Senin, 07 Desember 2015

Manusia adalah Pecandu

Aku duduk diam dalam renungan. Hari telah banyak berganti, tetapi aku belum juga berarti. Siang ini, aku menemukan sebuah surat. Entah dari mana datangnya. Akupun mulai membaca.

"Dalam dan semakin dalam aku memuja-Mu. Hingga begitu kecil Bumi yang kudiami ini. Sangat kecil. Aku pun tahu, Badai-Mu laksana belaian lembut yang menyentuh jiwaku. Sudah bolehkah aku berada di sisi-Mu?
Aku merasakan terasing sekarang. Bagai serpih-serpihan dedaunan di tengah lautan. Asing yang teramat damai. Apakah Engkau melihatku sekarang, Tuhan? Apakah Engkau ikut membaca apa yang aku tuliskan ini?
Damai-Mu begitu Maha Akbar dibandingkan dengan euforia Bumi ini, Tuhan. Tak dipungkiri lagi, Engkau adalah Maha Esa. Aku merasakannya. Jelas terasa, satu persatu langkah menuju kerajaan-Mu. Tuhan, aku tiada malu untuk kembali datang pada-Mu. Aku telah belajar untuk mengingat. Aku telah belajar untuk mencari. Aku telah belajar untuk menggali. Aku telah belajar untuk tahu lebih banyak tentang-Mu."

"Tuhan, sore ini tiada apa-apa. Hanya ada nafas yang masih setia menghembuskan nama-Mu. Badai-Mu masih terasa menghempaskan tubuh ini, namun janganlah menjadikan aku lupa, Tuhan.
Pertama kali aku datang, tangis pecah membahana menghantam dinding-dinding Bumi. Aku menangis karena aku lupa tentang hakikat kehidupan. Di sebagian makhluk-Mu, langkah-langkah mereka terus tersusun menuju rumah abadi, sebagian lagi hengkang dan berupaya menjadi penghuni abadi Bumi. Mereka terjebak. Tipuan dan rayuan Bumi sebenarnya tidaklah hebat, cuma dada saja yang belum beriman. Sujud, rukuk, sembah, ritual dan ibadah telah menjadi sebuah cara untuk menghindari azab saja, bukan lagi untuk takjub pada-Mu."

"Damai dan bebas. Sebuah kebahagiaan yang sebenar dan seutuhnya di rumah abadi nantinya. Perang di Bumi pun mengajarkan kita untuk mendambakan damai lebih dari segalanya. Damai adalah kebahagiaan yang tidak terkira. Sebagian kecil dari kita telah bersuara untuk kedamaian karena kita tahu itu adalah media mencicipi aura surga. Sebagian besar terus beringas membunuh jiwa dengan perang yang disulut oleh gila kuasa dan harta."

"Tuhan, doktrin iblis telah menyebar ke dalam alur-alur sel otak manusia. Mereka menawarkan damai dan bebas buatan yang dipasang harga beberapa lembaran uang. Mereka yang terjebak, terus memburu lembaran ilusi itu untuk mendapatkan kebahagiaan buatan. Lalu, apakah bedanya manusia yang gila uang, harta dan jabatan dengan manusia pecandu narkoba? Hampir dari kita semua adalah pecandu. Benar bukan?
Hampir semua dari kita saat ini adalah pecandu. Kita memburu lembaran uang, harta dan jabatan untuk sebuah ilusi. Kesederhanaan kenyataan tidak tampak lagi. Padahal itu adalah kesederhanaan tentang kehidupan yang sebenarnya. Hidup di Bumi adalah sebuah kesederhaan. Simpel, namun candu telah membutakan. Hampir dari kita di Bumi ini telah menjadi pecandu!"

"Berapa hebatnya sebuah kelezatan makanan yang dikejar teramat bernafsu oleh kaum-kaum materialistis? Lidah mereka telah diracuni. Padahal hanya sampai tenggorokan saja, namun kita rela untuk menghalalkan segala cara. Memburu lembaran di setiap detik yang bergulir statis. Lidah yang teracuni telah menjadi lupa. Kita terjebak."

Aku membaca tulisan itu dengan sangat syahdu merasuk ke dalam sanubari. Aku menemukannya di sore yang tenang ini. Tak sengaja tulisan dalam secarik kertas itu kutemukan saat aku benar-benar telah merasa asing dan mengasingkan diri dari kehidupan khalayak.

Aku bukanlah siapa-siapa. Bukan tokoh terkenal atau musisi rock yang diburu oleh para fansnya. Beberapa tahun lalu memang ada keinginan untuk menjadi itu, tapi saat ini sudah memudar. Entah, mungkin karena ketertarikanku untuk menempuh perjalanan spiritual.

Aku seniman dan aku tetap berkarya. Menciptakan musik, lukisan, tulisan hingga apapun yang menurutku adalah berkarya, terus aku gerakkan setiap harinya. Di sudut kota ini aku memutar segenap pikiran dan jiwa untuk terus berkarya dan khusyuk menyembah-Mu.

Aku mulai bertanya, tulisan siapa yang baru saja aku baca? Di sini aku sendiri, tanpa ada siapa-siapa. Tulisan siapa ini? Apakah ada yang mengirimkannya ke rumah ini? Atau ini adalah sebuah tulisan yang telah ada sejak berpuluh-puluh tahun lalu dan baru saja aku temukan?
6 Mei 2015. Hah?! Tulisan itu baru saja lahir. Siapa yang telah menuliskannya? Apakah ada seseorang selain aku di rumah ini? Tidak mungkin! Aku terasing di sini. Tak ada satupun orang di rumah ini.
Aku mencoba menyusuri setiap ruang di rumah ini. Siapa tahu orang yang menulis surat itu masih berada di sini. Atau mungkin saja dia adalah penghuni gaib rumah ini. Satu persatu ruang aku susuri. Nihil.
Surat kedua kutemukan. Masih dalam tanggal yang sama. Aku segera membacanya.

"Begitu hebat sang iblis. Kaum mereka memasang perangkap untuk menjebak lima indera manusia. Mata, lidah, telinga, kulit dan hidung. Dengan hebatnya, mereka menciptakan candu untuk lima indera tersebut. Saat candu sudah memenjarakan fungsi indera, seketika bermacam rayuan dan surga-surga buatan pun disebar ke setiap penjuru Bumi. Manusia yang telah berubah menjadi pecandu pun tak lagi pikir panjang. Candu adalah surga. Satu persatu manusia masuk jebakan. Mereka menjadi terlupa.
Peradaban semakin maju. Bumi tergolek dalam kekakuan. Apakah Tuhan saat ini menyaksikan? Apakah yang dirasakan Tuhan saat makhluk Bumi ciptaanNya bersatu padu menciptakan Tuhan-Tuhan lainnya? Agama dipecah menjadi beratus-ratus ritual dan ketetapan. Apakah Sang Pencipta melihat di Bumi ini telah diciptakan sejumlah Tuhan baru? Indera kita telah ditutup rapat oleh peradaban. Kita yang saat ini merasa telah benar-benar beragama apakah telah benar-benar beriman? Apakah saat ini kita benar-benar telah benar? Atau, saat ini lima indera kita sedang ditutup rapat oleh para iblis? Kita beribadah tapi buta, tuli, mati rasa dan terlena dengan Bumi."

"Dengan keadaan yang telah jauh dari ketetapan ini, ada satu rahasia yang ingin aku ungkapkan. Ada satu indera yang menjadi tameng kuat untuk kembali menawarkan segala candu yang meracuni lima indera manusia. Dia ada di jiwa. Saat ini para iblis terus mencari cara untuk membunuh jiwa. Berbagai cara digerakkan dan dilancarkan untuk menjadikan manusia tanpa jiwa. Jika ruang di jiwa telah kosong, lima indera akan benar-benar mati. Overdosis!"

"Seni dan kecerdasan spiritual adalah obat untuk menguatkan kembali bunga-bunga jiwa manusia. Dua hal ini telah mulai dilumpuhkan oleh iblis. Seni? lihat saja saat ini, seni berada di puncak sekarat. Para bedebah yang merupakan pengikut iblis meramu seni berbalut kebodohan, lalu mereka menjualnya dengan suntik-suntikan candu. Semakin lama, tidak lagi ada seni. Seni diubah menjadi bentuk hiburan belaka tanpa ada ramuan untuk jiwa. Semakin lama, seni semakin terkikis sangat dalam. Sebagian dari kita pun hanya menjadi jiwa-jiwa kosong. Kita telah dituntun untuk menjadi robot seutuhnya."

"Tak jauh beda dengan seni, spiritual dibuat melenceng sesuai dengan ketetapan terdahulu. Hanya sedikit yang coba mencari tahu, dan selebihnya hanya menonton sambil mencibir ke arah kaum minoritas yang khusyuk menggali tentang Ketuhanan, alam semesta dan jiwa. Lalu, apakah arti Bumi ini jika manusia di beberapa tahun kedepan hanyalah sebuah rombongan robot-robot dan manusia-manusia pecandu? Aku ingat Al-Ghuraba'. Ya, ajaran tuhan pada awalnya adalah suatu hal yang asing, dan pada akhirnya itu akan kembali pada keterasingan di tengah peradaban yang semakin menjulang tinggi dan bergerak maju dalam hal penciptaan Tuhan Dunia dan candu. Sebaliknya, hal yang sejogjanya dikejar dalam mencari jalan pulang menuju rumah abadi , tidak diperdulikan. Kita benar-benar dalam kemunduran dan teramat jahiliyah."

Ah! Aku masih terus bertanya. Siapa yang masuk ke rumah ini dan menuliskan tulisan-tulisan ini? "Heyy!! Tampakkan wujudmu!! Apa maksud semua ini?! Jangan permainkan aku, tunjukkan wujudmu!" aku berteriak geram.

Setiap sudut kamar kususuri. Dari ujung ke ujung aku perhatikan, dan tak ada siapa-siapa. Hey, siapa yang membuat tulisan ini? Aku mulai kesal. Dua lembaran kertas itu aku bawa ke teras. Emosiku tersulut. Sejenak kemudian surat itu kubakar.

Bogor, 6 Mei 2015 



Oleh : Wahyu Alhadi

Read More

Minggu, 06 Desember 2015

Falsafah dan Agama

Falsafah yang dinilai masyarakat sebagai biang keladi problematika agama, terbukti tidak ada pertentanganbahkan terdapat hubungan yang tak dapat dipisahkan antara keduanya.

Kata dinilai” adalah kata pasif dari kata aktif “menilai”. “Menilai” berarti memberikan suatu anggapan –beranggapan- terhadap sesuatu tertentu. Kata “beranggapan” sangat cenderung pada subjektivitas. Karena kata “beranggapan” sangat dimungkinkan melahirkan hasil yang subjektif, kata menilai pun juga demikian, cenderung pada subjektivitas. Untuk menghindari subjektivitas, suatu penilaian harus dilandaskan pada ukuran-ukuran penilaian yang telah disepakati bersama.

Dalam matematika, ukuran penilaian tersebut ialah rumus. Rumus itu sendiri disebut juga suatu hukum matematika. Seseorang yang mengerjakan soal sesuai dengan rumus, maka dinilai benar dan berlaku sebaliknya. Dalam fisika ukuran penilaian ialah hukum alam, misalnya hukum grafitasi, intensitas cahaya dll. Sedangkan dalam agama dan falsafah, ukuran penilaiannya juga ada pada hukum keduanya.

Agama juga memunyai hukum yang berbeda dengan hukum falsafah. Hukum adalah suatu pernyataan yang diterima banyak manusia karena keabsahannya sudah diuji sedemikian rupa sehingga bisa dijadikan landasanyang kokoh. Untuk menilai ada tidaknya suatu pertentangan –yang nanti dianggap melahirkan problematika- dalam dua disiplin yang berbeda, penilai harus menganalisis kedua hukum tersebut. Kalau nanti antara kedua hukum itu terdapat suatu pertentangan yang menabrak salah satu hukum tersebut, maka memang benar bahwa salah satu dari keduanya dapat dinilai sebagai sumber prombematika terhadap disiplin yang satunya. Tetapi kalau tidak ada, maka keduanya saling mendukung bahkan saling menguatkan.

Oleh karena itu, untuk menilai filsafat berdasarkan hukum agama, diharuskan memahami keduanya. Sehingga hasil dari penilaian tersebut memunyai ukuran yang jelas, objektif, dapat diterima semua kalangan dan tidak menyesatkan. Tetapi dalam kesempatan kali ini, penulis lebih fokus pada argumen falsafah sebagai disiplin ilmu yang tidak bertentangan dengan agama.

Falsafah adalah salah satu pengetahuantentang kebenaran hakiki. Tujuan falsafah ialah menerangkan apa yang benar dan apa yang baik. Puncak dari kebenaran hakiki yang dimaksud ialah Allah dan kebaikan berasal dariNya, demikian juga dengan agama.

Kajian tentang ketuhanan itu disebut ilmu teologi. Teologi merupakan bagian dari falsafah dan menjadi bagian dari agama yang disebut dengan ilmu tauhid. Muslim diwajibkan untuk belajar teologi (tauhid) sebagai dasar utama dalam beragama Islam. Kewajiban ini tampak sekali pada kalimat syahadat yang diwajibkan untuk dilafadzkan dan dihayati bagi mereka yang masuk Islam.

Di sini tampak terdapat suatu keselarasan yang mendasar antara agama dan falsafah. Agama, di samping wahyu, mempergunakan akal dan falsafah juga menggunakan akal. Dalam pembahasan tentang Allah, falsafah tidak beranjak sendiri tanpa agama. Falsafah tetap menjadikan agama sebagai argumen dasar dari teori tentang ketuhanan. Teori ketuhanan falsafah tidak untuk menghancurkan teori ketuhanan yang diusung agama, tetapi justru berfungsii untuk menguatkan argumen ketuhanan agama.

Seseorang yang belajar falsafah tidak menjadikannyajauh dari Allah, tetapi akan semakin menguatkan keyakinannya akan realitasNya. Falsafah menyumbangkan argumen rasional yang akan mendukung dan memperkuat teori ketuhanan agama.

Allah bagi failasuf, tidak termasuk dalam benda yang ada dalam alam, bahkan Ia adalah pencipta yang wajib ada. Ia juga tidak tersusun dalam materi dan bentuk. Karena Allah tidak termasuk alam, maka ia tidak merupakan genusatau species.Konsep ini yang dikenal dengan teologi negatif. Dialah yang awal dan yang akhir. Dialah asal dan tempat kembali segala yang ada. Tidak ada Realitas yang sejati kecuali Allah.

Selain wajib al wujūd (Allah), terdapat mumkin al wujūd yang berupa potensi. Mumkin al wujud ini adalah kosmos. Sebagai potensi, kosmos hanya bisa diaktualkan oleh yang wajib adanya, Allah. Tetapi juga ada yang mumtani’ al wujūd yang tidak bisa dibayangkan keberadaannya.

Teori ketuhanan falsafah juga digunakan Asy’ariyah untuk menguatkan argumen teologisnya tentang Allah sebagai sebab langsung dari segala kejadian di alam. Menurutnya, alam terdiri atas atom-atom. Tetapi atom tersebut hanya bertahan satu-dua saat, lalu musnah. Untuk mempertahankan keberadaan alam ini, maka Allah harus menciptakan atom-atom sejenis setiap kali atom yang lama musnah. Toeri ini dikenal dengan teori atom. Demikian ungkap Prof. Mulyadi Kartanegara dalam buku Studi Pengantar Islam.

Falsafah adalah argumen terhebat untuk menjelaskandengan sangat rasional tentang isi al-Qur’an yang membingungkan umat islam.Al-Qur’an sendiri telah menyebutkan tentang urgensi bepikir secara mendalam tentang wujud dan alam sekitarnya untuk mengetahui Allah. Berpikir secara mendalam berarti berfalsafah. Dengan demikian al-Qur’an memerintah muslim dan umat manusia untuk berfalsafah. Kalimat yang menunjukkan hal ini di antaranya ialah la âyâtin liulil albâbafalâ yatadabbarûnafalâ yandzurûní´tabirû, dan afalâ ya’lamûn.

Masih banyak argumen-argumen lain yang bisa kita utarakan, tetapi untuk kali ini cukuplah argumen di atas untuk menunjukan keselarasan antara agama dengan falsafah serta sumbangan falsafah terhadap agama yang begitu besar.Oleh karena itu, pemeluk agama –lebih-lebih tokoh agama- seharusnya belajar falsafah dengan baik (bukan malah mengharamkan falsafah), untuk menyempurnakan agama dan melindungi ajarannya dari serangan pemikiran lain yang rasional dan bertentangan bahkan memudarkan ajaran agamanya.

Oleh Hairus Saleh
Read More

Sabtu, 05 Desember 2015

Al-Kindi: Maha Guru Roger Bacon

Al-Kindi lahir di Kufah –salah satu kota di Iraq- pada tahun 796 M dan wafat pada tahun 873 M. Meskipun ia lahir di Iraq, sesungguhnya ia berasal dari suku kindah, suatu masyarakat yang hidup di daerah Kindah, Yaman.[1]Tampaknya istilah al-Kindi yang disandangkan di belakang nama lengkapnya –Ya’kub ibn Ishaq al-Kindi- merupakan identitasnya yang berasal dari suku Kindah. Al-Kindi berasal dari keluarga berada dan terpelajar. Orang tuanya merupakan gubernur dari Basrah pada masa Khalifah Abbasiyah al-Mahdi (775-785 M) dan Harun al-Rasyid (785-807 M).[2]

Meskipun ia berasal dari keluarga pejabat, tetapi keadaan itu tidak menjadikan ia malas dan terlena oleh keadaan kecukupan dari orang tuanya. Justru karena keluarganya merupakan orang kaya itulah ia memanfaatkannya untuk menuntut ilmu setinggi mungkin. Sehingga setelah lulus dari sekolah dasar, ia meminta ayah tercinta untuk menyekolahkannya di Bashrah, kota pusat ilmu pengetahuan dunia pada waktu itu.[3]Karena merupakan putera gubernur, sesampainya di Baghdad ia mendapatkan perlindungan dari Khalifah al-Ma’mun (813-833 M) dan Khalifah al-Mu’tasim (833-842 M). Perlindungan itu semakin memuluskan jalan al-Kindi untuk mengabdikan diri demi kecintaannya kepada ilmu pengetahuan yang agung.

Di kota pusat ilmu pengetahuan sekaligus kota termegah dunia itulah al-Kindi mendapatkan kesempatan untuk belajar ilmu-ilmu keagamaan, matematika dan filsafat. Pada saat itu ia mulai tertarik pada filsafat.

Zaman itu merupakan zaman penerjemahan buku-buku Yunani dan al-Kindi yang merupakan penganut Mu’tazilah juga terlibat dalam penerjemahan-penerjemahan tersebut. Meskipun aktif sebagai penerjemah, tetapi usahanya lebih banyak pada memberikan kesimpulan daripada menerjemahkan.[4]Dari aktivitasnya itu, ia telah menciptakan beberapa kata baru dalam bahasa Arab, seperti jirm untuk tubuh, thinah untuk materi, al-tawahumuntuk imajinasi dan lain-lain.[5]

Al-Kindi merupakan penulis yang sangat produktif. Ia menulis banyak buku mengenai banyak hal. Menurut Ibn Nadim, tulisannya berjumlah 241 buku tentang filsafat, logika, ilmu hitung, astronomi, kedokteran, ilmu jiwa, politik, optik, musik, matermatika dan sebagainya. Buku mengenai optik diterjemahkan ke dalam bahasa latin dan banyak memengaruhi Roger Bacon, sebagaimana tertuang dalam The Legacy of Islam.[6]

Tetapi menurut Prof. Mulyadi Kartanegara dalam “Mozaik Khazanah Islam”, al-Kindi menulis sekitar 270 karya tentang hampir seluruh bidang yang sedang berkembang pada waktu itu. Perbedaan jumlah buku yang ditulis al-Kindi antara hasil penelitian Prof. Harun Nasution dan Prof. Mulyadi Kartanegara sebanyak 41 buku. Tetapi perbedaan itu tidak mengurangi gelarnya sebagai ilmuan yang sangat produktif.

Al-Kindi tidak hanya aktif menulis tanpa mengimplementasikan keilmuannya pada kehidupan nyata. Bahwa tulisan-tulisan tersebut merupakan hasil penelitiannya baik penelitian pustaka maupun lapangan karena pada waktu itu sudah berdiri observatorium yang sangat canggih dan bahkan tercanggih sedunia yang memungkinkan para ilmuan untuk mengadakan eksperimen. Sebagai ilmuan yang hebat, ia menerapkan keahliannya untuk membantu para penguasa dalam merancang dan membangun terowongan-terowongan, jembatan-jembatan, mesin perang dan alat-alat ukur ilmiah. Tampaknya kecanggihan pada zaman itu, 12 abad dari serakang, tidak jauh berbeda dengan kecanggihan negaran Indonesia pada saat ini.

Oleh : Hairus Saleh


[1]Harun Nasution, Mistisisme dalam Islam (Jakarta: Bulan Bintang, cet. xii, 2010), h. 6
[2] Mulyadi Kartanegara, Mozaik Khazanah Islam: Bunga Rampai dari Chicago (Jakarta: Paramadina, 2000), h. 27
[3]ibid
[4]Harun Nasution, 6
[5]Mulyadi Kartanegara, 27
[6]Harun Nasution, 6
Read More

Filsafat Cinta - Hakikat Cinta dalam Perspektif Ibn Hazm

Hakikat cinta tak dapat ditemukan selain dengan segenap kesungguhan pengamatan dan penjiwaan. Cinta tak dimusuhi agama dan tak dilarang syariatNya. Cinta adalah urusan hati. Sementara hati adalah urusan ilahi.



Cinta melintasi keindahan fisik. Andai saja cinta lahir lantaran keindahan fisik semata, niscaya orang yang buruk rupa tak akan pernah dicintai sesamanya. Sesungguhnya cinta merupakan sesuatu yang bersemayam dalam jiwa yang terdalam. Manakala jiwa seseorang diganrung pada jiwa yang lain dan ternyata di balik jiwa orang yang digandrunginya itu terdapat sesuatu yang menyerupai jiwanya, maka jiwanya akan semakin terpikat dan terkait dengan jiwa orang yang di gandrunginya itu.

Cinta adalah ketenteraman dalam hati. Seseorang yang mencitai orang lain, ia akan merasa amat tenang dan tenteram bersamanya. Jikapun disela ketenteraman itu terdapat penderitaan, hal itu tidak lain kecuali penderitaan itu adalah keadaan yang menjadikan kita benar-benar dapat menikmati ketenteraman. Tanpa penderitaan kita tak akan pernah dapat mengenal ketentraman. Maka penderitaan dalam mencintai adalah anugerah yang perlu disyukuri.
Read More

Jumat, 04 Desember 2015

Tasawwuf - Musik dalam Perspektif Ikhwan as Ashafah

Ada beberapa persoalan yang diperdebatkan atau memunculkan banyak pandangan  yang kontradiktif tentang status musik menurut hukum agama di kalangan masyarakat Islam. Musik menjadi sebuah hal yang kontroversial dalam Islam dan menjadi persoalan yang telah muncul sejak dulu dan tetap menjadi perdebatan dewasa ini. Tidak ada Isyarat al-Qur’ān yang secara eksplisit dimaksudkan untuk menjelaskan musik. Sunnah Nabi hanya menyebut hal-hal yang anekdotal, tidak ada satu pun yang memberikan argumen pasti dan tegas baik mendukung atau menentang praktik musik. Begitupun dengan sumber ketiga dari hukum Islam, yakni pandangan dari para ahli hukum, para juru bicara yang diakui berdasarkan satu konsensus sosial, ternyata hasil dari itu semua beragam, mulai dari kategori pandangan yang mencela musik sampai memujinya, dengan berbagai argumen yang mengiringinya.
Musik dalam sejarah dan perdaban Islam sering disalahpahami sebagai hal yang negatif dan merusak. Argumen ini terbangun dari catatan sejarah yang mengungkap bahwa musik sebelum kedatangan Islam dan juga penyebarannya di jazirah Arab digunakan sebagai ekspresi hura-hura, pesta pora dengan diiringi pemain musik, penyanyi dan penari yang selalu budak wanita.[1]Sehingga terkesan negatif dan berdampak buruk bagi pemain musik dan juga penikmat musik. Argumen dari dampak buruknya  musik adalah bahwa musik sebagai ekspresi seni yang membuat mabuk, lupa diri sehingga menjauhkan diri dari Tuhan.     
Musik dalam kontroversinya di wilayah estetika juga sering diiringi dengan argumen yang menyatakan bahwa musik merupakan ekspresi seni dalam kategori kegiatan kreatif yang tidak mengejar tujuan tertentu kecuali keindahan itu sendiri, sehingga tidak berlaku kriteria kegunaan, etika, dan logika. Musik sebagai ekspresi seni hanya merupakan penumpahan perasaan-persaan seniman, visi atau intuisinya dalam bentuk citra tertentu, baik dalam irama maupun kandungan isinya. Argumen lainnya juga mengatakan bahwa musik tidak memiliki nilai estetik, tetapi hanya sekedar untuk menimbulkan efek artistik. Apa yang disampaikan lewat musik, baik atau buruk, benar atau salah, sesuai hukum atau tidak, tidak menjadi masalah dan tidak berpengaruh pada nilai seni.[2]
Argumen-argumen yang tersebut di atas nampaknya hanya melihat musik sebagai ekspresi seni teoritis yang tidak memiliki fungsi kecuali ekspresi keindahan materil itu sendiri, dan jika pun musik ini berefek pada seniman dan penikmat seni musik, hanya berdampak negatif yang membuat pendengarnya lupa akan sikap wajar dan menganggu pikiran bahkan menjauhkan diri dari Tuhan.
Berbeda dari argumen di atas, kelompok yang menamakan diri mereka sebagai ‘Persaudaraan Kesuciaan’ yakni Ikhwān al-Ṣafā’ menyatakan dalam risalah tentang musik, dalam muqaddimah, “Setelah menyelesaikan kajian tentang teori seni spiritual yang berada dalam jalur pengetahuan, dan kajian tentang praktik musik yang sifatnya material dan berada dalam jalur seni, kami mengajukan dalam risalah yang berjudul ‘Musik’ ini untuk mengaji seni yang terdiri dari aspek material dan spiritual. Ini adalah seni tentang harmoni yang bisa didefinisikan melalui fungsi proporsi”.[3]
Dari kutipan di atas memunculkan dua ide, yang  pertama adalah bahwa musik itu terdiri atas dua unsur yakni material dan spiritual, Kedua adalah bahwa musik itu didasarkan pada proporsi. Karena dua komposisi ini, maka musik memiliki kekuatan khusus untuk membebaskan materi dengan tujuan menspiritualkannya dan mematerikan yang spiritual agar bisa dipahami. Kekuatan ini juga berasal dari fakta bahwa musik adalah ilmu tentang proporsi, sebagaimana dijelaskan oleh Ikhwān al-Ṣafā’ di bagian lain (bagain enam) dari risalah mereka, setelah menunjukkan contoh-contoh bagaimana angka, proporsi, dan hubungan numerik diaplikasikan kepada semua fenomena.
Nilai dimensi spiritual yang dimiliki musik dari kutipan muqaddimah di atas,  Ikhwān al-Ṣafā’ yang dikategorikan kelompok sufi dan orang-orang suci ingin mengungkapkan  bahwa musik juga bisa menjadi media untuk merefleksi jiwa untuk mendekati Tuhan atau sebagai media untuk menyatu dalam keharmonian keindahan Tuhan. Argumentasi tersebut sekaligus menjawab bahwa dimensi musik dalam Islam khususnya di dunia tasauf sangat berperan penting sebagai media untuk mendekatkan diri pada nilai-nilai ketuhanan dan terhanyut dalam keharmoniannya, bukan malah membuat diri menjauh dari nilai-nilai ketuhanan.   
Hal tersebut diperkuat oleh pendapat Moh. Iqbal dalam falsafah seninya yang berpendapat bahwa seni musik tidak sekedar ekspresi keindahan dalam sebuah bentuk-bentuk estetik, tapi merupakan sebuah karya kreatif seniman dalam citra ciptaan Tuhan. Sehingga musik harus menciptakan kerinduan kepada hidup abadi dan kerinduan kepada Tuhan.[4]
Musik sebagai ekspresi seni estetik dalam Islam dinyatakan sebagai jalan kerohanian.[5]Artinya dimensi musik dalam tradisi Islam memilki nilai spiritual yang dapat diekspresikan seorang seniman atas penghayatan citra ciptaan Tuhan sehingga menghasilkan irama musik yang memiliki nilai keindahan tertinggi yang dapat mengantarkan para penikmatnya pada nilai keindahan tertinggi yakni Tuhan.
Sebagaimana para failasuf Yunani, Ikhwān al-Ṣafā’ mengakui bahwa dalam suara musik duniawi yang material yakni sebuah porporsi not-not irama suara, terdapat gema suara musik spiritual, sehingga irama yang dihasilkan merefleksi jiwa-jiwa yang tinggal di alam dunia yang fana dan rusak pada kebahagiaan spiritual yang menyatu dalam harmoni keindahan ruhaniah. Dengan dasar hukum harmoni, yang terdapat dalam semua tingkatan eksistensi, yang saling berhubungan berdasarkan satu tertib yang hirarkis dan analogis, wujud-wujud yang dihasilkan oleh reaksi sekunder merupakan imitasi dari sifat-sifat wujud pertama. Maka disimpulkan bahwa not-not musik duniawi itu merupakan imitasi dari musik surgawi.        
Seirama dengan pandangan tersebut, Ikhwān al-Ṣafā’ menambahkan bahwa musik merupakan ekpresi seni yang khas dan berbeda dari seni-seni lainya. Dalam pandangan ini mereka menyatakan bahwa yang membedakan musik dari seni-seni yang lain adalah substansi yang kepadanya musik bekerja, yaitu jiwa-jiwa para pendengarnya, sebagaimana unsur-unsur yang dipakainya yaitu not-not dan irama itu berhubungan dengan sesuatu yang sangat halus dan tidak material. Musik meninggalkan kesan yang berbeda dalam jiwa-jiwa mereka yang mendengarkannya.[6]
Maka menarik untuk dikaji lebih dalam tentang dimensi musik dalam Islam yang  masih sering disalahpahami sebagian umat Islam, bahkan oleh beberapa ulama  ekstrim diharamkan, karena musik dinilai sebagai hal yang tidak bermanfaat dan dapat merusak jiwa, menganggu pikiran bahkan menjauhkan diri dari nilai-nilai ketuhanan. Dan ini juga menjawab perdebatan estetika yang menilai musik tidak lebih dari sebuah ekspresi keindahan material dari sang seniman atas perasaan-perasaannya, sehingga tidak memiliki nilai estetik dan tidak berfungsi apa-apa kecuali efek artistik itu sendiri.
Dari itu penulis tertarik untuk mengaji persoalan musik dalam pemikiran falsafi yang sangat membantu dalam menguraikan persoalan musik dari perspektif yang berbeda, karena musik tidak hanya berkutat dalam dimensi material tapi juga spiritual. Dari itu perlu untuk merujuk pada pemikir yang tahu bagaimana mengaji ide-ide yang bersifat falsafi atau teosofis. Para pemikir yang masuk dalam kategori tersebut ini adalah Ikhwān al-Ṣafā’  (Persaudaraan Kesuciaan).



[1] Muhammad Nashiruddin al-Albani, Siapa Bilang Musik Haram., terj. Abu Umar Basyir dari buku Taḥrīm ālāt al-Ṭarb(Jakarta: Darul Haq, 2008), h. 119.
[2] Marcia Muelder Eaton,  Persoalan-Persoalan Dasar dalam Estetika, terj. Embun Kenyowati dari buku Basic Issues in Aesthetics (Jakarta: Salemba Humanika, 2010), h.90.
[3] Ikhwān al-Ṣafā’,  Rasāil al-Ikhwān al-Ṣafā’, Jilid. I  (Beirut: Dār  al-Islāmiyyah, 1957), h. 183.
[4] A. Khudori Soleh, Wacana Baru Falsafah Islam  (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), h. 310.
[5] Abdul Hadi W.M, Hermeneutika, Estetika, dan Religiusitas­ (Yogyakarta: Mahatari, 2004), h. 44.
[6]Jean Louis Michon, “Musik dan Tarian Suci dalam Islam” dalam  Seyyed Hossein Nasr.ed., Ensiklopedi Tematis Spiritualitas Islam:Manifestasi,terj. Komaruddin S.F. dkk dari buku Islamic Spirituality: Manifestation (Bandung: Mizan, 2003), h.602.   
Read More

Filsafat Ilsam - Konsep Manusia Sempurna Murtadhâ Muthahharî


Konsep manusia sempurna memang menjadi pembahasan yang tiada habisnya dan tetap selalu menarik untuk dibahas dalam ranah akademis. Setiap lahir konsep baru tentang hakikat manusia, setiap itu pula muncul kritik tajam terhadapnya. Perdebatan itu terus terjadi sampai saat ini. Konsep tentang manusia seutuhnya terus dikaji, karena konsep ini memunyai pengaruh besar terhadap cara hidup manusia. Konsep inilah yang mampu memberikan gambaran kepada manusia bahwa manusia sempurna harus sebagaimana yang dituangkan dalam konsep manusia sempurna.
Dalam Islam, mengetahui konsep manusia sempurna merupakan hal yang sangat penting, karena konsep itulah yang akan menjadi model dan contoh, yang kalau kita berusaha meneladaninya, kita pun dapat mencapai kesempurnaan manusiawi sesuai ajaran Islam.[1]

Pada umumnya, setiap mazhab memunyai ukuran tersendiri mengenai manusia sempurna. Mazhab-mazhab tersebut tampaknya tidak jarang memandang manusia sebagai makhluk yang timpang. Manusia sempurna menurut para madzhab dipandang sebagai manusia yang hanya memiliki keunggulan satu pihak saja, baik intuisi bagi sufisme, indera bagi empirisme maupun akalnya bagi rasionalisme. Sehingga pemikiran tersebut juga melahirkan manusia timpang sesuai dengan konsepnya.
Dalam dunia tasawwuf, manusia sempurna menjadi pembahasan yang cukup menarik. Sebagaimana dijelaskan Ibn Arabi dalam buku tulisan Dr. Yunasril Ali, bahwa manusia merupakan manifestasi Tuhan. Sebagai citra Tuhan, manusia merupakan wujud yang memunyai satu realitas. Realitas tunggal yang hanya benar-benar ada ialah Allah. Sedangkan alam hanyalah sebagai wadah tajalli dari nama-nama dan sifatsifatnya.[2]Dengan demikian, manusia sempurna merupakan miniatur dan realitas ketuhanan dalam tajalliNya pada jagat raya yang oleh Ibn Arabi disebut mikrokosmos.[3]Dalam kata lain, seluruh yang di  alam terkumpul dalam diri manusia sempurna.[4]
Pemikiran ini dikiritik oleh Murtadhâ Muthahharî. Menurutnya konsep tersebut terlalu mengedepankan satu nilai kemanusiaan saja, sehingga berkonsekuensi menghilangkan nilai-nilai kemanusia yang lain. Pemikiran yang demikian tidak bisa disebut manusia sempurna, tetapi lebih pada manusia timpang dan berlebih-lebihan. Dalam bukunya ia mengatakan, “Malaikat adalah wujud yang diciptakan dari akal murni. Artinya, pada diri malaikat sama sekali tidak terdapat unsur tanah, materi, hawa nafsu, syahwat, amarah dan lain sebagainya. Demikian pula dengan hewan yang seluruh substansinya bersifat materi. Lain halnya dengan manusia, insan adalah maujud yang terdiri dari apa yang ada pada malaikat dan apa yang ada pada hewan, suatu makhluk mulki-malakut.”[5]
Dalam kutipan di atas, Murtadhâ ingin mengungkapkan bahwa manusia sempurna itu berbeda dengan malaikat sempurna ataupun hewan sempurna. Untuk menjadi sempurna, manusia tidak kemudian melupakan kehewanannya untuk mencapai derajat yang sama seperti malaikat. Tidak pula meninggalkan kemalaikatannya untuk kemudian menjadi hewan. Manusia sempurna merupakan manusia yang menggunakan segala potensinya secara stabil dan seimbang.
Konsep keseimbangan seluruh nilai-nilai kemanusiaan yang ditawarkan Murtadha menuntut untuk tidak hanya mengunggulkan satu atau sebagian potensi yang sudah ditanamkan oleh Allah dalam diri manusia, karena seseorang yang mengutamakan satu potensi saja akan mengakibatkannya berlebih-lebihan yang oleh Murtadhâ Muthahharî disebut dengan ifrath. Manusia yang hanya mengembangkan cinta saja dengan mengesampingkan intelek bukan insan kamil, tetapi manusia cacat. Demikian juga dengan manusia yang hanya mengedepankan intelek dengan mengesampingkan cinta.
Meskipun ia mengkritik sufi mengenai cinta, failasuf mengenai inteleknya dan paham lain mengenai ketimpangannya, tetapi Murtadhâ Muthahharî tidak menolak pandangan mereka secara keseluruhan. Ia hanya mengkritik ekstrimitas di dalamnya. Karena manusia dapat dianggap sempurna apabila ia mampu menyeimbangkan dan menstabilkan serangkaian potensi kemanusiaannya.[6]
Apa yang dirumuskan Murtadhâ dalam usaha memaknai kembali manusia sempurna merupakan tawaran solusi untuk menjawab tantangan dan tuntutan pembangunan masyarakat modern. Secara konseptual, teori yang dikembangkan Murtadha dapat memberikan peluang kepada masyarakat untuk mengoptimalkan intelektualnya demi kebutuhan dan kemajuan bangsa tanpa harus memarjinalkan potensi lainnya, sehingga kemajuan yang dihasilkan tidak menimbulkan keburukan terhadap kehidupan manusia untuk hari-hari berikutnya.



[1] Murtadhâ Muthahharî, Manusia Sempurna, terj. M. Mashem, (Jakarta: Lentera, cet. ii, 1994), h. 1
[2] Dr. Yunasril Ali, Manusia Citra Ilahi, (Jakarta: Paramadina, cet. I, 1997), h. 50
[3] Dr. Yunasril Ali, Manusia Citra Ilahi,  h. 55
[4] A. E. Affifi, Filsafat Mistis Ibnu Arabi, terj. Sjahrir Mawi dan Nandi Rahman, (Ciputat: Gaya Media Pratama, cet. ii, 1995), h. 120
[5] Murtadhâ Muthahharî, Manusia Seutuhnya, terj. Abdillah Hamid Ba’abud, (Jakarta: Sadra Press, cet i, 2012), h. 27
[6] Murtadhâ Muthahharî, Manusia Seutuhnya¸h. 28
Read More

Kamis, 03 Desember 2015

Mr. Facebook, Bolehkah Saya Mengatur Akun Tanpa Ada Like dan Kolom Komentar?

Kemarin saya berkeluh kesah kepada seorang teman. Bukan masalah uang, pekerjaan atau sebagainya, melainkan satu hal yang sempat menganggu konsentrasi dan toleransi saya sebagai seseorang yang sedang berusaha untuk menjadi manusia seutuhnya.

Adapun yang saya ceritakan pada teman itu adalah tentang upaya saya selama dua jam lebih mengobrak-abrik google untuk mencari tahu bagaimana cara menghilangkan hiasan like dan comment di media sosial bernama facebook. Ya, intinya biar pengguna facebook lain yang melihat status saya tidak bisa memberikan like ataupun komentar. Simpel saja keinginan saya, tapi tiada berjumpa solusi untuk menerapkan hal itu. Soalnya perusahaan facebook telah menetapkan bahwa like dan comment telah termasuk dalam default pengaturan, alias tidak bisa dirubah ataupun dihilangkan. Ya sudah, mau gimana lagi. Dua jam utak atik google hanya melahirkan kekecewaan. Akun facebook saya tetap menyediakan tanda jempol dan kolom komentar pada status yang dibagikan.

Filsafat Facebook

Saya yakin Anda mulai bertanya-tanya atau menilai saya sombong atas keinginan saya di atas. Bebas. Anda bebas menilai seseorang. Okay, saya coba memaparkan argumen. Salah atau benar tiada guna. Intinya bagaimana kita meneliti dan menggali kehidupan.

Pertama, adanya like atau kolom komentar telah kehilangan manfaat, dan parahnya hanya melahirkan mudarat. Kenapa? Beberapa generasi tua atau muda yang menggunakan media sosial facebook tidak bisa memanfaatkan like dan comment ini secara hebat. Saya melihat, kolom komentar yang berguna untuk memberi masukan, ternyata hanya menjadi tempat guyon dan debat tak jelas (Sebenarnya sih itu bukan debat, tapi upaya untuk menampilkan diri agar diklaim sebagai seseorang yang berilmu dan berpengatahuan luas). Ujung-ujungnya, sebuah inovasi, ide dan kreatifitas pun tercampakkan dan berubah menjadi hal yang tiada berarti karena para pengguna facebook terlalu sibuk dengan riuh komentar yang hanya berisi guyon atau debat tak berujung.

Ya, kalau guyon masih bisa ditolerir. Setidaknya bisa menghapus kegalauan. Cuma kalau komentar hanya debat tiada berujung dan tiada bersolusi, for what?! Paling ujung-ujungnya salah satu dari kita mengambil langkah untuk mundur dari debat. Mundur dengan api yang membara di hati. Panas.

Jelas dari alasan di atas maka membuat status spektakuler sekalipun hanya akan berubah menjadi ukiran kata tak berfaedah. Padahal perusahaan facebook telah secara hebat mempertanyakan pada pemilik akun, "Apa yang Anda pikirkan?". Ini bukan pertanyaan biasa, kawan. Ini pertanyaan hebat dan teramat dalam. Ingat, "Apa yang Anda pikirkan?", bukan "Apa yang Anda rasakan?".

Kedua, saya akui, saran saya pada facebook untuk memberikan kesempatan kepada pengguna untuk menghilangkan tanda like dan kolom komentar adalah sebuah permintaan yang beralasan. Biasanya saya atau beberapa teman lain menjadikan media sosial sebagai wadah untuk memaparkan pemikiran. Saya menilai like dan komentar layaknya seperti 'Mohon doa restu'. Secara mendalam, ketika status fenomenal kita tiada mendapat like atau komentar, maka pikiran negatif pun akan merasuk. Pertanyaan pun timbul, "Apakah saya salah, kenapa tidak ada yang suka?", dan keyakinanpun terganggu.

Jadi intinya begitu. Like dan komentar hanya akan memicu pikiran untuk mendapatkan 'restu' dari para pengguna facebook. Padahal ini adalah pemikiran, bukan produk yang ingin dijual. Setidaknya, dengan status yang fenomenal, pengguna facebook yang membaca pun benar-benar 'membaca'. Tanpa like dan komentar, mereka mencoba menggali dari pemahaman masing-masing. Tapi kalau semisalnya facebook bertanya "Apa yang Anda rasakan?", baiknya memang dilike atau dikomentar sekalian. Cuma ini adalah pemikiran. Mau komentar apa? Toh ini adalah pemikiran.

Saya berharap tulisan ini bisa sampai ke orang-orang yang berada di belakang facebook. Saya harap tim facebook bisa memberikan kesempatan kepada pengguna agar bisa menghilangkan tanda jempol dan kolom komentar itu, karena tidak semua orang yang suka like atau komentar yang hanya berisi debat tak bertepi dan guyon belaka.

Lah, terus saya buat tulisan ini buat apa? Bukankah mengharapkan like atau komentar?? Kalau boleh jujur, bukan hal tersebut yang saya harapkan. Beberapa pemikir tiada berniat mencari 'like' atau komentar pembaca. Mereka sangat menginginkan karya yang diciptakan dapat menjadi bahan pemicu agar masyarakat menemukan ide segar ataupun pemahaman yang lebih dalam lagi. Di satu sisi, karena para pemikir tahu kalau apa yang dituliskannya ini bukanlah tentang salah dan benar.

Oleh : Wahyu Alhadi


Read More