Senin, 18 April 2016

cerpen Tragedi jalan beraspal "se ekor kucing yang berfilsafat"




Pada pagi yang cerah. Josi masih saja bersandar di ujung tembok. Di bawah bercak warna cat tembok yang terkelupas. Sedang ayam bangkok tetangga sudah bermain dengan nada yang naik turun mencoba menghibur betina-betinanya. Di sebalah kanan pekarangan. Bacca dengan dada telanjangnya yang di ciumi oleh matahari pagi sudah siap lagi menggiring sapi yang kulitnya sama sama kecoklatan. Sapi berwarna seperti itu karena memang bawaan alamnya. Tetapi Bacca berwarna kulit seperti itu karena terlalu ramah menjamu sinar matahari sepanjang bertahta di atas langit. Ia tak ingin bersekolah baginya alamlah pahlawan tanpa tanda jasa yang sesungguhnya.



“hey Josi bangunlah!” Nisa sang gadis kecil menyeru dengan suara keras agar Josi bangun dan berhenti bermalas-malasan.

“Dia kelelahan nak, biarkan saja dia begitu, jangan diganggu”. Seru Ibu Nisa yang mengerti kalau Josi sejak tadi malam memutar otaknya karena berkonflik dengan tikus cerdas yang selalu saja tahu sudut mati yang menjadi kelemahan Josi, si kucing rumahan yang krisis identitas.

Lain lagi dengan Daeng Said, yang berpakaian dinas coklat. Seperti warna alam sapi –sapi Bacca yang sudah sejak tadi berangkat untuk bekerja menghidupi ulat-ulat di perutnya. Sapi-sapi itu juga punya pekerjaan. Sebuah pekerjaan yang menuntut disiplin kerja yang tinggi. Menjadi seekor sapi bukanlah hal gampang. Anda harus tahu menggunakan bahasa cambuk atau Bunyi “huh” dari pengembala. Jika salah saja sedikit dan anda menjadi sapi yang bandel. Kalau tidak dicambuk mati-matian mungkin akan berakhir di atas mangkuk Coto Makassar.

Tidak ada bedanya dengan tuntutan kerja bapak Said sebagai PNS, bapak Said harus tahu bahasa etik dan peraturan pegawai. Dan harus tahu bahasa komando saat upacara. Kalau salah sedikit saja menerjemahkan bahasa itu. Tingkatan level akan semakin susah untuk menaik. Menjadi pegawai rendahan sudah syukur-syukur dapat pensiunan hari menua. Bisa di pecat dan jadi mantan pegawai di negeri para pegawai. Jadi hal yang paling memalukan. Jadi malu karena kalah di siplin dari rombongan Sapi atau Bacca si pengembala.

Dan Josi juga menjadi binatang yang paling disiplin dalam bermalas-malasan. Barulah ia meregangkan tubuhnya saat seekor kucing betina putih meraung kecil di sampingnya yang menatap dengan tatapan tajam khas kucing yang lagi kesal. Josi mengerti dengan tatapan itu. Tapi apalah arti membagi perhatian di dunia perkucingan. Individualisme adalah ideologi yang di pakai dalam dunia perkucingan. Siapa duluan dan jeli dialah yang dapat. Maka tatapan kucing betina cantik itu tak ada artinya. Josi bangun dan meregangkan tubuhnya untuk bersiap mencari makan untuk dirinya sendiri. Sedang kucing betina itu mencari makan untuk dirinya sendiri. Seperti individualisme sederhana diantara interaksisosiologi para kucing. Tapi bagi Josi sikucing Rumahan, Jika tak dapat makan dari pemilik rumah atau pemilik rumah lupa untuk memberi makan maka insting kucing untuk mencari makan akan datang juga. Seperti hari ini, Ibu Nisa lupa mengisi mangkuk Josi karena Nisa si gadis kecil akan mengikuti lomba cerdas cermat di masjid kompleks.

Josi terbangun juga, ia menggetarkan suaranya kearah kucing betina. Dan kucing betina itu lari dengan perasaan bingung tak tahu apa-apa. Ia hanya menuntut pertanggung jawaban Josi yang sudah menghamilinya dengan dua ekor anak kucing yang kini terlantar. Tapi sudahlah, dunia kucing mana tahu dengan hukum moral. Biarlah alam yang bertanggung jawab. Mungkin seperti itulah logika di kepala Josi. tapi apakah Kucing juga berlogika?.

Josi lalu berjalan mendekati dapur dan mengendus bau makanan, tidak ada bau yang menyengat, ada sih, tetapi bau itu berasal dari lantai WC yang baru saja di sikat. Tetapi itu bukan bau yang mengeyangkan. Kucing itu lalu berlari ke belakang rumah nama lain dari meja makan Josi. tapi mangkuk pribadinya juga kosong, tak ada makanan kucing kemasan halal di mangkuk itu.

“ waktu aku masih kanak-kanak, aku masih ingat bagaimana mangkuk ini tak pernah kosong dengan makanan, mulai dari kemasan yang tergambar model kucing yang cantik, sampai susu yang baik untuk tulang tulangku, dan makanan dari hasil masakan pemilik rumah yang spesial penuh cinta dan kasih sayang. Tapi waktu selalu saja pintar membuat lupa dan malas. Sejarah dan masa kini seringkali berparadoks”. Mungkin seperti itulah yang di pikirkan Josi ketika memainkan mangkuk kosong berwarna kuning cerah itu. Secerah sinar mentari yang menyorot jalan raya yang sudah penuh dengan manusia dan suara bising kendaraan.

Di luar rumah mungkin ada sisa makanan. Josi mengarah kesana, tetapi pekarangan rumah bersih dan rapi. Di tempat sampah mungkin?, tetapi pengangkut sampah sudah mengambil isi tong sampah. Josi kalah cepat. Kucing betina memeong dengan nada seperti menertawai Josi. Kucing betina itu memamerkan tulang ikan dari tempat sampah restoran yang masih penuh tadi saat Josi memainkan mangkuk kosongnya sambil mengingat sejarah masa jayanya.

Ia berjalan dari tempat sampah satu ketempat sampah lainnya. Insting perut laparnya memerintahkan ia berpetualang di sekitar tempat sampah. Dan ia tidak sadar sampai ketempat sampah di pinggir jalan raya poros besar. di tempat sampah rumah berwarna coklat itu juga kosong. Dan Josi si kucing gemuk dengan bulu kuning itu keluar dari tempat sampah. Dan alat komunikasi kucingnya tiba-tiba menerjemahkan radar bahaya. Dan ia sadar kalau selangkah lagi ia memasuki daerah rawan dan terlarang. Yakni daerah yang penuh dengan ban karet pencabut nyawa. Mulai dari ukuran paling kecil hingga yang terbesar menjadi alat pembasmi kucing lapar yang tak tahu apa-apa mengakhiri hidupnya di tengah jalan. Padahal seorang bijak yang mungkin pecinta kucing sudah mewanti-wanti “ menabrak kucing akan membawa petaka “ tetapi bagi si pengendara ban karet itu juga punya kata-kata bijak “ kehilangan duit itulah baru di bilang membawa petaka”.

Dari jarak 10 meter dengan jarak pandang terbatas seekor kucing di siang bolong. Josi melihat seekor tikus yang tadi malam selalu memantatinya. Dan ia melihat pantat itu kini tidak lagi bersama badannya. Tikus cerdas itu ternyata terlindas dan mengakhiri hidupnya. Dari bentuk jasad tikus itu. Kelihatannya. Ban karet jenis motor bebek iritlah yang bertanggung jawab. Tapi siapa yang mau meminta pertanggung jawaban. Adakah Sarjana hukum dari bangsa tikus yang mau menuntut. Padahal kasus tikus dan ban karet sudah seharusnya menjadi perkara di persidangan. Tapi adakah pula Hakim yang mau menyelesaikan perkara ini. Padahal hakim itu sendiri juga lagi perang kimia dengan tikus-tikus yang sering memakan kabel-kabel listrik, gabah, dan membuat lubang di sudut-sudut rumah.

Dan lihat ban mobil yang lagi parkir di depan supermarket itu. Ada kepala ayam yang tersenyum  menempel di peleknya, kelihatannya ayam itu sadar sedetik ketika ia akan terlindas, waktu sedetik yang di manfaatkannya untuk tersenyum biar kelihatan keren diakhir hayatnya. Lalu lihat banyak bulu putih di body mobilnya.dan kepala ayam yang lebih banyak lagi. Kelihatannya mobil ini memang mobil malaikat pencabut nyawa di jurusan nyawa bangsa ayam. Mobil yang bertuliskan “Ayam potong” itu menegaskan identitasnya.

“Dan lihat hei, itu Boy si anjing pergudangan memandang kearahmu Josi” aku bermaksud memperingati Josi. tetapi Josi apalah tahu dengan isi cerita ini. Anjing jenis penjaga pergudangan. Adalah anjing yang galak. Josi dan anjing pergudangan yang bernama Boy itu sudah lama melakukan perang dingin. Pemilik rumah Josi bekerja di gudang itu. Dan Josi di pelukan pemiliknya selalu aman untuk menertawakan nasib Boy yang selalu terikat dengan rantainya. Tetapi kali ini tak ada rantai di lehernya. Boy bebas untuk membalaskan dendamnya. Dan Josi tidak menyadarinya.

“Piiiiiiiippppppp” dan suara decitan dan bau karet menyengat menjadi situasi setelah deskripsi menganai Boy dan Josi yang singkat barusan. Apa yang terjadi?. Lagi-lagi Ban karet pencabut nyawa itu kembali mewarnai jalan beraspal dengan warna merah dari darah Boy yang begitu singkat ceritanya di dalam cerita ini. Josi ikut menoleh. Dan ia mendapati mayat Boy yang tidak lagi beraturan. Josi menatap dengan tatapan kucing yang bersedih yang bercampur aduk dengan perut lapar dan sebuah di lema kenyataan nasib para binatang yang dekat kehidupannya dengan eksistensi manusia yang semakin menggila. Josi bersedih mendapati dua musuh bebuyutannya mengakhiri hidup di jalan beraspal yang begitu kejam dengan warna hitam dan kelam itu.

Josi lalu berfilsafat. Bahwa puncak pemangsa atau raja hutan kini beralih kepada raja Jalanan. Raja abal –abalan yang menaiki takhtanya tanpa melewati perjuangan alam dan konflik suku yang berdarah-darah. Siapa saja yang punya kendaraan bermesin maka itulah raja jalanan. Raja hutan di sini tak berlaku wibawanya. Sekali tabrak dengan kecepatan 80 km/jam maka habislah masa jabatannya. Ban karet dan manusia pemburu duit raja jalanan abal-abalan itulah pemangsa yang paling di takuti. Karena di negeri yang berkembang ini. Apalah artinya nyawa binatang macam bangsa anjing, kucing ,apalagi tikus apalagi bangsa serangga macam kecoa yang nasibnya terstigma sebagai bangsa rendahan menjijikkan di kepala manusia kebanyakan.

Apalah arti nyawa kucing dan Boy si anjing gudang itu di kepala manusia yang fokus dengan warna hijau. Yang artinya jalan terus sehingga tatapannya hanya di penuhi dengan warna hijau (Dollar) kami yang selain warna hijau tidak lagi di lirik. Mati atau hidup kami bukan jadi persoalan mereka, yang jadi persoalan makan atau tidak makan itulah yang ada di kepala mereka. Para manusia lapar mana mungkin memperhatikan banga di luar spesiesnya. spesies sendiri saja ikut di makannya. Manusia lapar di tambah Kanibal mana bisa menjadi raja pelindung kami.

Dan aku pernah mendengar. Pertengkaran manusia karena kasus kecelakaan yang menewaskan anak kambing. Pertengkaran antara pemilik kambing dan pengendara mobil pribadi. Kasus itu runyam. Karena pemilik kambing menuntut ganti rugi dengan logika yang ketat yang sampai menuntut ganti rugi akibat masa depan anak kambingnya yang ikut tercabut. Anak kambing yang berjenis kelamin betina itu bisa saja menjadi betina yang subur. Begitulah logikanya. Karena tidak mau saling berkeadilan maka kasus itu menjadi perkara di pengadilan.

Tapi apakah itu bentuk perhatian mereka untuk bangsa kambing. Tidak saudaraku semakhluk seciptaan Tuhan. Kambing itu mendapat perhatian. Karena pemilik kambing melihatnya sebagai pundi-pundi emas. Kalau itu menghasilkan uang barulah di bela habis-habisan. Sampai di bawa kepengadilan saudara. Lihatlah bagaimana norma dan moral manusia itu kini bukan lagi di bentuk oleh suara Tuhan tapi di bentuk oleh kepentingan Ego manusia itu sendiri. Benar-benar tak bermoral.

Padahal kami selalu berada di sekitaran mereka. Ada sih hukum moral di dalam rumah orang kaya dan pecinta binatang. Itupun hanya sebatas bagi binatang yang di anggap bersahabat dan berwajah lucu dan imut yang bisa di pakaikan baju –baju aneh yang merendahkan martabat hewan yang tidak mau disamakan dengan manusia lapar tadi. Bulu dan kulit kami adalah hasil alam yang paling berestetika, dan kami puas dengan alam. Sangat sedikit manusia yang mencintai binatang bukan karena dirinya dan common sense (apa yang di katakan masyarakat umum). Hanya ada secuil manusia yang berkepribadian Tarzan di muka bumi ini. Dan itulah raja kami yang sebenarnya. Lupakan Sulaiman. Yang seringkali kalian ceritakan sebagai raja kami. Beliau hanya tahu bahasa kami dan itu keuntungannya. Seandainya ia tidak di karuniai otak yang bisa menerjemahkan bahasa binatang. Mungkin saja kerajaan semut itu akan hancur lebur. Tapi Tarzan sebelum masuk kota mengerti kami lewat insting kehewaniannya. Serasa dan sehati. Meski tanpa harus mengertii bahasa kami. Kami merindukan Tarzan-Tarzan dari kota yang menyelematkan kami dari manusia-manusia lapar dan tak berperikemanusiawian.

Tapi hey. Josi si kucing rumahan yang lagi lapar ini tak mungkin berfilsafat. Manusia yang punya sel otak kritis itulah yang mampu berfilsafat. Kebijaksanaan adalah universal yang melewati ruang spesies dan genus. Josi adalah salah satu binatang yang mewakili binatang-binatang yang selama ini jarang hadir di kepala manusia yang katanya berakal dan beriman. Mereka telah menjadi pendamping hidup dan mereka sedang mengalami krisis identitas dan sedang berproses menyesuaikan diri.


Lalu kemanakah Josi kini mencari makan. Ternyata pemandangan jalan tragis itu membuatnya kehilandagan nafsu makan kekucingannya. Kehilangan sahabat-sahabatnya membuat kenyang dengan perasaan sedih. Ia lalu pulang kerumah dan kembali tidur di susudt rumah di bawah cat yang terkelupas.
Read More

Selasa, 05 April 2016

Menenonton Drama Paradoks Nabi Ayyub dan Count Dracula.


Saat Ayyub secara tragis mengikuti permainan Tuhan. Atau itu adalah pertaruhan Tuhan dan lawan politiknya. Sebuah judi spritual bahwa Ayyub adalah manusia yang substansial. Permainan itu mencabut seribu domba di pekarangan rumput hijau yang luas.  Ayyub menyaksikannya dan ia bersabar. Lalu Rumah yang megah menjadi gubuk yang lalu tertiup angin dan akhirnya mereka beratapkan langit dan kesengsaraan. Ayyub tetap Sabar. Lalu anak-anak yang muda kembali kerumahnya tapi rumah itu telah tiada maka anak-anaknya itu juga tiada. Ayyub tetap bersyukur.  Lalu kulitnya yang bersih dan tampan itu menjadi rumah ulat yang ramah bertamu dengan rakus. Dan Ayyub sebagai penjamu ketika melihat ulat terjatuh dari kulitnya. Dengan mulia mengembalikan ulat itu ke tempatnya dan ulat itu berpesta di kulitanya yang sudah borok memperlihatkan tulangnya. Sampai kemudian ia di tinggalkan oleh permaisurinya kecuali satu yang hampir putus asa. Ayyub lewat kesengsaraan dari permainan Tuhan itu menjalani Hidup seraya membayangkan Nirwana dan taman bunga yang membahagiakannya berharap dari kesabaran itu ia berkata Cinta kepada Tuhanku adalah segalanya. Dan rasa sakit ini tak sebanding dengannya. sampai di sini ia menjadi Nabi. Manusia yang paripurna dari kesengsaraan dari sebuah ketragisan dan sebab yang sepele yaitu “menguji”.


Dan di sana di Transelvenia, ada manusia yang kalah dari permainan yang berjudul “menguji” itu. Tak seperti Ayyub yang di desain sebagai manusia yang berhati baja. Pangeran Dracula menyaksikan kesengsaraan dirinya dengan teriakan proklamasi memberontak terhadap permainan Tuhan. Ia sampai kepada keputusan itu setelah di pertontonkan sebuah tragedi dari sandiwara para penghuni langit. Di saat ia ingin melindungi anaknya dengan kebijaksanaannya. Musuh membunuh anak yang lain. Dan ia peka. Saat ia ingin melindungi warganya yang tersisa dengan segenap daya kekuatannya istri tercinta malah meninggalkannya. Padahal ia sedang dalam posisi membela kemanusiaan. Lalu proklamator itu membahana dan mendidihkan darahnya. Menjadi naga yang menantang langit seraya menjadi penghisap darah yang terus kehausan. Dialah Dracula sang naga yang ingin menggoyahkan langit.

Sampai disini paradoks itu muncul. Dan Tuhan terserang pertanyaan radikal. Adakah Dia pernah memahami sang Dracula seperti ia memahami Ayyub?. Dracula hanya korban dari ke utopisannya terhadap manusia yang lemah. Ia memilih kemerdekaan sebagai manusia yang kuat. Manusia yang menantang Tuhan. Sedang Ayyub hanya manusia yang menunggu kebebasan dari jeruji tutup botol seraya Tuhan datang membuka tutup botol itu. Tetapi Dracula meledakkan botol dan ia menumpahkan air dari botolnya.

Dracula menghisap darah korbannya dengan perlahan seraya ia ingin mengerti bagimana Tuhan itu mematikan istrinya. Dan ia tahu kematian itu sangatlah menyakitkan. Ia menjadi Dracula karena manantang kematian dan ingin menjadi manusia yang abadi.

Ayyub dan Dracula adalah manusia pengingat paradoks antara manusia yang menekan akal dan manusia yang membebaskan akal.  Tetapi apakah ini benar? Ayyub selalu berusaha untuk selalu mengedepankan iman. Dan Tuhan yang ia imani menempatkan dirinya sebagai aktor protagonis yang menjadi manusia yang merasakan happy ending dari sandiwara yang pilu itu. Dan Dracula yang selalu merasionalkan ketragisan yang di hadapinya lalu memlih untuk menjadi idealis antagonis dan seorang utopian tingkat tinggi yang memiliki keimanan yang melewati iman. Sebuah keimanan terhadap ketidak gunaan “Iman, Agama, Cinta dan Tuhan”. Seraya ia menyerahkan dirinya dalam kesabaran. Yakni kesabaran untuk menjadi manusia yang jahat, yang di benci, yang siap untuk di bunuh oleh manusai pendendam dan punggawa Tuhan yang menegakkan kebenaran dari Sandiwara Tuhan yang statis. Dracula ikhlas menjadi model Dewa yang sewenang wenang itu.

Apakah kita harus menyalahkan sang Dracula?. Dan kita setuju bahwa kesabaran di sayang Tuhan?. Ayyub telah menjadi nabi.  Dan Sang Dracula telah menjadi pemberontak Tuhan yang rela menjadi karikatur dari pembunuhan diri. keduanya hanya menjadi korban dari Tuhan yang memiliki otoritas sebagai Sutradara dari sandiwara Tragedi.

Ayyub adalah model bunga dengan warna yang cerah. Yang menggoda perempuan untuk menghirup bau harumnya. Sebuah bunga yang memanjakan mata dan perempuan menikmati bunga itu dengan senyuman mereka yang begitu menggoda. Sedang Dracula tahu menjadi Bunga yang bermekaran dalam kegelapan. Tak ada perempuan yang melihat mekarnya. Tapi perempuan itu mencium bau busuk. Dan ia memilih menghindar dengan wajah jijik yang tak menyenangkan. Padahal Ayyub dan Dracula adalah dua bunga yang sama bermekaran. Tetapi perempuan itu terlena dengan apa yang hanya di atas bayang.

Ayyub menjadi  manusia yang katanya menang karena telah ingat mengikuti hukum alam. Ia ingat bahwa Hukum alam tak berperikemanusiaan karena ia adalah alam dan manusia tunduk kepadanya. Dracula sudah lupa dengan aturan alam itu. Bahwa manusia memang pasti akan mati. manusia dalam bentuk apapun itu akan terpisahkan dari alamnya. Sang Dracula juga lupa bahwa Istri yang di sayanginya masih dapat ia peluk dan warganya masih dapat ia cintai.

Tetapi sang Dracula telah menunjukkan kemirisan dari sandiwara hidup ini. Ketika apa yang kita anggap adalah musik yang merdu malah menjadi musik horor yang menakutkan. Tetapi pertunjukan itu terus berjalan dan muncullah Ayyub yang terus menjadi dan sang Dracula yang terus menjadi. Dan paradoks dari dua manusia ini serta segala bentuknya mengalami kesenjangan yang dalam. Dan apakah kita patut mengadili mereka. Sedang kita pun tak tahu di posisi manakah kita berperan di dalam drama tragedi ini.

Ayyub adalah manusia yang mulia yang melihat kesengsaraan dengan kaca mata transendental dan imanen. Sedang Dracula adalah manusia utopis yang berusaha menghilangka segala kesengsaraan hidup ini. Tetapi ia tak sadar bahwa ia telah keluar dari dunia itu dan berdiri pongah di luarnya seraya membacakan sebuah revolusi dan tekadnya untuk menjadi Sutradara yang mandiri.

Dracula hanya lupa bahwa Agama memang tak selamanya memuaskan. Tuhan memang seringkali mempermainkan, dan Cinta seringkali membingungkan. Tetapi selalu ada tempat untuk bersyukur. Kesyukuran memang kadang menjadi ilusi. Ilusi yang begitu menghadirkan keindahan dramatis. Bagi manusia yang sinis dan skeptis pemberani. Bagi suatu logika yang pedih dan getir. Dan bagi manusia yang telah bercerai dengan keyakinan dan harapan. Syukur memang hanyalah sebuah ilusi yang tidak akan bisa mengatasi kematian.

Tapi lihatlah dan luaskan lah matamu Dracula. Bahwa tak selamanya jika A itu adalah kesengsaraan maka tidak selamanya B,C,D menjadi kesengsaraan pula. Lihatlah angin yang menyeka segala getir pohon yang tabah menghadapi matahari. Lihatlah pantai yang sabar mengahadapi ombak laut yang ribut. Dan lihatlah air terjun itu memilih kebawah. Tapi bagi sang proklamator yang penuh dengan hasrat antagonis itu. Isyarat alam tak lebih dari sebuah ilusi. Dan di sanalah paradoks yang tragis dan menyedihkan ini begitu kentara. Dan kita tetap tak dapat menjadi manusia yang mengadili. Dracula dan Ayyub adalah manusia yang beriman dengan imannya. Mereka adalah manusia yang penuh dengan kejujuran.

 Drama paradoks ini telah menampar topeng yang menghalangi wajah kita. Yang terus berpura pura menjadi remaja yang pubertas. Belum juga ingin beranjak dari kelabilan peran. Untuk menjadi manusi Dewasa dan menjadi penghadap kejujuran. Apakah ingin jujur dan berperan di bawah cahaya seraya telanjang di depannya. atau menjadi manusia jujur yang berperan di belakang bayang kegelapan. Berteriak dengan jujur menjadi pemberontak kemanusiaan yang menghamba.


Demikianlah. Titik terakhir dari sebuah mistar yang selalu di abaikan sebagai bagian yang terlupakan dari mistar. Mata hanya tertuju pada titik tengah. Dan yang pinggir menjadi terpinggirkan. Padahal dari pinggirlah kita menuju ke tengah. Titik pinggir sebuah mistar adalah bagian dari mistar. Dan marilah kita mengukur kehidupan.
Read More

Selasa, 29 Maret 2016

Goyang Itik di depan Pancasila yang Tabah.



Sudah kudengar lima sila itu ketika kepala sekolah yang sudah tua berdiri di terka matahari pagi saat Indonesia raya berkumandang di senin pagi. Lewat pengeras suara yang seringkali Bassnya membuat suara serak kepala sekolahku terdengar beribawa. Maka pembacaan pancasila ini berjalan begitu hikmat dan meriah.



Dari sila satu, Ketuhanan yang maha esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang di pimpin oleh hikmat kebijaksanaan ( biasanya ada jeda disini ) dalam permusyarwatan perwakilan. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dalam urutan upacara senin. Pembacan Pancasila menjadi yang paling ribut dan meriah. Karena setiap sila wajib mengulangi pembacaan kepala sekolah. Suara kita memekik karena ini ajang juga pembuktian bahwa kami siswa siswi Sd Bontojai telah hapal Pancasila.

Namun seperti yang anda tahu maupun tidak anda sadari. Penyebitan Pancasila sacra berjamaah di upacara Hari senin itu hanya menjadi perias upacara agar meriah atau menjadi formalitas agar  di anggap telah menjadi Indonesia. Teriakan kami untuk menyebut satu-persatu sila yang berkemanusiawian itu. Tidak lah semeriah dalam aktualisasi kehidupan terhadap diri , Tuhan dan sesama.

Setelah teriakan setiap senin itu. Kita mendiamkan Pancasila yang seharusnya tertancap secara imanen dalah hati nurani sebagai Ketuhanan yang Maha Esa. Sehingga tidak hanya teriakan tapi kekaleman dalam perbuatan sebagaimana Kemanusian yang adil dan beradab. Juga dalam interaksi dan silaturahim melalui kebhinnekaan ciri, status dan paradigma kita tetap ika dalam persatuan Indonesia. sehingga kita menempatkan diri pada otonom diri dan otoritas pada Kerakyatan yang di pimpin oleh hikmat kebijaksaan dalam permusyarawatan perwakilan. Pada nantinya tak ada lagi kesenjangan dan keterjauhan atau kesayonaran terhadap keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Tapi saudara-saudara se bhinneka dan se Ika. Pancasila sejak pertama kali di rumuskan dengan hati nurani yang bersih oleh para peletak dasar bangunan Indonesia yang megah ini. Belum juga menjadi Indonesia dalam keindonesiaannya. Begitu banyak yang durhaka terhadapnya. Tuna Behaviour para petinggi negara serta bintang-bintang film bisu politik yang menggoyang itikkan Pancasila semakin menambah ketulian anak Ibu pertiwi terhadap Pancasila. Lalu aku dan mereka bergoyang itik di depan pancasila yang tabah.

Yang terbaru dan lagi panas adalah artis Ibu kota yang begitu polos berbicara mengenai Pancasila, yang kemudian membuka borok moral para manusia yang tidak hafal dan memang mungkin sering datang terlambat pada upacara hari senin. Atau memang tidak pernah ikut upacara bendera.

Tetapi kasus ini hanyalah setetes nanah dari luka Moral setiap manusia Indonesia yang berusaha Menggoyang itikkan Pancasila secara tidak sadar. Tetapi bagaimana dengan pemerkosaan Pancasila secara berjamaah oleh para Koruptor dan yang akan menjadi Koruptor. Dan yang secara terang-terangan berteriak manusia yang mengakui Pancasila adalah Kafir.

Artis ibu kota itu hanyalah korban dari Pancasila yang termisteriuskan. Kesalahan dan keluguan dalam mengartikan Pancasila dengan guyonan dengan niat menghibur juga sebenarnya adalah keliru dan di akui secara tidak sadar terucap seperti itu tetapi nasi telah menjadi bubur , perkataan yang menyalahi UUD memamng harus di adilkan. Dia hanyalah bersalah dalam kepolosan, tetapi mereka yang memang secara Jelas meninju Pancasila hingga babak belur apakah sepolos itu juga. Yang memang jelas Pancasila di artikan sebagai petunjuk yang mensesatkan. Atau mereka yang tidak jelas berteriak tetapi memperkosa Pancasila lewat perbuatan.  Adakah yang berusaha menuntut mereka?.

Sesungguhnya Pancasila telah lama menjadi pemanis kata kata manusia yang bermulut buaya, telah lama menjadi tameng bagi manusia yang berlibido kekuasaan. Dan telah menjadi songkok haji bagi para polisi swasta. Cinta pancasila yang bertepuk pedih sebelah tangan oleh bangsanya sendiri.

Pancasila yang di goyang itikkan, sudah harus menghentikan musik yang semakin membuat kita tertidur dalam pusaran kelupaan sejarah. Pancasila adalah harga mati bagi bendera Merah putih. Lima sila yang memang wajib di suarakan di setiap upacara bendera. Tetapi tidak hanya sebatas itu. Pancasila harus di suarakan dalam hati Nurani dan di hadapan para penjahat moral yang Mungkar.


Lewat Pancasila, kita menyingkirkan keUtopiaan Indonesia sebagai negara yang makmur dan berperadaban dalam berbagai sisi kehidupan. Pancasila yang di goyang itikkan menjadi stimulus untuk menyeka segala noda yang betah di pintu hati umat Indonesia agar cinta Pancasila dapat menjatuh cintakan kita. Sehingga kita dapat menyayangi dan mencintai Pancasila lewat akal dan iman. Lima sila itu dapat tersakralkan secara imanen disetiap dada kita bersama Tuhan Esa yang tidak identik.
Read More

Kamis, 24 Maret 2016

Mata Pekat Ibuku ketika bersandiwara


Pada garis horizon di ufuk timur. selambat mungkin matahari melukis cahaya di permukaan bumi yang berputar mengelilinginya. Ketika ayam berkokok dan seekor jangkrik terakhir kehabisan bunyinya. Manusia-Manusia KIMA terbangun dari mimpi panjang dan lelahnya.


Di dalam otak kecil mereka, adalah bersiap untuk tepat waktu dan menanti akhir pekan kapan datangnya?. Ibuku adalah salah satu budak waktu. Aku liat wajah cantik rupawannya  pekat setelah tidur panjangnya. Pagi ini setelah sholat subuh di ujung malam, dapat kutebak ibuku akan bergelut kembali dengan pekerjaan di dapur demi mengisi perut dua lelaki yang ia sayangi. Aku dan ayahku. Jika ibuku tidak di cundangi oleh waktu ia sempatkan diri untuk memoles lantai dengan terburu-buru. Segala pekerjaan yang ia sempat kerjakan pagi ini tidak boleh di ambil alih dengan tersirat. Tapi kadang aku memaksa melihat matanya yang sayu. Sebelum melewati batas dayanya. Aku mengambil alih kesibukannya. Sedangkan sang kepala rumah tangga menyibuki diri dengan segala objek yang menganggu di luar rumah.

Wajah matahari yang sudah tampak dengan jelas. Mengisyaratkan tidak ada waktu lagi bagi siswa SD-SMA untuk berada diluar gerbang sekolah. Mereka sudah harus duduk di dalam kelas dan tertunduk oleh kurikulum yang tidak masuk di akal para siswa yang sering memanjat pagar.

Pada waktu yang bertepatan, ibuku sudah cantik dengan bedak tipisnya dan gincu merah yang berusaha memudakan umurnya di luar sana, di pinggir jalan raya Segala jenis kendaraan telah membawa manusia kepada tujuannya. Ada yang terburu-buru karena gerbang perusahaan hampir tertutup. Ada yang sedang mengejar sayur dan ikan yang masih segar di pasar Daya. Ada yang sangat santai karena tak punya pekerjaan atau menjadi manusia yang bebas atau mereka adalah PNS yang nakal.

Jalan kapasa raya, adalah jalan pertunjukan drama manusia-manusia yang bersandiwara. Jika anda sempat memperhatikannya, semua manusia telah memiliki peranan yang harus mereka mainkan. Jika tidak di mainkan maka ia harus hancur secara sosiologis ekonomis. KIMAsisasi adalah panggung sandiwara mereka yang resmi di mulai dari suara sirine panjang di pagi hari dan berakhir pada suara sirine kedua di sore hari. Jika Sandiwara itu memiliki banyak aktor yang tak kenal lelah maka akan terus berlangsung tanpa ada hentinya. Panggung Sandiwara yang terus berputar mengikuti putaran Bumi yang Heliosentris. Bumi yang juga kalah oleh putaran panggung kecil ini. Bumi yang berlubang oleh perang manusia berlubang.

Dengan baju kerja yang cantik dan rapi yang berasal dari tiga bulan bekerja, dan hasil keberuntungan kocokan arisan. Ibuku berjalan ke tempat kerjanya. Kata terlambat dan kata lima menit lagi adalah kata-kata yang begitu sakral untuk di langgar. Kedisiplinan sebagai manusia yang di pekerjakan oleh orang Indonesia KW itu juga akhirnya menjadi kurikulum pendidikan kanak-kanak dari orang tuaku. Jam dinding yang terletak di tiang pusat rumah. Adalah pusat eksistensi keluarga ini.  Telah kami tetapkan kapan harus berangkat dan kapan harus makan dan kapan sinetron kesukaan kami di tayangkan. Putaran pada jam itu, putaran pada panggung KIMA dan putaran pada Bumi adalah putaran yang paling bertanggung jawab pada urat nadi eksistensi keluarga ini.

Sebelum suara sirine setiap perusahaan berbunyi. Ibuku sudah Cheklog di pos Security. Biasanya lima belas menit sebelum ibuku menjadi robot. Ada moment di mana para tukang ojek sibuk berlalu lalang. Ada di mana pula wanita paruh bayah dengan baju sederhananya berkumpul dan berjalan bersama menuju tempat kerjanya. Dan ada banyak wajah yang dengan tatapan kosong menunjukkan sebuah kelelahan fisik dan batin. Seolah wajah itu berkata “adakah sehari sebelum kiamat aku bisa menjadi orang kaya”. Kehidupan ini sungguh miris.

Apabila anda pula menyempatkan diri untuk melebarkan iris mata, melihat kesibukan peranan di panggung KIMA dan sekitarnya. Anda akan menyadari bagaimana pergerakan kita di atur begitu rapi oleh Dollar. Mereka sibuk dan menghabiskan waktu produktifnya untuk memperolah tanda yang jelas, tetapi di sana pada cita-cita itu. Kemiskinan diri juga menjadi cita- cita di bawah bayang otak. Hingga tak terpikirkan. Hingga terjadilah kesenjangan diri dan di lema amnesia yang tidak di sengaja.

Apakah ibuku juga korbannya? Setelah suara sirine berbunyi ibuku kembali duduk di kursi pesakitannya, di dalam ruang penjara yang berjeruji dan memikirkan nasib pekerja lainnya. Harus kujawab bahwa ibuku juga adalah korbannya. Dan nasib buruk itu berdampak kepadaku. Aku lah tokoh kausalitas utama pada tragedi eksistensi ibuku. Setelah di lahirkan ke bumi. Ibuku  sebab ingin menghidupi, merawat, dan melihat anaknya berpenghasilan tinggi. Akibatnya bekerja di perusahaan kayu adalah pilihan yang paling kejam untuk di pilih. Tak ada selain itu saat ini. Seraya berdoa kesialan tidak menghampirinya.

Di manakah sang Suami? Ayahku tercinta. Beliau adalah manusia yang kalah dari perputaran setan mata uang Dollar. Belasan Tahun yang lalu kebebasan yang tragis di perolehnya. Namun beliau tahu bahwa kebebasan itu adalah isyarat dari sebuah pertanggung jawaban untuk menjalani peranan yang lebih berat dan menyakitkan. Seingatku. Selama aku tumbuh sebagai manusia. aku menyadari Ayahku sering berganti peranan yag menuntutnya untuk selalu tepat waktu. Aku tumbuh lewat ajaran dan perjuangannya yang tak kenal lelah itu. Ketakutan yang artinya lebih dekat kepada rasa Hormat telah tertanam dan terbentuk sebagai suara hati. Aku lebih takut kepada Ayahku dari pada setan yang bergentayangan di akal manusia yang penakut. Sebuah kekecewaan dan wajah yang sedih adalah kiamat dan pencabutan nyawa untukku. Dengan kerja serabutan dan waktu yang sudah mulai di tebak-tebaknya kapan habis. Ayahku menjadi kini bekerja sebagai konsultan keluarga kami.  Sebetuan Konsultan itu adalah sebutan yang paling bijak.


Dengan kenyataan itu, peranan yang kumainkan akan penuh dengan resiko yang memang telah muncul di setiap tulang yang berkembang di dalam tubuhku. Tulang tanggung jawab pada keluarga bisa patah kapan saja. tetapi kisah ini akan terus berlanjut. Perputaran setan ini akan terus di mainkan. Dan panggung Sandiwara terus menghegemonikan kehidupan di bawah langit KIMA yang berlubang. 
Read More

Rabu, 24 Februari 2016

Psikologi sepakbola Sawah "menebak kehidupan percintaan seseorang lewat sepakbola Sawah" (Cerpen Filsafat : Kisah Aco part 6 ).




sepakbola sawah
www.kaskus.com

Sore ini adalah sore yang bersahabat. Matahari yang mengantuk akan segera terlelap di ujung horizon, dan sebelum sore ini berakhir akibat kedatangan ibu Bulan yang cantik. Aku dan Bolong datang ke sawah Daeng Bundu yang sebulan lalu baru saja di panen. Hingga biasanya tanah yang lagi nganggur ini menjadi tempat untuk bermain sepakbola. Mendirikan gawang dadakan yang terbuat dari bambu tua liar atau bambu bekas “Baraccung”. Hanya bermodalkan sawah dan gawang, maka bagi kami itu sudah sah di sebut sebagai lapangan sepakbola. Dan kami bermain di atasnya setiap sore hingga musim barat datang lagi.

Dikala gagal cinta, permainan sepakbola bisa menjadi pelarian sementara untuk melupakan segala renungan –renungan malam yang menyiksa. Aku harap seperti itu. Sepakbola bisa membuatku kembali bersemangat. Sepakbola bisa mengajarkanku ketabahan dan kesabarn untuk meng-gool-kan cintaku kedalam gawang hati Aurorah. Dengan skill samba yang berliku-liku.

Aku hampir hafal mati tentang tetek bengek permainan sepakbola. Tentang formasi 4-3-3 model menyerang dan permainan taktis. Atau 4-4-2 ala Alex ferguson. 5-3-2 seperti benteng kuat Italia. Atau permainan menyerang tiki-taka ala Barcelona. Namun di lapangan sawah seperti ini formasi yang paling cocok adalah formasi power rangers yang bisa berubah-ubah atau formasi Sparta Pasukan perang Yunani di mana anda harus melindungi semua bagian tubuh anda, karena kalau tidak, anda bisa pulang dengan luka lebam yang cukup banyak dengan bentuk yang imut. atau terakhir adalah formasi kaki ayam. Formasi yang lebih terfokus untuk melindungi tulang kering kaki, karena formasi ini banyak di pakai oleh tim yang memiliki “bangkeng Tongolo( kaki yang tuli)”. Dan ketika kaki anda terluka, maka pemain lain akan mengatakan “banyakji kaki ayam”.

Mungkin anda berpikir bahwa sepakbola sawah tidak memiliki aturan. Namun tunggu dulu, anda jangan terburu-buru untuk menyimpulkan. Dalam sepakbola sawah. Wasit hanya muncul pada pertandingan tujuh belasan atau pertandingan antar RW dengan hadiah satu dos Mie Instan dan denda kartu kuning yang selalu gratis dan kadang amat jarang di keluarkan. Karena sekali pelanggaran hanya kartu merah yang keluar. Tetapi sekeras apapun permainan sepakbola sawah. Kami di ajarkan sebuah filsafat analisis diri dan hasrat kuasa. Dimana sebuah kekalahan adalah hal yang paling terharamkan dalam Fiqih sepakbola. Karena super Ego semacam itu, hingga berbagai carapun di tempuh agar tidak kebobolan. Dan lewat permainan sepakbola sawah ini, kita pula di ajarkan teori Demokrasi Abraham Lincoln yang mengatakan bahwa “ pemerintahan berasal dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat” dalam permaian sepakbola Sawah demokrasi itu berbunyi “ keputusan pelanggaran, berasal dari keputusan pemain mayoritas, oleh keputusan pemain mayoritas dan untuk keputusan pemain mayoritas.” Jadi jika anda handball (bola menyentuh tangan anda ) dan suara pemain seimbang untuk memutuskan apakah itu pelanggaran?, di tambah pemain yang terduga Handball selalu punya Alibi dengan menghapus bukti bekas bola di tangannya, maka tak jarang permainan sepakbola sawah berubah menjadi ring Smack Down. Inilah yang kusebut sebagai formasi Power Rangers. Permainan yang damai bisa berubah seketika menjadi kacau balau.




Sekarang saatnya untuk masuk kedalam lapangan. Tidak ada pemanasan atau lari-lari kecil. Kami akan panas dengan sendirinya kalau sudah bermain. Namun izinkan aku menjelaskan secara lanjut filosofi sepakbola yang mungkin bisa menjadi semacam ukuran psikologi manusia. ini disebut psikologianalisa sepakbola babi buta. Silahkan menyaksikan.



“ Pasui, kamu yang jadi kipernah” Gondrong yang selalu ingin menjadi diktator menunjuk Pasui untuk menjadi kiper.

“ ah, nda mauja saya deh,” Pasui menolak dengan wajah yang jijik seolah alergi dengan posisi itu.

“ Kau mi saja Pudding” lalu melimpahkan perintah itu ketangan Pudding yang seolah tak mendengarnya.

“kaumo Pasui ?” Gondrong kembali menggodanya.

“nda mauja saya deh, atau kaumo Aco, pintarjoko tangkap bola,” kini aku yang menjadi pelariannya. Tapi aku ikut memakai cara Pudding, seolah tak ada suara yang menyebut namaku.

Penentuan untuk siapa yang menduduki posisi kiper akan selalu berlangsung lama. Jika ini di lanjutkan hampir semua pemain akan menjadi pelarian Pasui. Lalu pertanyaannya mengapa posisi Kiper itu amat menakutkan.?



Jika di analisa lewat pembagian kelas. posisi Kiper menjadi posisi yang paling terbawah. Ia ibarat masyarakat menengah kebawah yang selalu tertindas. Karena dalam permainan sepakbola. Khususnya permainan sepakbola sawah, Kiper menjadi semacam “parappung bola ( anak gawang )” yang melelahkan. Selalu terjatuh dan banting tulang menghalau agar gawang tidak kebobolan tetapi jika bola sekali lolos saja. selalu kiper yang menjadi kambing hitam. Atau semacam anak tiri yang selalu tersiksa. Tetapi jika ia menunjukkan permainan yang gemilang yakni permainan menangkap bola dengan jungkir balik. Melipat badan untuk terbang keangkasa. Maka kiper akan mendapat sorakan dan tepuk tangan yang membahagiakan. Tapi setelah itu dia kembali di telan bumi. maka sekali lagi, kiper adalah posisi yang sangat membosankan. Karena ketika tim menang,  usaha kiper jarang di sebutkan.

“saya pa pale yang jadi kiper tapi ganti-gantian ki nah “ namun Pasui tahu bahwa kata ganti-gantian itu akan berubah menjadi permanent dan abadi. Dia tahu akan berposisi kiper untuk sepanjang masa.

Maka mudah di tebak. Seorang manusia yang berposisi kiper adalah manusia yang penuh dengan kesabaran, tawakkal, pekerja keras. Sedang dalam kehidupan percintaan. Seorang lelaki yang berjiwa kiper adalah laki-laki yang akan melindungi kekasihnya dengan sepenuh kekuatan dan daya yang di milikinaya. Seperti Pasui yang berusaha sekeras untuk menghalau bola yang akan membobol gawang kekasihnya. Pada setiap masalah dalam hubungannya. Laki-laki yang berjiwa kiper adalah laki-laki yang sabar dan menerima apa adanya. Pasui yang terus berdiri di bidang garis gawang. Itu membuktikan bahwa ia adalah laki-laki yang paling setia. Atau manusia Kiper adalah laki-laki yang cocok untuk melanggengkan hubungan percintaan.

“Tepoki Bolong, patahkan kakinya.” jika kami berteriak seperti ini, itu karena bolong sedang berposisi sebagai Beck atau Stopper. Secara etimologi Stopper berasal dari bahasa Inggris “stop” yang berarti berhenti lalu disebut stopper yakni pemberhenti. Maka seseorang berposisi sebagai stopper adalah manusia yang menyerahkan segala tubuh, jiwa dan hidupnya sekalian untuk menjadi lampu merah. Haram hukumnya dia di lewati. Karena itu Stopper selalu menjadi momok menakutkan karena anda bisa saja mendapat bengkak di tulang kering. Ketika stopper itu adalah “bangkeng tongolo” maka anda harus siap-siap di langgar dengan tindak kriminal yang berat. Permainan tanpa wasit, Sebuah sleding yang menakutkan akan di legalkan.

Maka bisa di gambarkan secara singkat bahwa seorang stopper adalah manusia keras kepala, tegas dan disiplin. Ia dalam otoritas bisa menjadi seorang pemimpin yang tangkas. Seringkali dalam permainan sepakbola internasional. Seorang stopper sering di labeli Capten. Tetapi di satu sisi . Stopper bisa menjadi manusia badut yang menjadi titik objek tertindas dan malah lebih tertindas di banding seorang manusia kiper. Itu bisa terjadi ketika ia bertemu dengan seorang Striker yang lincah dan lebih cepat darinya. Maka ia akan kelihatan mengejar pantat lawan saja. dalam kehidupan percintaan. Seorang Stopper harus menghindari perempuan yang berjiwa Striker. Apapun dan bagaimanapun keadaannya. Karena anda bisa menjadi keledai cinta. Sebuah ketidak hormatan diri, di mana anda akan selalu di selingkuhi tanpa anda sadari.

“Umpan ketengah, kuasai permainan”

Umpan ketengah, itu berarti bola akan di oper ke pemain tengah, biasa di sebut gelandangan atau nama internasionalnya di sebut sebagai playmaker. Pemain yang berposisi sebagai gelandang haruslah memiliki kemampuan multiskill. Selain dapat menguasai bola dengan baik, ia sekalikus harus mengumpan, menyerang dan bertahan sama baiknya. Hingga playmaker sering di sebut sebagai jantung permainan. Namun salah sedikit saja, atau gelandang tidak bisa menguasai lapangan. Maka posisinya bisa berubah menjadi gelandangan, pemain pemburu pantat lawan yang selalu kehilangan bola.
Kalau dalam kehidupan percintaan, lewat gerakan gelandang yang harus selalu lincah. Maka hati-hatilah dengan manusia yang berjiwa gelandang. Asal kata playmaker amat mirip maknanya dengan playboy. Play maker yang bisa berubah posisi kapan saja. Menyimpulkan argument bahwa manusia tipe playmaker agak susah untuk setia. Ketika ia ingin mengumpan kedepan, padahal ia sebenarnya ingin mengumpan kesamping. Itu sama saja maknanya ketika ia mengatakan cinta kepadamu ia sebenarnya juga mengatakan cinta kepada perempuan lain. Tetapi kepribadian positif dari play maker. Adalah kreativitas yang tinggi yang bisa menimbukan sebuah keromantisan mesra yang akan membuat anda berteriak “ huuu so sweeeet.” Tapi sekali lagi hati-hatilah dengan tipe manusia playmaker ini.

“ ayo lariko Gondrong.”

Untuk seorang yang memiliki kecepatan lari. Ia amat cocok untuk berposisi sebagai sayap, sayap kiri atau sayap kanan. Kata sayap sendiri untuk seekor burung amatlah penting untuk menjelajahi horizon dan membelah awan. Sedang dalam permainan sepakbola. Sayap adalah posisi untuk menjelajahi bidang lapangan lawan dan menghancurkan dengan belahan sayap yang tajam.
Sedang dalam kehidupan percintaan, seorang yang berposisi sayap adalah seorang yang ngotot dan terburu-buru. Tetapi sekali memilih putusan maka dia akan setia dengan keputusan itu. Seperti kala ia memlih untuk ke kiri, maka ia akan kekiri dengan variasi gerakan yang biasanya indah dan menjadikan stopper bermuka badut. Pada formasi 4-3-3. Sayap amat sangat di butuhkan. Dalam kehidupan percintaan yang membutuhkan ketaktisan. Manusia bersayap bisa membawa anda terbang kemana-mana. Ia biasanya setia, tetapi grafik kehidupannya seringkali naik turun. Macam gerakannya yang selalu naik untuk menyerang. Dan turun ketika di serang.

“ ya tembakmi. Kasi’ golmi”.

Otoritas menggolkan adalah milik Striker. Ujung serangan yang paling dekat dengan bidang gawang lawan. Dengan semua bagian tubuh, kecuali yang ilegal (tangan sekaligus lengan ) selalu di gunakan untuk menggolkan.

Dalam hubungan percintaan, atau seseorang yang baru dalam proses ingin menjalin hubungan seperti aku. Maka posisi Striker bisa menjadi motivasi. Dengan segala cara, Striker akan berusaha keras untuk memasukkan bola ke gawang lawan untuk memberikan kemenangan kepada timnya. Manusia striker adalah manusia penyerang yang ngotot, cerdas, creative dan tahu menempatkan diri. Dalam percintaan atau sedang dalam masa menjalin hubungan. Manusia striker adalah pasangan yang selalu berusah membuat anda senang. Dia punya tujuan dan akan setia dengan tujuan itu.


“Goooooolllllllll” lalu kami berteriak ketika Pudding berhasil membobol gawang lawan.


Sekarang pertanyaannya. Dimanakah posisiku. Dengan pengetahuan sepakbola yang menurut saya bisa di nilai A dan cerewet lalu sempat menolak untuk jadi kipper?.

Jawabannya adalah cadangan mati. Seperti dalam kehidupan percintaanku, selalu gagal memposisikan diri, bukan striker,playmaker,sayap, stopper, malah kipper juga tidak. Cadangan mati dengan tertolak secara kuadrat. Memang cocok untuk menyebut posisiku saat ini. Sungguh ironis. Galau berkali-kali lipat.



Read More

Rabu, 10 Februari 2016

Epistimologi Cinta. (cerpen Filsafat : Kisah Aco part 5 )



Setelah ditolak secara kuadrat. Dan di serang oleh setiap kata yang tertembus langsung kedalam jiwa. Mengeraskan setiap denyutan nadi, hingga darahpun mengalir begitu malas, seperti Kuda tanpa kusir. Atau seperti “Ben” tanpa “tor”. (becak tanpa motor tidak bisa menjadi bentor ). Aku memlih untuk berlindung dari setiap binatang yang berpikir. Kembali menyendiri dan memutar kembali setiap adegan pilu masa lalu tepatnya masa SD bersama Aurora yang saat itu masih ber suhu polos-polos saja.

Nabi Yesus bercerita dalam Mark. Entah engkau percaya kata-kataku tetapi salah satu efek gagal cinta adalah mempersahabati setiap hal yang berhubungan dengan cinta. Seperti sabda sang Nabi Yesus “ bahwa cinta sebelum zaman sebelum masehi, adalah lingkaran cinta yang masih bergulir di sekitar suku dan kekeluargaan. Namun setelah masehi cinta sejati adalah cinta yang memberi kebebasan untuk mencintai siapapun.” Aku setuju dengan sabda mulia ini. Dalam kasus gagal cintaku, dan aku tentu saja keturunan manusia setelah Masehi, apalah daya, “kata-kata tidak selamanya semanis madu”. Memang setiap manusia bebas untuk mencintai, dan itu adalah suata anugerah, tetapi untuk di cintai dan mendapatkan penerimaan harus melewati setiap syarat yang begitu panjang. Apakah syarat itu adalah rintangan untuk sang pecinta agar di ketahui seberapa besar cintanya. Atau sang pecinta memang di permainkan lewat syarat-syarat yang melunturkan cintanya hingga tersusun sebuah tragedi, dalam dunia Sandiwara. Akulah tokoh itu saat ini. Tokoh yang terus di intimidasi oleh penolakan tokoh utama. Aurorah dan Wahyu ( laki-laki yang katanya dekat dengan Aurorah ).

Ada sebuah dongeng Esoteris yang menceritakan bahwa malaikat yang membisikkan kebaikan di dalam diri seseorang itu mendapatkan asupan gizi dari cinta manusia. apabila cinta itu berkurang maka malaikat akan menjadi lemah dan kesempatan Iblis untuk membisikkan sesuatu yang jahat akan semakin besar untuk menjerumuskan sang pecinta yang mencintai akan berubah menjadi benci, atau istilahnya “ Cinta di tolak dukun bertindak”. Ini menandakan bahwa cinta dan benci ibarat telapak tangan yang begitu mudah di putar balikkan. Sungguh sangat berbahaya.

Sadar dengan dongeng itu, aku beranjak dari segala prasangka Lucifer yang berusaha menjaring setiap intelek di dalam perangkat mentalku untuk mengotomatiskan pembentukan konsepku menjadi “benci” lalu segala Argument yang keluar dari idealisme ku hanya akan menegatifkan setiap kejujuran cintaku kepada Aurorah.



Jika cintaku berusaha aku epistimologikan secara positif. Aku mesti harus menyingkirkan setiap objek negatif yang mengelilingi subjek diriku. Lewat Teori revolusi Copernican ala Immanuel Kant. Bahwa Objek seperti bumi yang mengelilingi matahari subjek. Subjek mempengaruhi objek yang di intuisikan/di indra/ di lihat. Maka untuk mengembalikan semangat cintaku kepada Aurorah. Aku harus membangun dan membiasakan intuisi diri dengan objek yang dapat membuatku dekat dengan Aurorah. Agar perangkat mentalku seperti indra ,rasio,intelek 12 kategori, dan ide-ide transendental dapat di penuhi dengan sebutan cinta. Hingga subjek diriku dapat menyuarakan Argument yang manis, merdu, dan indah untuk di sebut sebagai suara cinta.


Berangkat dari sinilah, aku akan berusaha lagi, sebelum janur kuning melengkung tak ada kata untuk menyerah. Sebelum bom nuklir membakar bumi, tak ada kata untuk tidak berdamai. Atau Sebelum mantan pacar Ayam bassank bertelur cicak tak ada kata yang mustahil. Kali ini rencana C menyatakan cinta akan ku susun dengan cerdik dan anti tolak. Nantikanlah.
Read More

Selasa, 09 Februari 2016

Filosofi Kehidupan. manusia sebagai robot penghancur.


Perjalanan praktis kehidupan kita sangatlah mekanis. Seperti bangun pagi, tidur malam, atau sebaliknya. Apalagi telah ada jadwal kaku yang mengikat di luar diri kita, yang seperti Diktator yang mengharuskan kita mengikutinya. Jadilah kita hidup mekanis macam mesin, sekaligus budak yang di perintah oleh sesuatu di luar diri kita.


Apakah itu memuaskan. Sebagin orang menyebutnya sebagai kerja keras. Setelah Kapitalisme yang sudah tua ini. Memang mengharuskan kita untuk selalu bergerak di dalam jalanan yang sudah di buat oleh Kapitalisme. Kita mesti bergerak cepat dan efisien. Karena ketika kita lambat dan kolot maka Kapitalisme dan orang-orang yang berjalan bersamanya akan menghancurkan kita. Mengapa Kapitalisme. Karena memang beginilah filsafat kapitalisme.

Jadi ini semacam sebuah tragedi kehidupan. Tentang bagaimana manusia jika ingin mendapatkan kenyamanan, kenikmatan dan kebahagiaan hidup akan secara sadar atau tidak sadar harus menghancurkan orang lain. Kehidupan itu semacam permainan serius yang di akhiri dengan kalah dan menang. Bagi yang menjadi pemenang akan mengakibatkan yang lainnya akan kalah. Kalah dalam bentuk hancur-sehancurnya. Jika yang kalahpun akan bangkit. Maka dia pun harus siap menghancurkan yang lain. Maka kehidupan ini adalah permainan saling hancur dan menghancurkan.



Apakah itu layak di benarkan, masing-masing manusia memliki persepsi yang berbeda tentang bagaimana kita dapat mengintuisikan lingkungan sekitar. Bagaimana alat baca kita melihat situasi. Tentang manusia yang memang terlihat sebagai robot yang bertujuan untuk banyak menghasilkan Dollar. Siapa yang paling banyak dollarnya maka dialah Robot yang palig canggih dan paling mematikan.

Sedangkan Tragedi-tragedi Yunani sudah mempertontonkan ceita tentang bagaimana kehidupan itu berubah, dan mau tidak mau kita telah di berikan peranan yang harus di mainkan secara totalitas. Peranan itu adalah peran untuk menang atau kalah. Jika anda telah hancur. Maka itulah peranan anda untuk hancur. Jika anda menjadi penghancur, maka peranan anda adalah selalu menghancurkan orang lain. Entah apakah kita akan melawan peranan yang sudah paten. Tapi kita hanya akan selalu berputar pada dua titik yaitu hancur dan menghancurkan.

Tentu ini adalah sebuah kenyataan hidup jika kita berpikir kearah materialisme.  Bukannya ingin menentang paham yang saat ini memang memenuhi perputaran dunia. Tapi harus kita bijak bahwa Dunia ini jika di lihat secara esoteris, yang memang layak untuk di katakan sebagai yang sebenar-benarnya adalah idealisme. Hanya idealisme lah yang dapat membuat kita untuk kembali kepada yang manusia. kita harus berpikir tentang bagaimana memanusiakan manusia. bukan lagi pada persoalan bagaimana berpikir tentang manusia-manusia yang berpikir.

Setiap manusia memiliki kebebasan. hanya dengan bermodalkan kebebasan inilah kebahagian yang tidak menghancurkan manusia lain dapat tercapai. Tentang bagaimana kita dapat bermain dalam bekerja, dan merasakan dirikita pada setiap kegiatan hidup. Bagaimana kita dapat membaca lingkungan sekitar sebagai diri kita yang sebenarnya. Bukankah memang subjeklah yang mempengaruhi objek. Maka pilihan untuk menjadi robot penghancur sebenarnya di tentukan oleh subjek kita. Gambaran dan sasaran dari setiap pelajaran Filsafat adalah tentang bagaimana anda bisa mati. Atau lebih kentara bunyinya bahwa kehidupan kita adalah gambaran tentang bagaimana kita akan mati.


Read More