Tampilkan postingan dengan label Tasawuf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tasawuf. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Januari 2016

Kenalilah Air dan Engkaupun akan Tahu Cara Melepaskan Dahaga

Ini sebuah cerita. Cerita yang terjadi pada masa lampau, mungkin bisa jadi beratus tahun sebelum masehi. Saking lamanya, banyak manusia yang sudah lupa tentang cerita ini. Ok, langsung saja.

Pada zaman dahulu kala ada keadaan yang aneh, nyentrik dan asing sekali kalau dibandingkan dengan zaman modern ini, yakni pada saat itu banyak manusia yang menderita kehausan. Jadi begitu kisahnya. Banyak yang merasakan haus, tapi tiada tahu bagaimana melepaskan dahaga tersebut.
Banyak orang-orang cerdas, para ahli serta tokoh masyarakat yang mencurahkan segala daya pikiran, bertapa, menggali dan melakukan segala hal untuk mendapatkan jawaban untuk tragedi haus ini.

Masyarakat di zaman itu bingung. Mereka tahu bahwa haus yang diderita pasti ada obatnya, yakni minum air. Cuma yang jadi masalah, air itu apa?? Sudah banyak macam orang yang mengatakan inilah air, itulah air, di sana, di sini, di situ ada air. Tapi sebagian besar manusia hanya menemukan kenihilan.

Dalam pencarian 'apa itu air?', banyak yang memiliki persepsi. Ada yang bilang air itu adalah daun-daun, air adalah rembulan, air adalah patung, air adalah atap rumah, air adalah harta. Banyak, banyak sekali definisinya.

Dengan adanya petunjuk-petunjuk dari para ahli dan tokoh-tokoh itu, beberapa di antara masyarakat menghabiskan sepanjang hidupnya untuk mencari tahu 'apa itu air?'. Selain itu juga ada sekumpulan masyarakat yang mengikuti saran-saran yang menyebar tentang sesuatu untuk melepas dahaga, dan selebihnya lupa, muak dan malas untuk melenyapkan haus. Tipe yang ketiga ini lebih memilih untuk membiarkan tubuhnya haus sepanjang waktu.


Pada waktu itu, ada orang bijak yang berkata pada seorang pemuda, "Engkau haus? Carilah air, karena memang itu yang bisa melepas dahagamu."

"Air? Aku sering mendengar kata itu, tapi apakah 'air' itu, pak?" kata si pemuda.

"Carilah. Lihat di sana, banyak masyarakat yang juga mengalami kehausan. Di suruh minum ini minum itu oleh tokoh dan para ahli, mereka nurut saja. Tapi apa? Tiada hasil apa-apa, dan haus tetap saja mengerontang," kata si bijak.

"Bisakah ku lepaskan dahaga ini dengan sesuatu yang bukan air? Kemana aku harus mencari, sedangkan aku tidak pernah bertemu air dan tidak mengetahui bagaimana bentuk air itu?" tanya pemuda.

"Tidak. Airlah satu-satunya. Di mana-mana ada air, dan engkau tak perlu risau, tujuanmu adalah bagaimana mengetahui tentang air. Setelah kau temukan dan ketahui bahwa itulah air, minumlah," kata si bijak.

"Lalu, kenapa masih banyak saya lihat manusia yang menderita kehausan? Apakah mereka tidak mencari air?" tanya pemuda lagi.

"Hahaha.. Bukan anak muda. Mereka itu telah salah menilai. Si A bilang daun adalah air, mereka pun meminum daun, dan begitu seterusnya. Pokoknya mereka terus berusaha dengan berbagai ritme, ritual, upacara dan segala macam untuk bisa melepaskan dahaga, tanpa mau mengenal apa yang mereka harus minum untuk melepas dahaga," jelas si bijak.
"Kata seorang guru yang telah lama ku kenal, air ada di puncak gunung itu," kata si pemuda.

"Kalau kau yakin, carilah. Jangan hanya untuk melepaskan dahaga. Carilah air dan ketahui bagaimana bentuknya, maka engkau akan tahu makna dari haus yang menyiksa tubuhmu."

Oleh : Wahyu Alhadi

Read More

Sabtu, 19 Desember 2015

Suhrawardi Dan Iluminasi, Kembali Ke Orient.


SUHRAWARDI DAN ILUMINASI
Kembali Ke Orient.
oleh Ma'ruf Nurhalis pada Tugas Filsafat Mistik 
Dosen : Prof Qasim Mathar. MA


Sebelum Iluminasi.
Berawal dari terbukanya pintu gerbang emas peradaban islam dan menyambut tamu terhormat dari luar. Kemajuan lalu menyentuh setiap nadi kegiatan intelektualitas. Al Kindi  dengan slogan kebijaksanaannya yang tidak ingin malu mengakui kebenaran dan bersumber dari mana dan siapapun sekalipun ia di bawa generasi baru dan orang asing.[1] Dari semangat itulah al- Kindi amat berjasa dalam membuka pintu gerbang emas itu dengan banyak menerjemahkan buku-buku dari luar menjadi berbahasa Arab, menjadi awal dari mega proyek filsafat yang bercorak islam dan lebih elaborate bercorak peripatetic.
Amat panjang sejarah filsafat islam yang telah di mulai dari penerjemahan bijak itu. Filsafat peripatetic sendiri akhirnya berpuncak pada diri Ibnu Sina. Lalu setelah itu Filsafat Islam seolah kehilangan hasrat dan martabat setelah serangan yang bertubi-tubi datang menerpanya. Sempat matahari kembali timbul dari diri Ibnu Rusyd. Tapi setelah kematian Ibnu Rusyd. Filsafat Islam juga ikut terancam untuk di kuburkan. Tetapi matahari yang lebih terang kembali terbit. Iluminasi atau Isyraqi dari ajaran Suhrawardi membuka kembali keagungan puncak Filsafat Islam. Maka dari itu amat perlu di ketahui seperti apakah keindahan filsafat Iluminasi Suhrawardi. Seterang apakah Israqi pada filsafat Suhrawardi.


Sekilas mengenai Suhrawardi.
Nama lengkap Suhrawardi adalah abu al futuh Yahya bin Habasy bin Amirak as Suhrawardi al-Kurdi, lahir pada tahun 549 H./1153 M. di Iran pada sebuah kampung bernama Suhraward.[2] Ia menerima pendidikan awalnya dari Majd al-Din al Jili di Maragha. Dan melanjutkannya di Isfahan. Kehidupan kesufiannya di mulai sejak ia merampungkan pendidikan formalnya dan melancong ke Persia. Di sana ia banyak menemui guru-guru Sufi, dan membuatnya tertarik. Kenyataanya sejak fase kehidupannya inilah ia memasuki jalan sufi dan menghabiskan periode lama dalam pengasingan Spritual (khalwat) dan menenggelamkan diri dalam dzikir dan meditasi.[3]
Akar pemikiran Suhrawardi sangat unik dan mendasar. Dia berusaha mencari pengetahuan hingga mencapai dasarnya. Dia adalah manusia yang berpikir secara radikal hingga melacak sumber kebenaran yang ada pada beragam kepercayaan. Menurutnya hikmah kebenaran itu satu, abadi dan tidak terbagi-bagi. Maka ia pun menyebut dirinya sebagai pengumpul kebijaksanaan, al hikmah al laduniyyah.[4]
Ada banyak sumber pemikiran Suhrawardi, diantara yang paling awal adalah Hermetisme yang mengacu pada sosok Hermes. Hermes mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap pemikiran Suhrawardi. Kekaguman Suhrawardi terhadap Hermes barangkali terkait dengan tugas yang di embannya sebagai penyampai pesan ketuhanan kepada umat manusia. Dalam menyampaikan pesan sang dewa Hermes memiliki bahasa yang mudah di terima oleh manusia sebagai pesan langit[5]. Pengaruh selanjutnya datang dari ajaran Persia kuno, dari seorang Nabi Zoroaster yang mengajarkan Zoroastereanisme dengan dua doktrin dasar. Pertama, ada hukum di dalam alam, kedua ada konflik di dalam hukum alam. Sehingga memunculkan persoalan bagaimana mempersatukan kejahatan dan kebaikan abadi Tuhan. Dalam menjelaskannya Zoroaster menyatakan bahwa hanya ada satu Tuhan sejati yakni Ahuramazda. Tuhan yang terang meski pun pula roh Ahriman tetap ada.  Hubungan Zoroater dengan suhrawardi ada pada ajaran Zoroaster untuk melawan roh Ahriman untuk menyucikan diri agar bisa merasakan Cahaya Ahuramazda.
Sedangkan pengaruh falsafah Yunani terhadap pemikiran Suhrawardi berasal dari filsafat Platon, Aristoteles, dan Plotinus yang disebutnya sebagai Filsafat peripatetic. Sedangkan dari filosof Islam , Alfarabi dan Ibnu Sina adalah dua tokoh filsuf yang ide-idenya sangat mewarnai pemikiran Suhrawardi, sekalipun nantinya, Suhrawardi mengkritik kedua filosof Islam ini.
Bagi Suhrawardi, Filsafat tidak bermula dari Plato dan Aristoteles, namun justru berakhir pada mereka, Aristotels yang meletakkan kearifan dalam baju rasionalis telah mnyempitkan cakrawala dan telah memisahkan dari kearifan tentang keperpaduan yang di miliki oleh para empu kebijakan di zaman purbakala..[6]
Isi  Iluminasi.
Iluminasi dalam bahasa Arab itu sendiri di sebut Isyraq. Isyraq berarti cahaya (Light) pertama pada saat pagi hari, seperti cahaya Matahari yang terbit dari timur (Syarq). Timur dalam pandangan Suhrawardi bukanlah Timur secara letak geografis. Tapi Timur adalah bahasa Simbol dari keter awal an cahaya. Seperti matahari yang terbit dari timur. Filsafat israqiyah berarti “ketimuran” dan “iluminatif”. Ia memancar karena ia adalah timur dan ia timur karena ia memancar ia adalah pengetahuan dengan pertolongan, yang manusia dapat menyesuaikan dirinya sendiri dalam alam semesta dan akhirnya menjangkau bahwa timur adalah tempat kediaman yang azali, sementara bayangan kegelapan diri manusia berada di bumi bagian “barat”.[7]
 Sedangkan Menurut Al Jurjani, Timur dalam bahasa isyraqiyah juga di artikan sebagai kutub bagi para Filosof di mana Plato yang menjadi rajanya. Sementara Abd Razaq al-Kasyani menyebut timur sebagai kumpulan pengikut Orang suci (Seth) yang menurut sumber-sumber muslim adalah pendiri sekelompok ahli dan dari mereka keahlian itu berasal, yang terkait erat dengan Hermetisme. Sedangkan pendapat lain yang menyebut Isyraqi seperti Ibnu Wahsyiah. Mengatakan bahwa Isyraqi adalah kelompok orang-orang suci Mesir yang merupakan anak-anak Saudarai Hermes.[8]
Iluminasi, menurut Suhrawardi merupakan suatu fase yang menentukan perkembangan pemikiran yang seolah-olah tersembunyi di lautan pemikiran Islam sebagai produk logika yang di kembangkan oleh madzhab Ibnu Sina. Filsafat iluminasi ini dapat di rasakan sebagai hasil dari perkawinan antara latihan intelektual teoritik melalui filsafat dan pemurnian hati melalui sufisme. Dari perkawinan ini pengetahuan tertinggi yang ia anggap iluminasi, sekaligus mentransformasikan keberadaan dan melimpahnya pengetahuan seseorang.[9]
Sang Guru iluminasi ini menegaskan bahwa sejak semula telah ada suatu “ Olahan Abadi” yang tidak ada sesuatu pun melainkan adalah kebijaksanaan abadi. Olahan abadi itu di samarkan dalam diri Substansial manusia yang siap “di olah” dan di aktualisasikan melalui latihan intelektual dan penyucian hati.[10] Untuk hal tersebut filsafat iluminasi tidak bisa di ajarkan oleh dan kepada setiap orang.[11]
Teori Emanasi yang di perkenalkan oleh Alfarabi dan Ibnu Sina di jadikan sebagai dasar epistimologi Suhrawardi,.[12] Namun Suhrawardi mememiliki pendapat mandiri mengenai akal actual yang menurutnya tidak terbatas pada akal Sepuluh, tetapi terus beremanasi pada akal yang lebih banyak dan tidak bisa terhitung, selama Cahaya dari cahaya-cahaya terus menerus memancarkan cahaya murni kepada segala sesuatu yang ada di bawahnya.[13]
Cahaya di atas cahaya yang merupakan cahaya Absolut dan tidak terbatas diatas dan di belakang semua sianar yang memancar. Semua tingkat realitas, bagaimana pun, juga adalah derajat dan tingkat intensitas dan kelemahannya dengan tak sesuatupun melainkan cahaya. Karena, kenyataannya, tak ada sesuatupun dalam alam semesta yang luas ini melainkan cahaya. Dari Cahaya di atas segala cahaya ada suatu hierarki cahaya, vertical maupun longitudinal, cahaya-cahaya yang terdiri dari tingkat-tingkat eksistensi universal dan suatu tatanan horizontal atau latitudinal yang berisi pola dasar atau idea-idea platonic tentang segala sesuatu yang kelihatan di bawah sebagai objek atau barang, cahaya-cahaya ini tidak lain dari pada apa yang dalam bahasa agama sebagai malaikat-malaikat.[14]
Dengan teori Iluminasi Suhrawardi yakin bahwa tidak tepat baginya mengarungi dunia indrawi dan materi bersama orang-orang yang terjebak di dunia materi. Yang lebih tepat baginya adalah meninggalkan dunia materi menuju dunia penanggalan keinginan duniawi dan penyaksian langsung, kemudian naik ke maqam orang-orang yang bercahaya, bergaul bersama mereka, dan menyaksikan mereka dari dekat. Ia berkata, “ Bicaralah kepada dirimu sendiri bila engkau orang yang punya harkat. Sandarkan dirimu pada rahasia batinmu. Terimalah kenikmatan hidup dalam ketiadaan. Langkahkan kedua kakimu seraya berkata, ‘Sudahkah aku mengarungi ilmu-ilmu yang di serukan oleh penyeru dari keterlenaan orang-orang yang lalai.
Secara lebih sederhana, konsep Istisyraq di jelaskan Suhrawardi kepada kita bahwa jiwa berasal dari yang maha Pencipta dan dari berbagai Substansi yang terpisah-pisah. Maka  sampai kepadaNya atau sampai pada diri Substansi amatlah sulit jika manusia tidak mampu melepasakan diri ragawi menundukkan ular naga bathin yang berupa nafsu nurani. Dan tidak melakukan latihan Spritual yang tepat.
Kemudian Suhrawardi menjadikan ungkapan Plato yang sangat indah untuk menjadi argumentasinya. Ia mengatakan “ Seorang Teolog ulung, Plato, mengisahkan pengalaman dirinya. Ia menyatakan sebuah ungkapan yang artinya : Aku seringkali melakukan khalwat dan kontemplasi diri. Kutanggalkan tubuh jasmaniku di sampingku. Aku menjadi seolah-olah tanpa badan dan telanjang dari baju tabiat kemanusiaan dan lepas dari badan ragawi. Aku masuk kedalam jiwaku dan kutinggalkan segala sesuatu. Kulihat kedalam diriku suatu yang sangat indah, berkilau, bersinar, bercahaya terang benderang, dan mengagetkan, sampai aku terkagum-kagum. Aku pun mengetahui bahwa diriku adalah bagian dari alam yang luhur dan mulia.
Filsafat Isyraqiyah melukiskan, dalam sebuah bahasa simbolik secara imanen, suatu dunia yang sangat luas berdasarkan pada simbolisme cahaya dan “ Timur”, yang memutuskan batas-batas kosmologi Aristotelian dan juga batas-batas rasio yang di definisikan oleh Aristotelian. Suhrawardi mampu menciptakan suatu metafisika Cahaya secara esensialistik dengan kosmologi, yang jarang tertandingi kemuliaan dan keindahannya, yang menghadapkan pencari yang benar melalui ruangan kosmik dan membimbingnya kepada kenyataan cahaya sejati, yang tidak lain adalah kebenaran Timur. Dalam perjalanan ini, sekaligus bersifat filsafat dan spiritual, manusia di pimpin oleh suatu pengetahuan yang merupakan cahayanya sendiri, menurut sabda Nabi saw., yang menyatakan; al-ilm nur ( Knowledge is light ). Itulah mengapa filsafat ini, menurut wasiat dan keinginan Suhrawardi yang terakhir pada karyanya, Hikmat al-Isyraq, tidak bisa diajarkan kepada setiap orang, untuk hal tersebut jiwa manusia harus di latih dengan latihan-latihan yang bersifat filosofis secara tepat dan jiwanya harus di sucikan melalui usaha batin, untuk menundukkan ular naga batin yang berupa nafsu ruhani. Bagi orang-orang tertentu.
Ajaran Isyraqiyah adalah ajaran bathin yang mengantarkan manusia untuk kembali kepada kediaman cahayanya, kediamana azalinya. Dimana di sanalah ia memulai kemusafiran kosmiknya. Atau dalam bahasa Plato kembali kedunia Idea.
Sebuah puisi dari pribadi untuk gambaran Filsafat Isyraqiyah kiranya dapat memperindah cahaya ketimuran Suhrawardi.
Puisi : Kembali ke Orient
Aku terhempas secara Vertikal
dan aku terasing pada kosmik Horisontal.
Terperangkap pada kegelapan gua barat.
Membelakangi matahari di Orient.
Aku Musafir yang melupakan kediaman azali.
Yang di hancurkan ular naga dalam diri.
Dan olahan Absolut membeku pada titik diri Substansial.
Puzzle-puzle platonic menjadi enigma kosmik mirokosmos.
Agaknya aku butuh ekstase, maqam yang menuju teosofi Timur.
Mengawinkan intelektual dan bathin.
Bermandikan pancaran cahaya, cahaya di atas cahaya.
Berhubungan di taman-taman malaikat. Bernostalia pada rumah Cahaya.
Tapi siapkah aku terasing?
Siapkah aku menjadi manusia teka teki?
Lalu di kejami dan di hancurkan?
Tapi semakin terasing, semakin sulit, di kejami dan di hancurkan.
Di sanalah aku dapat kembali ke Orient.

Daftar pustaka

Drajat ,Amroeni, Suhrawardi kritik Falsafah Peripatetik. I, Yogyakarta: Lkis, 2005.
Hilal , Ibrahim, At-Tashawwuf al-Islami bain ad-Din wa al-Falsafah, terjemahan oleh Ija Suntana dan E Kusdian, Tasawuf antara Agama dan FIlsafat sebuah kritik metodologis.  I, Bandung:  Pustaka Hidayah, 2002.
Hossein Nasr , Seyyed, Three Muslim Sages, Terjemahan oleh Ach.Maimun Syamsuddin, Tiga Madzhab Utama Filsafat Islam. Jogjakarta, Ircisod, 2006.
Hossein Nasr,  Seyyed, Theologi, Philospohy and Sprituality, terjemahan oleh Suharsono dan Djamaluddin MZ, Intelektual Islam Teologi, Filsafat dan Gnosis. III, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009.
Masataka Tekeshita, Ibn Araby’s Theory of Perfect Man and Its Place in Islamic History, terejemahan oleh Moh. Hefni Mr, Manusia Sempurna menurut konsepsi Ibnu Arabi . Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005.
Sabri, Muhammad Mistisisme dan Hal-Hal Tak Tercakapkan Perspekstif Filsafat Analitik . I, Makassar: Alauddin Universty Press, 2011.
Suseno, Frans Magnis Menalar Tuhan . Yogyakarta: Kanisius, 2006.





[1] Seyyed Hossein Nasr, Theologi, Philospohy and Sprituality, terjemahan oleh Suharsono dan Djamaluddin MZ, Intelektual Islam Teologi, Filsafat dan Gnosis, (III, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), h. 33.
[2] Amroeni Drajat, Suhrawardi kritik Falsafah Peripatetik, (I, Yogyakarta: Lkis, 2005), h. 29
[3] Seyyed Hossein Nasr, Three Muslim Sages, Terjemahan oleh Ach.Maimun Syamsuddin, Tiga Madzhab Utama Filsafat Islam, ( Jogjakarta, Ircisod, 2006), h. 104.
[4] Amroeni Drajat, Suhrawardi kritik Falsafah Peripatetik, (I, Yogyakarta: Lkis, 2005), h. 40.
[5] Amroeni Drajat, Suhrawardi kritik Falsafah Peripatetik, (I, Yogyakarta: Lkis, 2005), h. 42.
[6] Muhammad Sabri, Mistisisme dan Hal-Hal Tak Tercakapkan Perspekstif Filsafat Analitik ( I, Makassar: Alauddin Universty Press, 2011), h. 72.
[7] Seyyed Hossein Nasr, Theologi, Philospohy and Sprituality, terjemahan oleh Suharsono dan Djamaluddin MZ, Intelektual Islam Teologi, Filsafat dan Gnosis, (III, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), h. 73.
[8] Seyyed Hossein Nasr, Three Muslim Sages, Terjemahan oleh Ach.Maimun Syamsuddin, Tiga Madzhab Utama Filsafat Islam, ( Jogjakarta, Ircisod, 2006), h.114.  sedangkan Dalam pandangan Suhrawardi, Hermes tak lain adalah Nabi Idris yang menjai cikal bakal filsafat setelah menerima wahyu dari Allah swt. Menurutnya, ia di ilhami dari serangkaian ahli bijak dari Yunani, persia kuno, dan akhirnya pada Islam yang menyatukan kearifan peradaban sebelumnya kedalam rahim peradabannya. Lihat Muhammad Sabri, Mistisisme dan Hal-Hal Tak Tercakapkan Perspekstif Filsafat Analitik ( I, Makassar: Alauddin Universty Press, 2011), h. 72
[9] Ajaran ini juga di sebut sebagai Teosofi dalam bahasa Jakob Boehme. Lihat Seyyed Hossein Nasr, Theologi, Philospohy and Sprituality, terjemahan oleh Suharsono dan Djamaluddin MZ, Intelektual Islam Teologi, Filsafat dan Gnosis, (III, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), h. 69.
[10] Seyyed Hossein Nasr, Theologi, Philospohy and Sprituality, terjemahan oleh Suharsono dan Djamaluddin MZ, Intelektual Islam Teologi, Filsafat dan Gnosis, (III, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), h.71.
[11] Agaknya yang di maksud” Olahan Abadi” adalah bahwa dalam diri subtansial manusia ada imanensi yang meresapkan Tuhan, dan lewat “Olahan Abadi” itu. Tuhan yang Transendensi dapat terasakan cahayanya. Yang sangat dekat dengan diri. sebagaimana Agustinus pernah merumuskan ini juga dengan sangat indah, Allah adalah “intimior intimo meo, superior summo meo” (Allah lebih dekat dengan diriku dari pada aku sendiri, Allah lebih agung dari pada segala keagunganku. Makin besar persatuan, maki besar perbedaan, maka makin imanen yang Ilahi dalam dunia, makin Transenden juga yang Ilahi terhadap Dunia. Lihat Frans Magnis Suseno, Menalar Tuhan ( Yogyakarta: Kanisius, 2006), h. 201 dan 202. Atau dalam bahasa Plato” Olahan Abadi itu adalah suatu Materi pertama tak berbentuk yang sudah di beri bentuk oleh idea-idea, menjadi realitas yang kita kenal. Lihat Frans Magnis Suseno, Menalar Tuhan ( Yogyakarta: Kanisius, 2006), h. 204.
[12] Ibnu Arabi Sendiri mendefenisikan Epistimologinya sebagai berikut: Sekarang kami terlebih dahulu mengatakan bahwa ilmu pengetahuan berarti sebuah relaitas dalam jiwa ( nafs), yaitu sebuah realitas yang menghubungkan dirnya, baik pada sebuah non eksisten mapun pada sebuah eksisten. Berkenaan dengan realitasnya di atas, di mana ia ada( dalam hal sebuah non eksisten), ia masuk kedalam eksisten. Maka realitas ini adalah ilmu pengetahuan. Lihat Masataka Tekeshita, Ibn Araby’s Theory of Perfect Man and Its Place in Islamic History, terejemahan oleh Moh. Hefni Mr, Manusia Sempurna menurut konsepsi Ibnu Arabi ( Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), h. 76.
[13] Ibrahim Hilal, At-Tashawwuf al-Islami bain ad-Din wa al-Falsafah, terjemahan oleh Ija Suntana dan E Kusdian, Tasawuf antara Agama dan FIlsafat sebuah kritik metodologis, ( I, Bandung: Pustaka Hidayah, 2002), h. 115.
[14] Seyyed Hossein Nasr, Theologi, Philospohy and Sprituality, terjemahan oleh Suharsono dan Djamaluddin MZ, Intelektual Islam Teologi, Filsafat dan Gnosis, (III, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), h.73.
Read More

Al Hikmat Al Masyrikiyyah ( Filsafat Ketimuran ) Ibnu Sina

Tentang Al hikmat al Masrikiyyah Ibnu Sina.
Oleh Ma’ruf Nurhalis.


Buku yang berjudul al hikmat al masrikiyyah adalah salah satu buku terbaik yang pernah di buat oleh Ibnu Sina. Buku ini banyak di bicarakan karena ketidak jelasan judul dan tema di dalamnya, apalagi masih ada naskah tambahan berisi pelajaran logika yang di hubungkan dengan naskah sebelumnya . Ada pendapat yang mengatakan jika buku ibnu sina ini berjudul al hikmah al masyrikiyyah, yakni berisi filsafat ketimuran, pendapat ini di dukung oleh carlos Nillino. Ada juga yang mengatakan buku ini berisi uraian tentang pemikiran mistik Ibnu sina.
Ibnu Sina merupakan filosof yang beraliran peripatetik. Di dalam buku yang berjudul Suhrawardi kritik falsafah peripatetik. Di dalam akhir hayatnya , Ibnu Sina melawan dirinya sendiri, yakni filsafat peripatetiknya sendiri, ia beranggapan bahwa pemikirannya dahulu hanyalah di tujukan bagi orang awwam. Lantas Ibnu Sina lalu merumuskan pemikiran mistisnya yang di tujukan kepada golongan Khawwash. Pemikiran mistisnya ini tertulis dalam buku The “logic of the orientals, atau al mantiq al Masyriqiyyin atau logika orang-orang Timur. Sebuah buku yang berisi kajian mistis pada akhir dari aktivitas penalaran Ibnu Sina. Teori Tasawuf-mistis Ibnu sina pada buku al Mantiq al Masriqiyyin ini lalu terangkum pada Trilogi karya mistisnya: Hayy bn Yaqsan, Risalah fi at Thair dan Salaman wa Absal.
Pada umumnya para peneliti, menganggap bahwa Trilogi ini merupakan pintu gerbang yang luas bagi kemunculan filsafat Illluminasi Suhrawardi, meski ada pula yang beranggapan bahwa buku al hikmah al Masyriqiyyah bukan sebagai buku mistis dan tasawuf. Misalnya Carlos Nillino lebih melabeli karya ibnu Sina sebagai hasil karya seorang filosof yang berfilsafat atau lebih lanjut ia mengatakan . al hikmah al masriqiyyah adalah filsafat ketimuran.
Abed al Jabiri pada buku berjudul Ibnu Tufail, Penamaan filsafat ketimuran pada al hikmah al masriqiyyah di latar belakangi dari pembacaan Ibnu Sina atas filsafat filosof-filosof dahulu dari guru kedua yakni Al Farabi. Dari pembacaan itu kemudian lahir sebuah kekhasan pemikiran yang berbau ketimuran sehingga di sebutlah hasil pembacaan Ibnu Sina sebagai filsafat ketimuran, ( al Hikmah al Masyriqiyyah).
Isi dari filsafat ketimuran itu sendiri adalah trilogy cerita filsosofi. Pada cerita Hayy bin Yaqzan ibnu sina memposisikan diri sebagai jiwa rasional. Sedangkan teman-temannya di posisikan sebagai gambaran indra-indra manusia. Sedangkan “Akal Aktif” di wakili oleh tokoh tua bernama hay bin Yaqzan. Yang juga di gambarkan sebagai manusia yang memiliki sprit manusia super. Dalam buku ini Ibnu Sina mengisahkan dirinya melakukan sebuah perjalanan bersama teman-temannya. Untuk berjalan kesebuah kota. Dalam perjalanan itu Ia berjumpa dengan hay bin Yaqzan. Lalu Ibnu Sina berkata padanya. Bahwa ia meminta hay bin Yaqzan untuk menemani dirinya melakukan perjalanan panjang. Tetapi Hay bin Yaqzan mengatakan. “ Selama Anda tidak mampu meninggalkan teman-teman Anda. Maka Anda akan mustahil untuk melakukan perjalanan panjang”.
Sementar dalam kisah yang lain yakni dalam cerita Salaman wa Absal. Ibnu Sina memposisikan Salaman sbagai ruh Rasional, Absal sebagai nalar teoritis sedangkan istri alam sebagai bentuk jasad, sebagai bentuk keduniawian, dan pemuja nafsu. Di kisahkan pada saat Absal ingin maju ke medan perang untuk melawan hasrat jahat yang di sebabkan oleh istri kakaknya. Absal mengumpulkan pasukan namun di tengah peperangan itu. Absal kehilangan pasukan akibat dari politik istri Salaman. Hingga Absal kalah tapi ia di selamatkan oleh seekor Rusa menuju pedalaman hutan. Di sanalah Absal memulihkan diri. Hingga ia lalu datang kembali menantang istri Salaman. Namun istri Salaman yang tahu akan rencana Absal. Lalu memilih untuk meracuni Absal dan cara itu berhasil. Absal mati dan hancur.
Kematian Absal ini lalu tercium oleh Salaman. Dia amat sedih atas meninggalnya Absal. Ia lalau memilih jalan pertapa untuk menghibur hatinya. Dalam pertapaan itu Salaman bertemu dengan seorang mistikus. Yang memberi tahukan dirinya bahwa istri salamanlah yang telah membunuh Absal. Lewat penjelasan mistikus itu. Salaman lalu membunuh istrinya dan semua kaki tangannya.
Dalam kisah yang lain yakni kisah Risalah at Thair. Di kisahkan bawa jiwa manusia itu ibarat burung yang tertangkap oleh pemburu, yang di mana pemburu itu lalu membawa hasil tangkapannya kedalam sangkar. Burung itu lalu terperangkap di dalam sangkar itu. Karena lama di dalam sangkar, burung itu lalu lupa dengan asalnya. Baru kesadarannya muncul kembali saat ia di datangi oleh teman-temannya. Dia pun meminta teman-temannya untuk melepaskan dirinya dari sangkar ini. Teman-temannya lalu memberi tahukan dirinya. Bahwa untuk melepaskan diri dari sangkar adalah hal yang sangat sulit, di butuhkan niat yang sangat kuat untuk melepasakan diri dari sangkar itu. Karena dalam upaya untuk melepaskan diri dari sangkar itu ia akan menemui banyak cobaan dan ujian.
Dari trilogy kisah inilah filsafat ketimuran Ibnu sina terbentuk dengan menghadirkan kisah dalam bentuk metafora yang menerangkan perjalanan manusia dari menuju dunia bayangan menuju dunia hakekat.

Bentuk lanjut filsafat ketimuran Ibnu Sina sendiri di lanjutkan oleh Suhrawardi dalam bentuk al hikmah al isyraqiyyah dan Suhrawardi sendiri lah yang mengakuinya.
Read More

Senin, 07 Desember 2015

Manusia adalah Pecandu

Aku duduk diam dalam renungan. Hari telah banyak berganti, tetapi aku belum juga berarti. Siang ini, aku menemukan sebuah surat. Entah dari mana datangnya. Akupun mulai membaca.

"Dalam dan semakin dalam aku memuja-Mu. Hingga begitu kecil Bumi yang kudiami ini. Sangat kecil. Aku pun tahu, Badai-Mu laksana belaian lembut yang menyentuh jiwaku. Sudah bolehkah aku berada di sisi-Mu?
Aku merasakan terasing sekarang. Bagai serpih-serpihan dedaunan di tengah lautan. Asing yang teramat damai. Apakah Engkau melihatku sekarang, Tuhan? Apakah Engkau ikut membaca apa yang aku tuliskan ini?
Damai-Mu begitu Maha Akbar dibandingkan dengan euforia Bumi ini, Tuhan. Tak dipungkiri lagi, Engkau adalah Maha Esa. Aku merasakannya. Jelas terasa, satu persatu langkah menuju kerajaan-Mu. Tuhan, aku tiada malu untuk kembali datang pada-Mu. Aku telah belajar untuk mengingat. Aku telah belajar untuk mencari. Aku telah belajar untuk menggali. Aku telah belajar untuk tahu lebih banyak tentang-Mu."

"Tuhan, sore ini tiada apa-apa. Hanya ada nafas yang masih setia menghembuskan nama-Mu. Badai-Mu masih terasa menghempaskan tubuh ini, namun janganlah menjadikan aku lupa, Tuhan.
Pertama kali aku datang, tangis pecah membahana menghantam dinding-dinding Bumi. Aku menangis karena aku lupa tentang hakikat kehidupan. Di sebagian makhluk-Mu, langkah-langkah mereka terus tersusun menuju rumah abadi, sebagian lagi hengkang dan berupaya menjadi penghuni abadi Bumi. Mereka terjebak. Tipuan dan rayuan Bumi sebenarnya tidaklah hebat, cuma dada saja yang belum beriman. Sujud, rukuk, sembah, ritual dan ibadah telah menjadi sebuah cara untuk menghindari azab saja, bukan lagi untuk takjub pada-Mu."

"Damai dan bebas. Sebuah kebahagiaan yang sebenar dan seutuhnya di rumah abadi nantinya. Perang di Bumi pun mengajarkan kita untuk mendambakan damai lebih dari segalanya. Damai adalah kebahagiaan yang tidak terkira. Sebagian kecil dari kita telah bersuara untuk kedamaian karena kita tahu itu adalah media mencicipi aura surga. Sebagian besar terus beringas membunuh jiwa dengan perang yang disulut oleh gila kuasa dan harta."

"Tuhan, doktrin iblis telah menyebar ke dalam alur-alur sel otak manusia. Mereka menawarkan damai dan bebas buatan yang dipasang harga beberapa lembaran uang. Mereka yang terjebak, terus memburu lembaran ilusi itu untuk mendapatkan kebahagiaan buatan. Lalu, apakah bedanya manusia yang gila uang, harta dan jabatan dengan manusia pecandu narkoba? Hampir dari kita semua adalah pecandu. Benar bukan?
Hampir semua dari kita saat ini adalah pecandu. Kita memburu lembaran uang, harta dan jabatan untuk sebuah ilusi. Kesederhanaan kenyataan tidak tampak lagi. Padahal itu adalah kesederhanaan tentang kehidupan yang sebenarnya. Hidup di Bumi adalah sebuah kesederhaan. Simpel, namun candu telah membutakan. Hampir dari kita di Bumi ini telah menjadi pecandu!"

"Berapa hebatnya sebuah kelezatan makanan yang dikejar teramat bernafsu oleh kaum-kaum materialistis? Lidah mereka telah diracuni. Padahal hanya sampai tenggorokan saja, namun kita rela untuk menghalalkan segala cara. Memburu lembaran di setiap detik yang bergulir statis. Lidah yang teracuni telah menjadi lupa. Kita terjebak."

Aku membaca tulisan itu dengan sangat syahdu merasuk ke dalam sanubari. Aku menemukannya di sore yang tenang ini. Tak sengaja tulisan dalam secarik kertas itu kutemukan saat aku benar-benar telah merasa asing dan mengasingkan diri dari kehidupan khalayak.

Aku bukanlah siapa-siapa. Bukan tokoh terkenal atau musisi rock yang diburu oleh para fansnya. Beberapa tahun lalu memang ada keinginan untuk menjadi itu, tapi saat ini sudah memudar. Entah, mungkin karena ketertarikanku untuk menempuh perjalanan spiritual.

Aku seniman dan aku tetap berkarya. Menciptakan musik, lukisan, tulisan hingga apapun yang menurutku adalah berkarya, terus aku gerakkan setiap harinya. Di sudut kota ini aku memutar segenap pikiran dan jiwa untuk terus berkarya dan khusyuk menyembah-Mu.

Aku mulai bertanya, tulisan siapa yang baru saja aku baca? Di sini aku sendiri, tanpa ada siapa-siapa. Tulisan siapa ini? Apakah ada yang mengirimkannya ke rumah ini? Atau ini adalah sebuah tulisan yang telah ada sejak berpuluh-puluh tahun lalu dan baru saja aku temukan?
6 Mei 2015. Hah?! Tulisan itu baru saja lahir. Siapa yang telah menuliskannya? Apakah ada seseorang selain aku di rumah ini? Tidak mungkin! Aku terasing di sini. Tak ada satupun orang di rumah ini.
Aku mencoba menyusuri setiap ruang di rumah ini. Siapa tahu orang yang menulis surat itu masih berada di sini. Atau mungkin saja dia adalah penghuni gaib rumah ini. Satu persatu ruang aku susuri. Nihil.
Surat kedua kutemukan. Masih dalam tanggal yang sama. Aku segera membacanya.

"Begitu hebat sang iblis. Kaum mereka memasang perangkap untuk menjebak lima indera manusia. Mata, lidah, telinga, kulit dan hidung. Dengan hebatnya, mereka menciptakan candu untuk lima indera tersebut. Saat candu sudah memenjarakan fungsi indera, seketika bermacam rayuan dan surga-surga buatan pun disebar ke setiap penjuru Bumi. Manusia yang telah berubah menjadi pecandu pun tak lagi pikir panjang. Candu adalah surga. Satu persatu manusia masuk jebakan. Mereka menjadi terlupa.
Peradaban semakin maju. Bumi tergolek dalam kekakuan. Apakah Tuhan saat ini menyaksikan? Apakah yang dirasakan Tuhan saat makhluk Bumi ciptaanNya bersatu padu menciptakan Tuhan-Tuhan lainnya? Agama dipecah menjadi beratus-ratus ritual dan ketetapan. Apakah Sang Pencipta melihat di Bumi ini telah diciptakan sejumlah Tuhan baru? Indera kita telah ditutup rapat oleh peradaban. Kita yang saat ini merasa telah benar-benar beragama apakah telah benar-benar beriman? Apakah saat ini kita benar-benar telah benar? Atau, saat ini lima indera kita sedang ditutup rapat oleh para iblis? Kita beribadah tapi buta, tuli, mati rasa dan terlena dengan Bumi."

"Dengan keadaan yang telah jauh dari ketetapan ini, ada satu rahasia yang ingin aku ungkapkan. Ada satu indera yang menjadi tameng kuat untuk kembali menawarkan segala candu yang meracuni lima indera manusia. Dia ada di jiwa. Saat ini para iblis terus mencari cara untuk membunuh jiwa. Berbagai cara digerakkan dan dilancarkan untuk menjadikan manusia tanpa jiwa. Jika ruang di jiwa telah kosong, lima indera akan benar-benar mati. Overdosis!"

"Seni dan kecerdasan spiritual adalah obat untuk menguatkan kembali bunga-bunga jiwa manusia. Dua hal ini telah mulai dilumpuhkan oleh iblis. Seni? lihat saja saat ini, seni berada di puncak sekarat. Para bedebah yang merupakan pengikut iblis meramu seni berbalut kebodohan, lalu mereka menjualnya dengan suntik-suntikan candu. Semakin lama, tidak lagi ada seni. Seni diubah menjadi bentuk hiburan belaka tanpa ada ramuan untuk jiwa. Semakin lama, seni semakin terkikis sangat dalam. Sebagian dari kita pun hanya menjadi jiwa-jiwa kosong. Kita telah dituntun untuk menjadi robot seutuhnya."

"Tak jauh beda dengan seni, spiritual dibuat melenceng sesuai dengan ketetapan terdahulu. Hanya sedikit yang coba mencari tahu, dan selebihnya hanya menonton sambil mencibir ke arah kaum minoritas yang khusyuk menggali tentang Ketuhanan, alam semesta dan jiwa. Lalu, apakah arti Bumi ini jika manusia di beberapa tahun kedepan hanyalah sebuah rombongan robot-robot dan manusia-manusia pecandu? Aku ingat Al-Ghuraba'. Ya, ajaran tuhan pada awalnya adalah suatu hal yang asing, dan pada akhirnya itu akan kembali pada keterasingan di tengah peradaban yang semakin menjulang tinggi dan bergerak maju dalam hal penciptaan Tuhan Dunia dan candu. Sebaliknya, hal yang sejogjanya dikejar dalam mencari jalan pulang menuju rumah abadi , tidak diperdulikan. Kita benar-benar dalam kemunduran dan teramat jahiliyah."

Ah! Aku masih terus bertanya. Siapa yang masuk ke rumah ini dan menuliskan tulisan-tulisan ini? "Heyy!! Tampakkan wujudmu!! Apa maksud semua ini?! Jangan permainkan aku, tunjukkan wujudmu!" aku berteriak geram.

Setiap sudut kamar kususuri. Dari ujung ke ujung aku perhatikan, dan tak ada siapa-siapa. Hey, siapa yang membuat tulisan ini? Aku mulai kesal. Dua lembaran kertas itu aku bawa ke teras. Emosiku tersulut. Sejenak kemudian surat itu kubakar.

Bogor, 6 Mei 2015 



Oleh : Wahyu Alhadi

Read More

Jumat, 04 Desember 2015

Tasawwuf - Musik dalam Perspektif Ikhwan as Ashafah

Ada beberapa persoalan yang diperdebatkan atau memunculkan banyak pandangan  yang kontradiktif tentang status musik menurut hukum agama di kalangan masyarakat Islam. Musik menjadi sebuah hal yang kontroversial dalam Islam dan menjadi persoalan yang telah muncul sejak dulu dan tetap menjadi perdebatan dewasa ini. Tidak ada Isyarat al-Qur’ān yang secara eksplisit dimaksudkan untuk menjelaskan musik. Sunnah Nabi hanya menyebut hal-hal yang anekdotal, tidak ada satu pun yang memberikan argumen pasti dan tegas baik mendukung atau menentang praktik musik. Begitupun dengan sumber ketiga dari hukum Islam, yakni pandangan dari para ahli hukum, para juru bicara yang diakui berdasarkan satu konsensus sosial, ternyata hasil dari itu semua beragam, mulai dari kategori pandangan yang mencela musik sampai memujinya, dengan berbagai argumen yang mengiringinya.
Musik dalam sejarah dan perdaban Islam sering disalahpahami sebagai hal yang negatif dan merusak. Argumen ini terbangun dari catatan sejarah yang mengungkap bahwa musik sebelum kedatangan Islam dan juga penyebarannya di jazirah Arab digunakan sebagai ekspresi hura-hura, pesta pora dengan diiringi pemain musik, penyanyi dan penari yang selalu budak wanita.[1]Sehingga terkesan negatif dan berdampak buruk bagi pemain musik dan juga penikmat musik. Argumen dari dampak buruknya  musik adalah bahwa musik sebagai ekspresi seni yang membuat mabuk, lupa diri sehingga menjauhkan diri dari Tuhan.     
Musik dalam kontroversinya di wilayah estetika juga sering diiringi dengan argumen yang menyatakan bahwa musik merupakan ekspresi seni dalam kategori kegiatan kreatif yang tidak mengejar tujuan tertentu kecuali keindahan itu sendiri, sehingga tidak berlaku kriteria kegunaan, etika, dan logika. Musik sebagai ekspresi seni hanya merupakan penumpahan perasaan-persaan seniman, visi atau intuisinya dalam bentuk citra tertentu, baik dalam irama maupun kandungan isinya. Argumen lainnya juga mengatakan bahwa musik tidak memiliki nilai estetik, tetapi hanya sekedar untuk menimbulkan efek artistik. Apa yang disampaikan lewat musik, baik atau buruk, benar atau salah, sesuai hukum atau tidak, tidak menjadi masalah dan tidak berpengaruh pada nilai seni.[2]
Argumen-argumen yang tersebut di atas nampaknya hanya melihat musik sebagai ekspresi seni teoritis yang tidak memiliki fungsi kecuali ekspresi keindahan materil itu sendiri, dan jika pun musik ini berefek pada seniman dan penikmat seni musik, hanya berdampak negatif yang membuat pendengarnya lupa akan sikap wajar dan menganggu pikiran bahkan menjauhkan diri dari Tuhan.
Berbeda dari argumen di atas, kelompok yang menamakan diri mereka sebagai ‘Persaudaraan Kesuciaan’ yakni Ikhwān al-Ṣafā’ menyatakan dalam risalah tentang musik, dalam muqaddimah, “Setelah menyelesaikan kajian tentang teori seni spiritual yang berada dalam jalur pengetahuan, dan kajian tentang praktik musik yang sifatnya material dan berada dalam jalur seni, kami mengajukan dalam risalah yang berjudul ‘Musik’ ini untuk mengaji seni yang terdiri dari aspek material dan spiritual. Ini adalah seni tentang harmoni yang bisa didefinisikan melalui fungsi proporsi”.[3]
Dari kutipan di atas memunculkan dua ide, yang  pertama adalah bahwa musik itu terdiri atas dua unsur yakni material dan spiritual, Kedua adalah bahwa musik itu didasarkan pada proporsi. Karena dua komposisi ini, maka musik memiliki kekuatan khusus untuk membebaskan materi dengan tujuan menspiritualkannya dan mematerikan yang spiritual agar bisa dipahami. Kekuatan ini juga berasal dari fakta bahwa musik adalah ilmu tentang proporsi, sebagaimana dijelaskan oleh Ikhwān al-Ṣafā’ di bagian lain (bagain enam) dari risalah mereka, setelah menunjukkan contoh-contoh bagaimana angka, proporsi, dan hubungan numerik diaplikasikan kepada semua fenomena.
Nilai dimensi spiritual yang dimiliki musik dari kutipan muqaddimah di atas,  Ikhwān al-Ṣafā’ yang dikategorikan kelompok sufi dan orang-orang suci ingin mengungkapkan  bahwa musik juga bisa menjadi media untuk merefleksi jiwa untuk mendekati Tuhan atau sebagai media untuk menyatu dalam keharmonian keindahan Tuhan. Argumentasi tersebut sekaligus menjawab bahwa dimensi musik dalam Islam khususnya di dunia tasauf sangat berperan penting sebagai media untuk mendekatkan diri pada nilai-nilai ketuhanan dan terhanyut dalam keharmoniannya, bukan malah membuat diri menjauh dari nilai-nilai ketuhanan.   
Hal tersebut diperkuat oleh pendapat Moh. Iqbal dalam falsafah seninya yang berpendapat bahwa seni musik tidak sekedar ekspresi keindahan dalam sebuah bentuk-bentuk estetik, tapi merupakan sebuah karya kreatif seniman dalam citra ciptaan Tuhan. Sehingga musik harus menciptakan kerinduan kepada hidup abadi dan kerinduan kepada Tuhan.[4]
Musik sebagai ekspresi seni estetik dalam Islam dinyatakan sebagai jalan kerohanian.[5]Artinya dimensi musik dalam tradisi Islam memilki nilai spiritual yang dapat diekspresikan seorang seniman atas penghayatan citra ciptaan Tuhan sehingga menghasilkan irama musik yang memiliki nilai keindahan tertinggi yang dapat mengantarkan para penikmatnya pada nilai keindahan tertinggi yakni Tuhan.
Sebagaimana para failasuf Yunani, Ikhwān al-Ṣafā’ mengakui bahwa dalam suara musik duniawi yang material yakni sebuah porporsi not-not irama suara, terdapat gema suara musik spiritual, sehingga irama yang dihasilkan merefleksi jiwa-jiwa yang tinggal di alam dunia yang fana dan rusak pada kebahagiaan spiritual yang menyatu dalam harmoni keindahan ruhaniah. Dengan dasar hukum harmoni, yang terdapat dalam semua tingkatan eksistensi, yang saling berhubungan berdasarkan satu tertib yang hirarkis dan analogis, wujud-wujud yang dihasilkan oleh reaksi sekunder merupakan imitasi dari sifat-sifat wujud pertama. Maka disimpulkan bahwa not-not musik duniawi itu merupakan imitasi dari musik surgawi.        
Seirama dengan pandangan tersebut, Ikhwān al-Ṣafā’ menambahkan bahwa musik merupakan ekpresi seni yang khas dan berbeda dari seni-seni lainya. Dalam pandangan ini mereka menyatakan bahwa yang membedakan musik dari seni-seni yang lain adalah substansi yang kepadanya musik bekerja, yaitu jiwa-jiwa para pendengarnya, sebagaimana unsur-unsur yang dipakainya yaitu not-not dan irama itu berhubungan dengan sesuatu yang sangat halus dan tidak material. Musik meninggalkan kesan yang berbeda dalam jiwa-jiwa mereka yang mendengarkannya.[6]
Maka menarik untuk dikaji lebih dalam tentang dimensi musik dalam Islam yang  masih sering disalahpahami sebagian umat Islam, bahkan oleh beberapa ulama  ekstrim diharamkan, karena musik dinilai sebagai hal yang tidak bermanfaat dan dapat merusak jiwa, menganggu pikiran bahkan menjauhkan diri dari nilai-nilai ketuhanan. Dan ini juga menjawab perdebatan estetika yang menilai musik tidak lebih dari sebuah ekspresi keindahan material dari sang seniman atas perasaan-perasaannya, sehingga tidak memiliki nilai estetik dan tidak berfungsi apa-apa kecuali efek artistik itu sendiri.
Dari itu penulis tertarik untuk mengaji persoalan musik dalam pemikiran falsafi yang sangat membantu dalam menguraikan persoalan musik dari perspektif yang berbeda, karena musik tidak hanya berkutat dalam dimensi material tapi juga spiritual. Dari itu perlu untuk merujuk pada pemikir yang tahu bagaimana mengaji ide-ide yang bersifat falsafi atau teosofis. Para pemikir yang masuk dalam kategori tersebut ini adalah Ikhwān al-Ṣafā’  (Persaudaraan Kesuciaan).



[1] Muhammad Nashiruddin al-Albani, Siapa Bilang Musik Haram., terj. Abu Umar Basyir dari buku Taḥrīm ālāt al-Ṭarb(Jakarta: Darul Haq, 2008), h. 119.
[2] Marcia Muelder Eaton,  Persoalan-Persoalan Dasar dalam Estetika, terj. Embun Kenyowati dari buku Basic Issues in Aesthetics (Jakarta: Salemba Humanika, 2010), h.90.
[3] Ikhwān al-Ṣafā’,  Rasāil al-Ikhwān al-Ṣafā’, Jilid. I  (Beirut: Dār  al-Islāmiyyah, 1957), h. 183.
[4] A. Khudori Soleh, Wacana Baru Falsafah Islam  (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), h. 310.
[5] Abdul Hadi W.M, Hermeneutika, Estetika, dan Religiusitas­ (Yogyakarta: Mahatari, 2004), h. 44.
[6]Jean Louis Michon, “Musik dan Tarian Suci dalam Islam” dalam  Seyyed Hossein Nasr.ed., Ensiklopedi Tematis Spiritualitas Islam:Manifestasi,terj. Komaruddin S.F. dkk dari buku Islamic Spirituality: Manifestation (Bandung: Mizan, 2003), h.602.   
Read More

Rabu, 21 Oktober 2015

Tasawuf Progresif - Pentingnya Bertasawuf dalam kehidupan Modern

     Paradigma pemahaman tentang tasawuf yang masih klasik dan berkutat pada wilayah pensucian jiwa tapi lupa mentransformasikan pensucian sosial menjadi problem tersendiri, sebab kesucian personal tiadalah artinya tanpa kepekaan sosial dan bukankah agama mengajak untuk berjamaah tetapi kenapa prostitusi tumbuh beriringan dengan munculnya penggiat-penggiat spiritual ?. Perlunya renaisans atau pencerahan dalam bertasawuf sebab penanda spiritual bukan keelokan imajiner tetapi kemampuan menghadirkan paradigma kesadaran sosial, mengapa orang beragama yang lekat dengan doktrin kesucian tetapi WC mesjidnya begitu kumal ?, hal ini menjadi penanda bahwa dia hanya secara simbol bertasawuf bukan kehadiran ruh tasawuf yang subtantif.

Tasawuf Progresif - Pentingnya Bertasawuf dalam kehidupan Modern

     Pemahaman bertasawuf yang termasuk kuno apabila hari ini masih direduksi bahwa berkhalwat atau menyendiri memikirkan tuhan, tetapi melupakan ciptaan tuhan. Apakah untuk dekat dengan tuhan melalui menyendiri adalah solusi yang tepat untuk dipraktekan hari ini ?, mengingat kehidupan modern yang mengharuskan manusia untuk lebih banyak berinteraksi dan berkutat pada urusan-urusan keduniawian. Menjadi masalah apabila manusia bertasawuf tetapi tidak mampu memahami konteks kehidupan hari ini, tasawuf masa silam ala klasik tak perlu dibawa cara atau praktek bertasawufnya tetapi yang perlu dihadirkan kezuhudan, kefanaan yang berkorelasi dengan kepedulian sosial. Sekarang eranya manusia untuk lebih mampu mengembangkan kreatifitas dan penguasaan IPTEK, kalau ada pengamal tasawuf yang gaptek berarti dia belum cukup dekat dengan tuhan dan menjadi kritik bahwa menguasai metafisik bukan berarti menafikan fisik.

     Mari berkaca pada nabi Yunus yang meninggalkan kaumnya makanya tuhan menegurnya, kalau ada penggiat tasawuf gaptek itu teguran dari tuhan bahwa dirinya terlalu lama bersama tuhan lalu lupa dengan alam kemanusiaan. Perlu dipahami bahwa bertajalli ataupun peleburan dengan tuhan hanyalah menjadi cerita imajinatif apabila buta dengan petanda dunia sebab terlalu lama bergelut dengan petanda metafisik. Bertasawuf bukanlah suatu proses pendekatan diri kepada tuhan yang begitu intim lalu lupa dengan alam materi, sebab menjadi tanda tanya apabila seseorang hidup di dunia lalu tak membutuhkan dunia bukankah hal ini menjadi keliru sebab kaki masih berpijak di bumi tetapi pikiran melenggang di alam tajalli ketuhanan maupun peleburan, hal ini menjadi petanda bahwa itu hanyalah cerita fiktif sebab mana mungkin manusia tak membutuhkan materi yang pada hakikatnya butuh materi untuk menyembah tuhan, sehingga masalah apabila mendekati tuhan lalu melupakan materi. Artinya bahwa kehidupan spiritual atau beribadah kepada tuhan terjadi disebabkan manusia berada di alam materi.

     Progresifitas dalam bertasawuf begitu penting untuk diwujudkan di kehidupan modern ini, memikirkan tuhan atau untuk dekat dengan tuhan tidak lagi membutuhkan tempat sunyi sebab dari keramaian manusia jauh lebih baik untuk melihat kondisi yang ada. Bukan malah menutup mata dengan berbagai kejadian sosial. Mensucikan diri bukanlah menciptakan sekat-sekat sosial tetapi merekatkan kehidupan sosial, paradigma bertasawuf dirasa amat perlu dilakukan perubahan jangan lagi style-style masa silam mencekoki kehidupan modern tetapi bawalah substansi dari masa silam dalam pengejawantahan kemasa kekinian. Tak perlu lagi ada tragedi berdarah hanya karena pandangan tasawuf atau kehidupan spiritual yang berbeda dengan golongan lain, sebab penghayatan akan kehidupan begitu penting dan tasawuf menjadi solusi yang bersifat positif tetapi tasawuf yang berorientasi dengan progresifitas bukan tasawuf yang statis tetapi yang dinamis.

     Menghayati kehidupan ini begitu penting dengan memikirkan tuhan, alam dan manusia maupun seluruh mahluk tetapi penghayatan yang bersifat produktif bukan malah menjadi pengungkung apalagi penghalang kemajuan. Dengan bertasawuf manusia pada dasarnya diajarkan untuk memahami tata kelola dirinya, sehingga mampu menempatkan diri dalam mengambil peran-peran sosial dimasyarakat. Tak perlu ragu untuk bertasawuf tetapi pahamilah spiritnya dan amalkan sebagai bagian dari kehidupan sosial bukan serta merta memperuntutkan untuk dirinya.

     Jangan lagi persoalan-persoalan takdir yang menjadi mainstream tetapi bagaimana menyikapi hidup yang tak menggantungkan diri pada takdir, sebab yang sering menjadi masalah manusia-manusia cenderung fatalis sehingga menganggap dirinya tak mampu, sudah ditakdirkan, perlunya ada arus baru dalam bertasawuf bahwa sekarang takdir ada di tangan manusia, oleh karena itu tentukan sendiri takdirmu sekarang manusia telah modern makanya tuhan memberikan kebebasan pada manusia. Tasawuf progresif harus menempatkan tuhan dan manusia sebagai patner bukan bawahan ala tasawuf klasik dengan berjibaku dengan ibadah, desentralisasi kehidupan bertasawuf perlu diadakan yang tak lagi menempatkan tuhan pada titik sentral tetapi peran-peran patner atau spesifikasi yang mengartikan bahwa tuhan mengurus tugasnya dan manusia dengan tugasnya, makanya ibadah secara progresif harus dimaknai saling berkoordinasi untuk saling mengingatkan tugasnya.

     Tuhan dan manusia adalah patner yang saling desentralisasi yang berarti tuhan menempatkan hukumnya pada wilayah spesialisasinya, yang secara progresif perlu dipahami bahwa manusia bisa membuat hukum untuk mengurus dirinya tanpa intervensi atau doktrin-doktrin ketuhanan, pada wilayah penciptaan tuhan yang punya kuasa dengan tugasnya tetapi pada wilayah pengelolaan manusialah yang punya kuasa mengatur ataupun membuat hukumnya. Jadi, pemahan tasawuf progresif sepertinya ini sangat diperlukan untuk memberikan kepercayaan diri pada manusia bahwa dirinya punya peran dan kuasa, bukankah sejak awal manusia dihadirkan untuk menjadi pengelola bumi dan punya kuasa terhadapnya berdasarkan rekomendasi ketuhanan yang telah melimpahkan atau desentralisasi kepada manusia tetapi masalah apabila manusia lupa dengan tuhan.

     Menerjemahkan kehidupan bertasawuf kepada manusia adalah kemandirian bukan ketergantungan, artinya bahwa peran-peran manusia dalam menghadirkan nilai-nilai keilahian dalam kehidupan itu menjadi otoritas atau ruang lingkup kuasa manusia dan menjadi tuntutan bagi manusia untuk bergerak lebih maju bukan malah menjadi penghalang kemajuan. Tuhan sendiri suka kemajuan makanya menghadirkan Adam di bumi dan hal ini menandakan bahwa ada tutntutan progresif yang disematkan tuhan kepada manusia sebagai pemberi gambaran kepada malaikat bahwa ada mahluk yang gesit dan kreatif yang bukan hanya bisa beribadah dan menghabiskan waktu berzikir tetapi ada peran pikir yang menyertai kesolehan dan ketundukan kepada sang pencipta.

     Pensucian jiwa dengan bertasawuf haruslah bermakna menyingkirkan segala sesuatu yang bisa menghalangi manusia untuk berpikir dan menemukan inti dari pada nilai-nilai spiritualitas, inilah menjadi perbedaan manusia dengan yang lainnya kalau malaikat mendapatkan langsung dari tuhan tanpa ada upaya untuk mengetahui sedangkan manusia perlu daya dan upaya untuk menemukan nilai-nilai spiritualitas. Hal ini menandakan bahwa bertasawuf mengandung makna pikir dan kritis yang progresif itulah interpretasi zikir manusia untuk menemukan asma-asma tuhan pada tatanan transemesta.<br />

Penulis : Arung Dewantae
Read More

Jumat, 18 September 2015

pandangan mistik: Tuhan punya banyak agama?

msitik. tuhan
sumber gambar misterabib.blogspot.com

                Tuhan selalu menjadi topik untuk menarik untuk dibahas. Sifat transendental-Nya menjadikan Dia objek kajian yang sulit terpecahkan. Hingga manusia menemukan konsep tentang Tuhan. Belum pernah ada manusia yang melihat atau menyaksikan secara Tuhan secara langsung. Kecuali melalui tabir, mimpi, atau perantara lainya. Yang tersisa tentang penyaksianya hanyalah keyakinan terhadap literatur teks dan wahyu yang di tinggalkanNya.
                Membahas tentang Tuhan tentu tak luput dari tasawuf, mistik dan metaphysic.sebelum melangkah jauh kita bahas dulu ketiga partikel di atas. Apa itu tasawuf telah di jelaskan di artikel sebelumnya (di sini). Kemudian selanjutnya apa itu mistik. Mistik pada dasarnya adalah tasawuf. Hanya saja istilah tasawuf lebih populer di gunakan dikalangan agama Islam. Tetapi mistik lebih umum di gunakan pada setiap kepercayaan dan penganut agama(theis).
                Kembali kepada apa itu mistik. Secara sederhana mistik berarti persatuan dengan zat yang di luhurkan. Di luhurkan maksudnya sesuatu yang kita percayai dan bersifat immateri, gaib ataupun transendental. Dan itu berarti  yang di luhurkan tersebut bisa jadi Tuhan ataupun sesuatu yang gaib lainya.
Selanjutnya metaphysic, berakar dari kata meta, “sesudah” dan physic, “fisika”. Secara bahasa berarti sesudah fisika. Metaphysic atau metafisika adalah cabang keilmuan yang mengkaji tentang segala sesuatu yang berada di balik ruang fisika. Baik itu tentang Ketuhanan, akal murni dan sebagainya.
Setelah semua pengantar di atas. Kita lanjut ke konsep tentang ketuhanan.
Tuhan adalah sebuah konsep dzat MahaTinggi, mahaKuasa dan mahaSegalanya. Yang kemudian sebut sebagai pencipta semesta. Pencipta mahluk dan segala atribut kehidupan. Aristoteles menyebutnya sebagai causa prima atau penyebab yang tak di sebabkan. Anselmus mengatakan Tuhan adalah sesuatu yang lebih besar yang tidak bisa di fikirkan.
Jadi inti dari konsep tentang ketuhanan adalah Tuhan sebagai sesuatu yang transenden, kebenaran yang absolut, jauh dari jangkaun manusia dan eksistensinya senantiasa berada di sekitar kita.
Unikya konsep ketuhanan hanya terdapat di dalam agama, tidak dalam kepercayaan. Meski demikian Agama secara otomatis di anggap juga sebagai kepercayaan sedangkan kepercayaan tidak selalu bisa disebut sebagai agama. namun untuk saat ini kita akan membahas kepercayaan dan agama secara bergandengan.
Dalam pendekatan mistik. Setiap agama atau kepercayaan memiliki mistik tersendiri. Dalam islam di sebut sebagai tasawuf. Dalam hindu, budha kristen juga memilikinya. Setiap mistik tersebut jika kita pandang dari sisi netral maka akan tampak kesemua adalah benar. Dan secara otomatis mengaburkan pandangan dan mempluralkan setiap agama benar.
Contoh islam. dalam tasawufnya memiliki tahapan untuk mencapai puncak makrifat. Setiap tahap atau tangga itu memiliki klaim unik  dan tata cara untuk mencapainya. Misalnya dari tangga syariat kita tak kan pernah benar benar mencapai tangga selanjutya jika tangga syariat belum di jalani atau terselesaikan hingga tuntas. Jika seorang berhasil mencapai makrifat. Itulah puncak. Pada puncak ini, pakaian keduniaan ia lepaskan. Dan yang menjadi tujuanya hanyalah hidup setelah kematian. Yang ada hanyalah mahabbah, Sifat yang terpeihara dan gerak hidup berdasarkan tuntunan Tuhan. Atau lebih di kenal dengan Zuhud, wara’ dan sebagainya.
Juga dalam agama budha. Ketika seorang mengabdikn dirinya untuk menjadi seorang biksu. Ia menanggalkan segala kepentingan yang berkaitan dengan dunia, sifat yang terpelihara. Ketenangan jiwa. Perasaan menyatu dengan Tuhan. Yang ada dalam geraknya hanyalah kebaikan. Hingga secara zahir tak jauh beda dengan orang mencapai makrifat.
Demikian juga dalam agama agama yang lainya. Mungkin rasanya(karena penulis belum mencapainya, hanya berdasarkan berbagai liteatur) seperti Tuhan melebur dengan diri, tanpa tabir yang memisahkan atau seperti menjadi bagian dari tubuh.
 Meskipun cara yang di gunakan berbeda. Tahap dan metode yang berbeda. Namun pada akhirnya akan terlihat sama saja. Setiap penganut yang bersungguh sungguh ingin berjumpa Tuhanya akan mendapatkan ‘penerangan’ pada puncak pencarianya.
Jadi jika demikian. Manakah yang benar di antara kesemua itu? Bukan kah Tuhan hanya Satu? Apa mungkin kita bisa bertemu dengan satu Tuhan yang sama melalui agama atau kepercayaann yang berbeda beda?
Mengutip jawaban dari prof. Qasim, sebenarnya semuanya benar. Jika itu mengandung maslahat maka itu benar. Sesuatu yang mengadung maslahat pasti syariat. Karena syariat islam mengadung maslahat. Maka syariat islam benar.
Lalu bagaimana dengan yang lainya? Coba di teliti dahulu apakah semua cara atau tahap yang di lalui sudah benar sesuai dengan syariat. Tanpa menjudge. Mungkin saja mereka bisa mencapai menyamanan itu. Tapi ada pihak yang di rugikan. Binatang misalnya atau mahluk lain.

Wallahu’allam.
Read More