Selasa, 25 Agustus 2015

TAN MALAKA, FILSAFAT DAN SEPAKBOLA




Tan Malaka atau Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka (lahir di Nagari Pandam Gadang, Suliki, Sumatera Barat, 2 Juni 1897 – meninggal di Desa Selopanggung, Kediri, Jawa Timur, 21 Februari 1949 pada umur 51 tahun) adalah seorang aktivis kemerdekaan Indonesia, filsuf kiri, pemimpin Partai Komunis Indonesia, pendiri Partai Murba, dan Pahlawan Nasional Indonesia.[1]
Tan Malaka adalah sebuah gelar semi kebangsawanan yang di ambil dari garis Matri(ibu).  Aslinya beliau dipanggil Ibrahim. Sosok Tan Malaka adalah sosok yang mistik yang artinya sangat rahasia. Tanggal lahirnya sendiri tidak dapat di pastikan. Sangking misteriusnya orang ini, Belanda tak bisa menyentuhnya.  Tan Malaka mempelajari ilmu agama dan berlatih pencak silat Pada tahun 1908, ia didaftarkan ke Kweekschool (sekolah guru negara) di Fort de Kock. Menurut gurunya GH Horensma, Malaka, meskipun kadang-kadang tidak patuh, adalah murid yang pintar. Di sekolah ini, ia menikmati pelajaran bahasa Belanda, sehingga Horensma menyarankan agar ia menjadi seorang guru di sekolah Belanda. Ia juga adalah seorang pemain sepak bola yang hebat. Ia lulus dari sekolah itu pada tahun 1913. Setelah lulus, ia ditawari gelar datuk dan seorang gadis untuk menjadi tunangannya. Namun, ia hanya menerima gelar datuk. Ia menerima gelar tersebut dalam sebuah upacara tradisional pada tahun 1913.
Tan Malaka adalah filosof Indonesia yang besar. dia masuk dalam kelompok filsafat kiri. Dalam perkancahan politik, Tan Malaka adalah seorang Komunis sejati. Filosof besar seperti Karl Marx, Friedrich Engels, Vladimir Lenin dan Friedrich Niatsche adalah guru panutannya yang mempengaruhi jalan arah pemikiran Tan Malaka untuk membenci Belanda dan semakin menggilai Komunis dan sosialis.
Dalam buku Madilog yang adalah salah satu karya magnum opusnya. Tan Malaka berbicara mengenai Filsafat. Menurutnya para ahli Filsafat sering berkata semaunya tak ada pangkal tak ada ujung. Maka untuk berfilsafat dengan baik Tan Malaka mengasosiasikan filsafat dengan sepakbola. “apabila kita ingin menonton satu pertandingan sepakbola, maka lebih dahulu kitakita mesti pisahkan si pemain, mana yang masuk klub ini, mana pula yang masuk kumpulan itu. Kalau tidak begitu, bingunglah kita. Kita tak bisa tahu siapa yang kalah, siapa yang menang. Mana yang baik permainannya, mana yang tidak. Begitulah kalau kita masuki pustaka filsafat ratusan atau ribuan buku. Kita lebih dahulu mesti pisahkan arah pikiran ahli filsafat. Kalau tidak , niscaya akan bingunglah kita, tak bisa memisahkan siapa yang benar, siapa yang salah. Seperti para pemain sepakbola tadi kacau balau di mata kita, tak tahu apa maksudnya masing-masing, begitulah di mata kita para ahli filsafat berkata semau-maunya saja, tak ada pangkal tak ada ujung.”[2]
Dalam mengkaji Filsafat Tan Malaka memakai jubah pemikiran Friedrich Engels yang disebut Tan Malaka sebagai seorang co creator yang sama dengan Karl Marx. Menurut Tan Malaka Engels adalah seorang pendiam yang bergerak di belakang layar besar karl Marx.[3]
Sebagai seorang penonton sepak bola filsafat. Kita akan membagi dua tim yang akan bermain dilapangan filsafat. Tim Materialis akan melawan tim Idealis. Tim materialis bermain untuk membela para ploteral dan kaum tertindas sedangkan tim idealis berpihak pada kaum yang berpunya dan berkuasa.
Tim Materialis adalah Tim yang berprinsip bahwa hakikat dunia adalah materi. Tim ini berkeyakinan bahwa dunia tidak memiliki makna apapun dan tujuan apapun. Menurut mereka dunia bergerak sesuai dengan hukum alam. Tim Materialis memilik pemain –pemain terbaik seperti Epikuros, Demokritus, Lucretius Carus, Baron von Holbach, karl Marx dan Feurbach.
Sedangkan tim idealis adalah tim yang berprinsip bahwa hakikat dunia ini adalah alam ide. Dunia duniawi adalah dunia maya atau impian belaka yang tidak sempurna. Menurutnya dunia yang sejati adalah dunia ide. Tim ini di perkuat oleh pemain yang juga hebat sekaliber Plato, Hume,Berkeley, dan Hegel.
Marilah Kita menuju Stadion Auf Klarung  yang akan mempertontongkan Bigmatch antara Tim Idealis dan Tim Materialis. Biasanya pertandingan antara kedua tim ini banyak mengundang perhatian penonton. Bagi penonton yang memusuhi kaum Proteral yang dibela tim sepakbola materialis. Menganggap Materialisme itu sebagi tim yang berdasar atas daya upaya mencari kesenangan hidup tak terbatas, makan sampai muntah dan minum sampai mabuk. Sedangkan tim Idealis di bela sebagai tim yang berdasarkan kesucian yang paling tinggi dan lebih banyak memuaskan kepala dari pada perut. Padahal dalam permainan dilapangan yang sebenarnya. Anggapan para suporter seringkali terbalik.
Permaianan sepakbola filsafat sudah akan dimulai. Para pemain memasuki lapangan dan mendapat dukungan dari  kedua kubuh suporter masing-masing yang sudah membanjiri stadion Auf Klarung.  Wasit meniup peluit panjang. Permainan bigmatch Sepakbola filsafat sudah dimulai. Bola kini  berada di kaki pemain idealis bernomor punggung 12 David Hume. Dia membawa bola ke dalam dirinya sebagaimana David Hume beranggapan “jika saya memasuki diri saya maka saya akan mendapatkan berbagai macam pengertian dan bergulu-gulung gambaran mengenai Benda”. Mengapa Hume memainkan bola di dalam dirinya sendiri. Karena Bagi Hume warna, berat dan rasa sebuah bola ada pada diri Hume bukan pada bola itu . Bola itu tidak pernah ada yang ada hanyalah warna, berat,  rasa, pengertian dan gambaran yang berasal dari dalam diri Hume.
Tetapi bagaimana dengan diri Hume sendiri yang adalah benda untuk teman setimnya.? Hume beranggapan bahwa ia termasuk hanyalah gambaran untuk Berkeley. Hume tidak pernah ada, Hume hanyalah sebuah gambaran dan Ide dari tuan Berkeley. Sebagai seorang suporter kita bisa mengambil kesimpulan bahwa seorang pemain idealis disisi lain membatalkan benda tetapi juga menghancurkan dirinya sendiri, ini blunder yang fatal. Satu gol untuk tim materialis.
David Hume mempassing bola kerah kaki  Immanuel kant. Seorang pemain yang berasal dari Jerman. Dia berusaha bermain cantik dan menutupi kesalahan David Hume. Tetapi caranya mendrible bola tidak seberani dan sejujur David Hume. Immanuel Kant membawa bola kadang maju dan kadang mundur. Immanuel Kant beranggapan kita bisa mengetahui benda dengan panca indra, tetapi hakikat benda itu sendiri tidak bisa kita ketahui.” Bola yang di drible maju mundur oleh Hume akhirnya direbut oleh lawannya Engels pemain lincah dari tim Materialis. Engels menanggapi Kant bahwasanya “ kalau kita sudah mengetahui benda dengan Panca indra,maka apa lagi yang harus kita cari mengenai benda itu” bagi kaum materials itu sudah cukup.
Lebih lanjut lagi Engels menjelaskan bahwa dahulu nenek moyang kita hanya mengetahui 4 zat saja yakni tanah,api, udara dan air. Namun sekarang kita sudah bisa mengetahui bahwa ada 90 lebih zat asli elementer. Kita bisa melihat benda yang snagat kecil ukurannya dengan mikroskop. Kita bisa menciptakan sebuah senjata mematikan dengan hukum-hukum fisika dan kimia. Dan semua pemanfaatan benda untuk benda akan terus maju sesuai perkembangan teori. Lalu apakah yang harus di ungkapkan lagi dengan benda itu sendiri “Ding an Sich”.
Tetapi larilah Hegel dari tengah lapangan datang sliding dan mentackle kaki Engels. Dan bola akhirnya di rebut lagi oleh tim idealis yang kini berada di kaki Hegel. Hegel terkenal sebagai pemain yang licin karena ia memakai sepatu dialektika dan Logika hingga larinya begitu kencang tak dapat dikejar oleh pemain lain.
Hegel beranggapan bahwa “ide Absolut” lah yang menyusun realitas benda. Ide Absolut adalah yang menjalankan dan menjalani sejarah Konkret dan mengungkapkan dirinya di dalam sejarah itu. Ide absolut akhirnya bersifat metafisik dan mistik. Artinya sangat rahasia dan tidak dapat di jangkau.
Namun kecepatan berlari Hegel dapat dikejar akhirnya oleh pemain materialis yakni Feurbach.  Feurbach dalam karyanya Das Wesen des Cristentums ( Hakikat agama Kristen ) membalikkan pemikiran Hegel mengenai hubungan dialektik antara manusia dengan Roh Absolut. Bukan Ide absulut (Allah) yang membawa dirinya pada realitas melainkan manusialah realitas sejati. Dalam hal ini Feurbach lebih lanjut menjelaskan bahwa Roh absolut hadir sebagai hasil Proyeksi Manusia , citra,sifat-sifat dan keinginan manusia itu sendiri yang dilemparkan keluar. Atau lebih jelasnya Feurbach mengatakan Bukan ide Absolut yang menciptakan realitas tetapi realitas itulah yang menciptalan ide Absolut atau Bukan Allah yang menciptakan manusia tetapi manusialah yang menciptakan Allah menurut citranya sendiri.
Sungguh permainan sepak bola Filsafat bagi suporter sepakbola filsafat ( pelajar filsafat) adalah sebuah permainan yang sangat menghibur. Antara kedua tim , Idealis dan Materialis adalah tim yang sama-sama kuat. Hingga bola kebenara terus bergulir dan berpindah di kaki kaki pemikir idealis dan materialis. Maka sangat susah untuk menentukan siapakah yang akan menjadi pemenang  untuk permainan sepak bola Filsafat ini. Mungkin saja kali ini tim Materialis yang menang tapi esok Idealis membalas kekalahannya.  Permainan tentu saja menghadirkan pemenang dan pecundang. Tetapi untuk permainan Sepak Bola Filsafat tidak menghadirkan pecundang. Yang ada hanyalah pemenang. Karena pemain sepak bola Filsafat bermain bersama-sama untuk mencari kebenaran yang sejatinya kebenaran.

Penulis mengutip pandangan Marx bahwa “ Para ahli filsafat sudah memberikan bermacam-macam pemandangan untuk mencerahkan dunia itu. Yang perlu lagi ialah merubah dunia itu.” Para pemain SepakBola Filsafat sudah mempertontonkan permainan Tiki-Taka yang cantik sekarang saatnya muncul pra pemain baru untuk merubah permainan sepak bola Tiki-Taka itu.





















CAT. (Tan Malaka adalah seorang pemain sepak bola handal yang berposisi sebagai seorang Striker yang lincah. Dan permainannya akan semakin hebat jika ia tidak mengenakan sepatu.)



















Sumber



Tan Malaka, Madilog,(Yogyakarta:Penerbit Narasi,2014),

Sesudah Filsafat, Esai-Esai untuk Frans Magnis suseno.




[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Tan_Malaka
[2] Tan Malaka, Madilog,(Yogyakarta:Penerbit Narasi,2014), h. 51.
[3] Tan Malaka, Madilog,(Yogyakarta:Penerbit Narasi,2014), h. 52.
Read More

Senin, 24 Agustus 2015

Istana Orang Tua ( Puisi yang mengkritik Kediktatoran Senioritas )


ISTANA ORANG TUA

Hahahahahahahahaha.
suara tawa yang panjang dari orang tua.
yang muda mau tertawa jua. diam sajalah.
kalau berani. Palu pukul mencium lidahmu.

siapa berani dengan orang tua.
yang lebih tahu. Yang lebih tua
yang benar. Yang lebih tua
yang berkuasa. Yang lebih dulu tiba.
yang muda. Sok tahu saja.
yang muda. Lebih baik membungkuk.


Senioritas.
Itulah istana orang tua
dan itulah gubuk inlander muda.
kalau berani keluar.
teriakan penjaga neraka menyembur petaka.
dan serbuan seribu rantai orang tua menghujam tanpa jeda .

Yang muda cium pantat orang tua.
kotorkah? Tidak masuk akal kah?
kata orang tua itu kata tuhan.
masih membantah.
memang itulah yang seharusnya.
UUD orang tua yang berpasal selalu benar.
itulah peraturan kekal disini.

ada yang berani.?
ubah itu.
maka kaulah manusia  setengah dewa disini.
seribu nyawa terbebas karenamu.
dan kau akan mengguncangkan istana.
bagaimana mungkin bisa.
pasti. Siapa?
siapa lagi kalau bukan kita.

EITS.
apa yang kau katakan itu
kau mu melawan kami anak muda.
pilih rumah sakit. Atau kuburan.




Read More

Perang dunia Keempat (Konsep Dunia Baru)


PERANG DUNIA KE EMPAT.
“PERANG MELAWAN SEMUA MANUSIA.”
Konsep neoliberalisme dalam tatanan “dunia baru.”

PERANG, mungkin setelah mendengar kata itu. Otak manusia akan langsung otomatis memikirkan peristiwa berdarah, mimik yang sedih, penjajahan, tanah yang bergetar ketika rudal berjatuhan, orang-orang betubuh kekar memegang senjata dan korban berjatuhan dimana-mana, kemiskinanan merebak, kelaparan meraja lela dan rakyat bersatu untuk melawan musuh.

Perang dunia pertama dan kedua. Perang yang begitu melegenda. Dan setiap manusia yang mempelajari sejarah. Akan menemukan dua topik utama yang mewarnai jalannya sejarah besar dunia modern. Dan bebarapa tokoh lahir sebagai tokoh yang kejam lagi berpengaruh. Lahir diktator bengis sekaliber Adolf Hitler yang begitu menyeramkan dan menarik. Dan peristiwa penyerbuan Pearl Harbour oleh tentara samurai Jepang dan kemudian dibalas secara telak oleh dua bom atom yang terjun bebas didua kota besar jepang, yaitu Hiroshima dan Nagasaki oleh Amerika serikat.

Pasca peparangan besar terjadi, peta dunia akan berubah. Ada wilayah negara yang semakin meluas atau ada negara yang wilayahnya semakin sempit. Hilangnya sebuah negara atau munculnya negara baru. Dan kita diharuskan membeli peta baru yang akan dipajang didinding kelas.

 perang dunia kesatu dan dua telah berakhir, dan  saat ini masing-masing negara membuat perjanjian bilateral, ataupun multilateral. Dan lahirnya PBB sebagai pemegang kekuasaan untuk mendamaikan dunia. Gesekan antar dua negara seminimal mungkin dihindari. Dan semua makhluk katanya hidup dengan damai.

Namun saudara-saudara sekalian. Meski terdengar konspirasi, peperangan ternyata belum usai. Tidak akan ada kata damai. Perang dunia keempat baru saja dimulai. Namun sebelumnya melewati Perang dunia ketiga yang disebut sebagai perang dingin. Perang yang berlangsung dari tahun 1946 (sebut saja setelah pemboman Hiroshima) sampai sekarang. Perang yang juga besar yang terdiri dari peperangan lokal. Perang Vietnam misalnya antara Vietnam selatan dan Vietnam utara. Atau gesekan –gesekan yang sering terjadi antara dua korea. Dimasing masing perang lokal ini ada sutradara yang mengendalikan dari behind the scene.


Sutradara itu adalah dua negara adikuasa dan adidaya, Amerika dan Uni soviet dan beberapa boneka-bonekanya . dan yang menjadi aktornya adalah 1) Mayoritas negara biru eropa.2) Amerika latin, Afrika dan oceania.

Perang dingin, perang yang terjadi tanpa ada pertemuan secara langsung, perang tanpa tatap muka, atau dibahasakan secara keren, sebagai perang yang terjadi dari balik layar. Watak peperangan dari para aktor bisa tergembarkan dari orientasi persenjataannya dan bebarapa pemegang senjata dari peperangan lokal yang terjadi.

Saat Uni soviet pada perang dingin mendapati kekalahannya dengan kehancuran secara majas tersirat. Dimana banyak wilayahnya memisahkan diri dari Uni Soviet dan membentuk negara baru yang berdaulat. Saat Uni soviet runtuh, perang dunia keempatpun dimulai tanpa mengakhiri perang dunia ketiga.

Misi perang dunia keempat adalah merubah peta secara besar-besaran. Peta dunia yang akan disebut sebagai peta dunia unipolar. Dimana tidak akan ada lagi ratusan negara. Yang ada hanya satu negara tunggal yang mendominasi pemerintahan dunia. Inilah yang disebuat Amerika sebagai The New World. Dan senjata ampuh yang digunakan untuk menjalankan misi ini adalah senjata mutakhir yang tidak menghancurkan tubuh berkeping keping tapi lebih mematikan dari pada nuklir. Ialah senjata Globalisasi.

Senjata Globalisasi muncul seiring Komputer diciptakan. Konsep globalisasi adalah apa yang disebut sebagai “Neoloberalisme”. Sebuah agama baru yang menghalalkan dan mewajibkan pemakaian senjata globalisasi pada perang dunia keempat.

Dan yang akan menjadi musuh pada perang dunia keempat adalah MANUSIA tanpa menyebut asalnya. Senjata globalisasi akan menembak manusia secara membabi buta. Perang dunia keempat akan menghancurkan manusia seraya menguniversalkan pasar. Siapa saja yang mencoba untuk menentang logika pasar adalah musuh utama yang harus dihancurkan. Dalam artiannya siapa saja yang mengaku manusia akan terancam dan tidak akan selamat selain memihak dan menjadi budak pasar. Semua orang yang mengakui dirinya bebas apakah orang adat, orang pedalaman, cendikiawan, seniman, filosof, adalah orang orang yang sebenarnya menjadi budak yang paling menderita.

Senjata Globalisasi pada perang dunia keempat akan menghancurkan semua negara, tanah yang tadinya subur diubah menjadi gurun yang gersang, setelah negara itu hancur globalisasi kembali membangun. Rintangan pertama adalah adalah negara yang berbangsa mereka digempur dan dihancurkan. Bila bahasa-bahasa nasionalisme masih lancar dilafadzkan mereka akan juga digempur habis –habisan, dan sebuah bahasa baru digencarkan. Bahasa baru itu adalah bahasa Komputer. Semua orang yang jiwa nasionalismenya begitu menggelora dianggap sebagai penghalang masuknya pasar global mereka harus dihajar hingga  babak belur dan mati secara mengenaskan. Dan semua sejarah bangsa juga harus dihapuskan dan dilupakan. Karena itu bertabrakan dengan agama “neoliberalisme”.

 

Dalam dunia baru, hanya akan ada satu pasar tunggal, dimana semua manusia hanya menkonsumsi satu produk yang sama, setiap pagi memakan roti yang sama, susu yang sama, sisanya memakan nasi dari pasar yang sama. Malamnya makan ikan yang sama. Dan begitu seterusnya. Rakyat tidak lagi bertindak sebagai warga negara tetapi sudah menjadi warga dunia. Hingga hilanglah kalimat “ saya dari negara Indonesia yang ramah” menjadi “ saya dari dunia yang sama denganmu.”

Saudara sekalian dalam dunia baru orang yang punya banyak pengetahuan dan orang-orang yang dikatakan bijak tidak lagi berguna. Yang berguna hanyalah orang orang yang banyak pembeliannya pada pasar menjadi raja konsumerisme. Dunia baru yang begitu menyeramkan bukan. Dan sebuah pertanyaan muncul dengan apakah kita melawan.? Jawabannya adalah pikirkan sendiri wahai saudara-saudara sekalian.Tempatkan diri pada tempat yang kamu inginkan.

 




Read More

Minggu, 23 Agustus 2015

AKU SENANTIASA BARU - filsuf yunani kuno Heraklitus




Seorang filsuf yunani kuno bernama Heraklitus. Yang telah dewasa pada kira-kira tahun 500 SM. Tak banyak yang dapat diketahui dari kehidupannya, kecuali bahwa ia adalah warga Ephesus kelas bangsawan. Ia terkenal di zaman antik karena doktrinnya bahwa segala sesuatu mengalami perubahan terus menerus.

Heraklitus memiliki etika sejenis asketisme yang jumawa, yang amat mirip dengan pandangan Niatzche[1]. Heraklitus berpandangan bahwa jiwa adalah adonan dari campuran antara api dan air.  Ketika api lebih mendominasi maka adonan itu akan kering. Dan jiwa yang kering adalah yang terbaik dan bijaksana. Dan apabila jiwa merasa nikmat ketika menjadi basah maka kematian bagi jiwa. Heraklitus memperjelas bahwa dia memuliakan kekuatan yang diperoleh lewat penguasaan diri, dan memandang rendah nafsu-nafsu yang menyimpangkan manusia dari ambisi-ambisi utamanya.

Doktrin bahwa segala sesuatu berubah terus menerus adalah pandangan Heraklitus yang paling terkenal, dan suatu ajaran yang paling ditekankan oleh pengikut pengikutnya, seperti digambarkan dalam Theatetus karya Plato.[2]

“ Engkau tak dapat mencebur dua kali kedalam sungai yang sama, karena air segar senantiasa mengalir melintasimu.”

“matahari selalu baru setiap hari”

Doktrin inilah yang akan kami bahas dalam paragraf-paragraf berikutnya.

Heraklitus seorang bijak yang seolah mempermainkan akal manusia yang datang selanjutnya. Heraklitus mengajarkan “ tak ada yang abadi, segala sesuatu senantiasa menjadi” dan ajaran ini seolah menjadi sebuah petualangan akan pencarian shopos yang begitu gemerlap dan senantiasa menjadi sebuah pertentangan.

Jika memang semua yang ada ini terus berubah. Akan menjadi sebuah pertentangan dalam ajaran Agama. Dimana Agama Meyakini permanensi dalam dua bentuk, ialah Tuhan dan immortalitas. Pada Tuhan tak ada keserba serbian atau sediktpun perubahan karena Dia adalah maha Abadi. Begitu pula dengan kehidupan sesudah mati yang bersifat abadi dan tentu saja tak berubah. Namun Heraklitus menjungkir balikkan konsepsi itu. Teologi liberal modern meyakini bahwa terjadi gerak maju disorga dan evolusi pada Tuhan.

Lalu dari doktrin Heraklitus ini pula. Ada sebuah konsepsi yang berlanjutan dimana bila segala sesuatu itu terus berubah maka Tuhan terus menerus menciptakan. Jika diperhatikan secara seksama. Seorang manusia yang terlahir dari sperma akan terus mengalami perubahan hingga dia bertumbuh dewasa. Dan ini memungkinkan bahwa dalam setiap detik waktu yang berjalan Tuhan tak pernah berhenti untuk terus menciptakan. “ aku tak diciptakan hanya sekali tetapi setiap detik terus baru. Aku yang sekarang bukanlah aku yang kemarin. Aku yang sekarang adalah aku dan aku yang akan datang bukanlah aku yang sekarang”.

Memang pencarian akan seuatu yang permanen adalah tujuan yang menjadikan seorang berfilsafat yang berangkat dari hati yang paling dalam. Manusia memang tak bisa menyangkal bahwa waktu adalah sesuatu yang fana yang terus mengalami perubahan. Namun sesuatu yang abadi bukanlah sesuatu yang terlingkup oleh waktu. Eksitensi keabadian sepenuhnya terlepas dari waktu dimana tak ada yang sebelumnya dan sesudahnya. Sehingga tak ada kemungkinan logis perubahan. Bagaimanakah sesuatu yang abadi itu akan berubah. Bila yang merubah juga akan berubah.

Dia mencipta adalah yang abadi maka yang dicipta adalah sesuatu yang akan terus mengalami perubahan. Dia mencipta secara terus menerus. Sesuai dengan doktrin Heraklitus yang datang dari 500 SM.

Dan kemudian seorang Ignatius Loyola yang datang jauh kemudian pada 1491-1156 ikut mendukung hal ini dengan mengeluarkan asas Fundamentum yang terkenal dikalangan serikat Yesus.

Fundamentum dalam hal ini adalah sebuah proses. Dimana manusia berusaha untuk terus menerus mendengar ajakan Tuhan dalam setiap situasinya yang konkret. Tuhan selalu aktif menciptakan dalam situasinya yang konkret itu. Tuhan selalu kreatif mencipta. Maka manusia dalam hal ini tidak bisa bersikap pasif, seakan hanya sekali saja Tuhan menciptakannya. Penciptaan itu bukanlah suatu aktivitas yang datang dari jauh dan tak terpahami, tetapi terjadi langsung dalam situasi manusia dizaman ini, dari sejarah hidup kita, kini dan disini.

Fundamentum dengan demikian mengajarkan. Tak seuatupun yang tetap didunia ini. Manusia diajak untuk terus menerus ikut didalam karya Tuhan yang selalu menciptakan aku setiap kali baru, dalam setiap moment hidupku. Fundamentum dapat dilihat sebagai suatu upaya untuk memperhatikan Tuhan yang senantiasa bekerja dengan kita untuk bersama- sama menciptakan hidup kita.

Dengan demikian Tuhan terus menerus menciptakan. Dimana Tuhan adalah yang abadi tidaklah mengalami perubahan.



[1] Bertrand russel, Sejarah Filsafat Barat, terj ( Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2007 ), h. 56
[2] Bertrand russel, Sejarah Filsafat Barat, terj. ( Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2007 ), h. 60
Read More

Sabtu, 22 Agustus 2015

Biografi Budha (Belajar Tasawuf dari Nabi Shiddatta Gautama).



Budha gautama, sang manusia super pendiri ajaran Budha, yang hidup di bagian utara tanah India pada abad ke 6 SM. Budha Gautama memiliki nama pribadi Shiddatta, sedangkan Gotama adalah nama keluarganya. Shiddatta Gotama baru dipanggil “Budha” setelah ia menembusi pencerahan dan menyadari kebenaran sejati. Budha berarti “yang sadar” atau “Yang tercerahkan”. Secara umum ia menyebut dirinya sendiri sebagai Tathagata, sementara pengikutnya memanggilnya Bhagava yang berarti  “Yang Penuh Berkah”. Ada pula yang menyebutnya Gotama atau Sakyamuni.
Sang Budha terlahir sebagai seorang yang berdarah biru. Ia adalah seorang pangeran yang memiliki segalanya. Kemewahan, kekuasaan dan kepuasan dapat diraihnya dalam satu paket keluarga yang berasal dari jalur keturunan ningrat yang murni. Budha adalah seorang pewaris takhta yang memiliki paras yang gagah, tampan, rupawan, mapan, agung yang dilapisi oleh kulit yang halus. Di umurnya yang ke 16. Budha menikahi seorang gadis cantik, anggun, tenang dan bermartabat yang bernama Yasodhara.
Namun disamping semua itu segala kemewahan dan kenyaman malah membuat Budha merasakan kehampaan. Ia ibarat burung yang terperangkap di dalam sebuah sangakar berlian. Kehampaan itu dirasakannya saat ia berkunjung di luar istana. Ia menyaksikan orang tua, orang sakit, orang mati dan petapa yang disebutnya “empat penampakan”. Budha merasakan satu demi satu kesadaran akan sebuah kebenaran datang kedirinya bahwa “Hidup akan menjadi tua dan mati”. Dan kesadaran itu membuatnya hampa. Banyak pertanyaan yang datang menghampirinya. Ia bertanya-tanya, “Dimanakah ada alam kehidupan yang tidak merasakan keuzuran dan kematian?”. Pertanyaan itu mendapatkan jalan, begitu ia melihat petapa yang melepasakan nafsu duniawinya. Budha menarik kesimpulan bahwa langkah pertama dalam pencaharian kebenaran real adalah mencabut dan meninggalkan segala nafsu keduniawian. Ini mengartikan bahwa duniawi tidak akan pernah dapat memberikan kebahagiaan sejati.
Setelah bertekad untuk mencari jalan keluar untuk mencari obat dari kehampaan universalnya. Ia memutuskan untuk meninggalkan rumahnya. Pada umurnya yang ke 29, ia mengucapkan selamat tinggal pada istri dan anak-anak nya yang tertidur.
Malam sebelum ia meninggalkan istananya. Budha tidak lagi bisa tenang. Ia berjalan menyusuri lorong-lorong istana melewati beberapa ruang dan akhirnya mencapai singgasana Raja. Ia membungkuk dan berkata padanya.
“ayah perkenankan anakmu ini mengajukan permohonan. Izinkan saya meninggalkan istana untuk mengikuti jalan keterbebasan, karana segala hal duniawai akan berubah dan bersifat sementara”.
Lalu sang ayah dengan sedikit kaget menjawabnya.
“ Anakkku lupakanlah niatmu. Engkau masih terlalau muda untuk menjalani panggilan spiritual. Sesungguhnya ayahmu inilah yang seharusnya meninggalkan keduniawiaan. Maka naik takhtalah dirimu anakku.”
Dengan sopan budha menjawab tawaran ayahnya
“Berjanjilah padaku ayah untuk empat hal. Dan jika ayah dapat menepatinya maka saya tidak akan meninggalkan istana dan menuju kehutan”
“apa itu anakku?” tanya raja
“ Berjanjilah padaku ayah jika hidupku ini tidak akan berakhir denga kematian. Bahwa keahatanku tidak akan terserang penyakit. Bahwa masa mudaku tidak akan termakan oleh waktu. Dan  kemalangan tidak akan merusak kesejahteraanku.”
“ aku tidak akan bisa anakku. Hal tersebut tidak akan bisa di hindari”.
“maka janganlah ayah bersikeran untuk menahanku. Tekadku telah bulat. Aku akan meninggalkan segalan kedunawian yang melekat didiriku.
Jadilah kemudian sang pangeran meningglkan istana di umurnya yang ke 29. Pada saat terakhirnya meninggalkan istana. Ia menyempatkan menengok istri dan anak kesyanagannya yang baru saja lahir. Keinginan yang besar antara  tetap tinggal dan membatalkan rencananya dan pergi menyendirikan diri menyebabkan kepedihan yang mendalam. Namun saat itu. Di lingkungan India, meninggalkan keduniawian dan menjadi seorang petapa guna menjalani kehiduan yang suci adalah sebuah perbuatan yang mulia dan dianggap sebagai sebuah pengorbanan besar yang patut di puji. Maka setelah Shiddatta merasa mantap ia bergegas menjalani rencananya.
Meninggalkan kehidupan keduniawian semacam ini sangat jarang terjadi daram kurun waktu sejarah belakang. Ia pergi pada puncak usia muda, dari kesenangan menuju kesulitan, dari kemapanan materi menuju ketikpastian, dari status kekayaan dan kekuasaan menjadi petapa pengembara yang tinggal di gua dan hutan, dengan jubah kumal sebagai satu-satunya perlindungan terhadap terik matahari, hujan, dan angin musim dingin. Ia menolak posisi kekayaan, janji kemuliaan, kekuasaan, dan hidup yang penuh cinta dan kesenangan untuk pncarian kebenanaran yang sulit dan belum pernah di temukan, walaupun telah di cari oleh banyak orang di India selama ribuan tahun.
Sepanjang enam tahun, ia berjuang untuk mencari kebenaran yang sejati. Ia belajar dari banyak guru-guru terkemuka masa itu mempelajari segala hal yang di terimanya. Namun apa yang di terimanya belum bisa mengisi kehampaan kebenaran yang ada di dirinya. Maka ia memutuskan untuk mencari dengan jalannya sendiri.. ia bergabung dengan petapa  dan bersama-sama menyiksa diri dengan keyakinan jika tubuh tersiksa maka jiwa akan terbebas dari derita. Shiddatta adalah orang yang tangguh ia melebihi petapa lain dalam menyiksa diri. ia makan sangan sedikit, hinga kedua sisi perutnya hampir bersentuhan. Ia mencapai batas maksimum yang tidak pernah dicapai oleh petapa lainnya. Namun penyiksaan diri ini belum juga menghilangkan kehampaannya. Dan lalu ia menyadari bahwa penghancuran diri juga bukan jalan mencapai kebenaran yang sejati maka ia memutuskan untuk mempraktikan jalan Madya.
Dan pada malam purnama bulan Veskha, ia duduk dibawah pohon Bodhi di Gaya, memasuki meditasi yang mendalam. Saat itu batinnya menembus semesta dan menyadari sifat sejati semua kehidupan dan segala sesuatunya. Pada usia 35 tahun , ia berubah dari pencari kebenaran yang tekun menjadi Budha (nabi ) yang tercerahkan.
Selama hampir setengah abad setelah tercerahkan. Budha menyusuri jalan berdebu di India mengajarkan Dhamma, sehingga mereka yang mendengar dan menjalaninya bisa menjadi mulia dan terbebas. Ia menolak sistem kasta, meningkatkan status kaum perempuan, mendorong kebebasan beragama dan pencarian bebas. Ia membebaskan manusia dari perbudakan agama, dogma agama, dan iman buta.
Ia menjulang tinggi dalam kebijaksanaan dan kecendikiaan. Tidak ada yang dapat mengalahkannya dalam debat. Sekalipun dengan kebijaksanaan yang tiada tara itu ia tidak pernah meninggalkan orang-orang desa yang sederhana. Perbedaan kelas dan kasta tidak ada arti baginya. Tak seorang pun terlalu remeh atau rendah baginya untuk di tolong.
Budha penuh dengan kewelasan dan kebijaksanaan. Memahami bagaimana dan apa yang harus di ajarkan kepada setiap individu sesuai dengan tingkat pemahaman masing-masing. Tercatat ia kadang berjalan jauh hanya demi menolong satu orang untuk menunjukkan padanya jalan yang benar.
Banyak kekuatan ajaib di kaitkan dengannya, namun ia tidak menganggap penting hal ini. Baginya, keajaiban terbesar adalah membabarkan kebenaran dan membuat seseorang menyadarinya. Ia tergerak oleh penderitaan dan bertekad membebaskan manusia dari belenggu dengan suatu sistem berpikir dan cara hidup yang rasional.
Setelah 45 tahun menjadi petapa, Budha mangkat pada usia 80 tahun di Kusinara, meninggalkan ajaran besar Dhamma, dampak kasih dan kebijaksanaannya tetap terasa hingga saat ini.

“Allahuma salli ala Shiddarta Gautama.”
Budha sang pencerah.



Read More

Puisi Aku dan dia



AKU DAN DIA, aku dan dia
.MA’RUF.

aku
Binatang yang membinatang.
aku
musnah tajamnya waktu.
jika Aku tak berimajinasi.
maka aku tiada. Hampa.
Aku.
Udara mengudara.
meliputi.
malam bulan. Siang matahari.
Dia.
tanpa-tanpa.
kosong penafsiran.
Dia
tak sempurna, mahasempurna.
aku dan dia
Berjalan tanpa kaki.
tak tertuju
melihat tanpa mata.
tertipu.
mendengar tanpa telinga.
kebohongan belaka.
berbicara tanpa lidah.
tali kehancuran.

tanpa Dia tiada dia.
dan tanpa Aku tiada aku.
Aku dan Dia.
aku dan dia.
Read More

Kamis, 20 Agustus 2015

Apa itu pengetahuan dan filsafat mistik




Mistik. Kata tersebut diartikan dalam masyarakat kita sebagai sebuah kepercayaan terhadap sebuah kekuatan yang supernatural. Kepercayaan akan kekuatan supernatural tersebut bahkan disembah dan di jadikan sebagai sebuah tempat perlindungan. Hal-hal mistikpun selalu ada dalam setiap denyut nadi eksistensi beragama. Dan dijadikan sebagai kegiatan beragama.

Dalam sebuah sejarah yang paling kuno. Manusia semenjak pertama kali dapat berpikir. Manusia sudah merasakan akan hadirnya kekuatan supernatural tersebut. misalnya di peradaban Mesir kuno, manusia menyambah dewa Ra, dewa matahari yang mengatur segala urusan di dunia. Di dataran India kuno. Orang-orang menyembah Raja Manu yang disejajarka sebagai seorang Dewa.


Lalu apakah sebenarnya pengertian Mistik itu?.
Secara epitimologi. Mistik adalah sebuah kata yang berasal dari bahasa Yunani “Mystikos” yang artinya rahasia, sangat rahasia, tersembunyi,gelap, yang terbungkus dalam kekelaman. Sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia mistik berarti, subsistem yang ada dihampir semua agama dan sistem religi untuk memenuhi hasrat manusia mengalami dan merasakan emosi bersatu dengan tuhan,tasawuf,suluk.

Berangkat dari pengertian tersebut. maka mistik secara istilah diarikan sebagai sebuah pengetahuan yang ruang lingkup pembahasannya adalah yang super rahasia yang berada pada alam metafisik yang hanya dapat dijangkau oleh super manusia atau dengan kata lain. Tidak semua manusia dapat mempelajari pengetahuan mistik.

Lebih jauh lagi mistik di artikan sebagai pengatahuan yang tidak rasional. Yang artinya mistik tidak dapat dipahami oleh akal dan bebas dari indra. Msitik dalam pengertian agama adalah mempelajari tuhan melalui jalan spritual dan menditasi tanpa melalui indra dan rasio.(As.Hornby).

Msitik tidak dapat dimengerti oleh indra dan rasio. Karena hubungan kausalitas yang terjadi di lingkungan mistik terlalu gelap dan sangat rahasia. Maka dia disebut sebagai pengetahuan yang supranatural yang membutuhkan jalan selain indra dan rasio. Bisa saja disebut sebagai jalan Spritual. Namun ketidak masuk akalan mistik ini, tidak serta merta menghapus semua hal yang masuk akal. Mistik juga sering menghadirkan bukti empiris . Namun tetap saja keempirisan ini memiliki kausalitas yang sangat gelap.

Sedangkan dalam Filsafat. Pengetahuan mistik disebut juga pengetahuan metafisika yang adalah cabang dari filsafat. Menurut Asmoro Achmadi (2005;14), metafisika merupakan cabang filsafat yang membicarakan sesuatu yang bersifat “keluarbiasaan” ( beyond nature ), yang berada di luar pengalaman manusia (immediate experience). Menurut Ahmadi , metafisika mengkaji sesuatu yang berada di luar hal-hal yang berlaku pada umumnya( keluarbiasaan ), atau hal-hal yang tidak alami, serta hal-hal yang berada di luar kebiasaan atau diluar pengalaman manusia.


Maka filsafat mistik akan membuat penikmat filsafat merasakan ketakjuban spiritual yang tidak masuk akal tapi akan memaksa akal untuk menerima bukti empirisnya. maka dengan garuk kepala kita mengatakan "itu masuk akal".


cat. (filsafat tidak gila tapi luar biasa)

Read More