Sabtu, 21 November 2015

Biografi Tokoh FIlsafat Al-Farabi (Filosof Muslim)

Al-Farabi (/ˌælfəˈrɑːbi/; Persian: ابونصر محمد بن محمد فارابی Abū Naṣr Muḥammad ibn Muḥammad Fārābī; for other recorded variants of his name see below) , known in the West as Alpharabius (c. 872 in Fārāb – between 14 December, 950 and 12 January, 951 in Damascus
Di atas adalah foto dan juga sekilas biografi Al-Farabi yang penulis kutip dari wikipedia dalam bentuk bahasa inggris.

Nama al-Farabi sudah tidak asing lagi bagi akademisi dunia, baik barat maupun timur. Bahkan namanya selalu disebut-sebut sebagai guru kedua setelah Aristoteles. Dapat dibayangkan bahwa pengetahuannya mengenai aristoteles begitu hebatnya, terutama di bidang metafisika. Ibn Sina mengaku bahwa al-Farabilah yang membantunya memahami ajaran metafisikan Aristoteles.

Nama lengkap filosof kelahiran desa Wasij di Farab (Transoxania pada 870 M ialah Muhammad ibn Muhammad ibn Tarkhan al-Farabi. Tetapi kalangan pemikir latin mengenalnya sebagai  Abu Nashr atau Abunaser. Maka dari itu Harun Nasution memanggilnya dengan nama Abu Nashr Muhammad al-Farabi. Sebagaimana kebanyakan ilmuan Timur Tengah, bahwa nama kelaharannya atau sukunya juga dicantumkan sebagai nama akhir dan lebih dikenal dengan panggilan nama tersebut, seperti al-Kindi, Kwarizmi dan al-Farabi.

Ia berasal dari keluarga letnan persia yang berasal dari turki dan al-farabi sendiri pernah menjadi hakim. Tetapi kemudia ia pindah ke baghdad pada saat gairah keilmuannya mengenai ilmu rasional meningkat drastis, karena tidak menemukan kepuasan dengan ilmu pengetahuan yang ada di negerinya. Baghdad pada waktu itu merupakan pusat ilmu pengetahuan.

Di sana ia belajar logika pada Abu Bisr Matta ibn Yunus, seorang penerjemah dan ahli logika, dan Yuhanna b. Haylan, seorang ilmuan Kristen yang ahli logika. Kemudia ia memperdalam ilmu logikanya pada al-Kindi.

Setelah menghabiskan waktu belajarnya selama 20 tahun, ia pindah ke Aleppo yang merupakan pusat ilmu pengetahuan dan filsafat. Aleppo juga merupaka tempat akhir hidupnya yang bertepatan pada 950 M pada usia 80 tahun.Sebelum Aleppo, konon ia pernah jalan-jalan mengelilingi Timur Tengah seperti Mesir.

Menurutnya filsafat dan agama tidak bertentangan malahan sama-sama membawa kepada kebenaran.
Tulisan ini dari berbagai sumber, di antaranya :
Harun Nasution, Mistisisme dalam Islam (Jakarta: Bulan Bintang, cet. xii, 2010), h. 16 
Mulyadi Kartanegara, Mozaik Khazanah Islam: Bunga Rampai dari Chicago (Jakarta:
Read More

Jumat, 20 November 2015

Pengertian Universitas (Hakikat Perguruan Tinggi)

Pada hakekatnya Universitas (Perguruan Tinggi) adalah masyarakat ilmiah (para dosen, mahasiswa dan para pelaksana teknis dalam lingkungan perguruan tinggi) yang bertugas memajukan martabat manusia dan warisan budaya melalui penelitian, pengajaran dan pelayanan, yang dapat diberikan kepada lingkungan setempat, nasional, regional dan internasional. Agar tugas ini dapat dilaksanakan dengan baik, oleh negara atau yayasan pendirinya kepada Universitas diberikan otonomi kelembagaan dan kebebasan akademik. Otonomi kelembagaan itu membuat Universitas dapat menjalankan tugas utamanya dengan bebas, baik misalnya dalam penerimaan mahasiswa, pengolahan dan pengelolaan program studi dan metode, pemilihan proyek penelitian, maupun dalam pengelolaan anggaran. Tentulah kebebasan itu ada juga batasnya. Namun pada azasnya, negara atau yayasan pendiri perlu menjamin tidak akan melibatkan diri pelaksanaan tugas yang mulia itu.


Kebebasan akademik pada dasarnya bersumber pada martabat manusia yang memiliki kebebasan dasar, katakanlah hak azasi, yaitu kebebasannya dalam menentukan nasibnya sendiri, kecuali keterbukaannya sendiri kepada Yang Transenden, Allah, sumber segala sesuatu baik yang kelihatan maupun yang tak kelihatan. Keterbukaan kepada Yang Transenden itu terungkap dalam kecenderungannya untuk senantiasa mencari, menemukan dan mengkomunikasikan kebenaran dalam setiap bidang pengetahuan, sampai kepada akarnya yang terdalam. Kebebasan akademik dapat dirumuskan sebagai kebebasan para pengajar dan peneliti dalam lembaga pendidikan tinggi untuk mengkaji dan mendiskusikan masalah yang menyangkut ilmu pengetahuannya dan untuk mengungkapkan kesimpulan-kesimpulannya melalui publikasi dalam forum yang sesuai tanpa campur tangan atasannya, kecuali jika oleh lembaga profesi yang berwewenang metodenya dinilai tidak memadai atau bertentangan dengan etika profesi. Maka kompetensi ilmiah dan etika profesi secara alami membatasi ruang gerak seorang pengajar atau peneliti.

Kebebasan akademik terkait dengan hakekat universitas sebagai forum untuk bertanya, termasuk mempertanyakan asumsi yang biasanya tidak ditanyakan. Semua itu dilakukan dalam rangka mencari kebenaran dan memberi kepastian mengenai sumber dari mana pengetahuan diperoleh. Dalam konteks itu kejujuran merupakan salah satu prinsip yang harus ada bagi tegaknya kebebasan akademik dan kelangsungan hidup universitas. Sekaligus juga harus dicatat bahwa hasil penelitian seorang anggauta masyarakat akademis pada akhirnya tidak bisa lepas sama sekali dari, dan sangat tergantung kepada, hasil penelitian orang lain (sebelumnya) juga. Ilmu pengetahuan merupakan akumulasi prestasi banyak pribadi yang secara langsung atau tidak langsung telah membentuk kerjasama tak kunjung henti menuju kepada pengungkapan kebenaran.

Sebenarnya, otonomi kelembagaan dan kebebasan akademik ini terkait erat juga dengan otonomi ilmu pengetahuan. Kesadaran akan hal ini, atau pengakuan akan otonomi itu, baru terbentuk sesudah melalui proses yang yang panjang, khususnya dalam kaitannya dengan (kekuasaan) keagamaan. Dalam sejarah dikenal, misalnya, peristiwa Galileo yang ternyata harus dicacat sebagai konflik yang tidak perlu terjadi antara ilmu pengetahuan dan agama. Otonomi ilmu pengetahun pada akhirnya disadari merupakan konsekuensi logis dari otonomi manusia yang memiliki akal-budi. Akal-budi, yang diakui sebagai rahmat istimewa dari Yang Transenden kepada manusia, ternyata mampu menemukan hukum-hukum alam dan hukum-hukum yang berlaku dalam masyarakat manusia yang imanen. Lebih konkrit lagi, cabang-cabang ilmu dalam ilmu pengetahuan ternyata memiliki metodenya sendiri-sendiri, yang sifatnya khas apalagi dalam konteks cabang ilmu yang bersangkutan. Oleh kemajuan ilmu pengetahuan, seakan-akan dunia dibebaskan dari pengaruh agama, dalam arti agama dan apa yang sakral tidak lagi menguasai masyarakat manusia dan pandangan tentang manusia. Sebagai akibatnya muncul gerakan-gerakan yang berusaha memberi warna agama (tertentu) kepada ilmu pengetahuan. Namun pelajaran berharga dari peristiwa Galileo adalah, bahwa ilmu pengetahuan berurusan dengan kebenaran yang hanya dapat diperoleh melalui kegiatan penalaran yang sistematis dan koheren, sedang agama berurusan dengan kebenaran iman, yang hanya dapat diperoleh dalam sikap hati yang tulus membuka hati kepada Yang Transenden, Allah yang maha gaib itu. Menurut Yohanes Paulus II, jika dilaksanakan dengan cara yang sungguh-sungguh ilmiah dan sesuai dengan norma moral, sesungguhnya ilmu pengetahuan tidak pernah bertentangan dengan iman. Truth cannot contradict truth.

Setelah menguraikan prinsip-prinsip yang mendasari sebuah unversitas, sekarang dapat dibahas misi universitas dan tantangannya pada zaman ini.

Misi utama universitas adalah humanisasi (pemanusiaan). Bagi setiap orang yang menggabungkan diri dalam masyarakat akademis itu sebagai mahasiswa, misi humanisasi dialami sebagai proses pendidikan, yaitu proses yang memungkinkan mahasiswa itu membangun visi kehidupan, yaitu pandangan menyeluruh mengenai posisi dan peranannya di masa depan dalam masyarakat dan bangsanya. Dengan demikian ia dapat berharap akan menjadi manusia yang berkepribadian utuh, memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang memadai, serta memiliki wawasan yang terbuka dan dewasa. Dalam konteks itu pendidikan sekaligus berarti pembudidayaan dan pemberdayaan.

Bagi masyarakat dan bangsa yang dilayaninya, misi humanisasi terwujud dalam keterlibatannya dalam “mencerdaskan kehidupan bangsa”, dalam proses pewarisan nilai-nilai budaya yang luhur kepada generasi penerus, serta dalam keikut-sertaannya dalam mewujudkan ketertiban dunia. Semua itu dilakukan oleh Universitas antara lain melalui dialog dan kajian antara berbagai disiplin ilmu pengetahuan, dengan mengembangkan dialog budaya dan mengkaji masalah-masalah manusia dewasa ini, dan dengan mendorong dialog yang jujur antara iman dan akal-budi. Itu semua merupakan tantangan konkret universitas zaman ini.


Ditulis oleh : F Soesianto

Read More

Biografi Tokoh FIlsafat Baruch Spinoza “Deus Sive Natura”

Biografi Tokoh FIlsafat Baruch Spinoza “Deus Sive Natura”
Baruch Spinoza (Sumber gambar Wikipedia)

Lahir tahun 1632 dan meninggal dunia tahun 1677. Nama aslinya “Baruch Spinoza”. Setelah ia mengucilkan diri dari agama yahudi, ia mengubah namanya menjadi “Benedictus de Spinoza”. Hidupnya dipinggiran kota Amsterdam. Berikut adalah beberapa pemikiran ataupun ajarannya yang terkenal
  1. Ajaran Tentang Substansi Tunggal: Allah atau Alam (Dues Sive Natura)
    Spinoza mendefinisikan substansi sebagai “sesuatu yang ada dalam dirinya sendiri dan dipikirkan oleh dirinya sendiri. Artinya sesuatu yang konsepnya tidak membutuhkan konsep lain untuk membentuknya”. Sifat substansi adalah abadi, tidak terbatas, mutlak, dan tunggal. Dan yang memenuhi semua definisi ini hanyalah Allah.

    Selanjutnya, Spinoza mengajarkan bahwa Allah adalah satu-satunya substansi, maka segala yang ada harus dikatakan berasal dari Allah. Jadi, semua bentuk pluralitas alam, baik yang bersifat jasmaniah ataupun rohaniah bukanlah hal-hal yang berdiri sendiri melainkan keberadaannya mutlak bergantung kepada Allah.
  2. Ajaran Tentang Etika
    Spinoza menyusun etikanya dengan mengikuti “prinsip ilmu ukur” (ordine geometrico) atau dengan kata lain, ia mengawalinya dengan menetapkan suatu dalil umum, dan selanjutnya menarik konsekwensi logis lainnya secara deduktif. Menurutnya, dalil umum yang bisa ditemukan dari semua pengada adalah “usaha untuk mempertahankan diri” (conatus): “setiap makhluk berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan keberadaannya” ( conatus seseconservandi). Kebahagiaan akan terwujud jika kita tidak merasa sedih tetapi nikmat.

    Selanjutnya, Spinoza menyatakan bahwa pemahaman paling tinggi yang bisa dicapai manusia adalah mengenal Allah. Allah adalaah keseluruhan realitas. Semakin kita mengerti Allah, kita semakin mencintai-Nya. Cinta yang didasarkan pada pemahaman intelektual tentang Allah (amor Dei intellectualis) adalah puncak etika dan kebahagiaan manusia. Sesungguhnya dalam diri Allah kita bisa memandang segala sesuatu yang ada di alam smesta ini secara menyeluruh, sehingga tidak ada lagi bagian-bagian yang saling terpisahkan, entah berdasarkan ruang atau waktu. Dan bagi spinoza, Allah adalah alam dan alam adalah Allah.
Read More

Kamis, 19 November 2015

Biografi Tokoh filsafat Rene Descartes “Cogito, Ergo Sum”

Biografi Tokoh filsafat Descartes “Cogito, Ergo Sum”

Rene Descrates (nama latinnya: renatus cartesisus, 1596-1650) dijuluki bapak filsafat modern. Filsafatnya berawal dari satu pertanyaan: apakah ada metode yang pasti sebagai dasar untuk melakukan refleksi filosofis?.

Untuk menjawab pertanyaan ini,dia melakukan apa yang kemudian dinamakan sebagai sikap keragu-raguan radikal. Ia menganggap bahwa segala sesuatu yang ada hanyalah tipuan, dan tidak ingin menerima apapun sebagai sesuatu yang benar, jika kita tidak memahaminya secara jelas dan terpisah.

Namun, jika segala sesuatu diragukan keberadaannya, ada satu hal yang sama sekali tidak bisa diragukan lagi sehingga harus diterima secara mutlak, yakni kenyataan bahwa Aku yang sedang meragukan segala sesuatu ini ada! Dengan demikian, menurut Descartes, pemikiran atau kesadaran tidak bisa dipisahkan dari diri seseorang. Hakikat manusia adalah pemikiran (ras cogitans), dengan kata lain ia mengatakan “Aku Berfikir Maka Aku Ada”

Berkat kesadaran diri yang diperoleh dari refleksi atas keraguan radikal, Descartes ingin mempelajari lebih lanjut hal-hal yang dapat ditangkapnya dengan kepastian intuitif yang sama (yaitu dengan jelas dan terpisah). Yang kemudian di interpretasikan dalam 2 langkah;

Langkah pertama,arah “ke dalam”. Menurutnya, segala sesuatu dari luar tidak bisa dipercaya, jadi manusia perlu mencari kebenaran dalam dirinya sendiri,dengan menggunakan criteria jelas dan terpisah. Hasilnya adalah bahwa dalam diri manusia ada 3 hal yang disebut “ide-ide bawaan” (ideae innatae) antara lain;
  1. Ide pemikiran (cogitatio)
  2. Ide Allah (dues)
  3. Ide keluasaan (extentio)
Langkah kedua, arah “ke luar”. Dari adanya kesadaran diri (cogito), Descartes berusaha memahami realitas alam dunia. Menurutnya, selain (1) Allah, masih ada 2 substansi lain, yakni (2) jiwa (pemikiran) dan (3)materi atau keluasan. Proses pengetahuan diawali dari “Aku” melalui Allah menuju dunia. Dari sisi objek materialnya (dunia), Allah adalah yang pertama, segala sesuatu berdasar kepada-Nya. Namun, dari sudut proses pengetahuan, kesadaran manusia lah yang pertama.

Adapun tentang 2 substansi ditetapkan dalam ajarannya tentang manusia. Antara keduanya ini masing-masing berdiri sendiri dan tidak bergantung. Jiwa-pemikiran tidak memiliki keluasan spasial, sedangkan tubuh-keluasan tidak memiliki kemampuan berfikir.
Read More

Rabu, 18 November 2015

Sekilas Pemikiran Theisme, Deisme dan Panteisme

Istilah menjadi wakil dari sebuah makna yang dalam, istilah biasanya digunakan untuk menyederhanakan suatu problem kesepakatan, sama halnya dalam dunia saintifik terkhusus fisika, hampir semua atau mungkin semua unsur-unsur yang ada pada alam ini mempunyai istilah tersendiri. Nah bagaiamana dalam Filsafat? tentu saja istilah menjadi ibu filsafat itu sendiri, Apa itu "apa"? apa itu "Itu"? dan apa itu "?"? begitulah filsafat mendasari segala yang dasar.

Kembali kepada topik, kali ini penulis akan berbagi sekilas tentang 3 pemikiran tentang tuhan dalam filsafat, yang biasa di istilahkan Theisme, Deisme dan Panteisme. Apa itu Theisme, Deisme dan Panteisme? Secara garis besar istilah-istilah tersebut adalah ragam dari pemikiran filosof ataupun aliran-aliran. Berikut penjelasannya



Theisme, berpendapat bahwa alam diciptakan oleh Tuhan yang maha sempurna, sehingga antara Tuhan dan makhluk sangat berbeda. Ciri lain dari theisme bahwasannya Tuhan setelah menciptakan alam,  ia tetap aktif  mengawasi dan memeliharanya. Karena itu Theisme menyakini kebenaran mu’jizat, begitu juga ketika seseorang berdoa maka akan didengar dan dikabulkan oleh Tuhan kerena ia Maha Pendengar.
Deisme, menurut paham ini Tuhan berada jauh di luar alam. Tuhan menciptakan alam, namun setelah menciptakannya ia tidak lagi memperhatikan dan memelihara alam lagi. Alam berjalan dengan sesuai dengan peraturan-peraturan  yang telah ditetapkan ketika proses penciptaan. Menurut paham deisme Tuhan diibaratkan sebagai tukang jam yang sangat ahli, sehingga setelah jam itu selesai tidak membutuhkan si pembuatnya lagi. Jam itu berjalan sesuai dengan mekanisme yang tersusun dengan rapi. Apabila ala mini mengalami kerusakan, alam tidak membutuhkan Tuhan untuk memperbaikinya Karena alam sudah mempunyai mekanisme sendiri untuk menjaga keseimbangan.
Panteisme, pan berarti seluruh. Dengan demikian panteisme mengandung arti seluruhnya Tuhan. Paham ini berpendapat bahwa seluruh alam ini adalah Tuhan dan Tuhan adalah seluruh alam. Benda-benda yang dapat ditangkap oleh panca indera adalah bagian dari Tuhan. Manusia, binatang, tumbuhan dan benda mati adalah bagian dari Tuhan. Tuhan dalam panteisme ini sangat dekat dengan alam, dalam pemahaman penulis pribadi, paham ini hampir atau mungkin bagian atau lebih tepatnya adalah wahdatul wujud dalam paham filosof muslim..
Read More

Biografi Tokoh Filsafat Plotinus (Neoplatonisme)


Dari banyak literatur, dijelaskan bahwa tokoh pendiri sekaligus tokoh yang paling populer dalam Neoplatonisme adalah Plotinus (205–270). Bahkan karena Plotinus begitu identik dengan Neoplatonisme, tokoh Plotinus tidak dapat ditinggalkanDari banyak literatur, dijelaskan bahwa tokoh pendiri sekaligus tokoh yang paling populer dalam Neoplatonisme adalah Plotinus (205–270). Bahkan karena Plotinus begitu identik dengan Neoplatonisme, tokoh Plotinus tidak dapat ditinggalkan.
Adalah tidak mudah untuk mengetahui riwayat hidup Plotinus secara rinci. Menurut muridnya Porphyri, Plotinus adalah sosok pemalu yang seringkali menolak untuk menceritakan dirinya, orang tuanya maupun negerinya. Menurut banyak literatur, Plotinus hidup pada tahun 205 sampai 270 Masehi. Ia dilahirkan di Lycopolis Yunani. Meski namanya harum karena ajaran-ajarannya ia tidak mau menjadi orang yang terkemuka. Patungnyapun tidak ada sebagaimana orang-orang terkenal pada waktu itu. Banyak sekali tukang patung datang untuk membuat patungnya tetapi selalu ditolaknya. Meskipun namanya tersohor dimana-mana tetapi hidupnya sederhana sekali.
Plotinus belajar filsafat pada umur 28 tahun. Pada seorang filosof yang menjadi gurunya, Ammonius Saccas. Selama 12 tahun Plotinus menjadi murid Ammonius. pada umur 29 tahun ia mulai menulis. Setelah memahami filsafat Plato, rupanya Plotinus merasa pengetahuannya belum cukup mendalam. Ketika berumur 39 tahun dia terlantar di roma, dan mendirikan sekolah setelah setahun tinggal disana.
Read More

Selasa, 17 November 2015

Benarkah Tuhan itu ada? 4 Argumen Keberadaan Tuhan

Problem manusia yang selalu menjadi permalahan sampai sekarang ialah tentang wujud Tuhan. Para saintis telah mencurahkan segala upayanya untuk memecahkan masalah itu. Namun semakin usaha itu ditingkatkan, semakin banyak pula permasalahan yang ditemukan tentang ketuhanan itu.
Kajian tentang keTuhanan, tidak hanya dikaji sejak zaman yunani kuno, tetapi jauh sebelum itu, gagasan, pencarian akan argumen keberadaan Tuhan sudah berlangsung, barangkali sejak lahirnya manusia pertamakali. Tetapi ironisnya, belum dan bahkan tidak ada argumen yang memadahi untuk membuktikan keberadaan Tuhan secara keseluruhan. Tidak ada argumen universal yang mampu meluluhkan segala rasionalitas manusia, sehingga manusia bisa menerimanya dengan rasional.
Anehnya, walaupun tidak ada argumen yang kuat tentang keberadaan Tuhan itu, manusia tetap meyakini bahwa Tuhan itu ada. Manusia tetap beribadah kepada Tuhan, memohon kepadanya dan rela berkorban deminya. Dan tidak sedikit yang menganut kepercayaan itu. Ternyata, menurut Karen Amstrog dalam bukunya “Sejarah Tuhan” bahwa manusia menerima keberadaan Tuhan itu bukan dari rasionalitas, tetapi dari keyakinan atau hati atau menerima argumen ketuhanan yang sesuai dengannya.
Meskipun demikian, segala usaha telah dilakukan oleh para saintis. Mereka mecoba membuktikan keberadaan Tuhan itu dari berbagai perspektif. Secara garis besar bisa diklasifikasikan menjadi argumen ontologis, kosmologis, teleologis dan moral.
Pemahasan ini lah yang akan disajikan dalam tulisan ini. Kami akan mencoba menggali argumen-argumen itu secara mendalam, aktif dan berkobar. Sehingga diharapkan mampu merangsang budi, hati dan jiwa audien untuk terus menggali dan menggali gagasan tentang keilmuan secara luas. karena menurut kami, khusus penulis sendiri "Bukti adanya tuhan adalah ketidak adaan bukti ketiadaanNya" (A-filsafatisme)

Benarkah Tuhan itu ada? 4 Argumen Keberadaan Tuhan
1.  Argumen Ontologis
Dalam bukunya Prof. Dr. Amsal Bakhtiar, M.A. Ontologis berarti, Ontos = sesuatu yang berwujud, ontology = teori / ilmu tentang wujud tentang hakikat yang ada. Argumen  ontologis  tidak banyak berdasar pada alam nyata, tetapi argument ini berdasarkan pada logika semata. Argumen ontologis  ini dipelopori oleh Plato (428- 348) dengnan teori idenya.  Yang dimaksud ide ialah definisi atau konsep universal dari setiap sesuatu. Menurut Plato yang ada di alam ini hanyalah bayang semata, dan mempunyai ide. Dan ide tersebut yang merupakan hakikat dari sesuatu itu. Ide tersebut sekaligus menjadi dasar wujud sesuatu itu.  Ide bersifat kekal, ide tersebut berada tersendiri yaitu alam ide.  Benda-benda di alam nyata senantiasa berubah ini, bukanlah hakikat tetapi hanya bayangan, gambaran dari ide-idenya yang ada dalam alam ide, yaitu Zat paling sempurna.  Dengan kata lain, benda-benda yang dapat ditangkap, diraba dengan pancaindra dan berubah ini bukanlah benda-benda yang asli, bukanlah hakikat tetapi hanya bayangan.  Benda berwujud karena ide-ide. Ide-ide adalah tujuan dan sebab dari wujud benda-benda. Ide-ide terkumpul atau bersatu dalam ide tertinggi yang diberi nama ide kebiakan atau the Absolute God, yaitu yang mutlak baik. Yang mutlak baik itu adalah sumber, tujuan dan sebab dari segala yang ada. Yang Mutlak baik itu disebut juga Tuhan.
Selain Oleh Plato, argument Ontologis ini dikeluarkan juga oleh St. Agustinus ( 354-430M). Ia berpendapat bahawa di alam ini ada kebenaran. Pada saat yang sama, akal akan mengetahui hal yang benar, namun terkadang ragu-ragu bahwa apa yang diketahuinya itu benar. Dengan kata lain Akal manusia mengetahui bahwa di atasnya masih ada sesuatu kebenaran yang tetap, kebenaran yang tak berubah-ubah. Kebenaran ini lah yang menjadi sumber dan cahaya bagi akal dalam usaha mengetahui apa yang benar. Kebenaran yang tetap dan kekal itu merupakan kebenaran mutlak dan disebutlah dengan Tuhan.
Kemudian argument ontologism ini dikeluarkan oleh St. Anselm dari Cantebury (1033-1109). Ia mengeluarkan konsep sesuatu yang Maha besar, maha sempurna, sesuatu yang tak terbatas. Zat yang serupa ini mesti mempunyai wujud dalam hakikat, sebab kalau ia tak mempunyai wujud dalam hakikat dan hanya mempunyai wujud dalam pikiran, zat itu tidak mempunyai sifat lebih besar dan sempurna dari yang lain. Mempunyai wujud dalam alam hakikat, lebih besar dan sempurna daripada mempunyai wujud dalam alam pikiran.  Yang maha sempurna dan sesuatu yang besar itu ialah Tuhan, dan karena sesuatu yang terbesar dan tersempurna tak boleh tidak mesti mempunyai wujud, maka Tuhan mesti mempunyai wujud. Tuhan mesti ada.
2.  Kosmologi Membendung Keraguan terhadap Eksistensi Tuhan
Ada merupakan apa yang memiliki akualitas. Lorens bagus menyamakannya dengan eksistensi dalam pengertian secara umum. Jadi ada itu tidak harus tampak pada indera atau ada itu tidak terbatas pada yang temporal saja, tetapi lebih dari itu juga termasuk yang metafisik, yang tidak tampak pada indera, yang mempunyai akualitas.
Kosmologi berarti alam semesta, dunia. Lebih luasnya, ia berpengertian ilmu tentang alam semesta sebagai suatu sistem yang rasional dan teratur. Dalam kajiannya, menyatakan bahwa alam adalah bersifat mungkin dan bukannya wajib dalam wujudnya. Alam adalah akibat dan setiap akibat tentu ada sebabnya.
Kosmologi ini sering kali disebut dengan sebab akibat. Di dalam hukum sebab akibat, selalu ada yang lebih dahulu (prioritas). Setiap sebab akibat pasti ada yang mengatakan bahwa yang satu adalah sebab dan yang satu adalah akibat. Sedangkan sebab harus mendahului akibat.
Oleh Ibnu Sina dikatakan bahwa alam pada dirinya adalah mumkin al-wujud. Kalau alam itu merupakan mumkinun wujud, maka tidak mungkin mengaktualkannya sendiri. Di mana terdapat mumkinul wujud, maka harus diaktualkan. Kalau mumkinul wujud itu dibiarkan, maka tidak pernah aktual karena sifat dasar dari wujud potensial itu adalah bahwa jika dia diaktualkan tetapi tidak bisa mengaktualkan dirinya sendiri.
Kalau alam yang pada dirinya adalah mumkin al-wujud, maka sampai kapan pun ia tidak akan mewujud kecuali ada yang mengaktualkannya dan yang mengaktualkannya sudah pasti ia adalah aktual, karena kalau ia potensi juga. Jangankan mengaktualkan orang lain, mengaktualkan dirinya sendiri saja tidak bisa? Jadi jika alam dibiarkan, tanpa bantuan Allah, ia hanya ada dalam potensi saja. Dengan bantuan Allah, kemudian alam menjadi seperti yang kita alami.
Al-Kindi tidak mau ketinggalan, ia juga membuktikan keberadaan Tuhan dengan tiga konsep kosmologinya, yaitu; barunya alam pembuktian adanya Tuhan, keragaman dalam ujun juga demikian dan kerapian alam tak terelakkan bahwa ia tak mungkin serapi itu tanpa ada yang merapikannya, ia pasti maha sempurna. Terus, bagaimana tuhan itu? Al-Kindi mengatakan bahwa tuhan ialah kenegativan. Ia bukan benda, bukan pula bentuk, tidak mempunyai kwantitas, tidak mempunyai kwalitas dls.
3.  Keberadaan Tuhan dalam Perspektif Teleologi
Teleologi itu berasal dari bahasa yunani telos yang berarti tujuan, akhir dan logos yang berarti doktrin. Istilah ini diperkenalkan oleh Christian Wolff pada abad ke-18. Dengan demikian teleologi merupakan studi tentang gejal-gejala yang memperlihatkan keteraturan rancangan, tujuan, akhir, maksud, kecenderungan, sasaran dan bagaimana hal ini dicapai dalam proses perkembangan. Eksistensi ialah apa yang memiliki aktualitasa. Ia menekankan bahwa sesuatu itu ada.
Seperti yang dikatakan William Paley, manusia mempunyai membunyai tubuh dengan struktur yang seperna. Contohnya tangan, kaki, mata dsb. Ini merupakan alat tubuh yang sangat ideal. Kesempurnaan tubuh itu tidak lah kosong tanpa kegunaan tertentu, tatapi ia mempunyai tujuan yang sangat begitu penting sesuai dengan alat itu sendiri. Setiap alat tubuh mempunyai tujuan tertentu. Kita ambil sample mata, mata yang sempurna ini mempunyai tujuan yang sangat urgen bagi kehidupan manusia sebagai alat penglihat. Kita bayangkan bagaimana manusia bisa beraktivitas kalau tidak ada mata. Keadaan ini tidak hanya berlaku kepada manusia saja, tetapi seluruh alam pun juga demikian, mempunyai tujuan tertentu.
Dalam pandangan teleologi, segala sesuatu di pandang sebagai struktur (organisasi) yang tersusun dari bagian-bagian yang mempunyai hubungan erat dan bekerja sama untuk tujuan prganisme itu. jadi dunia ini bagi seorang teleologi tersusun dari bahan-bahan yang erat hubungannya satu dengan yang lainnya dan bekerja sama untuk tujuan yang tertentu.
Tujuan alam yang dimaksud di sini ialah kebaikan dunia dalam keseluruhan. Dalam artian ia terus beredar dan berevolusi menuju kebaikan universal di bawah pimpinan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna di muka bumi yang juga sebagai khalifahnya. Nah, kalau demikian, tidak mungkin alam berjalan sendiri menuju tujuan tertentu itu. oleh karena itu, dibalik kejadian tersebut, pasti terdapat yang zat menggerakkan atau menentukan tujuan tertentu. Zat itu tidak mungkin tidak sempurna, pasti jauh lebih sempur dari yang ditentukan. Zat yang maha sempurna ini lah yang disebut dengan Tuhan.
4.  Moralalitaspun tak Gentar MembuktikanNya
Mengenai wujud Tuhan dalam argument moral, Immanuel Kant berargumen bahwa menurutnya argument moral inilah yang benar-benar membawa kepada keyakinan.  Kant berpendapat bawaha manusia mempunyai perasaan moral yang tertanam dalam jiwa dan hati sannubarinya. Orang merasa bahwa ia mempunyai kewajiban untuk menjauhi perbuatan-perbuatan buruk dan menjalankan perbuatan-perbuatan baik.
Kant berpendapat bahwa perbuatan baik menjadi baik tidak karena akibat-akibat baik yang timbul dari perbuatan itu dan tidak pula karena agama mengajarkan bahwa perbuatan itu baik. Sesuatu perbuatan adalah baik, karena manusia tahu dari perasaan yang tertanam dalam jiwanya bahwa ia diperintahkan untuk mengerjakan yang baik itu. Berdasar pada pendapat ini, Kant mengatakan bahwa manusia mempunyai kemerdekaan, karena tiap hari manusia selalu mengadakan pilihan antara tunduk pada perintah hati sanubari dan patuh pada kemauan. Kant berpendapat bahwa logika tak dapat membawa keyakinan tentang adanya Tuhan dan oleh karena itu ia pergi kepada perasaan. Perasaan inilah yang dapat membuktikan dengan sejelas-jelasnya bahwa tuhan itu mesti ada. Kalau akal memberi kebebasan bagi manusia untuk percaya atau tidak percaya pada adanya Tuhan, hati sanubari member perintah kepadanya untuk percaya bahwa Tuhan itu ada.
Argument moral ini disederhanakan sebagai berikut, Kalau manusia merasa bahwa dalam dirinya ada perintah mutlak untuk mengerjakan yang baik dan menjauhi perbuatan yang buruk, dan kalau perintah ini bukan diperoleh dari pengalaman, tetapi telah terdapat dalam diri manusia, maka printah itu mesti berasal dari suatu zat yang tahu akan baik dan buruk. Zat inilah yang disebut Tuhan.

Salam Filosof

Artikel ini berasalah dari berbagai sumber. Diantaranya

Prof. Dr. Amsal Bakhtiar, M.A. Filsafat Agama, (Jakarta: Rajawali Press. 2009 ). Hal. 171
Harun Nasution. Filsafat Agama, (Jakarta: Bulan Bintang. 2003), hal.53
Lorens Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta: Gramedia, cet. Iv, 2005), h. 183
Read More