajinasi. Ketiga, Jiwa Rasional yang hanya di miliki oleh manusia yang memberinya kemampuan berpikir secara sadar, membuat norma social, serta menyusun kebajikan-kebajikan moral.[6]
Selain Konsep jiwa yang di tawarkan oleh Aristoteles, Rene Descartes juga sedikit terpengaruh oleh konsep Idealis Platonik.  Namun bagi Descartes kedua Tradisi Aristotelian dan Platonian memiliki cacat yang sama bahwa keduanya tidak dapat menciptakan kebenaran mutlak total yang bisa menjadi dasar yang tak terbantahkan untuk menyusun pengetahuan yang ketat. Maka dari itu ia merasa harus menemukan pendasaran metodis yang baru dalam Filsafat.

Metode Kesangsian dan “Cogito Ergo Sum”.

Dengan meragukan konsep Aristotelian- Thomis dan Platonik-Agustinian muncul sebuah pertanyaan bagaimana kepastian mutlak itu dapat di buktikan? Bagaimana pondasi yang kokoh bagi pengetahuan itu dapat ditemukan.?

Dalam kesendiriannya di barak Militer di Jerman. Descartes mendapatkan sebuah kebenaran Mutlak yang dapat kita yakini sekali dan untuk selamanya. Kebenaran Mutlak itu di dapatkan lewat metode Kesangsian “ le doute methodeque” yang sangat membutuhkan kesendirian.[7]

Bagi Descartes untuk menemukan kebenaran Mutlak itu pertama-tama, dia mulai menyangsikan segala bentuk sifat-sifat dasar sederhana pada sebuah objek yang bisa di tangkap oleh Indra kita, dia menyangsikan ide yang bagi Descartes ide bisa tipuan belaka dari semacam Iblis yang sangat cerdik.  dia juga menyangsikan asas- asas matematika dan pandangan metafisis yang berlaku tentang dunia material dan dunia Rohani. [8]

Lalu apakah yang dapat di jadikan pegangan setelah semuanya di sangsikan ? menurut Descartes, sekurang-kurangnya “ aku yang menyangsikan” bukanlah hasil tipuan. Semakin segala sesuatunya di sangsikan  semakin di sadari bahwa kita sedang sangsi. Kesangsian terhadap sangsi itu membuktikan bahwa kita sedang mengada dalam kegiatan berpikir. Karena menyangsikan adalah berpikir. Maka Descartes menyebut “ Cogito Ergo Sum, aku berpikir maka aku ada “.

Dengan metode Kesangsian inilah di temukan sebuah kebenaran Mutlak yaitu “cogito”. Cogito  ini tidak ditemukan dengan deduksi dari prinsip-prinsip umum ala Aristotelian atau lewat intuisi. Cogito di temukan lewat pikiran kita sendiri, sesuatu yang di kenali melalui dirinya sendiri, bukan melalui kitab suci, dongeng, pendapat orang, prasangka, dan seterusnya.[9]

Dalam menyangsikan segala sesuatunya Rene Descartes telah mendapatkan sebuah kebenaran mutlak akan dirinya yang sedang berpikir. Namun saat ia menjelaskan tema-tema seperti  Jiwa dan tubuh yang memang sudah lama dibahas oleh filsuf-filsuf yang di dahuluinya. Filsafat Rene Descartes tetap menyisakan minat akan metafisika. Dia tidak dalam keadaan kosong saat menjelaskan tubuh dan Jiwa.

Rene Descartes mengenai Tubuh.
Setelah meragukan secara sistematis segala bentuk gejala alam fisis, ia lalu menarik kesimpulan, bahwa hanya terdapat dua sifat dasar yang jelas dan terpilah-pilah, atau yang tidak bisa di ragukan dan di analisis lagi yakni keluasan dan gerak. Seluruh badan yang hidup harus di jelaskan berdasarkan pada prinsip-prinsip yang sama seperti gejala alam fisis lainnya.

Descartes percaya bahwa ada tiga jenis partikel dasar di alam semesta, yakni api, udara dan tanah yang membentuk objek yang berukuran besar.

Partikel Api.

Descartes memahami Api atau partikel-partikel panas, sebagai unsur yang paling kecil, sedemikian kecilnya ketika berkumpul partikel ini membentuk zat cair dan gas yang sangat sempurna. Yang mampu mengisi ruang bentuk atau ukuran. Partikel-partikel tersebut secara alamiah menembus kepartikel-partikel lain yang lebih besar di dalam alam, di samping juga berpadu dengan sangat intens di pusat alam itu, dan membentuk matahari.

Partikel Udara

Menurut Rene Descartes, partikel udara memiliki ukuran yang lebih besar dari pada partikel api. Meskipun tetap tidak dapat di amati secara langsung. Partikel-Partikel yang jumlahnya sangat luar biasa ini mengisi segenap ruang di antara objek-objek dan secara serentak bergerak keruang begitu objek bergerak. Partkel udara secara alamiah memformulasikan dirinya sendiri kedalam kolom-kolom diantara objek-objek yang kemudian membentuk dasar material bagi sinar cahaya. Jadi jika manusia melihat objek sebenarnya ia sedang melihat cahaya yang tersusun dari partikel udara yang sangat halus yang menyebar kemata manusia.

Partikel Tanah.

Semua Objek yang dapat di lihat dengan kasat mata seperti pohon, rumput, sebatang kayu dan Manusia di duga tersusun dari pertembuhan partikel-partikel “tanah”, yakni unsur partikel yang lebih besar dan memiliki massa yang lebih berat. Partikel tanah yang membentuk objek itu secara terus menerus bergerak atau bergetar, gerakan dan geetaran tersebut di salurkan kepada kolom-kolom sinar cahaya menuju mata. Getaran itu lalu merangsang partikel material dari mata dalam gerakan simpatetik.

Lewat tiga unsur partikel ini. Descartes telah menjelaskan bagaimana manusia mempersepsikan Objek. Ia mendapati sebuah landasan yang di jelaskan secara empiris. Tubuh terdiri dari partikel-partikel yang bergerak dan memiliki keluasan seperti benda-benda fisik lainnya.

Rene Descartes Mengenai Jiwa.
Jiwa Hewani dan vegetative yang menjadi kadaluarsa.

Descartes hendak menggurkan konsep-konsep tradisional mengenai jiwa hewani dan vegetative yang memiliki fungus bagi tubuh seperti : mencerna makanan, sirkuluasidarah, daya tahan dan pertumbuhan tubuh , respirasi, tidur dan terjaga, sensasi pada dunia luar, imajinasi, memori, nafsu dan gairah dan pergerakan tubuh. Semua fungsi tersebut ternyata dapat di jelaskan secara empiris. Dan Rene Descartes lebih senang menyebutnya sebagai gerakan mekanis yang bergerak secara otomatis. Itulah mengapa kita tidak perlu menyebut jatuh cinta seorang pemuda pemudi sebagai sebagai sebuah gerakan dari jiwa di dalam hati kecuali sebuah gerakan darah yang di gerakkan oleh panasnya api yang menyala tanpa henti di dalam jantung. Sebagaiman Wiiliam Harvey(1578-1657) juga menjelaskan jantung sebagai pusat peredaran darah.

Rene Descartes juga tertarik pada rongga-rongga di dalam otak yang berisi cairan jernih berwarna kuning, yang disebut sebagai jiwa hewani ( yang berfungsi sebagai sensasi ke dunia luar, nafsu dan gairah serta memori dan imajinasi). Ia berspekulasi bahwa jiwa Hewani adalah partikel yang kecil dan halus yang berkumpul membetuk partikel yang lebih kasar sebagai darah yang menuju otak. Otak ini yang kemudian mengalirkan darah melewati jaringan-jaringan tubuh dan mengaktifkan otot-otot. Otak dan darah inilah yang menjadi biang dari segala kegiatan yang di sebabkan oleh jiwa Hewani.

Descartes percaya bahwa analisisnya berhasil menunjukkan seluruh fungsi-fungsi jiwa vegetative dan hewani dapat di jelaskan secara mekanistik. Maka dari itu Hewan yang ia perhatikan hanyalah sebuah mesin otomatis yang di kendalikan oleh darahnya sendiri. Maka Hewan yang buas di pengaruhi oleh darahnya. Namun bagaimana dengan manusia. Manusia juga memiliki jiwa vegetative dan hewani tubuh manusia adalah mesin otomatis juga yang memiliki darah tetapi Rene Descartes belum menyinggung jiwa Rasional yang tidak di miliki selain manusia.

Jiwa Rasional yang Imaterial.

Descartes merasa ada segi subyektif dari pengalaman manusia yang teramat luhur yang tidak mengzinkan Descartes untuk memesinkan manusia secara keseluruhan.

Jiwa Rasional itu ada bagi Descartes namun jiwa tidak tampak secara langsung dalam kesadaran kita, seperti halnya ketika mata mempersepsikan partikel Cahaya. Namun ia meyakini bahwa jiwa itu benar-benar ada. Yang hanya di peroleh lewat “cogito” aku berpikir. Maka ia menamakan jiwa sebagai ide bawaan. Yaitu sebuah ide yang tidak bergantung dari pengalaman indrawi terhadap yang materi.

Ide bawaan ini membawanya pada ide kesempurnaan dan ide kesempurnaan ini lalu membawa Descartes pada sebuah pemikiran tentang adanya “sesuatu” yang telah menciptakan segala aspek kesempurnaan. Descartes menyebut “sesuatu” itu sebagai Tuhan. Tuhan inilah yang menjadi dalang dalam memperoleh pengetahuan perpaduan partikel dari persepsi Indrawi dan pengetahuan imateri yang di dapati dari integritas jiwa yang mempersepsinya.

Jiwa yakni jiwa Rasional menjadi sesuatu yang lebih dasariah atau Fundamental yang berinteraksi dengan tubuh manusia. Namun bagaimanakan jiwa Rasiona yang Imaterial ini dapat berinteraksi dengan tubuh yang material.

Hubungan Jiwa dan Badan dalam Filsafat Descartes.

Jadi filsafat Descartes menempatkan rasio dan fungsi-fungsi intelektual jiwa sebagai sesuatu yang lebih fundamental dari pada pengalaman Indra, Karena alasan ini Descartes melahirkan mazhab pemikiran Rasionalis dan nativis.  Karena Jiwa rasionallah yang mendahului  pengalaman konkret yang membawanya juga menjadi anti tesa dari empirisme realisme yang percaya bahwa pengalaman Konkretlah yang mempengaruhi jiwa.

Descartes di sebut sebagai seorang dualis Karena pembedaanya  yang tajam antara dua substansi tubuh dan jiwa. Menurut Descartes, Tubuh tanpa Jiwa akan menjadi otomat belaka, yang di gerakkan secara mekanis oleh stimulus eksternal dan kondisi-kondisi hidrolik internal atau “emosional”. Jiwa tanpa Tubuh pun hanya akan menghasilkan ide-ide bawaan saja tanpa di perkaya oleh persepsi-persepsi kompleks Indrawi. Jadi tubuh dan Jiwa adalah hubungan timbal balik. Tubuh memperkaya Jiwa dan jiwa menambah rasionalitas terhadap perilaku manusia.

Untuk menjawab bagaimanakah jiwa yang immaterial dapat mempengaruhi tubuh yang material. Untuk menjawab pertanyaan itu bagi Descartes tempat yang paling logis untuk jiwa adalah di suatu tempat di dalam otak yang menjadi pusat control bagi sensasi-sensasi dan gerakan-gerakan tubuh. Namun otak ternyata merupakan organ fisik yang memiliki dua bidang simetris yang terpisah. Sedang jiwa merupakan entitas yang terpadu.

Tubuh ketika menerima kehadiran ganda dari suatu objek dalam dunia . jiwa hanya mempersepsi satu kehadiran saja . Selanjutnya Descartes percaya bahwa persepsi yang sadar haruslah secara akurat merepleksikan dunia nyata. Ketika aku melihat sebatang pohon dari balik jendela. Phon tersebut secara akurat haruslah mempersatukan semua pohon yang sama di sudut dunia di mana saja. Dengan demikian kesan ganda tersebut dapat di satukan dalam keterpaduan jiwa.

Descartes beranggapan bahwa keterpaduan itu hanya bisa terjadi di dalam stuktur yang tidak terbagi. Di dalam otak Descartes mendapati sebuah kelenjar pinealis yang sebesar biji kacang yang berada dekat dengan pusat otak. Kelenjar Pinealis inilah yang menjadi jembatan antara jiwa dan tubuh manusia.

Analisis Kritis terhadap Filsafat Manusia Rene Descartes.

Mari kita sekarang menyebut filsafat manusia Rene Descartes sebagai dualism Cartesian. Ada bebrapa Konsekuensi penting yang perlu di kritisi. Pertama Rene Descartes telah mengambil langkah berani dan menyiksa ketika mulai mempertanyakan kebenaran mutlak yang berujung pada sebuah kesangsian yang radiks terhadap pikiran Filsafat dari dua filsuf besar yang telah mempengaruhi Barat selama dua ribu tahun lamanya yakni pemikiran filsafat Platonia dan Aristotelian.

Kedua, Rene Descartes telah menggugurkan defenisi manusia sebagai “hewan rasional” dari Aristoteles  dengan hubungan Jiwa-Tubuh dari Descartes meskipun teorinya juga akan di gugurkan oleh pengetahuan yang lebih banyak menggunakan alat.

Ketiga, Dalam bidang ilmu pengetahuan alam Rene Descartes memberikan ke optimisan bagi para Ilmuwan yang dapat meneliti objek secara obyektif dimana ide Platonian tidak lagi menganggu para ilmuwan dalam menemukan bebas nilai meskipun pemikir -pemikir dari Empirisme lah yang berperan paling banyak mempengaruhi penelitian para ilmuwa. Namun tidak dapat di pungkiri dualism Cartesian telah menjadi jalan munculnya anti tesa atau dukungan yang memungkinkan teknologi terapan berkembang dengan sangat pesat di Eropa pada tiga abad ini.

Keempat, Pandangannya mengenai manusia sangatlah mekanistik dan dapat di cerna ketika Rene Descartes membahas Jiwa-Badan secara terpisah. Namun ketika menjelaskan hubungan Jiwa – Badan lewat Kelenjar Pinealis inilah Rene Descartes memunculkan Kontroversi akan penjelasan yang sangat membingungkan. Kontroversi ini lalu memicu sebuah perdebatan panjang bahkan banyak melahirkan filsuf -filsuf yang mndukungnya dan menjadi penentangnya.

Adapun lima aliran yang menanggapi Dualisme Cartesian. Materialisme Thomas Hobbes, Immaterialisme George barkeley, paralelisme, Nicholas Malebrance, Teori Aspek Ganda Spinoza dan Epifenomenalisme David hume.

Namun terlepas dari segala bentuk kritik terhadap Rene Descartes. Rene Descartes sebenarnya tetap mempertahankan kesatuan manusia itu dalam ide kesempurnaan Tuhan, seperti teori dari Spinoza seorang filsuf Rasionalis yang menjelaskan tentang Panteisme.

Kelima, Rene Descates bersama kontroveri Jiwa-tubuhnya telah menimbulkan ragam aliran dalam filsafat. Ia pun memang layak di sebut sebagai Bapak filsafat Modern. Karena dialah yang telah mencoba untuk menemukan Kebenaran Mutlak yang di dapatkannya lewat metode kesangsian yang sangat mengandalkan “Cogito”nya sebagai jiwa ayang berpikir. Sejak saat itu orang Eropa ramai mengedepankan akal yang menjadi ciri khas dari zaman modern.

Demikianlah penjelasan Manusia dari Filsafat Rene Descartes.


Daftar Pustaka.
Hardiman F, Budi, Pemikiran-Pemikiran yang Membentuk Dunia Modern.Jakarta : Penerbit Erlangga, 2011.
Abidin, Zainal .Filsafat Manusia Memahami Manusia Melalui Filsafat, VII .Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2014.
palmquist, Stephen . The Tree of Philosophy a Course of Intruductory Lectures for Beginning Student of Philosophy, ( Hongkong, Philopsychy Press, 2000) di terjemahkan dari Muhammad Shodiq, Pohon Filsafat Teks Kuliah pengantar Filsafat, II  Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2007.



[1] F Budi Hardiman, Pemikiran-Pemikiran yang Membentuk Dunia Modern,( Jakarta : Penerbit Erlangga, 2011) h.31.
[2] JB Metzler, Metzeler Philoshopen Lexikon, Stutgart,1989. h. 180. Di kutip dari F Budi Hardiman, Pemikiran-Pemikiran yang Membentuk Dunia Modern,( Jakarta : Penerbit Erlangga, 2011) h.32.
[3] Wilhelm Weischedel, Die philosophiche Hintertreppe, Munchen, 1973. h. 117. Di kutip dari F Budi Hardiman, Pemikiran-Pemikiran yang Membentuk Dunia Modern,( Jakarta : Penerbit Erlangga, 2011) h.32.
[4] F Budi Hardiman, Pemikiran-Pemikiran yang Membentuk Dunia Modern,( Jakarta : Penerbit Erlangga, 2011) h.30
[5] Stephen palmquist, The Tree of Philosophy a Course of Intruductory Lectures for Beginning Student of Philosophy, ( Hongkong, Philopsychy Press, 2000) di terjemahkan dari Muhammad Shodiq, Pohon Filsafat Teks Kuliah pengantar Filsafat, II ( Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2007). h. 74.
[6] Zainal Abidin, Filsafat Manusia Memahami Manusia Melalui Filsafat, VII ( Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2014) h.51.
[7] Stephen palmquist, The Tree of Philosophy a Course of Intruductory Lectures for Beginning Student of Philosophy, ( Hongkong, Philopsychy Press, 2000) di terjemahkan dari Muhammad Shodiq, Pohon Filsafat Teks Kuliah pengantar Filsafat, II ( Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2007). h. 75.
[8] Stephen palmquist, The Tree of Philosophy a Course of Intruductory Lectures for Beginning Student of Philosophy, ( Hongkong, Philopsychy Press, 2000) di terjemahkan dari Muhammad Shodiq, Pohon Filsafat Teks Kuliah pengantar Filsafat, II ( Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2007). h. 76-77
[9] F Budi Hardiman, Pemikiran-Pemikiran yang Membentuk Dunia Modern,( Jakarta : Penerbit Erlangga, 2011) h.34
Read More

Senin, 20 Juni 2016

Filsafat Struktural Dari Sejarah, Tokoh, Pengertian Dan Ciri-Ciri Strukturalisme

Kali ini penulis akan share tulisan tentang Filsafat Struktural atau Strukturalisme, tulisan ini sebenarnya merupakan salah satu tugas yang diberikan oleh Pak Abdullah (salah satu Dosen saya di Fakultas Ushuluddin dan filsafat). Jadi mungkin tulisannya sedikit formal. Mungkin ini bisa dijadikan sebagai pengantar tentang filsafat struktural.

Filsafat Struktural Dari Sejarah, Tokoh, Pengertian Dan Ciri-Ciri Strukturalisme

Sejarah Singkat Filsafat Strukturalisme

Dalam sosiologi, antropologi dan linguistik, strukturalisme adalah metodologi yang unsur budaya manusia harus dipahami dalam hal hubungan mereka dengan yang lebih besar, sistem secara menyeluruh atau umum disebut struktur. Ia bekerja untuk mengungkap struktur yang mendasari semua hal yang manusia lakukan, pikirkan, rasakan, dan merasa. Atau, seperti yang dirangkum oleh filsuf Simon Blackburn, strukturalisme adalah "keyakinan bahwa fenomena kehidupan manusia yang tidak dimengerti kecuali melalui keterkaitan mereka. Hubungan ini merupakan struktur, dan belakang variasi lokal dalam fenomena yang muncul di permukaan ada hukum konstan dari budaya abstrak".

Strukturalisme di Eropa dikembangkan di awal tahun 1900-an, di bidang linguistik struktural dari Ferdinand de Saussure berikutnya Praha, sekolah Moskow dan Copenhagen linguistik. Pada akhir 1950-an dan awal 60-an, ketika linguistik struktural menghadapi tantangan serius dari orang-orang seperti Noam Chomsky dan dengan demikian memudar di pentingnya, array sarjana di humaniora meminjam konsep Saussure untuk digunakan dalam bidang masing-masing studi. Antropolog Prancis Claude Levi-Strauss dikatakan sebagai ilmuwan pertama, memicu minat yang luas dalam hal Strukturalisme.

Model strukturalis penalaran telah diterapkan dalam berbagai bidang, termasuk antropologi, sosiologi, psikologi, kritik sastra, ekonomi dan arsitektur. Pemikir yang paling menonjol terkait dengan strukturalisme termasuk Levi-Strauss, ahli linguistik Roman Jakobson, dan psikoanalis Jacques Lacan. Sebagai gerakan intelektual, strukturalisme awalnya dianggap menjadi pewaris eksistensialisme. Namun, pada 1960-an, banyak dari prinsip dasar strukturalisme diserang dari gelombang baru intelektual terutama dari Perancis seperti filsuf dan sejarawan Michel Foucault, filsuf dan komentator sosial Jacques Derrida, filsuf Marxis Louis Althusser, dan kritikus sastra Roland Barthes. Meskipun unsur pekerjaan mereka selalu berhubungan dengan strukturalisme dan diinformasikan oleh itu, teori ini umumnya disebut sebagai post-strukturalis. Pada 1970-an, strukturalisme dikritik karena kekakuan dan ahistorisme. Meskipun demikian, banyak pendukung strukturalisme, seperti Lacan, terus menegaskan pengaruh pada filsafat kontinental dan banyak asumsi dasar dari beberapa kritikus strukturalis bahwa pasca-strukturalis adalah kelanjutan dari strukturalisme.

Masa perkembangan filsafat Strukturalisme

Tahun 1966 digambarkan oleh Francois Dosse dalam bukunya Histoire du Structuralisme sebagai tahun memancarnya strukturalisme di Eropa, khususnya di Prancis.Perkembangan strukturalisme pada tahun 1967-1978 digambarkan sebagai masa penyebaran gagasan strukturalisme dan penerangan tentang konsep strukturalisme serta perannya dalam ilmu pengetahuan

Pengertian Filsafat Strukturalisme

Aliran filsafat eksistensialisme yang menjadi mode berfilsafat pada pertengahan abad ke-20 mendapat reaksi dari aliran Strukturalisme. Jika eksistensialisme menekankan pada peranan individu, maka strukturalisme juga melihat manusia “terkungkung” dalam berbagai struktur dalam kehidupannya. Secara garis besar ada dua pengertian pokok yang sangat erat kaitannya dengan strukturalisme sebagai aliran filsafat.

a. Strukturalisme adalah metode atau metodologi yang digunakan untuk mempelajari ilmu-ilmu kemanusiaan dengan bertitik tolak dari prinsip-prinsip linguistik yang dirintis oleh Ferdinandde Saussure.

b. Strukturalisme merupakan aliran filsafat yang hendak memahami masalah yang muncul dalam sejarah filsafat. Di sini metodologi struktural dipakai untuk membahas tentang manusia, sejarah, kebudayan dan alam, yaitu dengan membuka secara sistematik struktur-struktur kekerabatan dan struktur-struktur yang lebih luas dalam kesusasteraan dan dalam pola-pola psikologik tak sadar yang menggerakkan tindakan manusia.

Strukturalisme adalah faham atau pandangan yang menyatakan bahwa semua masyarakat dan kebudyaan memiliki suatu struktur yang sama dan tetap. Strukturalisme juga adalah sebuah pembedaan secara tajam mengenai masyarakat dan ilmu kemanusiaan dari tahun 1950 hingga 1970, khususnya terjadi di Perancis. Strukturalisme berasal dari bahasa Inggris, structuralism; latin struere (membangung), structura berarti bentuk bangunan. Trend metodologis yang menyetapkan riset sebagai tugas menyingkapkan struktur objek-objek ini dikembangkan olerh para ahli humaniora. Struktualisme berkembang pada abad 20, muncul sebagai reaksi terhadap evolusionisme positivis dengan menggunakan metode-metode riset struktural yang dihasilkan oleh matematika, fisika dan ilmu-ilmu lain.

Para sturukturalis filosofis yang menerapkan prinsip-prinsip strukturalisme linguistic dalam berfilsafat bereaksi terhadap aliran filsafat Fenomenologi dan eksistensialisme yang melihat manusia dari sudut pandang yang subjektif.

TUJUAN DAN CIRI-CIRI FILSAFAT STRUKTURALISME

Tujuan Strukturalisme adalah mencari struktur terdalam dari realitas yang tampak kacau dan beraneka ragam di permukaan secara ilmiah (obyektif, ketat dan berjarak). Ciri-ciri itu dapat dilihat strukturnya:
1. Bahwa yang tidak beraturan hanya dipermukaan, namun sesungguhnya di balik itu terdapat sebuah mekanisme generatif yang kurang lebih konstan.
2. Mekanisme itu selain bersifat konstan, juga terpola dan terpola dan terorganisasi, terdapat blok-blok unsur yang dikombinasikan dan dipakai untuk menjelaskan yang dipermukaan
3. Para peneliti menganggap obyektif, yaitu bisa menjaga jarak terhadap yang sebenarnya dalam penelitian mereka
4. Pendekatan dengan memakai sifat bahasa, yaitu mengidentifikasi unsur-unsur yang bersesuaian untuk menyampaikan pesan. Seperti bahasa yang selalu terdapat unsur-unsur mikro untuk menandainya, salah satunya adalah bunyi atau cara pengucapan.
5. Strukturalisme dianggap melampaui humanisme, karena cenderung mengurangi, mengabaikan bahkan menegasi peran subjek.

Ciri-ciri strukturalisme adalah pemusatan pada deskripsi keadaan aktual objek melalui penyelidikan, penyingkapan tabiat, sifat-sifat yang terkait dengan suatu hal melalui pendidikan. Ciri-ciri itu bisa dilihat dari beberapa hal; hirarki, komponen atau unsur-unsur, terdapat metode, model teoritis yang jelas dan distingsi yang jelas.

Para ahli strukturalisme menentang eksistensialisme dan fenomenologi yang mereka anggap terlalu individualistis dan kurang ilmiah. Salah satu yang terkenal adalah pandangan Maurice Meleau-Ponty yang menentang fenomenologi dan eksistensialisme tubuh manusia. Pounty menekankan bahwa hal yang fundamental dalam identitas manusia adalah bahwa kita adalah objek-objek fisik yang masing-masing memiliki kedudukan yang berbeda-beda dan unik dalam ruang dan waktu.

Tokoh tokoh Filsafat Struktural Dan Pemikirannya

Ferdinand de Saussure

Strukturalisme sebagai metode berpikir dalam memahami realitas dimulai oleh Ferdinand de Saussure (1857-1913 M), seorang ahli Linguistik yang mempelajari bahasa dari sudut pandang strukturnya.
Menurut Ferdinand de Saussure Strukturalisme memiliki dua pengertian, yaitu:
  • Strukturalisme adalah metode atau metodologi yang digunakan untuk mempelajari ilmu-ilmu kemanusiaan dengan bertitik tolak dari prinsip-prinsip Linguistik.
  • Strukturalisme adalah aliran filsafat yang hendak memahami manusia, sejarah dan kebudayaan serta hubungan kebudayaan dengan alam dengan memakai metode struktural. Strukturalisme menyelidiki pola-pola dasar yang tetap dalam berbgai realitas.

Claude Levi-Strauss

Claude Levi-Strauss, lahir 28 November 1908 – meninggal 30 Oktober 2009 pada umur 100 tahun) adalah antropolog dan etnolog Prancis, dan disebut sebagai "bapak antropologi modern".

Dia berpendapat bahwa "pikiran primitif" memiliki struktur yang sama dengan pikiran yang "beradab" dan bahwa ciri-ciri manusia itu sama saja di mana-mana. Pengamatannya ini berpuncak pada bukunya yang terkenal, Tristes Tropiques, yang menempatkan dia sebagai tokoh utama dalam aliran pemikiran strukturalis, tempat di mana gagasan-gagasannya menjangkau berbagai bidang, termasuk humaniora, sosiologi dan filsafat. Strukuralisme didefinisikan sebagai "pencarian pola-pola pikiran tersembunyi di dalam segala bentuk kegiatan manusia".

Dia telah menerima kehormatan dari berbagai universitas di seluruh dunia dan memimpin Antropologi Sosial di Collège de France (1959–1982). Dia terpilih sebagai anggota Akademi Prancis atau Académie Française pada 1973.

pemikirannya terkenal dengan Strukturalisme dan Antropologi budaya. Dalam buknya yang berjudul “Struktur-struktur elementer kekerabatan” ia menganalisa dan menjelaskan sistem-sistem kekerabatan primitif dengan memakai metode strukturalis. Menurutnya, kekerabatan dapat dianggap sebagai semacam bahasa, karena aturan-aturan yang dimiliki klen-klen primitif di bidang kekerabatan dan perkawinan memang merupakan suatu sistem yang terdiri atas relasi-relasi dan posisi-oposisi, seperti suami-istri, anak-bapak, kakak-adik, dan lain-lain.

Selain Ferdinand de Saussure, berikut adalah beberapa tokoh dalam aliran strukturalismedan pemikirannya :

  1. Jscues Lacan (1901-1981) lahir di Paris dan meraih gelar doktor dalam bidang kedokteran pada tahun 1932. Selain kedokteran, ia juga seorang psikiater. Maka dari itu, pemikirannya disebut Strukturalisme dan Psikoanalisa karena ia ingin membuat psikoanalisa menjadi suatu antropologi otentik dengan mengambi ilmu bahasa sebagai pedoman. Bahasa adalah suatu sistem yang terdiri dari relasi-relasi dan oposisi-oposisi yang mempunyai prioritas terhadap subyek yang berbicara, dan manusia tidak merancang sistem itu, tetapi ia takhluk padanya yang memungkinkan ia berbicara. Hal yang sama berlaku juga untuk ketidaksadaran. Ketidaksadaran merupakan suatu struktur, tetapi manusia sendiri tidak menguasai struktur ini. Ketidaksadaran adalah semacam logos yang mendahului manusia perseorangan. Usahanya adalah menjelaskan ketidaksadaran manusia dalam cahaya penemuan-penemuan linguistik tentang bahasa. Lacan selalu membahas percakapan psikoanalitis yaitu percakapan antara seorang psikoanalis dengan analisanya atau pasiennya. Dalam percakapan itu, ketidaksadaran tampak sebagai bahasa. Dalam percakapan psikoanalitis subyek tidak berbicara, tetapi subyek dibicarakan. Atau bukan saya yang berbicara, ada yang bicara dalam diri saya.
  2. Roland Barthes (1915-1950) lahir di Cherbourg dan dibesarkan di Bayonne dan Paris. Pada umur 64 tahun, ia meninggal tertabrak mobil di jalanan paris. Pemikirannya tentang Strukturalisme dan Kritik Sastra. Setelah ia membaca buku karangan Saussur yang berjudul kursus Tentang Linguistik Umum, ia mulai menyadari kemungkinan-kemungkinan untuk menerapkan semiologi atas bidang-bidang yang lain. Menurutnya semiologi termasuk linguistik tapi bukan sebaliknya. Barthes melukiskan prinsip-prinsip linguistik dan relevaninya dengan bidang lain. Dari sudut pandang strukturalistis, ia memberikan suatu interpretasi baru tentang Jean Racine, seorang dramawan besar dari sastra Prancis abad ke-17. Pendekatan baru tentang sastra yang diusahakan Barthes diberi nama “Kritik Sastra yang Baru”. Interpretasi ini diserang tajam oleh Raymond Picard, profesor Universitas Surbonne, yang membela pandangan tradisional tenang Racine.
  3. Louis Althusser (1918-1990) seorang tokoh filsuf dari golongan marxisme. Pemikirannya adalah tentang persamaan Stukturalisme dan Marxisme.
  4. Michel Foucault (1962-1984). Pemikirannya disebut Strukturalisme dan Epistemologi. Epistemologi disini adalah refleksi filosofis tentang kodrat dan sejarah ilmu pengetahuan. Menutnya pada tiap-tiap zaman mempunyai pengandai-andaian tertentu, prinsip-prinsip tertentu, cara-cara pendekatan tertentu. Deangan kata lain tiap zaman mempunyai apriori historis tertentu

Filsafat Struktural Ferdianand de Saussure

Munculnya paham baru kian terlihat yakni sekitar pada zaman kontemporer yakni diawal abad kedua puluh. Dimana pada abad tersebut orang berpikir lebih mengarah pada abad kedua puluh tersebut. Salah satu paham baru yang muncul tersebut yakni Strulturalisme yang dicetuskan oleh tokoh bernama Ferdinand de Saussure.

Akar dasar dari pemikiran ini sendiri dari Ferdianand de Saussure yakni meletakkan dasar linguistik dan tata bahasa. Meski De Saussure jarang mempublikasikan karyanya, namun dari karyanya mengenai ilmu linguistik itulah ia memberikan konstribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan juga filsafat di masa kehidupan manusia saat ini atas ilmu linguistiknya. Ia pun akhirnya terkenal menjadi bapak linguistik (Hasan, 2012:56).

Latar belakang kehidupan Ferdinand de Saussure yakni ia adalah seorang yang berkebangsaan Swiss yang lahir di Jenewa pada tanggal 26 November 1857 dan meninggal pada umur 55 tahun bertepatan pada tanggal yakni 22 Februari 1913. Ketika ia meninggal, ia memiliki dua orang murid yang pernah ia ajar di Jenewa yang nantinya dari kedua murid itulah karya tulisan dari de Saussure dapat tersebar dan dipelajari khalayak umum.

Pada awal abad ke-20 sebagai reaksi terhadap evolusionisme positivis dengan menggunakan metode-metode riset struktural yang dihasilkan oleh matematika, fisika dan ilmu-ilmu alam lainnya. Sedangkan ciri khas strukturalisme yang begitu signifikan yakni adanya pemusatan pada deskripsi keadaan aktual objek melalui penyelidikan, penyingkapan sifat-sifat instriknya yang tidak terikat oleh wktu dan penetapan hubungan antara fakta atau unsur-unsur sistem tersebut melalui pendidikan.

Berawal dari seperangkat fakta yang diamati pada permulaannya, strukturalisme menyingkapi dan melukiskan struktur inti dari suatu objek (hierarkinya, kaitan timbal balik antara unsur-unsur pada setiap tingkat), dan lebih lanjut menciptakan suatu model teoritis dari objek tersebut.

Pengertian dari istilah Strukturalisme sendiri adalah cara filsafat yang mendasari semua pemikiran abad modern ini, sedangkan linguistik itu sendiri merupakan salah satu ilmu yang paling sistematis dalam bidang humaniora. Akar strukturalisme adalah filsafat bahasa Saussure yang pada umumnya karyanya diabaikan sampai tahun lima puluhan hingga enam puluhan, ia menangkap makna pengamatan terhadap struktur bahasa, dari pada logika jalan.

. Pada tahun 1960-an strukturalisme telah menjadi model dikota Paris. Secara sederhana strukturalisme adalah pandangan bahwa setiap wacana, baik wacana filsafat maupun lainnya adalah sekedar sebuah struktur didalam bahasa tidak lebih. Teks tidak memberikan sesuatu yang lain kecuali teks itu sendiri, tidak ada lainnya dibalik bahasa.

Ferdinand de Saussure (1857-1913) telah meletakkan dasar linguistik modern. Dia adalah orang Swiss yang untuk beberapa waktu mengajar di Paris dan akhirnya menjadi professor di Jenewa. Selama hidupnya ia mempublikasikan sedikit karangannya. Buku yang mengakibatkan namanya menjadi tersohor di bidang linguistik ditebitkan oleh dua orang muridnya yang bernama Charles Bally and Albert Sechehaye. Penerbitan buku itu sendiri yakni tiga tahun setelah kematiannya. Buku karya de Saussure yang diterbitkan itu diberi judul Cours de linguistique general pada tahun 1916 dan berisikan mengenai kursus tentang linguistic umum.
Beberapa prinsip dasar yang digunakan oleh tokoh-tokoh strukturalisme berasal dari teori linguistik yang diuraiakan dalam buku tersebut. Tentu itulah hal yang kian menjadikan pemikiran de Saussure sendiri semakin bernilai dan berguna. Struktur dalam bahasa, istilah struktur berkaitan dengan bahasa sebagai sistem. Pendekatan struktural tentang bahasa mengandung arti pendekatan yang menganggap bahasa sebagai sistem dengan ciri-ciri tertentu, pemakaian kata “struktur” dalam strukturalisme disertai oleh seluruh konteks yang telah diuraikan yaitu significant-signifie, parole-langue, sinkroni diakroni.

Pertama, secara singkatnya Signifiant merupakan penandaan yang ditandakan. Penanda adalah bunyi yang bermakna atau coretan yang bermakna. Significant adalah aspek material dari bahsa, yaitu apa yang dikatakan atau didengar dan apa yang ditulis atau dibaca.

Sedangkan signifie (yang ditandakan) adalah gambaran mental, fikiran atau konsep. Signifie adalah aspek mental dari bahasa. Tanda dan bahasa selalu mempunyai segi yaitu significant dan signifie. Itulah mengapa Significant dan Signifie harus disandingkan menjadi satu agar suatu hal dapat dikenali tanda. Karena suatu signifie itu sendiri tidak mungkin disampaikan atau ditangkap lepas dari significant. Yang ditandakan itu termasuk tanda sendiri dan demikian merupakan suatu faktor linguistic.

Kedua, yakni bahwasannya mengenai bahasa individual dan bahasa bersama. Tanda awal dari adanya gejala bahasa secara umum disebut dengan istilah yang bernama langage. Dalam langage itu sendiri masih terbagi lagi menjadi dua pembahasan yakni dibedakan antara parole dan langue. Parole dimaksudkan sebagai pemakaian bahasa yang individual yang artinya dipakai oleh perseorangan (satu orang saja).

Meski parole tidak dipelajari dalam ilmu linguistik, namun dalam Linguistik menyelidiki unsur lain dari langage yaitu langue. Langue dimaksudkan sebagai bahasa yang pemakaiannya milik bersama dari suatu golongan bahasa tertentu. Sehingga akibatnya yaitu, langue melebihi semua individu yang berbicara dengan bahasa itu.
Karya yang terkenal dari de Saussure yang berjudul Course in general Linguistic, sebenarnya tersusun dari catatan kuliah serta catatan murid-muridnya mungkin bisa dilihat sebagai bagian dari pemenuhan keyakinan de Saussure bahwa bahasa itu sendiri harus ditinjau ulang agar linguistik memiliki landasan yang mantap.
Seperti yang ditunjukkan dalam buku karya berjudul Course, dalam sejarah linguistik, pendekatan Saussure pada umumnya dianggap menentang dua pandangan kontemporer yang berpengaruh tentang bahasa. Yang pertama adalah yang diusulkan pada tahun 1660 oleh Lancelot dan Gramaire de port-royal, Kedua yakni karya dari Arnaud, dimana bahasa dilihat sebagai cerminan pikiran dan didasarkan atas logika universal saja.
Tepat menurut waktu dan menelusuri waktu, bahasa dapat dipelajari menurut dua sudut sinkron dan diskroni, sinkroni berarti “bertepatan menurut waktu” dan diakron “menelusuri waktu”. Diskroni adalah peninjauan historis, sedangkan singkroni menunjukkan pandangan yang lepas dari perspektif historis, sedangkan Sinkron adalah peninjauan ahistoris (keluar dari subjek historis).

Diantara faktor-faktor yang memajukan perkembangan strukturalisme di dalam beberapa ilmu ialah diciptakannya semiotic, ide-ide Ferdinand de Saussure dalam linguistic, ide-ide Levi Strauss dalam etnologi, dan L.S. Vygtsky dan piaget dalam psikologi, serta tampilnaya metalogika dan metamatika.
Bila diterapkan pada ilmu-ilmu individual, metode-metode struktural mengakibatkan akibat-akibat positif : misalnya dalam linguistic pendekatan ini membantu membuat suatu deskripsi tentang bahasa yang tidak tertulis, membuat sandi prasati dalam bahasa, dll. Gagasan strukturalisme juga mempunyai metodologi tertentu dalam memajukan studi interdisipliner tentang gejala-gejala budaya, dan dalam mendekatkan ilmu-ilmu kemanusiaan dengan ilmu-ilmu alam.


Source : Filsafat Strukturan oleh Ramli dan Ahmad
Read More

Jumat, 29 April 2016

Filsafat dan Sains ( Drama Malin Kundang )

Ringkasan bab 2 “ Haidar Bagir, buku saku Filsafat Islam”
Oleh : Ma’ruf Nurhalis




Di eropa sejak adanya semangat Renaisance, para filsuf pada saat itu rajin untuk mempertanyakan sejauh mana agama itu bermanfaat bagi kehidupan empiris manusia. lahirlah dualisme Cartesian dari Rene Descartes yang menjadi awal perpisahan filsafat dan sains di barat. Filsafat dengan kebenaran koheren nya dianggap tidak sesuai dengan verifikasi-(empiris)eksperimen korespondensi Sains. Pemisahan keduanya akhirnya terbukti menimbulkan berbagai krisis kemanusiaan , krisis ekologi, krisis keyakinan yang melahirkan keterasingan pada diri sendiri. Fritjof Capra salah satu yang ingat, seorang ahli fisika merasa terpanggil untuk kembali menggali kebijaksanaan Timur (Taoisme) yang telah lama terkubur di bawah kaki Sains yang congkak dengan korespondensinya.

Lalu bagaimana dengan Islam. HB menuliskan “ Di dunia Islam pelepasan Sains dari Filsafat ini bahkah berakibat lebih buruk lagi”.

Ukuran sebuah peradaban dapat di lihat dari sejauh manakah Filsafatnya berguna bagi eksistensi manusia. Bertrand Russel sedikit menyindir dengan mengatakan “ seandainya di dalam Spesies Dinausaurus ada seekor saja dinausaurus yang menjadi filosof atau setidaknya sedikit saja berfilsafat , maka mereka bisa selamat dari kepunahan”. Dan itulah yang terjadi dalam hemat saya, bahwa Umat Islam setelah semangat abad peripatetik Islam, Filsosofnya semakin sedikit dan setiap kemunculannya selalu mendapatkan tantangan dari manusia yang anti Filsafat. dan bila ini terus terjadi. Umat Islam bukanlah mustahil akan punah mengikuti Dinausaurus.

 Prof Osman Bakar dalam sebuah konfrensi Sains di Yogyakarta berpendapat bahwa “ permusuhan terhadap filsafat di negara-negara muslim menjadi biang kerok dari krisis modernisme ini”. Ketika terjadi persentuhan dengan barat di abad 18-19 muncul semangat pembaharuan yang Westernisasi ( mengikuti Barat sepenuhnya tanpa kebijaksanaan) dan Fundamentalisme (menolak Barat tetapi juga menolak Filsafat ) dan sangat sedikit yang menjadi pembaharu yang kritis ( melihat barat dan mempertahankan ke Tradisonalan kebijaksanaan).
Para filosof Peripatetik seperti Ibn Sina, Al razi, Al Farabi dan ilmuwan macam al Biruni, ibn Hayyan mengaplikasikan Fisika sebagai anak dari ibu Filsafat itu. Dengan menjadikan alam Empiris Al-Qur’an sebagai motivasi untuk kritis dan analitis membaca kosmologi. Iqbal menunjukkan anti klasik al Qur’an ini telah terbukti menjadi kekuatan luar biasa dalam pengembangan sains. Bahwa para mujahid Intelektual ini dengan otak Qur’aninya telah membawa Islam kepada masa keemasan.
Namun ketika kebijaksanaan para mujahid intelektual ini tidak lagi memiliki nilai jual dalam kehidupan umat muslim. Maka pada  abad ke-15 kebijaksanaan itu perlahan hijrah ke Barat. Hingga Barat juga mencapai kejayaannya sedangkan Timur menjadi gelap. Tetapi dalam perkembangannya kemudian. Keadaan Filsafat di barat pelan pelan bercerai dengan Sains. Pada masa Renaisance itulah muncul metode ilmiah yang di gawangi oleh Descartes dan Bacon. Hingga Sains meninggalkan metode spekulatif koheren dari Filsafat. Filsafat dan Sains berpisah karena konflik semacam Malin Kundang dan ibunya.
Ada tiga hal yang perlu di perhatikan.
Pertama, apa yang terjadi ketika Sains berpisah dengan Filsafat. Maka kekayaan kebijaksanaan Filsafat ikut terlepas. Sains akan jalan sendiri dan kemanusiawiannya tidak menjadi bahan ukur. Yang terpenting jika objek itu sah secara korespondensi dan telah di falsifikasi maka itulah kebenaran. Tak penting apa dampak penemuan itu bagi lingkungan. misalnya ketika Kamasutra sebuah kitab yang menerangkan peraturan bercinta yang dikarang oleh Vatsayana. Di terjemahkan kedalam bahasa barat. Bagian filosofis dari Kamasutra tidak ikut di terjemahkan. Maka kehidupan Seksual masyarakat barat akhirnya menuju pada pergaulan bebas dan liar. Padahal Kamasutra memiliki nilai filosofis yang kaya.
Kedua, sains tidak pernah bisa tuntas dalam pengembaraannya. Bahwa metafisika akan menjadi pertanyaan yang sulit untuk di jawab. Sains berlaih atau mengalihkan metafisika yang sifatnya Transendental menuju metafisika yang sifatnya Saintifik dan dalam banyak hal sekuler.
Ketiga, Sains selain kehilangan metafisika juga akan miskin epistimologi, dari kemiskinan Epistimologi ini. Penghayatan terhadap sebuah objek akan kehilangan estetikanya. Saintifik seperti Capra dan Oppenheimer bahwa Sains telah kehilangan kesempatan bagi pengembangan fakultas atau daya intuitif.
Akibatnya ketika Sains telah menjadi “Malin Kundang” dan tidak lagi memperhatikan kebijaksanaan Filsafat sebagai “Ibunya” maka akan terjadi krisis dalam berbagai segi kehidupan, pada krisis Ekologi misalnya. Jika hanya berpandangan sains maka akan terjadi eksploitasi lingkungan yang tidak terkendalikan. Sebagaimana Arne Naess pada apa yang disebut Gerakan ekologi dalam mengaskan bahwa posisi lingkungan alam semesta tergantung sebagaimana harmonisnya hubungan manusia dengan lingkungannya. Jika dalam diri manusia mengalami krisis epistimologi apalagi krisis diri maka kerusakan lingkungan akan terus berkembang biak. Akhirnya Sains sebagai “Malin Kundang” akan membawa manusia  pada kutukan batu.

Disinilah letak peran kedua kajian Filsafat, yaitu mendekonstruksi paradigm modernism sedimikian seraya mengembalikan nilai transcendental dan holistic. Filsafat sebagai “Ibu” harus memecahkan masalah anaknya, seraya trus menasihati dan merumuskan sebuah kebijaksanaan yang dapat mengintegrasikan hubungannya dengan “Malin kundang” secara utuh dan tanpa dikotomi antara visi ilai dan visi manusiawi. 
Read More

Kamis, 31 Desember 2015

Putusan Sintesis Apriori.


Secara etimologis apriori berarti “dari hal yang lebih dulu” dan aposteriori adalah dari hal yang kemudian. Perkembangan pengertiannya yang kini meluas bersumber dari arti yang di berikan oleh Kant.
Menurut Leibniz, mengetahui realitas secara aposteriori adalah mengetahui realitas dari yang benar-benar di temukan dalam dunia empiris, sedangkan dalam mengetahui realitas secara apriori adalah mengetahui realitas dengan mengungkapkan sebab sesuatu tertentu.
Perbedaan antara apriori dan aposterori dapat di simpulkan sebagai perbedaan antara sesuatu yang diperoleh sebelum pengalaman (apriori) dan sesuatu yang di peroleh setelah pengalaman( Aposteriori). Atau perbedaan antara non empiris dan empiris.
Namun dalam pengertian Kant, pembedaan itu dikaitkan antara pembedaan yang niscaya dan yang tidak niscaya. Di dalam apa yang di yakini, semua kondisi niscaya pengalaman sifatnya apriori, bahwa segala pengertian yang terbentuk adalah apriori dari perangkat mental yang membuat banyak hal dapat di satukan dan yang membuat persepsi dan keputusan kita berarti. Dalam hal inilah perngkat mental itu ifatnya apriori. Dan semua yang apriori pasti memiliki validitas universal dan niscaya. Sedangkan Kant memikirkan bahwa pengetahuan yang mendahului (apriori) adalah semua pengalaman. Namun ia tidak berpikir tentang ide bawaan seperti para Idealis berpikir. Yang dipikirkannya adalah pengetahuan yang tidak disimpulkan dari pengalaman meskipun penampilannya berlangsung pada saat terjadinya pengalaman.
Lalu kita lalu menyimpulkan bahwa putusan yang sifatnya analitis adalah apriori. Dan segala putusan yang sifatnya sintesis akan kedapatan aposteriori. Putusan analitis apriori adalah pegangan para rasionalis. Sedang putusan sintesis aposteriori adalah putusan milik para empiris. Namun Kant memiliki pemikiran baru yang orisinil. Pemikiran yang mencoba mengatakan bahwa putusan sintesis tidak selamanya kedapatan Aposteriori namun putusan sintesis seringkali kedapatan apriori.
Putusan analitik adalah putusan yang isi predikat menempeli subjek, atau keputusan yang predikatnya sudah di sebutkan, atau sudah di muat oleh subjek.
*Contoh : Lingkaran itu bulat ( yang disebut lingkaran (subjek) niscaya mempunyai bentuk bulat. (predikat)).
Putusan sintetik ialah keputusan yang tidak analitik, atau keputusan yang diambil dari pengalaman . atau sebuah putusan yang predikatnya mewujudkan sintetis dengan subjek.
*Contoh : Mahasiswi yang cantik itu pandai ( predikat pandai yang di ambili dari pengalaman dengan subjek mahasiswa mengalami sintesis.)
Sedangkan putusan sintesis yang sifatnya apriori adalah sintesis yang manifestasinya saja bergantung dari suatu pengalaman tertentu, tetapi yang sebenarnya sudah ada dan adanya tidak bergantung pada pengalaman tertentu( jadi adanya mendahului pengalaman tersebut). keputusan sintesis apriori mendahului pengalaman itu sendiri karena keputusan-keputusan tersebut memang merupakan hukum-hukum dari pengalaman itu. Tanpa keputusan tersebut, pengalaman tidak pernah ada. keputusan-keputusan ini dapat ditunjukkan melalui analisis Transendental.
Coba saja perhatikan kesadaran kita (pengetahuan kita) segala keputusan yang kita buat hanya bisa terbentuk dan terlaksanakan apabila kita mengalami pengalaman sensitivo-rasional tertentu. Kemudian melalui analisis Transendental akan dapat di temukan realitas-realitas keputusan tersebut.
Tentang eksistensi keputusan sintesis apriori, seseorang pasti dapat menemukannya dalam matematika dan dalam hal-hal yang diandaikan oleh pengalaman, moralitas, dan ilmu serta dicontohkan Kant melalui dua ilmu dasar.
1.       Di dalam matematika dapat di jumpai keputusan Sintesis apriori, misalnya 3+5 adalah 8. Meskipun dari ilmu hitung, Kant menerima adanya beberapa kebenaran analitis di dalam matematika, tetapi ia menegaskan bahwa sebagian terbesar kebenaran matematika bersifat sintesis apriori, sifat-sifat informatif, non empiris dan niscaya keputusan-keputusan tersebut berdasarkan kenyataan bahwa pengetahuan matematis melibatkan intuisi-intuisi ( Aunschaungen) tentang waktu (dalam ilmu hitung) dan tentang ruang (dalam ilmu ukur). Ruang dan waktu adalah bentuk-bentuk yang diterapkan rasio pad data Indera.
2.       Didalam fisika: pada semua perubahan di dalam dunia bendawi, jumlah bahan yang tergantung dalam benda tidak berubah.

Pada seluruh Karya Kant yang berjudul Kritik der Reinen Vernunft adalah usaha atau ilmu khusus untuk menjawab : bagaimana keputusan Sintesis apriori itu ? atau dengan perkataan lain yang ebih khusus, bagaimna keputusan-keputusan ilmiah dari ilmu itu sendiri? Kant menyebutnya “rasio murni” karena Kant hendak mengatakan bentuk rasio yang di dalamnya mencakup prinsip-prinsip bagi pengetahuan a priori. Bukunya disebut sebagi “kritik” karena Kant tidak bermaksud menyodorkan suatu sistem lengkap rasio murni. Tujuan Kant hanya mau menyodorkan suatu pengkajian kritis atas rasio murni, menunjukkan sumber-sumber dan batas-batasnya.
Jawaban yang diberikan Kant terhadap pertanyaan di atas adalah unsur apriori di tambahkan oleh akal budi kita pada pengetahuan indera ( yang memberi tahu sesuatu yang baru kepada kita) dan membangun pengetahuan indera sedemikian rupa hingga menjadi yang di sebut (pengalaman). Pengetahuan yang benar hanya di peroleh manakala indera dan rasio bersama-sama memberikan sahamnya. Dan apapun yang disahamkan oleh indera dan rasio di kondisikan sebelumnya oleh bentuk-bentuk keinderaan kita” (ruang dan waktu) dan oleh kategori-kategori pemahaman seperti kuantitas,kualitas,relasi, modalitas serta bentuk-bentuk bawahannya. Kuantitas dan Kualitas di sebut kant sebagai kategori matematis, sedangkan relasi dan modalitas di sebutnya kategori dinamis.
Jadi, keputusan-keputusan sintesis a priori di akarkan dalam bentuk-bentuk dan kategori-kategori tersebut di atas, maka adalah sah bagi setiap objek yang tampil di dalam lingkungan bentuk-bentuk keinderaan kita atau sah bagi setiap objek yang di pikirkan di dalam jangkauan kategori-kategori pemahaman kita.
Demikianlah kata Kant dalam karyanya “Kritik terhadap rasio murni”.


Read More

Kamis, 24 Desember 2015

menelanjangi Immanuel Kant, membuktikan dan membahasakan Tuhan.



Membuka Kant

Filsafat abad ke 18 di dominasi oleh kaum empiris Inggris. Yang di punggawai oleh Locke,Berkeley dan Hume yang berjiwa Subyektivisme. Pada diri Locke lewat teorinya di beranggapan jika pengetahuan yang didapatkannya adalah  merupakan persepsi kesetujuan dan ketidak setujuan dari dua gagasan. Dia berkeyakinana bahwa ada tiga macam pengetahuan tentang eksistensi riil, yakni intuitif dari diri kita, Demostratif dari Tuhan, dan Sensitif tentang hal-hal yang mengemuka dalam pikiran.
Sedang pada diri Berkeley sebagai upaya mengomentari koleganya. Dia berkeyakinan jika pengetahuan itu tak lebih terperoleh dari pikirannya sendiri tanpa ada peranan Demonstratif dari Tuhan. Namun ia tidak berani melangkkah sejauh itu dengan jubah Pastor dan makhluk yang berjiwa sosial.
Hume sebagai titik tertinggi setiga Empirisme. Lebih banyak mendukung Locke dalam memperoleh pengetahuan. Dia tidak mengakui gagasan sederhana tanpa adanya kesan yang mendahuluinya, dan tidak diragukan lagi, dia membayangkan sebuah “kesan” sebagai kondisi pikiran yangs ecara langsung di sebabkan oleh sesuatu di luar pikiran, namun ia tidak mengakui ini sebagai defenisi “Kesan”, karena dia sendir mempertanyakan apa yang di maksud dengan “Sebab”.
Kritik terhadap pengetahuan yang di lakukan oleh segiitiga Empirisme ini berlanjut kesegitiga Jerman yang lebih canggih. Muncul Kant,Fichte dan Hegel untuk membangun filsafat jenis baru yang di tujukan untuk mengamankan pengetahuan dan kebaikan dari doktrin-doktrin Subversif akhir abad ke-18. Terlebih pada diri Kant sebagai panglima bagi kawannya yang lain dengan bendera sintesis yang berusaha mengawinkan segitiga Rasionalisme dan segitiga empirisme menjadi sebuah bangun Kritisisme yang bergaris sintesis dan apriori.
Dengan ulasan singkat di atas sebagai beranda Kant, kini saatnya kita memulai untuk “Menelanjangi” Kant.
Menelanjangi Epistimologi Kant, sebelum menuju Moralitas Kant dn membahasakan Tuhan

Sebagai manusia yang di komentari sebagai filsuf terbesar abad modern memang tidak terlalu berlebihan, meski ada juga yang tidak sependapat. Namun sangatlah berdosa jika kita berani mengingkari peran pentingnya dalam membangun Filsafat.
Dari lahir(1724) hingga wafat(1804), ia hanya menetap di Konisberg, Prusia timur. Sebagai seorang pecinta Buku ia mendapat didikan Filsafat dari Leibniz dan jatuh cinta dengan filsafat Leibniz versi Wolfian, namun begitu mengenal Roessau dan Hume dengan kritiknya terhadap konsep Kausalitas mendorong hasratnya untuk menyelingkuhi Leibniz. Atau dalam istilahnya sendiri, ia telah terbangun dari tidur Dogmatiknya.
Kant memiliki ciri Filsafat yang kelihatannya lebih mementingkan hati nurani dari pada nalar teoritik yang kaku. Prinsispnya bahwa setiap orang di anggap sebagai tujuan dalam dirinya sendiri merupakan bentuk doktrin tentang Hak Asasi Manusia, dan kecintaannya akan kebebasan di tunjukkan dalam ucapannya bahwa” Tidak ada yang lebih mengerikan di banding jika tindakan seseorang harus tunduk kepada kehendak orang lain”.[1] Inti Filsafat Kant ada pada perkataannya ini, dan perlahan kita akn menuju kesana.
Buku terpenting kant adalah The critique of pure reason. Tujuan dari karya ini adalah untuk membuktikan bahwa pengetahuan yang kita peroleh bukan hanya berdasar pengalaman tetapi mesti ada juga sebagian a priori yang tidak di simpulkan seca induktif dari pengalaman. Dia memsihkan dua pembedaan yang dalam karya Leibniz, bercampur aduk. Di satu sisi, ada pembedaan antara proposisi “analitik” dan “sintetik”, di sisi lain ada pembedaan antara proposisi “a priori” dan “ Empirik”.
Proposisi analitik adalah proposisi yang predikatnya adalah bagian dari subyek. Misalnya “ Pria yang tinggi itu adalah seorang pria, atau “segitiga sama sisi adalah segitiga”. Proposisi semacam itu akan mengikuti hukum kotradiksi. Sedangkan Proposisi “Sintetik” adalah proposisi yang tidak analitik atau semu proposisi yang di dapati dari pengalaman adalah proposisi “Sintetik”, misalnya “hari Desember adalah permulaan musim huja” kita tak dapa menyimpulkan kebenaran semacam ini jika hanya menganalis konsep, di butuhkan pengalam untuk menunjang kesimpulan, itulah proposisi “Sintetik”. Namun Kant berpendaat jika Proposisi “Sintetik” seutuhnya di peroleh lewat pengalaman tetapi menyisakan sebagian apriori murni.
Proposisi Empirik adalah yang tidak dapat kita ketahui kecuali dengan bantuan Indera persepsi, baik milik kita sendiri maupun milik orang lain yang di pat di yakini kesaksiannya, dalam hal ini fakta-fakta sejarah dan geografi termasuk dalam jenis ini, demikian pula dengan hukum ilmu pengetahuan yang di ambil dari data Observasi.
Disisi lain proposisi Apriori adalah yang di pandang manakala kita mengetahuinya, memiliki basis selain dari pengalaman. Seorang anak yang mempelajari Aritmetika mungkin dapat di bantu dengan mengalami atau merasakan  dua butir kelereng dan dua butir kelerang yang lainnya, dan mengamati bahwa kesemuanya dia alami sebagai empat buah kelereng. Namun ketika dia memahami proposisi umum “ Dua dan dua sama dengan empat” dia tidak lagi meminta konfirmasi dengan menggunakan contoh; proposisi ini memiliki kepastian yang tidak dapat di berikan oleh induksi hukum umum. Dalam hal ini, semua proposisi yang murni matematis bersifat a priori.
Inti permasalahan dari the Critique of Pure Reason merupakan jawaban atas pertanyaan Bagaimana penelitian sintesis yang a priori dapat di mungkinkan?
Untuk menjawab pertanyaan ini, Kant sebagai seorang yang filsuf yang tegar mesti mempelajari pertanyaan yang di ajukannya sendiri dalam dua belas tahun umurnya demi mendapatkan solusi dari pertanyaannya. Namun dengan kejeniusannya hanya butuh beberapa bulan saja untuk menuliskan teorinya .
Menurut Kant, dunia luar hanya memunculkan materi sensasi, namun perangkat mental kita membentuk konsep-konsep untuk memahami pengalaman.  Sensasi yang di Intuisikan mesti harus berada pada Ruang dan Waktu serta tersaring oleh “Kategori yang kesemuanya adalah perangkat mental yang niscaya tertanam pada diri dan menjadi perangkat mental.
Ruang dan Waktu mesti niscaya di yakini ada pada diri sebagai intuisi yang sifatnya subyektif. Seperti analogi sebuah kaca mata biru yang kita kenakan. Di manapun kita memandang semuanya akan menjadi warna biru. Dalam ruang dan Waktu bila di jadikan sebagai sebuah kaca mata. Maka segala yang kita pandang akan memiliki ruang dan waktu. Yang kita pandang mesti memiliki geometri dan Waktu. Dengan demikian Ilmu Geometri dapat juga di katakan sebagai ilmu pengetahuan yang sifatnya a priori.
Ruang dan Waktu adalah bukan konsep. Keduanya merupakan bentuk Intuisi yang berarti “Anschauung, Memandang”. Yang memiliki konsep-konsep apriori adalah dua belas Kategori yang di peroleh Kant dari bentuk-bentuk Silogisme. Kedua belas kategori itu di bagi menjadi empat bagian yang masing-masing terdiri dari tiga kategori:
1.       Kuantitas
a.       Kesatuan (unity)
b.      Kemajemukan (Plurality)
c.       Keseluruhan (Totality)
2.       Kualitas
a.       Realitas
b.      Negasi
c.       Limitasi
3.       Relasi
a.       Substansi dan aksidensi
b.      Sebab-akibat
c.       Timbale balik
4.       Modalitas
a.       Kemungkinan(Possiblity)
b.      Keberadaan(eksistence)
c.       Kepastian(Necessity)
Ke dua belas Kategori ini bersifat Subyektif yang berarti sama dengan Ruang dan Waktu. Dengan kata lain Imanuel Kant mendesain perangkat mental kita untuk selalu sesuai dengan apapun yang kita alami. Namun ada Inkosistensi mengenai penyebab sensasi, dan kemauan bebas olehnya dapat di anggap sebagai penyebab kejadian alam ruang dan waktu. Inkonsistensi ini bukan tampak sebagai kejadian sekilas, ia justru merupakan bagian penting dalam sistemnya Kant.

Membuktikan Tuhan, Metafisika Kant

Dalam bagian the critique of practical Reason. Setelah membaca the Critique of Pure Reason Tuhan tentu saja tak tak dapat tersaring lewat intuisi yang murni Intelektual yang berusaha merasakan eksistensi (keberadaan ) Tuhan. Kant berupaya menghancurkan semua bukti yang sifatnya intelektual. Dan berupaya untuk menyia-nyiakan usaha untuk melihat eksistensi Tuhan lewat Intelektual.
Menurutnya dengan berbekal Rasio Murni kita hanya dapat mengetahui tiga bukti tentang keberadaan Tuhan, yakni bukti Ontologis, bukti Kosmologis, dan bukti fisiko-teologis.
Pada Bukti Ontologis. Kant mendefenisikan Tuhan sebagai Ens Realissimum, dzat yang paling nyata atau Dzat yang paling mutlak[2]. Atau ens Realissimum itu adalah subyek dari semua predikat yang bersifat mutlak. Ketika Tuhan di akui sebagai sesuatu yang bereksistensi dalam arti predikat maka tuhan itu berposisi sebagai eins realissimum sebagai Subyek yang juga bereksistensi, yakni harus eksis. Kant menegaskan bahwa eksistensi itu bukan  sebuah predikat.
Pada bukti Kosmologis. Dia mengatakan, jika segala sesuatu itu ada, maka realitas yang mutlak ada juga harus ada. Sekarang kita mengira bahwa kita ada, maka realitas mutlak harus di niscayai juga ada. Dan inilah yang di sebut sebagai ens Realissimum.
Pada bukti fisiko-teologis menyatakan bahwa jagat raya memperlihatkan keteraturan yang membuktikan adanya sesuatu tujuan atau adanya pengatur di balik keteraturan itu. Argument ini sangat di sukai dan di perlakukan dengan hormat oleh Kant. Tetapi menurutnya bukti hanya dapat membuktikan Tuhan sebagai Arsitek tetapi bukan pencipta, dank arena itu argument ini tidak mampu memberikan konsepsi yang memadai tentang Tuhan. Lalu jika ketiga bukti ini masih lemah maka ia menyimpulkan bahwa satu-satunya alasan teologis yang memungkinkan ialah yang di dasarkan pada, atau di pandu oleh ketentuan moral.

Selangkah menuju Moral Kant.

Dalam pembahasan the critique of practical reason. Ada “tiga postulat” atau juga di artikan sebagai tiga “gagasan tentang rasio” yang berisi Tuhan, kebebasan (free will) dan keabadiaan (Immortal). Rasio murni memang mendorong kita untuk membentuk gagasan-gagasan ini, namun ia tidak juga mampu dengan sendirinya membuktiakn realitas gagasan-gagasan tersebut. Gagasan –gagasan ini memiliki signifikansi praktis, yakni berkaitan dengan moral. Penggunan Rasio yang murni Intelektual mengarah pada kekeliruan[3], penggunaan yang benar adalah yang di arahkan ke tujuan moral.
Argumentnya ialah bahwa ketentuan moral memerlukan keadilan, yakni kebahagiaan yang selaras dengan kebajikan. Hanya tuhan yang bisa menjamin hal ini, dan tebukti Dia tidak menjamin hal ini dalam kehidupan sekarang. Karena itulah ada Tuhan dan kehidupan mendatang, dan ada pula kebebasan, karena kalau tidak ada tentu apa yang di sebut kebajikan juga tidak akan ada.

Memasuki Moral Kant, Menghadirkan Tuhan.

System Etika Kant dalam karyanya Metaphysic of Morals mengatakan “Metafisika , moral yang sepenuhnya mandiri, yang tidak bercampur aduk dengan fisik atau hiperfisik teologi manapun, semua moral memiliki konsep yang memiliki tempat dan berasal-muasal secara a priori di dalam rasio. Nilai moral hanya ada selama manusia bertindak  dengan berlandaskan rasa kewajiban. Namun kewajiban itu tidak di artikan sebagai tindakan yang di lakukan sebagai mana wajib dalam arti yang biasanya. Misalnya seseorang yang berprilaku baik karena dorongan kebaikan, tidak bisa serta merta di katakan berbudi. Esensi Moralitas itu sendiri berasal dari konsep hukum. Dan yang mengerti mengenai hukum hanyalah makhluk yang bernalar. Atau makhluk yang memiliki kemampuan untuk bertindak sesuai dengan gagasan tentang hukum. Rumusan tentang hukum ini di sebut sebagai Imperatif.
Ada dua macam Imperatif : Imperatif hipotesis yang mengarah kepada hipotesis subyektif, yang jika ingin menjadi itu maka harus melakukan ini. Dan imperative Kategoris yang mengarangah kepada obyektif yang apapun tujuaannya tindakan harus bersifat obyketif. Imperative Kategoris bersifat Sintesis dan a priori. Karakternya di tarik, oleh Kant dari konsep Hukum.
Kant mengilustrasikan tentang cara kerja imperative kategoris bahwa meminjam uang adalah salah, karena jika ketika semua berusaha melakukan hal itu maka tidak ada lagi uang yang tersisa untuk di pinjam. Kita dengan cara yang sama, dapat menunjukkan bahwa pencurian dan pembunuhan di kecam oleh Imperatif Kategoris. Namun ada sejumlah tindakan yang oleh Kant di anggap salah, meski tidak bisa di buktikan kesalahannya dengan menggunakan prinsipnya, misalnya dengan bunuh diri, kaidahnya sepertinya member kepastian, namun tanpa criteria yang memadai tentang kebajikan. Dalam hal ini kita harus melihat dampak dari tindakan untuk keluar dari imperative kategoris. Namun Kant mengatakan dengan tegas bahwa kebajikan tidak tergantung pada hasil tindakan yang di kehendaki, namun hanya pada prinsipp di mana ia merupakan hasilnya, dan jika ini di akui, tidak ada yang lebih konkret di banding kaidahnya.
Dengan paham moral Immanuel Kant, otoritas manusia sungguh sangat di hargai dalam menentukan kualitas dirinya. Seseorang yang mampu menjalankan moral adalah orang yang otonom, yang bertindak atas pertanggungjawaban dirinya sendiri. Ia tidak mlemparkan tanggung jawabnya pada oknum lain yang memri perintah dari luar dirinya. Orang semacam itu adalah seorang heteronom, yang tidak dewasa moral. Akan tetapi, otonomi moral tidak boleh juga di artikan sebagai penggunaan kebebasan secara semena-mena, sebab kebebasan moral justru tidak semena-mena, sebab kebebsan moral justru tidak semena-mena. Tindakan manusia, yang pantas di sebut sebagaitindakan moral, menurut Kant justru selalu mengikuti “HUkum Moral,IMperatif Kategoris” yang sudah tertulis di dalam hatinya, sementara ia sadar akan kebebasannya.”Dua hal yang senantiasa menjadi kekaguman tidk habis-habisnya,,, bintang dilangit dan hukum moral di dalam hati.”
Seorang manusia harus bertindak sesuai dengan suara hatinya, bukan dengan suara yang berasal dari luar hatinya. Tetapi suara yang telah memiliki hukum mral di dalam hati nuraninya. Dengan cahya Rasio Praktis. Dia tidak lagi harus mengkhawatirkan apakah kewajiban moralnya bersifat subyektif. Tetapi lewat Rasio praktis Universal, kewajiban moralnya akan di akui oleh yang lain. Karena rasio yang bersifat Universal, maka apa yang mnajdi keputusannya dalam bertindak atas dasar pertimbangan rasio akan sesuai dengan keputusan semua orang lain yang dalam kasus yang sama juga bertindak atas dasar rasio.
Pengaruh ajaran Kant amatlah luas, di satu pihak, mengkritik moral agama yang tradisonal dan kaku, dipihak lain, kant seoalh memnagunkan agama untuk memperbarui ajaran moral mereka atas dasar rasionalitas. Pemikiran Kant ini menyumbangkan pembaharuan terhadap agama yang bertindak sewenang-wenang lewat “Perintah Allah”.
Di sinilah pembahasan kant secara ringkas bersambung, bahwa lewat pembuktian Moral itu. Manusia lewat Imperative Kategoris, bahwa telah ada hukum yang sifatnya Universal yang mengikat diri lewat suara hati, untuk selalu mutlak memilih yang benar apapun tujuannya. Meskipun tidak juga boleh di babi –butakan bahwa suara hati itu adalah suara tuhan, tetapi ke einsrealissimum tuhan, ke realitasan mutlak Tuhan harus ada. Jika tidak suara Hati beserta Tiga postulat itu akan Absurd dan menjadi pembahasan omong kosong.





[1] Bertrand Russel, History of Western Philosophy and its Connection with Political and social Circumtenses from the earlis Times to Present Day, terjemahan oleh Sigit Jatmiko dkk, Sejarah Filsafat Barat dan Kaitannya dengan Kondisi Sosio-Politik dari Zaman Kuno hingga Sekarang (III, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007) h. 921.
[2] Eins Realissimum juga di sebut sebagai realitas mutlak personal yang menjadi dasar segala yang ada di dunia, maka tidak mungkin ada kemampuan maupun kepositifan apa pun di dunia yang tidak dimiliki oleh Tuhan. Lihat ,Frans Magnis Suseno, Menalar Tuhan( Yogyakarta: Kanisius, 2006 ) h. 187.
[3] Rasio yang mengarah pada kekeliruan bukan berarti akan keliru juga pada pengintuisian, kekeliruan itu terjadi jika Tiga Potulat ini berusah untuk di Indrai, sedangkan nalar Rasio hanya mampu mengeluarkan Argument atau mencoba membahasakan sesuatu berdasar dengan apa yang di Indrai atau berdasar pada ruang dan Waktu.
Read More